Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 10.6


__ADS_3

"Apakah kamu tidak marah kepada Frida? Aku sudah mendengar semuanya dari Umi." Kata Kenzie.


Azira memalingkan wajahnya menatap piring di hadapannya.


"Marah, kenapa aku tidak bisa marah di saat harga diriku dan ibuku direndahkan?" Frida memang tidak mengatakan bahwa ibunya kotor, tapi dengan menyebutkan 'asal muasal' saja sudah mempertanyakan kualitas ibunya.


Baik, Ibu memang bukan orang yang berpendidikan tinggi, berasal dari kampung jauh, hidup miskin, dan dipaksa oleh kehidupan bekerja sebagai wanita malam. Ibunya bukan orang yang baik di mata banyak orang, tapi di hati Azira, ibunya adalah orang terbaik di dunia ini. Sebab ibunya rela menggadaikan kehormatannya demi menghidupi Azira, dan takkan pernah mengizinkan Azira mengikuti jejaknya sebagai wanita malam.


"Kalau kamu marah, kenapa kamu tidak memarahinya balik? Aku akan mendukung kamu." Kata Kenzie serius.


Azira terkejut. Kenzie mau mendukungnya, bohong bila hatinya tidak menghangat. Dia sangat tersentuh hanya dengan kata-kata kecil ini saja.


"Tapi dia sepupumu." Kata Azira berpura-pura ragu.


Mengikuti permainan istrinya,"Bahkan walaupun dia sepupuku, dia tidak memiliki hak untuk mengomentari ataupun menilai kehidupan orang lain, apalagi itu adalah kamu, istriku."


Hati Azira bergetar mendengar apa yang dikatakan suaminya. Malu, dia memalingkan wajahnya tak ingin Kenzie melihat rasa malunya.


"Apakah tidak apa-apa? Kurasa dia sedang jatuh cinta kepadamu." Kata Azira berpura-pura santai. Padahal nyatanya dia sangat gugup sekarang.


Kenzie mengangkat bahunya tak peduli.


"Apakah aku peduli? Jika aku peduli, kenapa aku lebih memilih menikahi kamu daripada dia?"


Azira tertegun. Lebih memilih menikahinya?


"Maksud kamu, mas?" Azira tidak yakin.


Kenzie tertawa.


"Menurut kamu maksud aku kira-kira apa?" Tanyanya setelah tawa mereda.


Azira tahu bila suaminya sedang mempermainkannya sekarang. Ini adalah pertanyaan jebakan. Terlepas dari berbagai macam tebakan di dalam hati, Azra tidak berani gegabah menjawab.


"Oh, jadi aku harus apa?" Azira balik bertanya.

__ADS_1


"Lampiaskan saja amarah di dalam hati kamu. Sudah kubilang aku akan mendukung kamu." Jawab Kenzie serius.


Azira bukanlah orang yang diam saja disakiti. Dia pasti memikirkan banyak cara untuk membalas orang-orang yang telah menyakitinya. Mungkin tidak sekarang tapi perlahan. Seperti yang dilakukan kepada keluarga Ayahnya. Dan sejujurnya dia juga memiliki pikiran yang sama sekarang. Diam-diam menghanyutkan. Tapi karena suaminya ingin bermain-main dengannya, maka lakukan saja. Toh tidak merugi berbicara dengan Kenzie karena tiba-tiba dia memiliki perasaan kalau dia sangat senang berbicara dengan Kenzie.


"Bagaimana cara aku melampiaskan amarah kepadanya? Aku tidak ingin marah secara terang-terangan apalagi membalas kata-kata kasarnya kepadaku." Tanya Azira berpura-pura bingung.


Tidak, sebenarnya dia benar-benar bingung. Tepatnya dia masih belum menemukan cara apa untuk membalas apa yang telah Frida lakukan kepadanya. Tidak mungkin menggunakan kata-kata kasar atau memarahinya secara langsung, cara ini tidak pintar. Dan bila dia melakukannya, maka akan seburuk apa kesannya di mata Umi. Sudah baik Umi mau menerimanya sekarang. Jadi dia harus menjaga kepercayaan Umi dengan baik. Karena jujur saja, dia tidak ingin kehilangan keluarganya lagi.


"Serius kamu nggak punya cara lain?"


"Aku nggak punya, mas. Kenapa, memangnya mas punya?" Tanyanya sambil tersenyum.


Dia kira Kenzie tidak serius. Tapi ternyata dia salah. Karena Kenzie benar-benar serius sekarang.


"Punya. Kamu bisa membalasnya dengan ini," Lalu Kenzie tiba-tiba merendahkan kepalanya lebih dekat dengan Azira.


Azira tertangkap tidak siap. Sebelum dia dapat bereaksi, sebuah sentuhan hangat dan basah mendarat di pipinya.


Cup


Ting~


Suara sendok jatuh di atas meja makan lalu disusul oleh suara batuk yang berasal dari Frida.


"Uhuk...uhuk.."


"Nak, kamu kalau makan hati-hati dong. Minum air." Bibi Indring buru-buru memberikan putrinya air putih sembari menggosok punggung putrinya.


Frida sangat ceroboh pikirnya. Bagaimana mungkin Frida ceroboh dalam segala hal. Entah itu urusan makan atau tidak makan, dia masih saja ceroboh dan mempermalukan diri sendiri.


"Terima...uhuk...kasih.." Kata Frida dengan batuk yang masih belum reda.


Dia meminum air putih yang diberikan oleh bibi Indring dengan perasaan tertekan. Sambil minum dia melirik pasangan suami istri yang telah berhasil membuatnya tersedak tadi. Kesal dan cemburu, perasaan ini berputar-putar menjadi satu di dalam hati. Ingin sekali dia mencekik leher Azira agar jangan bermain intrik di depan Kenzie!


"Lihat, ini berhasil. Dia pasti sangat marah sekarang." Ucap Kenzie dengan nada bangga.

__ADS_1


Sementara Azira masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Perlahan wajahnya memerah seiring suhu panas mulai merambat di wajahnya.


"Mas Kenzie keterlaluan!" Azira gatal ingin mencubit Kenzie.


Bisa-bisanya Kenzie bermain intim di atas meja makan dan di depan banyak orang. Tidakkah dia merasa malu?


Apalagi mereka baru saja dipergoki oleh Umi ketika sedang berpelukan di dalam dapur!


"Loh kok keterlaluan sih? Tadi kamu sendiri kan yang nanya cara apa yang bisa dilakukan untuk melampiaskan amarah kamu. Nah ini caranya, udah aku tunjukin. Dan lihat reaksi dia, tersedak!" Kenzie dengan polosnya membela diri, seolah-olah apa yang dia katakan bukanlah sesuatu yang berbahaya.


Azira memutar matanya di dalam hati. Tidak tersedak, tapi Frida mungkin juga sangat membencinya sekarang!


"Dia memang tersedak, tapi dia semakin membenciku!" Kata Azira sambil menatap tajam suaminya.


Mulut Kenzie berkedut tertahan menahan ledakan tawa. Terbatuk ringan, dia mengambil air putih untuk meredakan haus di tenggorokannya.


"Ini adalah salah satu trik melampiaskan amarah. Dan aku masih punya banyak." Katanya sambil tersenyum dalam.


Entah kenapa Azira bergidik melihatnya. Kenzie ini manusia biasa, tapi aura di sekelilingnya terkadang mirip seperti... hewan buas?


"Astagfirullah... Allahu Akbar, kalian berdua masih aja main-main. Nggak di dapur, nggak di sini. Kalian main ke manapun kalian mau! Apa kalian nggak mikirin orang-orang di sini?" Tegur Umi tak tahan lagi.


Sama seperti Frida, dia hampir saja ikut tersedak. Untungnya makanan itu langsung bisa ditelan, kalau tidak, dia akan berakhir seperti Frida, tersedak!


Azira sangat ketakutan mendengar teguran Umi. Dia buru-buru menundukkan kepalanya tidak berani menatap langsung ke Umi. Diam diam dia menyalahkan suaminya karena tidak tahu malu!


"Gara-gara mas Kenzie, nih!" Gumam Azira menyalahkan, tapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum!


Kenzie tersenyum sembari memasang muka tak bersalah. Dia terlihat polos, yah... Polos polos nyakitin!


"Biasa, Umi. Pengantin baru." Ucap Kenzie sambil tersenyum.


Jika Sasa ada di sini malam ini, dia pasti sudah berteriak kalau kakak narsis.


"Kalian memang pengantin baru, tapi bermesraan ada tempatnya juga kan?"

__ADS_1


"Maaf, Umi." Kenzie tidak membela diri lagi.


__ADS_2