
Setelah keluarga itu pergi banyak orang langsung mengelilingi Azira. Entah itu kerabat ataupun tamu, mereka merasa bersimpati kepada Azira. Tentu saja ada beberapa orang yang tidak terlalu peduli dengan masalah. Setelah perdebatan selesai orang-orang ini pergi mengambil makan, melanjutkan makan yang tertunda. Sementara bagi mereka yang peduli kepada Azira akan datang menanyakan kabar.
Keluarga Abah menerima baik kebaikan orang-orang itu. Tapi dia tidak bisa membiarkan Azira berbicara dengan semua orang. Dia meminta Kenzie untuk membawa Azira kembali ke kamar dan beristirahat.
Meskipun sempat terjadi kekacauan, Abah tidak membubarkan acara. Dia tetap membiarkan orang-orang melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda. Entah itu ingin melanjutkan makan atau diskusi, Abah tidak keberatan.
"Tuan, bisakah kami bertemu dengan Azira?" Paman bertanya dengan hati-hati.
Tujuan mereka datang ke sini ingin bertemu dengan Azira. Mereka ingin melihat satu-satunya putri yang ditinggalkan oleh saudara mereka.
Abah dengan berat hati menggelengkan kepalanya.
"Kalian juga melihat sendiri bagaimana keadaan Azira tadi. Berikan dia waktu untuk beristirahat. Nanti setelah dia merasa lebih baik, kalian bisa bertemu dengannya. Percayalah, Azira pasti sangat senang bertemu dengan kalian. Pasalnya dia sudah lama ingin bertemu dengan keluarga Ibunya. Tapi karena dia tidak memiliki kontak dengan kalian dan tidak tahu jalan menuju kampung Ibunya, alhasil semua kerinduannya hanya bisa dipendam. Tapi sekarang melalui pertolongan Allah, kalian akhirnya dipertemukan. Azira tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." Kata Abah menjelaskan dengan sopan dan ramah.
Sikapnya sama sekali tidak mengucilkan keluarga paman yang berasal dari kampung.
Paman dan yang lainnya tersenyum lega.
"Baiklah, kalau begitu. Aku pribadi sangat senang mendengarnya. Sementara menunggu dia merasa lebih baik, kami akan keluar dulu untuk mencari tempat tinggal." Paman berpikir bahwa mereka tidak bisa kembali pulang malam ini.
Perjalanan sangat jauh dari kota menuju tempat mereka tinggal. Butuh beberapa jam untuk sampai ke sana. Dan bila mereka berangkat pulang sekarang, mereka dipastikan pulang tengah malam. Hanya saja rasanya agak sia-sia bila mereka pulang sekarang karena mereka masih belum bertemu dengan Azira. Jadi pergi menginap saja satu hari supaya bisa bertemu Azira besok.
Abah dan Umi terkejut. Mereka saling memandang jelas tidak setuju dengan keputusan paman yang berniat pergi dari rumah ini.
"Tidak perlu mencari tempat untuk menginap. Tinggal saja di rumah ini. Kebetulan kami memiliki banyak kamar tamu dan kami bisa menjaminnya tempat kami jauh lebih baik daripada tempat menginap di luar sana." Kata Abah tidak mau mereka pergi.
Abah dan Umi juga mengerti bila mereka datang dari jauh. Mereka tidak bisa pulang hari ini dan harus pergi mencari tempat tinggal. Karena Abah sudah tahu belum makanya dia sudah menyiapkan kamar yang akan mereka tempati sejak jauh-jauh hari. Dia sengaja melakukan ini agar keluarga Ibu Azira merasa nyaman.
Paman dan yang lainnya saling melihat. Ada kejutan di mata masing-masing. Mereka tidak berharap bila Abah akan menawarkan mereka untuk tinggal di rumah ini. Rasanya agak memalukan. Apalagi ketika mata keruh mereka memandangi rumah luas yang dipenuhi dengan perabotan baik, tiba-tiba mereka merasa tidak pantas tinggal di sini.
"Tidak usah, tuan. Kami bisa menemukan tempat tinggal di luar." Tolak Paman tidak enak hati.
Tapi penolakannya malah membuat Abah merasa tidak senang.
"Jangan menolak ku. Kalian adalah keluarga Azira, dan keluarga Azira berarti keluargaku juga. Sebagai keluarga, aku tidak mungkin membiarkan kalian pergi dari rumah ini begitu saja dan lebih memilih menginap di tempat lain. Jika kalian melakukan itu maka aku tidak akan membiarkan Azira bertemu dengan kalian, maukah kalian terus menolak?" Kata Abah mengancam paman dan yang lainnya.
Abah bener-bener berharap paman dan yang lainnya tinggal di sini. Ini murni demi kenyamanan paman dan yang lainnya. Karena dia tahu bila paman dan yang lainnya pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Dan dia sengaja meminta paman dan yang lainnya untuk tinggal di rumah ini demi kenyamanan Azira juga. Bila keluarga ibunya ada di sini maka otomatis Azira dapat meluapkan kerinduan di dalam hatinya setelah tak bertemu bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
"Ini..." Paman ragu-ragu menjawab.
Umi langsung berbicara.
"Ini demi kebaikan Azira. Bila dia tahu kalian tidak mau menginap di sini, dia pasti akan sangat sedih." Kata Umi menambah ancaman lagi.
Paman dan yang lainnya tidak berdaya. Dengan kedua ancaman ini mana mungkin mereka nekat pergi dari rumah ini. Meskipun mereka merasa tidak nyaman dengan lingkungan baru yang sangat luar biasa, namun demi bertemu dengan Azira, mereka berusaha menyesuaikan diri.
"Baiklah kalau begitu. Kami akan tinggal di sini, maaf bila kami merepotkan kalian." Paman akhirnya bersedia.
Abah dan Umi tersenyum lebar. Mereka menggelengkan kepala membantah.
"Kami sama sekali tidak merasa direpotkan. Malahan kami senang melihat kalian tinggal di sini. Karena kami sudah lama ingin bertemu dengan keluarga Azira. Dan akhirnya kesampaian juga. Tentu saja kami tidak akan melewatkan kesempatan ini." Kata Umi sambil tertawa.
Penampilan lembut dan ramah Umi sekarang sangat berbanding terbalik dengan penampilan Umi beberapa saat yang lalu ketika berhadapan dengan Humairah.
"Apa yang istriku bilang benar. Berhubung kita sudah berkumpul, kenapa kita tidak mengobrol sambil makan?" Kata Abah sangat pengertian.
Abah menebak bila paman dan yang lainnya belum makan. Pasti setelah sampai di kota mereka pun langsung pergi ke sini.
Paman awalnya ingin menolak. Dia malu karena rata-rata para tamu di sini memiliki penampilan yang sangat baik. Sedangkan dia dan yang lainnya menggunakan pakaian biasa-biasa saja.
Setelah itu mereka dibawa pergi ke ruang makan. Tempatnya jauh lebih terisolasi dari ruangan lain. Begitu masuk ke dalam ruang makan, mereka melihat meja telah dipenuhi oleh berbagai macam makanan lezat yang menggugah selera. Melihat semua makanan yang ada di atas meja membuat perut mereka keroncongan dan ingin segera melahapnya. Dihadapkan makanan lezat, rasa malu mereka menguap entah kemana dan komunikasi jauh lebih lancar dari beberapa saat yang lalu.
Sementara itu di kamar. Kenzie langsung membawa Azira masuk ke dalam kamar sementara mereka yang ada di lantai 1. Kamar ini didominasi oleh warna biru muda karena pada awalnya ini adalah kamar tamu.
Karena mereka akan tinggal di sini sampai Azira melahirkan, Kenzie telah mengatur ulang kamar ini seperti kamar mereka di atas. Kasurnya pun jauh lebih empuk dari kasur kamar tamu lainnya. Dan di sini juga ada meja kerja Kenzie yang memudahkan dia bekerja sambil mengawasi istrinya.
"Kamu istirahat saja di sini. Abah dan Umi bilang kamu nggak boleh keluar kamar sebelum tidur." Kata Kenzie sambil membantu istrinya berbaring di atas kasur.
Dia menarik selimut hangat untuk menghangatkan tubuh istrinya. Setelah itu dia duduk di samping sambil memandang wajah istrinya.
"Sebenarnya aku nggak apa-apa kok, mas." Kata Azira sambil tersenyum.
Kedua mertuanya sangat khawatir kejadian tadi membuatnya terguncang, jadi mereka langsung meminta Azira kembali ke kamar untuk beristirahat. Padahal Azira sendiri merasa kalau dia baik-baik saja. Perutnya tidak sakit dan dia juga tidak merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya.
"Kamu sebenarnya kenapa-napa tapi belum menyadari aja. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, lebih baik kamu menurut aja apa yang dikatakan oleh Abah dan Umi karena ini demi kebaikan kamu juga." Kata Kenzie serius.
__ADS_1
Istrinya telah mengalami banyak perubahan emosi hari ini gara-gara kejadian tadi. Sejujurnya dia merasa bersalah dan kesal pada saat yang sama. Bersalah karena dia tidak mampu melindungi istrinya dengan baik dan dia juga sangat kesal kepada dirinya karena tidak memberikan efek jera kepada Humairah lebih dulu sehingga masalah hari ini tidak terjadi.
Seolah mengerti depresi yang dirasakan oleh suaminya, Azira tidak menolak lagi dan dengan patuh beristirahat di dalam kamar.
"Baiklah, mas. Aku tidak akan pergi kemana-mana tapi dengan syarat mas Kenzie harus menemani aku di sini."
Kenzie tersenyum, hatinya melembut mendengarkan permintaan kecil istrinya.
"Tentu saja aku akan tinggal di sini menemani kamu. Memangnya ke mana lagi aku bisa pergi?" Katanya mencubit gemas pipi Azira.
Pipi Azira kenyal ketika disentuh seperti permukaan jelly. Kenzie sangat suka menyentuhnya. Seringkali ketika dia merasa bosan, dia akan menghabiskan waktu menyentuh pipi istrinya.
"Hum, baguslah. Kalau begitu mas Kenzie tidurlah di sampingku." Azira menepuk sampingnya.
Memberikan sinyal kepada Kenzie untuk tidur di sini. Kenzie langsung melepaskan sepatunya dan naik ke atas kasur untuk berbaring. Setelah berbaring dia melebarkan tangannya menarik Azira masuk ke dalam pelukan.
Mereka berdua berbagi pelukan, tampak manis dan mesra pada saat yang sama.
"Hum, nyaman sekali." Ucap Azira setelah puas menghirup wangi khas suaminya yang menenangkan.
Kenzie tersenyum. Dia mengecup puncak kepala Azira sayang. Menghela nafas panjang,"Maafkan aku, sayang. Acara kita kacau dan berakhir tidak menyenangkan. Hari yang harusnya membahagiakan malah meninggalkan kesan yang sangat buruk buat kamu." Ucap Kenzie menyesalinya.
Hari ini adalah salah satu hari bahagia mereka. Seharusnya mereka bersenang-senang hari ini. Membuat banyak kenangan dan banyak berfoto. Tapi gara-gara insiden tadi, semuanya jadi kacau dan rencana tidak berjalan sesuai dengan harapan Kenzie. Dia merasa sangat kesal setiap kali memikirkannya.
Bila dia tahu keluarga itu benar-benar nekat mengacaukan acaranya, maka dia tidak mungkin mengundang keluarga itu. Apalagi saat membayangkan Humairah yang ingin mencelakai Azira, cahaya dingin melintas di mata Kenzie.
Dia harus memberikan pelajaran yang baik kepada orang-orang ini
"Jangan terlalu dipikirkan suamiku. Aku juga kesal dengan kejadian tadi tapi aku sangat bersyukur karena acara semua telah rampung sebelum mereka membuat masalah. Karena semuanya sudah rampung, aku tidak terlalu merasa sedih, mas." Kata Azira bersuara lembut di dalam pelukan suaminya.
Untung saja keluarga Ayah membuat masalah setelah semua acara rampung. Kalau tidak, Azira tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapinya.
"Seperti biasa, istriku selalu berhati lembut." Bisik Kenzie tak berdaya.
Kemudian dia bertanya,"Apakah kamu tidak takut? Ayo ceritakan kepada suamimu bagaimana perasaan kamu tadi?"
Azira berpikir. mengingat kembali apa yang dia pikirkan dan rasakan selama pertengkaran berlangsung. Mungkin karena dia sedang mengandung membuat emosinya sangat sensitif. saat kejadian tadi, dia sempat marah, sedih, kecewa dan bahkan menangis. Pergantian emosi ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat.
__ADS_1
"Aku tentu saja merasakan beberapa emosi, mas. Mereka adalah keluargaku. Yang satu ayah kandungku, yang satu Ibu tiriku dan yang satunya lagi adalah bibiku. Mereka adalah keluargaku tapi mereka memperlakukan aku seperti seorang musuh yang harus segera ditumpas kan. Bagaimana aku tidak merasa sedih, mas? Apalagi saat adikku, Humairah, ingin mencelakai ku. Aku merasa sangat marah tapi tidak bisa mengungkapkannya. Tangan dan kakiku gemetaran sementara lututku terasa lemas. Aku sangat shock. Dia benar-benar nekat melakukan itu. Jika rencananya berhasil tak terbayangkan efeknya. Apakah anak kita baik-baik saja atau tidak, kita tidak tahu, makanya aku marah banget mas waktu itu. Tapi yang membuat ku sangat kecewa adalah Ayah. Bahkan di situasi itu pun Ayah masih berdiri di pihak Humairah. Padahal sudah jelas-jelas Humairah ingin mencelakai ku secara terang-terangan, namun Ayah tetap membelanya. Di momen itu aku merasa berada dititik yang tidak ku mengerti. Walaupun aku tidak dibesarkan oleh Ayah, tapi aku masih putrinya. Dengan darahnya di dalam diriku maka sudah sewajarnya dia memiliki sedikit saja rasa simpati kepadaku. Tapi tidak, mas. Ayah tidak melakukannya. Dia tetap bersikukuh membela Humairah tidak perduli apa yang orang-orang bilang di sekelilingnya dan tidak perduli apakah dia benar-benar salah atau tidak, Ayah hanya memiliki Humairah di dalam hatinya. Mas Kenzie, aku pernah bertanya-tanya apakah Ayah pernah merindukanku? Apakah Ayah pernah merasa penasaran seperti apa rupa ku saat masih bayi dulu. Mungkinkah mirip Ibu atau malah mirip Ayah, pernahkan Ayah memiliki pemikiran ini di dalam benaknya? Ah... mungkin saja tidak karena di waktu sama ayah mungkin sedang sibuk menantikan kehadiran Humairah. Dia pasti sibuk mengurus putri tercintanya itu. Aku...aku tidak sedih. Lagipula aku tidak terlalu dekat dengannya dan aku juga dibesarkan oleh Ibu, jadi aku tidak akan sedih. Aku hanya agak marah dengannya. Yah, marah karena dia begitu berdedikasi kepada Ibu tiri dan Humairah. Perasaan yang belum pernah aku dan Ibuku rasakan." Kata Azira berbicara lama dan panjang.
Padahal dia hanya ingin menjelaskan apa yang dia rasakan saja tapi malah merembes ke tempat lain. Azira merasa lucu dengan dirinya sendiri.