
"Karena pekerjaan Ibu, kamu pasti mendapatkan beberapa pelecehan di sekolah, kan?" Potong Kenzie langsung menusuk titik lemah Azira.
Azira terdiam. Untuk sesaat dia tidak tahu harus mengatakan apa. Masa lalunya di dunia sekolah cukup sengsara sampai-sampai dia malu Kenzie mendengarnya.
"Azira," panggil Kenzie bersuara lembut.
__ADS_1
Dia menyentuh dagu Azira dan memaksanya untuk membalas tatapannya. Sebenarnya dia sudah menebak hal ini karena pekerjaan mertuanya yang tidak biasa. Namun meskipun begitu dia masih berharap jauh di dalam hatinya jika Azira tidak merasakan pembulian. Dia berharap Azira melewati masa-masa sekolah dengan damai, tapi ngomong-ngomong tidakkah ini terdengar mustahil?
"Aku... mungkin terdengar kejam mau tahu tentang hal ini karena itu pasti dapat menghidupkan kembali rasa sakit di hati kamu. Maaf..tapi sekali lagi, aku ingin tahu karena ini berhubungan dengan dirimu." Katanya pelan berusaha membuat Azira mengerti keserakahan yang diinginkan hatinya.
Tangan yang tadinya memegang dagu Azira bergerak perlahan menyentuh pipi lembut Azira. Ibu jarinya kemudian menyapu pipi Azira bolak balik untuk memberikan rasa kenyamanan.
__ADS_1
"Mas, ini semua masa lalu. Tidak ada artinya untuk diriku yang sekarang." Kata Azira mulai melepaskan diri dari ikatan rasa malu di dalam hati.
Menunduk sebentar, matanya melihat kembali wajah tampan suaminya yang meneduhkan jiwa. Azira pikir tidak apa-apa karena di sini dia memiliki Kenzie sebagai penawar untuk luka dihatinya yang disebabkan oleh jejak masa lalu.
Mengambil nafas, dia berbicara,"Alasan kenapa Ibu pindah rumah karena dia kasihan kepadaku yang sering mendapatkan pembulian di sekolah. Salahku sebenarnya yang suka mengeluh kepada Ibu. Seringkali aku pulang sekolah dengan keadaan buruk dan menangis, kemudian mengadu kepada Ibu sambil berharap Ibu dapat membantuku. Tapi... Ibu tidak pernah membantuku dan malah balik memarahiku. Ku kira Ibu tidak perduli kepadaku yang sering disakiti oleh teman-teman sekolah. Kalau Ibu benar-benar perduli, lalu kenapa dia diam saja melihatku sering dibully di sekolah? Aku sangat takut masuk sekolah sampai tidak berani masuk sekolah, namun Ibu balik memukul ku agar rajin masuk sekolah. Aku semakin marah melihat Ibu. Ini yang aku pikirkan saat itu, mas." Sedih, Azira membayangkan keributan yang sering dia lakukan setiap pulang sekolah.
__ADS_1
"Sampai akhirnya Allah memperlihatkan sebuah kebenaran. Di tengah malam aku tiba-tiba terbangun mendengar suara isak tangis Ibu yang tidak biasa. Aku terkejut menemukan ibu menangis di sampingku karena sepengetahuan ku pada saat itu Ibu jarang menangis apalagi sampai menangis semenyedihkan malam itu. Aku terkejut. Awalnya aku mau bertanya kenapa dia menangis tapi suaraku langsung tercekat saat mendengarnya meminta maaf berulang kali kepadaku atas kebisuannya selama ini. Dia sesungguhnya patah hati melihat ku berjuang di sekolah tapi disaat yang sama tidak mampu membuat perlawanan karena situasi kami yang tidak memungkinkan. Dia tidak tega melihat ku terus bersekolah tapi juga tidak mau aku berhenti sekolah, sebab dia berharap aku tidak akan berakhir seperti dia yang kurang pendidikan lalu berakhir masuk ke dalam lubang tipuan karena bodoh. Setelah malam itu aku mulai menahan diri dan menanggung semua kesulitan di sekolah dalam diam. Sampai akhirnya aku masuk SMA, barulah aku bertemu dengan kak Al. Salah satu dari segelintir orang yang memperlakukan aku dengan baik di sekolah."