
"Apa yang paman katakan hari ini, jangan pernah dilupakan." Kata Kenzie dingin.
Paman mengangguk mengerti. Setelah menyelesaikan pembicaraan ini mereka beralih membicarakan beberapa topik. Membicarakan ini dan itu yang tidak terlalu penting tapi Azira juga menikmati obrolan mereka. Sampai akhirnya mereka lupa waktu dan tidak terasa sudah 2 jam berlalu. Paman dan bibi Sifa memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Anak-anak di rumah pasti sudah lama menunggu sehingga mereka tidak tinggal lama di sini.
Azira memandangi mobil mereka perlahan menjauh dari rumah. Dia menghela nafas panjang, saat berbalik ke belakang dia sangat terkejut melihat suaminya yang kini tengah berdiri menatapnya.
Ditatap seperti ini oleh suaminya, Azira merasa sangat bersalah. Bertanya-tanya di dalam hati mungkinkah Kenzie marah karena dia mengambil keputusan sendiri?
Azira juga berpikir bahwa dia terlalu impulsif hari ini. Karena tidak terlalu senang ditekan terus oleh bibi Sifa, dia terpaksa mengungkapkan pendiriannya dalam masalah ini.
"Apakah mas Kenzie marah dengan keputusan yang aku buat?" Tanya Azira hati-hati.
Ditanya soal marah, Kenzie tidak terlalu marah. Ya, dia tidak terlalu marah, mungkin hanya sedikit marah.
"Kamu tiba-tiba membuat keputusan tanpa berbicara lebih dahulu dengan diriku, sungguh, aku tidak masalah dengan keputusan yang kamu buat karena itu adalah hak kamu. Tapi yang membuatku sangat marah adalah kamu tidak mau membicarakannya terlebih dahulu denganku. Setidaknya aku tahu lebih awal dari mereka tentang keputusan kamu. Dan setidaknya aku akan memikirkan beberapa rencana setelah membicarakan masalah ini. Tapi kamu memilih untuk melakukannya sendirian. Kalau bisa dibilang kecewa, aku agak kecewa sama kamu." Ujar Kenzie dengan nada serius.
Ini adalah masalah yang sangat serius. Dan Kenzie juga berharap Azira melibatkannya di dalam masalah ini. Dia berharap Azira akan meminta pendapatnya, atau mungkin meminta bantuan kepadanya, tapi sayang sekali Azira tidak melakukan itu.
Jujur ini membuatnya merasa sangat tidak senang. Bilang saja kecewa, tidak apa-apa.
Azira langsung panik mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Ini memang salahnya karena tidak berbicara dahulu dengan suaminya bagaimana membuat keputusan. Panik, dia buru-buru memeluk lengan suaminya sambil menjelaskan.
"Mas Kenzie sudah banyak membantuku, dan aku pikir aku bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. Aku minta maaf karena bertindak impulsif. Aku sungguh tidak bermaksud untuk mengecualikan mas Kenzie, jangan marah ya mas?" Azira memohon dengan suara yang menyedihkan.
Melihat tingkah Azira, dia tidak bisa marah lama-lama. Pokoknya Azira selalu punya cara untuk membuat hatinya. Misalnya seperti sekarang, menggunakan penampilan yang menyedihkan dan suara yang menyedihkan pula, ini adalah pukulan telak baginya. Dia tidak mungkin benar-benar marah kepada Azira kalau begitu.
"Jangan membujukku dengan tampang menyedihkan kamu, aku tidak akan luluh." Kenzie berpura-pura memasang tampang dingin.
Dan benar saja apa yang terjadi, tidak lama setelah dia mengatakan itu, Azira mulai menangis. Dia menangis tanpa suara namun kedua tangannya memeluk erat lengan Kenzie tidak mau melepaskan.
"Jangan seperti ini Azira, aku tidak suka melihat kamu menangis." Kata Kenzie tidak berdaya.
Azira masih menangis.
"Habisnya mas Kenzie marah sama aku." Kata Azira sambil menangis.
Kenzie tidak berdaya.
"Yang pertama buat kesalahan siapa? Azira, kan? Emang gak boleh ya aku marah?"
__ADS_1
Azira menganggukkan kepalanya, beberapa detik kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Azira salah, Azira minta maaf sama mas Kenzie. Azira janji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi." Janjinya bersungguh-sungguh.
Kenzie mencubit hidung Azira gemas. Dia mengalah, dan membawa Azira ke dalam pelukannya.
"Baiklah, aku pegang janji kamu. Jika kamu mengulangi kesalahan ini lagi, maka jangan salahkan aku bila suatu hari aku tiba-tiba mengabaikan kamu." Ancam Kenzie dengan nada yang sangat serius.
Azira berulang kali menganggukkan kepalanya di dalam pelukan sang suami. Dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Karena dia tidak mau sang suami mengabaikan dirinya.
"Kenzie, kenapa kamu membawa Azira keluar malam-malam begini? Ayo masuk, di luar dingin. Nanti Azira bisa masuk angin." Suara Abah memanggil dari dalam.
Kenzie menyahut sopan.
"Kami akan segera masuk, Abah."
Setelah merespon panggilan Abah, dia menundukkan kepalanya mencium puncak kepala Azira penuh kasih.
"Ayo masuk ke dalam. Abah dan yang lainnya sudah mencari kamu. Jujur, aku nggak tahu apakah aku ini anak mereka atau kamu yang anak mereka, soalnya mereka perhatian banget sama kamu. Sementara aku di terlantarkan begitu saja." Kata Kenzie geli.
Pokoknya ke mana-mana harus Azira. Mama beli sesuatu pun orang yang mereka ingat pertama kali adalah Azira, bukan Kenzie. Kedua orang tuanya semakin protektif kepada Azira semenjak hamil. Mereka berdua bahkan rela menunda perjalanan umroh mereka saat melihat situasi Azira yang kian mencemaskan. Sekarang perut Azira semakin membesar. Pergerakannya ke mana-mana dibatasi. Ini membuat Umi dan Abah semakin khawatir. Lagi, untuk yang kedua kalinya mereka menunda perjalanan umroh mereka hingga Azira melahirkan nanti.
Entahlah, mungkin semenjak hamil dia sangat sensitif terhadap emosi. Mudah tertawa dan mudah menangis, Azira sering merasa bingung dengan dirinya sendiri.
"Umi tidak ada di sini. Dia tidak akan mendengarkan apa yang aku bilang-"
"Kalian berdua ngomongin apa sih, disuruh masuk nggak masuk-masuk? Apa perlu Umi bawa sapu ke sana biar kalian mau masuk?" Teriak Umi geram dari dalam rumah.
Umi sudah lama menunggu mereka masuk ke dalam, tapi kedua orang tua ini sangat sulit untuk dibicarakan. Mereka bebal. Untung saja mereka adalah anak-anaknya, kalau bukan, dia sudah lama mengunci pintu untuk mereka berdua.
"Tuh... Umi udah manggil, ayo masuk mas."
Kenzie tersenyum tak berdaya. Padahal dia sedang memeluk Azira, angin malam anak mempan sama kekuatan pelukan jadi Azira harusnya aman. Tapi kedua orang tuanya ini terlalu khawatir. Yang membuat Kenzie tidak berdaya.
"Baiklah, ayo masuk."
...*****...
"Kalau begitu aku akan berbicara. Mas Kenzie, apakah mas tidak menyukaiku?" Tanya Humairah hati-hati kepada laki-laki tampan dan tinggi yang tengah berdiri tidak jauh darinya.
__ADS_1
Saat ini dia merasa bahwa laki-laki ini begitu dekat dengannya, tapi pada saat yang sama dia merasakan sebuah jarak yang tiada habisnya di antara mereka berdua.
Apa ini?
Dia terlihat sangat dekat. Tapi saat dia mencoba berjalan mendekatinya, laki-laki itu malah semakin menjauh, memperbesar jarak di antara mereka berdua.
"Kamu tidak perlu bingung, dari awal aku tidak pernah menyukai kamu bahkan sampai detik ini. Hatiku sudah sepenuhnya dimiliki oleh Azira." Jawab laki-laki itu datar tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.
Jawaban tanpa emosi laki-laki itu membuat dadanya terasa sakit! Rasa sakitnya sungguh tidak tertahankan, dia ingin segera menyudahi pembicaraan ini tapi entah kenapa dia tidak bisa bergerak mundur dan hanya bisa bergerak maju, mengejar kehampaan yang tidak akan bisa diraih.
"Bohong, mas Kenzie pasti berbohong!" Bibir ini berteriak begitu saja, menuduh laki-laki itu berbohong kepadanya dengan kedua mata yang mulai menangis.
"Bahkan sekalipun kamu tidak mempercayai apa yang aku katakan, itu tidak dapat mengubah fakta bahwa aku hanya mencintai Azira." Balas laki-laki tinggi itu masih menggunakan nada datar tanpa kelembutan sedikitpun di dalam suaranya.
Dia semakin kesakitan mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki berhati dingin ini. Dia memegang erat-erat dadanya, mencoba menghilangkan rasa sakit yang mendera di dalam, tapi tidak berhasil. Rasa sakit itu seolah telah mengakar dalam di hatinya.
"Tapi... Tapi itu sama sekali tidak adil untukku. Sebelum bertunangan, aku telah mengikuti kemanapun kamu pergi selama ini. Aku berusaha menyenangkan kamu, membuat kamu tertawa, membiasakan kamu selalu dekat denganku! Aku berjuang untuk mendapatkan cinta kamu mas namun kenapa hanya penolakan yang kudapatkan?! Sedangkan Azira... Azira tidak pernah benar-benar hadir dalam kehidupan kamu, mas! Dia hanyalah pengacau, kehidupannya tidak benar! Lalu kenapa mas Kenzie bisa jatuh cinta kepada wanita seperti itu! Aku tidak bisa menerimanya! Ini sungguh sangat tidak adil!" Tiba-tiba dia melihat seorang wanita yang sangat cantik muncul di dalam pelukan laki-laki dingin itu.
Cara laki-laki dingin itu memandang wanita cantik yang ada di dalam pelukan sangat berbeda dengan cara dia memandang ke arahnya. Dia terbakar cemburu.
"Jangan mencoba memutarbalikkan fakta. Aku sama sekali tidak terhormat dikejar-kejar oleh kamu. Dari awal aku sudah bilang bahwa aku tidak pernah tertarik kepadamu, tapi kamu terus-menerus mengganggu. Pada akhirnya aku mengabaikan kamu karena memberitahu juga tidak ada gunanya. Kemudian masalah pertunangan. Kamu harus tahu sendiri bahwa kamu bukanlah tunanganku yang sesungguhnya. Tapi istriku lah tunanganku yang sebenarnya. Sayang sekali karena konspirasi keluargamu, aku hampir saja terjebak. Namun untunglah Allah memberikan jalan keluar untuk hubungan kami berdua. Sekalipun kami tidak pernah saling mengenal pada waktu itu, tapi Allah memiliki skenario yang sangat tidak disangka-sangka untuk mempersatukan kami berdua. Bila memang sudah haknya, kami berdua pasti akan dipertemukan bahkan sekalipun seseorang memutarbalikkan ikatan, semua itu tidak memiliki kegunaan apa-apa di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala. Dan bila memang sudah takdirnya, sekuat apapun kamu memaksakan perasaanmu kepadaku, hatiku tidak akan pernah tergerak karena Allah tidak ridho. Namun saat aku bersama dengan wanita yang ditakdirkan untukku, dari awal kami bertemu Allah sudah menggerakkan hatiku. Dan ketika aku merasakan perbedaan ini maka pada hari itu juga aku memegang erat-erat tangan istriku dan tidak pernah berniat melepaskannya sampai kapanpun. Sekali lagi aku perjelas kepadamu, istriku adalah cinta pertamaku dan akan selalu menjadi penguasa hatiku. Sedangkan kamu, tidak peduli seberapa keras kamu menangis dan berteriak, seberapa keras kamu mengeluh ini semua tidak adil, hatiku tidak akan pernah bergerak. Malah mungkin aku semakin kesal karena kamu terus-menerus menggangguku. Ingatlah ini, jangan bersikap seolah-olah dunia selalu berputar di sekelilingmu. Jangan bersikap seolah-olah semua orang menyukai kamu. Dan jangan berpikir kamu jauh lebih baik daripada siapapun. Istriku memang tidak memiliki pendidikan yang tinggi, tidak memiliki orang tua yang lengkap untuk membimbing tumbuh besarnya, tidak berasal dari keluarga yang baik dan tidak tinggal pula di tempat yang baik. Dengan segala kekurangan ini perasaanku kepadanya tidak akan pernah berkurang, Allah adalah jaminan terkuatnya. Kamu tidak bisa mematahkan apa yang telah Allah gariskan kepada kami berdua. Seperti yang aku bilang tadi, semua kekurangan istriku tidak berarti apa-apa kepadaku dan kepada keluargaku, kami tidak membutuhkan dia berasal dari tempat yang baik, kami tidak perlu dia memiliki pendidikan yang tinggi, dan kami juga memaklumi bahwa dia hanya dibesarkan oleh satu orang ibu saja. Kami tidak masalah dengan semua itu karena kami hanya menyukai Azira, Azira Humaira seorang. Dia tetaplah dia, wanita yang aku cintai dan ibu dari anak-anakku. Apakah kamu pikir Azira tidak berusaha untuk menerima segala kekuranganku? Dia berusaha keras untuk menerima semua kekurangan ku, berusaha menjadi istri yang baik untukku dan menantu yang baik untuk keluargaku. Sampai di sini apakah kamu mengerti apa yang aku katakan? Aku sudah mengatakan apa yang seharusnya aku katakan. Menjelaskan apa yang seharusnya dijelaskan. Dan menjawab apa yang kamu tanyakan. Menurutku tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan di sini. Semuanya sudah jelas."
Suara dingin dan tanpa emosi itu bergema jelas di dalam pendengarannya. Mulutnya tertutup rapat tak mampu mengeluarkan sepatah katapun suara pembelaan. Dia tiba-tiba merasa sangat lemah dan juga lelah dengan semua ini. Terbayang jelas semua usaha yang dia lakukan untuk mengejar cinta laki-laki berhati dingin ini, dia melalui semuanya dengan keteguhan bahwa suatu hari nanti mungkin laki-laki berhati dingin ini akan berbalik jatuh cinta kepadanya. Tapi harapan hanyalah sebuah harapan, apa yang diharapkan tidak pernah benar-benar terjadi. Cinta bertepuk sebelah tangan, dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa walaupun laki-laki berhati dingin ini tidak jatuh cinta kepadanya, maka dia mungkin tidak akan jatuh cinta kepada wanita yang ada di dalam pelukan. Karena dia sangat percaya diri bahwa nilainya lebih tinggi daripada wanita itu. Seperti yang dia pikirkan, dengan nilai dirinya saja yang tinggi membuat laki-laki berhati dingin ini sulit jatuh cinta maka wanita itu yang lebih rendah darinya tidak akan mendapatkan bagian ini pula.
Anehnya laki-laki berhati dingin itu selalu menyebut nama wanita yang ada di dalam pelukannya, tapi dia tidak bisa mengingat nama wanita itu.
Mengapa?
Ini semua sangat tidak adil untukku!
"Aku tidak mau tahu! Aku tidak mau!" Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat menolak menerima semua ini.
Tidak, aku tidak mau menerima semua ini!
Ini tidak adil!
Lalu wanita itu tiba-tiba menoleh ke arahnya, Dia memiringkan kepalanya seiring dengan senyumnya yang perlahan menghilang, "Manusia kotor? Kamu haruslah lebih tahu siapa yang lebih kotor di sini. Humairah, tidakkah kamu tahu siapa yang membunuh Ibuku malam itu?" Tersenyum dingin,"Aku tidak bisa melupakannya, Humairah, karena itulah aku di sini. Jika keluarga mu bisa merenggut kehidupan Ibuku, maka aku juga bisa merenggut kebahagiaan kamu. Lihat? Hari ini aku berhasil membunuh pernikahan bahagia yang kamu impikan dan bahkan menjadi istri mas Kenzie. Kita... harusnya sudah seimbang, kan?"
"Hahhhh...."
__ADS_1