Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 26.5


__ADS_3

"Mungkinkah itu cuma rekayasa?"


Amara juga sangat berharap iya sekalipun dia tahu bahwa rekaman itu memang asli karena dia lah tersangka yang ada di TKP. Tapi semua harapannya sia-sia karena faktanya Kenzie memiliki rekaman yang lebih kuat.


"Aku berharap, tapi wanita itu juga membuat rekaman untuk bersaksi. Dia hiks... mengkhianati kita hiks.." Amara kembali meraung dalam tangisan.


Dia sangat kecewa. Orang yang dia percaya ternyata mengkhianatinya. Jika orang itu tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Kenzie maka dia mungkin masih bisa berkilah dengan keras kepala mengatakan bahwa rekaman itu tidak benar. Tapi orang itu adalah saksi kuat. Dia adalah saksi kunci di tempat kejadian.


Dengan adanya orang ini di sini, dia tidak yakin bisa mempertahan kebenaranya sendiri.


"Apa? Wanita itu juga membantu Kenzie?!" Nabil sangat terkejut mendengarnya.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak menyangka hasil ini karena hubungannya dengan suami wanita itu masih baik-baik saja. Malahan dia semalam berbicara dengan suami wanita itu, membicarakan dana pinjaman yang ingin dipinjam oleh suami wanita itu dan sesekali membicarakan kasus kemarin. Dia kira semuanya baik-baik saja.


Tapi jika apa yang dikatakan oleh Amara benar maka orang itu sangat berani bermain dengannya. Dia di tipu dan bodohnya lagi dia tidak menyadari bahwa dirinya sedang di tipu!


"Iya, kak! Orang yang kamu percayakan kepadaku justru menusuk ku dari belakang! Terus apa yang aku lakukan sekarang? Aku enggak mau tahu kamu harus pikirkan cara agar aku kembali dekat dengan Kenzie. Aku enggak mau tahu!!" Amara menuntut seperti orang kehilangan akal.


Berteriak-teriak tanpa rasa takut di dengar oleh orang-orang di luar.


"Okay, kamu harus tenang dulu!" Nabil tidak sabar.


"Aku enggak mau tahu! Pokoknya harus!" Tekannya tidak mau mendengarkan.

__ADS_1


Nabil akhirnya kehilangan sabar. Dia tidak perduli lagi apakah Amara kesayangan paman atau harta pamannya karena saat ini dia sangat kesal dengan sepupunya yang menyebalkan ini.


"Terus mau kamu apa, hah?! Aku menuruti semua rencana kamu dari awal sampai akhir! Gara-gara kamu pertemanan ku dengan Kenzie terputus! Dia tidak mau menerima ataupun mendengarkan aku lagi! Sekarang setelah rencana kamu gagal, kamu malah berbalik menyalahkan aku, hah! Kamu pikir kamu ini siapa?! Hanya karena kamu memintaku melakukan ini dan itu, aku akan menuruti kamu lagi? Jangan berharap Amara! Aku sudah muak dan bosan dengan kehidupan kamu! Kamu kira hidup kamu terlalu penting untuk aku urus? Jawabannya enggak sama sekali. Sekarang sudah menjadi batas ku untuk membantu kamu! Setelah ini jangan bermimpi mendapatkan bantuan apapun dariku karena aku sudah sangat lelah menghadapi kamu."


"Beraninya kamu menolak, ayah enggak akan-"


"Jangan coba-coba mengancam ku dengan paman karena aku juga bisa bertindak. Kamu pikir aku akan diam saja? Jangan harap, aku akan menceritakan semua yang kamu lakukan kepada paman agar dia tahu sendiri bagaimana kamu bekerja selama ini! Dan mati kita lihat hukuman apa yang akan paman berikan kepada kamu? Yakin setelah ini kamu bisa tinggal di sini? Dan penjara adalah batas kesabaran ku membantu kamu. Cukup sudah, aku peringatkan jangan menantang batas kesabaran Kenzie karena dia tidak main-main dengan ancamannya. Tapi kalau kamu tidak mau mendengarkan aku dan dengan keras kepala ingin membuat masalah lagi kepada Kenzie maka silakan, aku tidak mau ikut campur. Silakan tanggung sendiri resikonya nanti. Sekarang aku masih ada rapat jadi silahkan keluar dari sini!" Potong Nabil sudah muak menghadapi tingkah sepupunya.


Amara terkejut. Dia bahkan lupa menangis karena terlalu terkejut.


"Kak Nabil?"

__ADS_1


"Keluar!!" Bentak Nabil tidak sabar.


Amara berdiri. Matanya melotot tajam melihat Nabil. Menghentakkan kakinya marah, dia langsung pergi dan dengan sengaja membanting pintu ruangan.


__ADS_2