
Azira tetap tidak bergerak. Dengan keadaan yang sedang emosi, dia tidak bisa menjamin apa yang akan Kenzie lakukan kepadanya. Selain itu dia berusaha berpikir bagaimana menyenangkan suaminya. Sebab dia tidak memiliki bakat apapun. Dia tidak bisa menari, tidak bisa menyanyi, tidak bisa membaca puisi ataupun melukis, sejauh ini dia tidak tahu apa bakatnya. Jadi bagaimana caranya menyenangkan suaminya?
"Astaga bagaimana ini, Sasa? Kak Kenzie sangat marah. Padahal kan kita cuma ajak main kak Azira di rumahku aja. Dan kita juga tidak pergi ke mana-mana selain pergi membeli makanan di minimarket depan komplek-"
"Kamu bilang apa, Mona?" Suara dingin Kenzie mengejutkannya.
Siapa yang pernah memberitahunya bahwa Kenzie memiliki pendengaran setajam ini?
Allah tahu dia berbicara dengan bisik-bisik, jangankan Kenzie yang jaraknya ribuan mil dari dia dan Sasa, bahkan Azira saja yang satu meter di depan mereka tidak mampu mendengarnya. Cek, apakah semua dokter memiliki kemampuan supranatural ini?
Habisnya Ayana juga memiliki kemapuan ini. Cek, mungkinkah dokter masih bisa disebut manusia?
"Jawab meong kenapa diam aja? Kamu nggak mau kan kita berdua disembelih bersama?" Sasa menyikut Mona agar segera menjawab pertanyaan Kenzie. Sementara dia sendiri menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah garang kakaknya.
Dia nggak tahu kalau efeknya akan seserius ini. Jika dia tahu maka dia tidak berani membawa Azira keluar lagi. Tapi dia kan tidak kemana-mana. Mereka hanya bermain di rumah bibi Arumi, jaraknya hanya beberapa rumah dari rumah mereka dan masih dalam lingkungan kompleks yang sama. Apalagi itu adalah rumah keluarga, Kenzie tak seharusnya marah kan?
"Iya, kalau aku nggak jawab kita disembelih berdua, tapi kalau aku jawab cuma aku doang yang disembelih. Ngomong suka banget ngelantur." Mona masih sempat-sempatnya marah kepada Sasa.
Pasalnya Sasa tidak memiliki jiwa korsa. Kalau senang-senang berdua, giliran berduka sendirian.
"Udah jangan marah-marah. Hati kakakku itu lembut, dia nggak mungkin sekejam itu sama kita. Percaya deh." Sasa mendesak.
Karena rasa-rasanya, suasana semakin mencekam di sini. Aneh sekali. Mereka masih di luar. Angin menari-nari di sekitar mereka. Harusnya semuanya terasa santai. Tapi di depan kemarahan Kenzie, pesona alam sepertinya tidak mempan.
"Serius lembut? Terus kenapa ada pisau bedah di tangan kak Kenzie?"
Mata Sasa membolak kaget. Kakaknya nggak seekstrim itu kan sampai-sampai bawa pisau bedah ke sini?
"Seriusan?" Dia melihat ke arah tangan kakaknya.
Kenzie masih berdiri di tempat sambil bersedekap dada. Tidak ada apapun di tangannya. Tapi ekspresi di wajahnya semakin dingin. Kalau dia adalah kulkas, listrik rumah bisa-bisa langsung habis di lahab oleh kebekuan wajahnya.
"Apa yang sedang kalian diskusikan? Jawab, apa yang kamu katakan tadi Mona?" Suara Kenzie lebih rendah dari sebelumnya.
Jantung Azira berdebar kencang menahan takut dan gugup. Memang bukan dirinya yang ditanya, tapi rasa takut yang perlahan tumbuh di dalam hatinya saat ini benar-benar nyata. Seolah pertanyaan ini diarahkan kepadanya.
"Itu... Yang mana, kak?" Mona menundukkan kepala takutnya.
Matanya sudah merah ingin menangis. Dia nyesel datang ke sini. Kalau dia nggak datang tadi, otomatis orang yang diinterogasi sama Kenzie sekarang adalah Sasa.
Apakah belum terlambat melarikan diri sekarang?
"Ke mana kalian bertiga membeli makanan?" Kenzie mengingatkan dengan murah hati.
Namun kali ini dia tersenyum kepada adik dan sepupunya. Terlihat jauh lebih ramah, namun mereka berdua tahu kalau senyuman itu jelas tidak sampai ke mata mereka.
"Kami... Pergi ke minimarket depan komplek, kak. Kami ke sana membeli makanan dan air minum." Jawab Mona jujur.
Sasa buru-buru menimpali,"Kami keluar bertiga, kak. Umi dan Abah juga tahu kami keluar, kalau mereka tidak tahu, kami tidak mungkin berani pergi."
Apa yang mereka berdua katakan itu benar. Sebelum berangkat mereka bertiga meminta izin dulu kepada orang tua. Jika orang tua tidak mengizinkan, mereka bisa nekat kabur, tapi untungnya orang tua mengizinkan jadi mereka punya alasan di depan Kenzie sekarang.
Kenzie menaikkan salah satu alisnya tidak memasukkan hati alasan mereka berdua.
"Oh, jadi kamu pergi keluar komplek dengan mereka?" Tanyanya dengan amarah tertahan.
Kenzie benar-benar marah. Sungguh sangat marah. Namun tak satupun dari mereka bertiga yang mengetahui alasan kenapa Kenzie marah. Bukankah semuanya sudah jelas?
Mereka pergi bersama-sama dan atas izin orang tua mereka. Maka seharusnya Kenzie tidak marah' kan?
"Iya, mas. Aku tidak membiarkan mereka pergi sendirian. Aku tahu kalau kamu khawatir sama mereka, jadi aku mengikuti mereka pergi. Lagi pula kami pergi hanya sebentar saja. Setelah membeli makanan dan minuman, kami langsung kembali ke rumah bibi Arumi." Azira membantu kedua adik iparnya untuk menjelaskan.
Dia juga merasa perubahan emosi suaminya.
"Tidak, kenapa aku merasa kak Kenzie semakin marah?" Bisik Mona takut.
Sasa pun tidak jauh situasinya dengan Mona. Dia paling takut dengan kemarahan Kenzie. Karena sekali Kenzie marah, itu sangat menakutkan. Terakhir kali Kenzie menunjukkan kemarahannya adalah satu tahun yang lalu ketika dirinya difitnah oleh Frida. Gara-gara masalah yang ditimbulkan oleh Frida, beberapa hari di rumah dilalui dengan ketegangan. Semua orang tidak merasa nyaman hingga kemarahan Kenzie mereda.
"Hust, jangan ngomong lagi. Nanti kalau kak Kenzie mendengar suara kamu, kita tidak lagi disembelih, tapi dikebiri!"
Mona langsung menutup mulutnya serapat mungkin tidak lagi berani membuat komentar apapun.
"Kamu sama sekali tidak mengerti Azira, kamu tidak mengerti. Sekarang jangan banyak bicara dan membuat alasan apapun lagi, masuk ke dalam rumah!" Setelah itu Kenzie langsung berbalik masuk ke dalam rumah mengabaikan wajah kebingungan Azira.
Apa yang tidak Azira mengerti?
Bagian mana yang tidak Azira mengerti?
Bukankah dia dan dua lainnya sudah menjelaskan secara jelas kepada Kenzie bahwa mereka tidak melakukan sesuatu yang berbahaya. Selain itu mereka cuma keluar sebentar, tapi mengapa reaksi Kenzie sangat keras?
Ya Allah, apakah aku telah melewatkan sesuatu? Batin Azira khawatir.
"Maaf ya, kak. Gara-gara kita kak Kenzie marah sama kakak." Sasa dengan menyesal meminta maaf kepada kakak iparnya.
__ADS_1
Dia juga kaget melihat kemarahan kakaknya. Dia kira kakaknya hanya sekedar marah karena istrinya diculik seharian olehnya dan Mona. Tapi melihat kemarahannya sekarang, Sasa berjanji tidak akan melakukan ini lagi. Dia sangat menyesal dan takut pada saat yang sama.
"Iya, kak. Maafin kita berdua, ya? Kami tidak tahu kalau kak Kenzie akan semarah ini sama kakak." Mona memiliki keinginan untuk memeluk Azira.
Tapi sebelum dia melakukan itu, kata-kata Azira langsung menghantamnya.
"Sudah, jangan merasa menyesal. Daripada meminta maaf kepadaku lebih baik kalian memikirkan apa yang harus kalian lakukan untuk menghadapi kemarahan mas Kenzie. Ingat, mas Kenzie juga marah sama kalian." Azira tidak tahu kata-katanya telah menusuk titik sakit kedua burung puyuh yang baru saja meregangkan sayap mereka setelah terbebas dari tekanan.
"Kak Azira kalau ngomong suka benar." Mona tersenyum kering.
"Masih belum masuk juga?" Teriak Kenzie dari dalam langsung membubarkan mereka bertiga.
...*****...
Umi dan Abah memperhatikan kalau suasana rumah malam ini agak sunyi. Padahal Mona juga ada di sini. Dan mereka berdua tahu kalau Mona dan Sasa disatukan, rumah pasti sudah mirip dengan kandang ayam. Mereka berdua akan membuat keributan di sana-sini sehingga rumah menjadi hidup. Tapi setelah mereka perhatikan sepanjang makan malam Mona dan Sasa tidak membuat gerakan apapun. Mereka tiba-tiba menjadi pendiam dan patuh pada saat yang sama. Bahkan Azira juga tidak terlalu banyak bicara malam ini. Ketika Umi mengajaknya mengobrol, Azira akan menjawab singkat dengan kata-kata yang sopan. Lalu pembicaraan menjadi hambar.
"Apalagi yang perlu diperhatikan. Putramu sedang merajuk." Kata Abah tidak terlalu ambil pusing.
Sasa tadi datang meminta pertolongan kepadanya. Kata Sasa, mereka bertiga telah membuatkan Kenzie marah. Sebelumnya mereka bertiga sudah berusaha meminta maaf kepada Kenzie dan menyenangkan hatinya seperti bertanya apa yang ingin dimakan, apa yang ingin diminum, ataukah Kenzie membutuhkan bantuan mereka?
Namun sepanjang malam hanya wajah dingin Kenzie lah yang menyambut mereka bertiga.
Putus asa, Sasa mau tak mau meminta bantuan kepada Abah. Karena suara Abah pasti didengarkan oleh Kenzie. Namun sayang seribu sayang, Abah langsung menolak dan tidak mau membantu. Patah hati, Sasa kembali berdiskusi dengan Azira dan Mona.
"Merajuk? Merajuk karena apa, Abah?" Umi tiba-tiba ingin tertawa.
Tumben putranya merajuk. Biasanya Kenzie selalu mempertahankan sikap dewasanya. Tapi sekarang tiba-tiba merajuk, siapa yang tidak merasa lucu ketika mendengarnya?
"Tanyakan saja kepada mereka bertiga. Entah kesalahan apa yang mereka lakukan hari ini sehingga membuat Kenzie tidak mau berbicara dengan mereka bertiga." Jawab Abah.
"Mereka bertiga? Maksudnya Azira, Sasa dan Mona? Mungkinkah gara-gara Azira keluar seharian bersama Sasa dan Mona?" Umi tercengang.
Ini karena masalah sepele?
Umi tidak tahu kalau perkembangan putranya sampai sejauh ini.
Abah hanya menganggukkan kepalanya sebagai konfirmasi tanpa niat membantu dan hanya ingin menjadi penonton tanpa bayaran.
"Jangan dipusingkan, itu urusan anak muda. Kita sebagai orang tua lebih baik menonton dari jauh saja. Anggap saja sebagai hiburan."
Umi terdiam mendengar ucapan suaminya. Semenjak Azira datang ke rumah ini. Semuanya berubah. Putranya yang dingin menjadi narsis, suaminya yang selalu bijak tiba-tiba memiliki hati hitam, dan yang paling penting rumah menjadi lebih hidup.
"Abah, benar. Kita lebih baik menjadi penonton saja. Jangan ikut campur dalam urusan para anak muda."
Sementara itu di ruang tengah, Azira, Sasa dan Mona duduk termenung tanpa melakukan apa-apa- bila cemilan di atas meja diabaikan.
Sasa dan Mona sedang cemas, tapi mulut mereka tidak berhenti mengunyah makanan. Berbeda dengan Azira. Setelah diabaikan oleh Kenzie, Azira tidak memiliki mood untuk melakukan apa-apa.
"Kakak nginap di kamar kalian berdua aja, ya?" Azira putus asa.
Mungkin saja Kenzie tidak mengizinkannya masuk ke dalam kamar malam ini?
Jadi ke mana dia harus tidur?
Mendengar permintaan Azira, mereka berdua langsung melambaikan tangan dengan cemas. Menolak Azira bergabung dengan mereka. Bila di waktu normal, mereka pasti senang tidur satu kamar dengan Azira. Tapi sayang sekali malam ini tidak bisa karena kemarahan Kenzie belum surut!
"Jangan coba-coba, kak. Kami tidak berani melawan kak Kenzie. Kakak kan istrinya, kakak pasti bisa menenangkan kemarahan kak Kenzie." Kata Sasa menolak.
Sebenarnya dia tidak enak hati, toh, Azira dimarah juga gara-gara dia. Tapi Sasa sama sekali tidak berdaya. Dia tahu kalau Azira malam ini tidur bersamanya, maka dipastikan Kenzie akan membakar kamarnya.
"Bener, kak. Eh, menurut novel-novel yang pernah aku baca kalau seorang suami dan istri bertengkar, solusi yang paling ampuh untuk meredakan pertengkaran adalah dengan..." Mona sengaja menahan suaranya untuk memancing rasa penasaran mereka berdua.
Sasa tahu ke mana arah tujuan pembicaraan Mona. Karena dia juga korban cinta fiksi!
"Dengan apa, Mona?" Azira langsung penasaran.
Mona tersenyum lebar,"Ya dengan memanjakan suami lah, kak. Um, berikan layanan terbaik untuk kak Kenzie malam ini. Cobalah untuk menjadi lebih agresif daripada malam-malam sebelumnya. Dijamin deh, dia pasti berhenti marah sama kakak ataupun kita bertiga. Nanti kalau kak Kenzie bertanya ide ini datangnya dari siapa, bilang aja dari Mona."
Sasa tidak mau kalah,"Bilang dari Sasa juga, kak."
Azira belum ngeh. Dia masih mencerna apa yang Mona katakan kepadanya.
"Layanan... Layanan memanjakan suami- astaghfirullah!" Azira sontak menutup wajahnya malu.
Apa yang dibicarakan oleh kedua anak ini? Bisa-bisanya mereka berpikir sejauh itu!
Dia saja yang sudah menikah, um, dia belum sampai ke tahap itu bersama mas Kenzie. Dan malam ini jika dia melakukannya... Azira membayangkan dirinya bertindak genit di depan Kenzie untuk menarik perhatiannya. Namun mengingat skala kemarahan Kenzie, mungkin sejak awal dia bertindak genit Kenzie hanya memandangnya dengan wajah datar dan tatapan sinis.
Ugh, Azira langsung berbulu memikirkannya. Tidak, tidak, tidak, tidak!
Dia tidak bisa membayangkan itu semua terjadi!
Pasalnya Kenzie adalah manusia kulkas!
__ADS_1
Bukan sembarang manusia!
"Oh, kalian bertiga masih ingin nongkrong rupanya?" Di tengah-tengah pikiran mereka bertiga, suara Kenzie langsung membangunkan mereka bertiga.
"Mas...mas Kenzie?" Azira berharap bahwa suaminya tidak pernah mendengar percakapan mereka bertiga.
Terutama saran Mona kepadanya, dia berharap bahwa Kenzie tidak pernah mendengarnya.
"Sejak kapan mas Kenzie di sana?" Tanya Azira gugup.
Kenzie turun dengan gelas kosong di tangan kanan.
"Huh," Kenzie mendengus tak senang,"Kenapa?" Tanyanya sensi.
Azira menggelengkan kepalanya cemas.
"Bukan apa-apa, mas. Bukan apa-apa."
Kenzie memalingkan wajahnya tak mau melihat ke arah mereka bertiga lagi.
"Masih belum mau balik juga?" Menggelengkan kepalanya, Kenzie pergi ke dapur untuk mengambil air.
"Kami akan pergi...ah, kami berdua sudah mengantuk. Kak Azira, tolong bersemangat lah. Kami mendoakan yang terbaik untuk kakak!" Bisik Sasa menyemangati dengan rona merah di wajahnya.
Mona pun memiliki penampilan yang sama. Mereka berdua jelas telah berpikir liar.
"Semangat kak Azira!" Mona menepuk pundak Azira.
Setelah itu mereka berdua melarikan diri tanpa menunggu reaksi Azira.
Azira tercengang kaget melihat betapa cepat kaki mereka melangkah meninggalkannya. Malu, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan langsung naik ke lantai atas sebelum Kenzie kembali dari dapur.
"Huh.." Umi menghela nafas panjang.
"Anak zaman sekarang terlalu berani, Bah. Umi menyesal tidak memasukkan Sasa ke pondok pesantren dulu."
Abah menggelengkan kepalanya tak berdaya,"Dulu aja sewaktu Sasa mau kamu malah nggak mau. Alasannya nggak mau pisah dari putri satu-satunya kita. Sekarang kamu nyesel nggak masukin dia ke pondok pesantren. Umi...Umi..." Abah menggelengkan kepalanya seraya bangun dari sofa dan membantu Umi berdiri.
Semua orang sudah masuk ke dalam kamar. Mereka berdua juga harus kembali.
...*****...
Setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi dan berganti baju, Azira keluar dari kamar mandi dan menemukan lampu kamar sudah dimatikan sementara suaminya sudah tidur.
Azira merasa tidak enak hati dengan suaminya. Dia bisa merasakan dengan jelas bahwa kemarahan Kenzie tidak dibuat-buat. Sore tadi dia sangat marah, tapi Azira tidak tahu kesalahan apa yang telah membuat suaminya begitu marah. Apakah karena dia bermain seharian di rumah bibi Arumi?
Ataukah karena dia menemani Sasa dan Mona pergi berbelanja ke minimarket luar komplek?
Azira bingung.
"Mas Kenzie?" Panggil Azira.
Tidak ada sahutan.
Azira meremas tangannya gugup.
"Mas Kenzie sudah tidur?" Namun masih sama, dia tidak mendengar suara sahutan.
Menggigit bibirnya karena gugup. Dia akhirnya membuat keputusan. Dengan berani dia naik ke atas kasur, lalu berhenti tak bergerak memandang wajah damai suaminya yang tengah tertidur lelap. Beberapa detik kemudian, dia menggeser dirinya untuk dekat dengan suaminya sampai akhirnya tubuh mereka bersentuhan.
"Ya Allah... bismillah." Memberanikan diri, Azira tidur tepat di samping Kenzie dan bergerak dengan hati-hati menyentuh perut kuat Kenzie. Lalu dia mengangkat kepalanya menatap reaksi Kenzie.
Sangat tenang. Menghela nafas lega, dia langsung melingkari pinggang Kenzie, memeluknya dengan perasaan campur aduk. Yang paling terasa di dalam hatinya adalah dia sangat senang saat ini. Dia sangat senang sampai-sampai tidak bisa menahan dirinya untuk menghirup wangi khas Kenzie bercampur dengan bau sabun. Um, mereka menggunakan sabun yang sama, tapi entah kenapa Azira merasa kalau wangi sabun Kenzie lebih harum dan enak daripada miliknya.
Ini sangat membingungkan.
Tapi suhu badan Kenzie sangat hangat, nyaman dipeluk dan paling pas di bawa tidur. Ini adalah kompor hidup favorit Azira. Dengan kompor hidup, Azira tidak perlu bingung soal selimut lagi. Dia tidak akan kedinginan karena orang yang memeluknya- en, maksud Azira karena dia bisa memeluk orang yang dia sukai.
"Mas?" Azira memanggil ragu-ragu.
Namun Kenzie kembali tidak merespon. Dadanya masih bergerak turun dengan damai tanpa ada fluktuasi apapun.
"Sudah tidur ternyata." Gumam Azira harusnya lega tapi dia malah merasa kecewa.
Sret
Tiba-tiba Kenzie bergerak memiringkan posisi tidurnya menghadap Azira.
"Tidurlah," Kata Kenzie langsung membuat tubuh Azira menegang,"Jangan banyak bicara." Sambungnya sambil membalas pelukan Azira.
Azira berharap-harap cemas,"Mungkinkah Kenzie tidak akan mengabaikannya lagi?"
Semoga saja dia berharap.
__ADS_1