
Seperti yang Abah bilang, dia tidak peduli apakah Azira menjalani kehidupan yang buruk atau baik di luar sana karena itu semua tidak bisa menampik bahwa Azira adalah anak yang dilahirkan wanita itu.
"Ini..." Mama melihat Ayah dan bibi Safa. Bibirnya bergetar menahan sakit di hatinya.
Jika Kenzie tidak bisa menikah kembali dengan putrinya. Maka Humairah pasti hancur. Putrinya itu sangat mencintai Kenzie hingga terbawa mimpi saat sedang sakit. Dia telah berjanji akan membawa Kenzie kembali. Tapi dengan perkataan Abah tadi, semuanya tidak mungkin terjadi.
"Apakah kakak sudah memikirkannya baik-baik?" Tanya Ayah malu.
Dia merasa sangat malu mendengar apa yang dikatakan oleh Abah tadi. Sebuah penolakan terang-terangan dari Abah kalau selama ini Abang tidak pernah menganggapnya serius. Hanya mantan istrinya lah yang dihargai oleh Abah. Dia pikir wanita desa itu tidak masuk ke dalam matanya. Dan dia selalu berpikir bahwa Abah sangat menghargai hubungan ini sehingga dia mau menerima Humairah sebagai calon menantunya. Tapi faktanya, itu merupakan perasaannya saja.
"Kamu tidak perlu menanyakannya. Keputusanku sudah final." Abah menjawab dengan suara tegas dan yakin.
Mama tidak bisa menerimanya. Dia beralih berbicara dengan Umi. Berharap Umi bisa mengerti perasaannya.
"Kak, kita sudah berteman lama dan kakak melihat sendiri bagaimana Humairah besar. Dia sangat mencintai Kenzie. Saat jatuh sakit kemarin, dia selalu menyebut nama Kenzie di dalam tidurnya. Dia akan hancur jika Kenzie tidak kembali kepadanya. Tolong pertimbangkan lagi, kak. Pertimbangkan putri kami dan pertimbangkan masa depan anak-anak." Mohon Mama kepada Umi.
Umi merasa tidak enak dengan permohonan Mama. Dia juga memiliki kasih sayang kepada Humairah, mungkin dia sudah menganggap Humairah sebagai putrinya juga. Tapi hatinya begitu sulit menerima kenyataan ketika tahu Ayah telah menipu mereka. Dia kasihan kepada Humairah, tapi lebih kasihan lagi kepada Azira yang ditelantarkan oleh Ayah dan posisinya sebagai calon istri Kenzie yang sah digantikan oleh Humairah. Tak terbayang betapa sakit hati Azira melihat kekejaman Ayahnya.
"Abah benar. Ini adalah jalan Allah sehingga Kenzie dan Azira kembali bersama sesuai dengan harapan Abah. Aku tidak akan memberikan komentar apa-apa tentang masalah ini lagi karena kebenarannya sudah terungkap. Aku hanya bisa mengatakan bahwa jaga Humairah baik-baik dan jelaskan masalah ini apa adanya. Jangan sembunyikan fakta bahwa dia bukan tunangan Kenzie yang asli. Tapi katakanlah dengan jujur bahwa Azira tunangan Kenzie yang sebenarnya. Agar dia bisa mengikhlaskannya dan melepaskan Kenzie." Dengan berat hati Umi mengatakan ini kepada Mama. Dengan arti lain dia tidak akan mendukung Humairah ataupun mendekat mendesak Kenzie menceraikan Azira. Dia sudah lepas tangan.
__ADS_1
"Kak...kak... bagaimana bisa ini terjadi?! Bagaimana dengan anakku? Anakku lah yang tersiksa di sini. Dia menjadi korban kalian!" Tersulut emosi, Mama tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Dia berbicara lantang kepada Umi dan Abah, menuntut keadilan untuk putrinya yang malang.
Namun perilakunya membuat Ayah sangat malu. Dia menarik tangan istrinya agar jangan melakukan tindakan bodoh lagi. Namun Mama tidak peduli dengan kekhawatiran Ayah. Baginya saat ini adalah mendapatkan keadilan untuk Humairah. Satu-satunya putri yang telah dia besarkan dengan hati-hati. Dia sakit dan sedih melihat putrinya yang malang terus menerus memohon untuk dipertemukan dengan Kenzie. Bagaimana bisa dia membiarkan putrinya tersakiti?
Tidak akan pernah terjadi!
Dia akan mencari keadilan sebanyak mungkin untuk putrinya!
"Korban? Bila kamu ingin mencari keadilan, maka tuntutlah suamimu. Dia adalah pelaku yang mendorong putrimu menjadi korban di dalam permasalahan ini. Dan sebagai mertua Azira, aku juga ingin menuntut tanggung jawab kepada suamimu. Dia telah menelantarkan menantu kami dan menipu kami dengan anak yang lain. Apakah suamimu bisa memberikan kompensasi untuk masalah ini?" Abah menuntut balik tanpa mengubah ekspresi datar di wajahnya.
Mendengar tuntutan Abah, dia tahu bahwa Humairah tidak akan mendapatkan apa-apa di sini. Ini memang kesalahan Ayah, tapi apa yang harus dia lakukan ketika putrinya sendiri mencintai Kenzie?
"Sudahlah, mbak. Ayo kita pulang. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa di sini sekalipun mbak memohon." Bibi Safa menarik Mama berdiri.
Setelah mendengar percakapan hari ini dia tahu bahwa ini adalah kesalahan kakaknya. Tidak peduli sekuat apapun mereka berbicara dan menyalahkan Azira, posisi Ayah tidak akan pernah dibenarkan. Karena jika bukan Ayah yang memulai maka semuanya tidak akan sampai seperti ini.
"Aku tidak bisa pulang... Humairah ingin bertemu dengan Kenzie.." Ucap Mama mulai menangis terisak.
Ayah menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Dia bahkan malu mengangkat wajahnya untuk memandang Abah dan Umi. Kesalahannya dipertontonkan dengan mudah oleh mereka, dan bodohnya lagi dia tidak bisa membuat pembelaan apapun untuk membela diri sendiri. Dia merasa malu dan kesal pada saat yang sama. Jika bisa dia ingin segera pergi dari tempat ini dan tidak akan pernah datang lagi ke sini.
__ADS_1
"Pulanglah. Humairah sudah menunggu kita di rumah." Ayah menarik Mama dan membantunya berdiri.
"Kakak, kami akan pulang dulu. Lain kali kalau ada waktu, kami akan datang berkunjung lagi." Ucap Ayah berbasa-basi.
Setelah kejadian hari ini dia tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi ke rumah ini.
Abah menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja. Pintu rumah kami akan selalu terbuka lebar untuk kalian." Kata Abah tanpa mengubah ekspresi di wajahnya.
Siapa tahu apakah mereka benar-benar akan datang lagi di masa depan atau tidak.
Umi menutup pintu rumah setelah mobil keluarga Humairah menghilang dari pandangannya. Dia berbalik dan berjalan kembali ke ruang tamu. Di sana suaminya masih duduk dengan secangkir teh hangat di tangan. Memperhatikan raut wajah tenang sang suami, dengan ragu-ragu Umi duduk di samping Abah. Dia memiringkan posisi duduknya hingga berhadapan dengan Abah.
Abah tahu kecemasan Umi, tapi dia tetap diam dan menunggu istrinya berbicara langsung.
"Kenapa Abah tidak mengatakan masalah ini kepadaku? Jika aku tahu Azira adalah anak wanita itu, aku tidak mungkin berbuat jahat kepadanya. Sekarang sudah seperti ini, aku malu bertemu dengannya. Dia merupakan putri dari wanita yang telah berkorban untuk menyelamatkan Abah, tak seharusnya aku bersikap buruk kepadanya." Umi mengeluh kepada Abah karena menyembunyikan masalah sepenting ini.
Bila Abah mengatakan masalah ini dari awal, dia tidak akan pernah bersikap buruk kepada Azira.
__ADS_1
"Umi, tenanglah. Aku baru menemukan masalah ini tadi malam setelah berbicara dengan Azira. Aku curiga kalau Azira adalah anak dari wanita desa itu makanya aku melakukan penyelidikan dan mendapatkan hasilnya tadi malam. Aku tidak sempat membicarakannya denganmu karena aku ingin menunggu kamu menjadi lebih tenang. Tapi yang tidak kuharapkan kamu malah mengizinkan mereka datang ke rumah kita."