
Dia ditelantarkan, tak diakui, dibuang dan diabaikan. Tidak hanya melakukan itu, tapi mereka juga memaksa ibunya perlahan berjalan mendekati jurang kehancuran. Hati seorang anak mana yang tidak akan hancur dan menumbuhkan dendam di hatinya, jika satu-satunya pelita di hati mereka dihancurkan hingga tak bersisa.
Mungkin banyak kasus di mana seorang anak mengabaikan luka di masa lalu dan memaafkan semua kesalahan yang terjadi. Sesakit apapun itu. Tapi Azira tak sekuat itu. Azira tak memiliki kemampuan itu. Dia sudah terlanjur sakit.
"Kak Azira... Kak Azira nggak salah, Kak Azira sama sekali nggak salah. Kalau aku di posisi kak Azira, aku nggak akan puas menghancurkan kehidupan kak Humairah. Tapi aku... Mungkin aku akan membakar rumah mereka dan menghancurkannya sehancur hancurnya. Aku tidak sekuat kak Azira.." Sasa memeluk kakak iparnya, sebab dia juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh kakaknya.
Dia sakit hati. Ikut merasa hancur, dan bisa membayangkan betapa sakit hati Azira ketika melalui semua ini. Pantas saja, pantas dia nekat merusak pernikahan Kenzie dan Humairah. Pantas saja dia tidak merasa bersalah ketika melihat Humairah menangis keras di hadapannya. Seolah-olah memang inilah yang diharapkan.
"Aku... Aku terpaksa menghancurkan kehidupan mas Kenzie, aku tidak punya cara lain lagi, dek. Dan aku minta maaf..." Ucapnya tulus dari dalam hati.
Setelah merasakan bagaimana kebaikan keluarga ini dan perhatian yang Kenzie berikan kepadanya, dia merasa bersyukur sekaligus bersalah. Sungguh, rasanya begitu rumit.
"Kak Azira... Kak Kenzie pasti mengerti perasaan kakak. Dia pasti mau memaafkan kakak. Dan sebenarnya kami melihat bahwa kak Kenzie lebih nyaman bersama kakak daripada bersama kak Humairah. Sungguh, setelah bersama kakak, Kak Kenzie lebih banyak tertawa dan berekspresi. Dia lebih aktif daripada dulu. Makanya kami senang dengan kakak, karena kehadiran kakak mampu mengubah kak Kenzie." Sasa berusaha menghibur kakak iparnya.
Dia mengatakan kepada Azira berkali-kali bahwa semuanya tidak apa-apa. Semuanya memang berjalan sesuai dengan takdirnya. Dan setelah mengetahui kesedihan Azira, dia tidak lagi terikat dengan keluarga Humairah. Sasa tidak merasa kasihan dan malah berharap bila keluarga itu mendapatkan ganjaran atas semua yang telah mereka lakukan kepada Azira.
Terutama untuk bibi Safa dan Ayah.
Pantas saja bibi Safa sangat memusuhi kak Azira. Di depanku dia menjelek-jelekkan nama kak Azira dan mengungkit pekerjaan ibunya kak Azira yang tidak benar. Tujuannya pasti agar aku mempengaruhi Umi untuk memisahkan kak Azira dari kak Kenzie. Untung saja Allah segera menyadarkan ku sehingga aku tidak lepas kendali dan menyebarkan aib kak Azira dimana-mana. Jika sampai aku melakukan itu, kak Kenzie pasti akan sangat marah kepadaku. Dan dosa-dosa ku yang menyebarkan aib orang lain... Ya Allah aku tidak berani memikirkannya. Batin Sasa bersyukur di dalam hatinya.
Dia memeluk kakak iparnya seerat mungkin, menepuk-nepuk punggung kurus kakak iparnya untuk menenangkan kesedihannya.
"Kak Azira, jangan khawatir. Allah pasti akan membalaskan semua penderitaan yang kak Azira alami. Yakinlah Allah tidak akan diam melihat kak Azira ditindas oleh mereka. Sekarang kak Azira harus tenang dan jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan. Biarkan takdir yang bekerja. Aku percaya banget, kak. Kalau keluarga kak Humairah, terutama bibi Safa cepat atau lambat akan dihukum oleh Allah."
Sasa mengatakan berbagai macam kata-kata penghiburan untuk menenangkan kesedihan Azira. Sampai akhirnya Azira berhenti menangis dan bisa tersenyum lagi.
"Terima kasih ya, dek. Sekarang hati kakak tenang banget." Ucap Azira malu.
Dasarnya tadi dia menangis sangat keras di dalam pelukan adik iparnya. Dan karena terlalu sedih, dia kebablasan menceritakan semua yang telah dialami bersama ibu. Kecuali masalah nyonya Bara yang mungkin masih mengincarnya sekarang, Azira tidak menutup apapun dari adik iparnya.
"Sama-sama, kak. Aku seneng kok berbagi cerita sama kakak. Kakak juga bisa kok mendengar ceritaku kapan-kapan. Soalnya aku nggak punya teman curhat di rumah ini. Untung saja ada kakak, jadi aku nggak terlalu kesepian."
Melihat ponselnya yang tergeletak di atas karpet, Sasa mengambil ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku pakaiannya.
"Ya udah, kak Azira istirahat aja, gih. Kakak pasti capek dan membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Kalau ada apa-apa, kakak telepon aja atau cari aku ke kamar. Aku nggak akan kemana-mana kok."
Azira juga sedang tidak mood dan dia ingin tetap di dalam kamar jadi dia tidak menolak.
"Okay, sekali lagi kakak ucapkan terima kasih dan tolong jaga rahasia ini dari siapapun." Minta Azira kepada adik iparnya.
Sasa tersenyum simpul.
"Lalu bagaimana dengan kak Kenzie? Apakah kakak tidak ingin berbagi dengannya?"
Mendengar nama Kenzie disebutkan, Azira mulai gelisah lagi. Dia juga mau membicarakan masalah ini dengan Kenzie, tapi dia takut dan ragu. Mungkin saja reaksi Kenzie tidak sebaik reaksi Sasa?
Mungkinkah Kenzie tidak setuju dengan pemikirannya dan malah menyalahkannya?
Bagaimanapun juga membalas dendam itu tidak dibenarkan.
"Bila sudah waktunya, aku pasti akan membicarakannya dengan mas Kenzie." Kata Azira setelah lama menimbang.
Sasa tersenyum lega.
"Sebaiknya begitu. Ya udah, aku turun dulu ya, kak. Kak Azira juga jangan lupa istirahat."
Setelah berpamitan kepada Azira, dia lalu keluar dari kamar dan segera turun ke bawah. Menuruni anak tangga terakhir, Sasa mengangkat kepalanya menatap ke arah pintu kamar coklat yang tertutup rapat. Tidak ada siapapun di sana dan pintu itu juga tertutup. Setelah memastikan bahwa Azira tidak keluar, dia lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan mengangkatnya ke arah telinga.
"Apakah kakak sudah mendengarnya?" Tanyanya pada seseorang di seberang sana.
__ADS_1
...*****...
Setelah berbicara dengan Sasa, dia langsung jatuh tertidur di atas kasur dan baru bangun 2 jam kemudian. Dia tidak lupa kalau hari ini akan menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya yang bekerja di rumah sakit.
Jadi setelah membersihkan diri dan beres-beres di kamar, dia langsung turun ke bawah dan bertemu lagi dengan Sasa yang tengah duduk bersama Umi.
"Bagaimana istirahat kak Azira?" Sapa Sasa dengan senyuman lebar di wajahnya.
Azira tiba-tiba malu.
"Alhamdulillah, sekarang sudah agak enakan."
"Kamu lagi sakit ya, Nak? Adek kamu bilang tadi kamu lagi nggak enak badan makanya nggak turun ke bawah." Umi menarik tangan menantunya agar duduk di sampingnya.
Azira merasa hangat.
"Cuma meriang biasa, Umi. Setelah tidur sebentar badan aku kembali enakan, kok."
"Meskipun meriang tetap aja sakit, Nak. Besok-besok kalau kamu sakit, bilang aja sama, Umi. Jangan paksain diri, ya?"
Azira mengangguk patuh.
"Iya, Umi." Melihat waktu di jam dinding, sebentar lagi waktu makan siang datang dan dia harus segera memasak.
"Kak Azira mau masak buat bekal makan siang kak Kenzie?" Seolah menebak pikiran Azira, Sasa bertanya.
Azira mengangguk malu, berusaha mengontrol wajahnya agar terlihat biasa.
"Iya, dek. Aku sudah janji sama mas Kenzie semalam."
Umi tidak setuju sekaligus merasa heran.
"Memang kamu masih bisa masak dengan kondisi badan yang tidak fit? Lagian Umi juga heran, kok tumben-tumbenan Kenzie mau dibuatin bekal makan siang? Biasanya dia selalu nolak kalau Umi tawarin."
"Ya kalau dulu kan yang masak Umi, tapi sekarang yang masak istrinya. Jelas kak Kenzie lebih mau dibuatin makanan sama kak Azira daripada Umi."
Ucap Sasa mengejek. Umi langsung menghadiahi putrinya dengan sebuah cubitan ringan di pipi.
"Ah, Umi!" Protes Sasa sambil memegang pipinya yang tidak sakit.
"Jangan banyak omong. Cepat bantu Azira masak di dapur." Perintah Umi kejam.
Sasa tidak menolak, tapi berpura-pura enggan di depan Umi. Setelah bertengkar sebentar dengan Umi, dia akhirnya pergi ke dapur bersama Azira. Sementara Umi tetap di ruang tamu. Terdiam lama, air mata tanpa sadar mengalir dari sudut matanya. Umi cepat-cepat mengusap wajahnya lalu menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada siapapun yang melihatnya menangis.
"Aku benar-benar berdosa ya Allah..." Bisiknya menyesal.
...*****...
Satu jam kemudian mereka akhirnya selesai memasak. Menu yang mereka masak adalah menu rumahan biasa. Tidak jauh dari tempe dan tahu, sayuran kol dan bihun, ayam goreng, beberapa butir telur rebus. Selain itu juga ada tambahan tapi sepiring risol yang dibawa entah dari mana. Karena Azira sudah menemukannya di dalam kulkas dan digoreng langsung oleh Sasa.
Karena ini makan siang, Azira sengaja mengambil kotak bekal yang lebih besar untuk suaminya. Dia yakin suaminya pasti capek dan membutuhkan asupan makanan besar.
"Umi di mana Pak Maman?" Dari tadi dia tidak melihat ada Pak Maman di sini.
Padahal makan siang suaminya akan dikirim langsung oleh Pak Maman ke rumah sakit. Kalau tidak ada Pak Maman di sini, lalu bagaimana caranya mengantarkan makan siang suaminya ke rumah sakit?
"Pak Maman lagi nemenin Abah keluar kota sebentar. Ada perlu apa sama dia?"
"Mas Kenzie bilang makan siangnya nanti dibawain sama Pak Maman ke tempatnya kerja." Jawab Azira.
__ADS_1
Tapi sekarang Pak Maman pergi dan dia bingung harus meminta bantuan kepada siapa.
"Kamu yang pergi sama Sasa ke rumah sakit. Sekalian kamu ngeliat tempat kerja suami kamu. Biar nanti kalau ada apa-apa kamu langsung bisa ke sana tanpa perlu bingung." Kata Umi sembari melambaikan tangannya.
Azira terkejut.
"Tapi... Mas Kenzie pasti sibuk, Umi. Bukankah kedatangan kami membuatnya terganggu?" Kata Azira ragu-ragu.
"Duh, kak Azira polos banget sih. Kak Kenzie tuh bukannya terganggu malah seneng tahu. Kan yang datang kak Azira, bukan Umi." Keluar dari kamar, Sasa langsung menyahuti pembicaraan mereka dan lagi-lagi meledek Uminya.
"Ngomong terus, besok Umi nggak bakal kasih kamu uang jajan lagi." Ancam Umi tidak serius.
Mendengar ancaman Umi, Sasa langsung berperilaku baik dan menyanjung-nyanjung Umi, menyebarkan kentut pelangi dimana-mana hingga membuat Umi mual mendengarnya.
"Ayo Azira bersiap-siap. Kamu akan pergi ke rumah sakit bersama Sasa. Umi harap kalian secepatnya pergi, karena Umi sudah bosan melihat wajah adik kamu." Kata Umi sembari mendorong Sasa menjauh darinya.
Azira gelagapan. Apakah tidak apa-apa pergi ke tempat kerja suaminya?
"Mungkin kita bisa menghubungi mas Kenzie dulu?" Azira ragu.
"Ya Allah kak Azira, kita tuh mau kasih surprise buat kak Kenzie jadi nggak perlu dihubungi. Udah kak, ayo ganti baju." Tanpa menunggu perlawanan Azira, Salsa menariknya pergi ke atas dan mengirimnya masuk ke dalam kamar.
Setelah itu dia juga ikut bersiap-siap di bawah. Selesai berganti baju, mereka kembali bertemu di bawah. Sasa langsung sakit gigi melihat wajah polos kakak iparnya. Dia tidak habis pikir kenapa Azira tidak menggunakan make up di wajahnya. Memang benar wajah Azira sudah cantik secara alami tapi alangkah lebih baiknya menggunakan beberapa lapisan make up. Selain mempercantik wajah, beberapa make up juga berfungsi untuk melindungi kulit wajah selama berpergian di bawah sinar matahari.
Makanya tanpa berbasa-basi lagi, dia langsung menarik Azira ke dalam kamarnya dan memberikannya beberapa sentuhan make up.
10 menit kemudian mereka keluar dari kamar dan disambut langsung oleh senyuman bangga umi.
Baik putri dan menantunya sama-sama cantik, siapa yang tidak bangga?
"Umi kita berangkat dulu, yah?" Azira dan Sasa mencium tangan Umi sebelum berangkat pergi.
Umi mengusap puncak kepala mereka.
"Oke, hati-hati di jalan. Jangan lupa baca doa sebelum pergi." Umi mengantarkan mereka ke depan pintu.
"Iya, Umi. Dah, taksi kami udah datang. Kami berangkat dulu ya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.."
Umi tidak masuk ke dalam rumah sampai Sasa sama Azira masuk ke dalam taksi dan menghilang dari pandangannya.
"Semoga Allah melindungi kalian hingga pulang ke rumah nanti." Doa Umi melambungkan harapan sebelum masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
...*****...
Tidak butuh waktu lama mereka berdua akhirnya sampai di depan sebuah rumah sakit swasta ternama di kota ini. Seperti rumah sakit pada umumnya, rumah sakit swasta ini juga sangat ramai. Entah itu pengunjung ataupun pasien, mereka bisa dilihat di mana-mana.
Mereka berdua langsung pergi ke gedung utama tempat kantor Kenzie berada. Kebetulan sekali ketika mereka tiba di rumah sakit, azan zuhur juga berkumandang yang menandakan waktu istirahat akhirnya datang.
"Kak Azira ingat jalan ini baik-baik. Kalau kakak mau ke kantor kak Kenzie, kak Azira harus lewat jalan ini." Ucap Sasa membisiki Azira.
Azira bingung karena terlalu banyak lorong namun dia masih menganggukkan kepalanya.
"Nah, ini adalah kantor kak Kenzie, Dokter Bedah Umum." Tunjuk Sasa ke sebuah ruangan yang memiliki pintu kaca.
Jantung Azira mulai berdegup kencang. Dia memegang erat paper bag di tangannya karena gugup.
"Maaf kalian mau cari siapa- oh, ini mbak Sasa. Mau cari dokter Kenzie, mbak?" Seorang perawat muda menghentikan langkah mereka. Ternyata perawat itu mengenal Sasa dan langsung menyingkirkan wajah profesionalnya, tersenyum ramah kepada Sasa dan Azira.
__ADS_1
Sasa tidak tahu siapa perawat ini. Tapi karena perawat itu tahu dia memiliki hubungan dengan Kenzie, maka itu adalah hal yang bagus.
"Iya, mbak. Apa kak Kenzie ada di ruangannya?"