Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 9.8


__ADS_3

Nihil, tak ada pesan apapun dari istrinya. Melihat ini kening Kenzie mengkerut tak nyaman. Padahal dia sudah meninggalkan pesan kepadanya sebelum berangkat bekerja untuk menghubunginya bila ada kesempatan. Dan dia rasa istrinya pasti memiliki kesempatan untuk mengirim beberapa patah kata pesan kepadanya. Tapi entah mengapa dia tidak mau melakukan itu?


"Mas Kenzie kok berkata begitu sama aku? Kita kan bukan orang lain, mas. Kita punya hubungan-"


"Perjodohan." Potong Kenzie dingin.


Dia mengalihkan perhatiannya dari ponsel dan menatap Humairah dengan ekspresi acuh tak acuh. Sikapnya sangat dingin seperti orang yang tengah bertemu dengan pengganggu, sangat membosankan.


"A..apa?" Humairah mundur selangkah melihat ekspresi datar Kenzie.


"Aku adalah pria beristri, bukan lagi laki-laki lajang. Dan cara bicara dan sikap kamu yang sok akrab membuatku tidak nyaman, jadi mulai sekarang jaga sikap mu dan mulailah memanggilku dengan panggilan formal. Ingat, di sini kita adalah rekan kerja, tidak perlu mengungkit masalah pribadi apalagi sampai mengulang masa lalu. Semua yang terjadi sudah terjadi, tak perlu diingat-ingat kembali apalagi sampai diulang kembali. Toh, tidak ada yang spesial dari masa lalu dan tidak ada yang terjadi dari masa lalu. Maka abaikan saja."


Membeku. Semua orang melongo kaget mendengar kata-kata kejam Kenzie kepada Humairah. Sikapnya yang dingin terasing ditambah kata-kata tak berperasaan itu bagaikan tamparan untuk semua orang yang berspekulasi bahwa Kenzie masih memiliki perasaan kepada Humairah.


Terutama untuk Humairah sendiri. Wajahnya memucat kaget mendengar kata-kata kejam tak berperasaan yang keluar dari mulut laki-laki yang telah menjadi bunga tidurnya malam-malam ini. Teganya, setiap malam dia lewati dengan rasa sakit dan kerinduan karena memikirkan pernikahan yang hancur. Sedangkan laki-laki yang dia dambakan ternyata telah melupakan semua tentang mereka berdua dan parahnya lagi tidak menganggap ada sesuatu yang spesial dari waktu-waktu itu?


Jangan katakan lagi, hati Humairah sakit sesakit sakitnya. Air mata yang telah berkumpul di pelupuk matanya tumpah dengan mudah tanpa menahannya.

__ADS_1


"Mas Kenzie kenapa gitu, sih?"


Melihat Humairah mulai menangis, Kenzie tidak merasa tersentuh ataupun bersalah di dalam hatinya. Dia justru berpikir kalau Humairah suka membesar-besarkan masakan yang dibuat sendiri.


"Kamu sendiri mengerti agama'kan, jadi jangan ganggu aku lagi di masa depan apalagi sampai membuat rumor di rumah sakit. Aku rasa tidak ada yang perlu lagi dibicarakan, assalamualaikum."


Kenzie membawa tasnya pergi mengabaikan tatapan kosong para penonton yang tidak bisa berkata-kata melihat sikap terasingnya. Mereka hanya bisa melihat kepergian Kenzie yang semakin jauh dari pandangan sebelum melihat Humairah yang masih diam diam di tempat tak bergerak.


Humairah terlihat sangat menyedihkan. Tapi apa yang Kenzie katakan barusan ada benarnya juga. Kenzie sudah memiliki istri dan dari reaksinya, dia menghormati dan menghargai istrinya. Jadi wajar kalau Kenzie ingin menjaga jarak dari Humairah.


"Azira.." Humairah mengucapkan nama ini dengan gigi terkatup menahan sakit.


"Semua ini gara-gara kamu!" Kedua tangannya mengepal marah.


Tiba-tiba dia teringat membawa makanan untuk Kenzie. Sayang sekali dia tidak sempat memberikannya kepada Kenzie karena keburu pulang. Sekarang makanan ini jadi sia-sia karena Azira.


"Apa kamu baik-baik saja, Humairah?" Salah satu perawat memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


Mendengar kata-kata tak berperasaan Kenzie, sulit bagi mereka untuk mengabaikannya. Mereka saja yang orang luar merasa ngilu mendengarnya, apalagi Humairah yang disemprot langsung, rasanya pasti sangat ngilu.


Humairah mengusap pipinya yang basah. Menyingkirkan ekspresi muram di wajah dan kembali memasang tampilan lembut di depan mereka. Dia terlihat menyedihkan.


"Tidak apa-apa, mbak. Mas Kenzie mungkin masih bingung dan pusing dengan situasinya sekarang. Insya Allah kami pasti akan kembali bersama lagi setelah membicarakannya baik-baik."


Humairah tersenyum tipis melihat ekspresi heran di wajah mereka. Dia mengerti bila orang-orang ini pasti beranggapan bahwa dia adalah wanita yang tak tahu malu ingin menempeli Kenzie terus. Tapi apakah ini salahnya?


Dia adalah calon istri Kenzie, orang yang akan hidup berdampingan dengan Kenzie seumur hidupnya. Tapi gara-gara Azira, wanita liar, semuanya langsung sirna. Di saat dia sangat terpukul dan sakit hati dengan semua yang terjadi, tak bisakah dia mengejar apa yang seharusnya menjadi miliknya?


Mereka hanyalah penonton. Buta dan sok tahu kehidupan orang lain. Berbicara dengan mereka sangat membuang-buang waktu.


"Oh, kalau begitu kamu harus bisa bersabar dan luaskan hati bila semuanya tidak berjalan sesuai dengan harapan." Ucap salah satu perawat dengan penuh makna.


Humairah tidak menjawab tapi bibirnya sudah menarik garis senyuman. Mengucapkan salam perpisahan, dia berjalan melewati mereka dengan senyum sopan dan sikap ramah. Sulit bagi mereka untuk membenci Humairah bila seperti ini.


Setelah keluar dari ruangan Kenzie, dia berhenti di samping tempat sampah. Melirik kotak makanan yang dia bawa, tersenyum kesal, dia melempar kotak makanan itu ke dalam tempat sampah dan pergi tanpa menunggu seseorang menegurnya. Tindakannya yang membuang-buang makanan membuat beberapa orang tidak senang. Pasalnya makanan ini masih layak makan dan belum disentuh. Daripada membuangnya lebih baik memberikannya saja kepada orang yang membutuhkan. Setidaknya ini lebih bermanfaat daripada membuangnya.

__ADS_1


__ADS_2