Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 12.3


__ADS_3

Semuanya tersaji di atas meja. Bahkan bubur yang dimasak untuk suaminya juga dibawa ke atas meja. Benar saja, wangi buburnya yang menggugah selera langsung mengalahkan wangi semua makanan di atas meja. Abah tidak bisa menahan matanya untuk tidak melihat ke arah bubur beberapa kali. Dia tidak suka bubur, tapi karena baunya terlalu enak, dia akhirnya memutuskan untuk mengambil semangkuk kecil bubur.


"Tolong, Azira."


"Baik, Abah." Azira menyiapkan semangkuk kecil bubur untuk Abah.


Yang mengagetkan adalah Umi mengabaikan makanan buatan sendiri dan datang meminta bubur kepada Azira. Lalu terakhir Sasa, sesuai dengan janjinya kepada Azira tadi di dapur.


Namun yang membuat semua orang sangat terkejut adalah, tekstur bubur buatan Azira tidak selembut bubur di luar sana dan memiliki rasa yang sangat lezat. Makan satu mangkuk kecil tidak cukup, jadi mereka bertiga menambah lagi hingga hampir mengosongkan satu panci kecil. Untungnya Azira sudah menyiapkan bubur untuk suaminya jadi dia tidak masalah melihat semua orang memakan habis bubur buatannya.


"Masya Allah, ternyata benar-benar enak, kak. Aku sampai kaget loh nambah dua kali lagi." Sasa memberikan pujian yang sangat tinggi untuk masakan kakak iparnya ini.


Dia kira rasanya sama saja seperti yang ada di luar, tapi ternyata bubur buatan kakak iparnya jauh lebih lezat daripada yang dia pikirkan dan teksturnya juga tidak terlalu lembut sehingga sangat nyaman masuk ke dalam mulut.


Abah dan Umi juga sangat memuji bubur buatan Azira.


"Kapan-kapan tolong buatkan lagi. Abang senang makan bubur buatan kamu." Kata Abah memuji Azira.


Tidak hanya memuji, Abah juga mengeluarkan uang dari dompetnya secara khusus dan memberikannya kepada Azira sebagai hadiah.


"Abah, tidak perlu melakukan ini. Aku tidak bisa menerimanya." Azira buru-buru menolak pemberian Abah.


Dia tidak nyaman mengambil uang mertuanya. Sudah sewajarnya seorang menantu yang memberikan uang kepada mertuanya, tapi ini justru sebaliknya, dia tidak berani menerimanya.


"Nak, ambilah. Ini adalah pemberian Abah untuk kamu, jadi kamu harus menerimanya. Baru kali ini loh Umi melihat Abah makan bubur selahap ini dan sampai memujinya, berarti makanan kamu bener-bener enak, Nak. Ambil uangnya dan jangan malu-malu." Desak Umi agar Azira segera mengambilnya.


Azira menatap mertuanya malu. Namun di bawah tekanan semua orang, dia akhirnya mengambil uang itu dan memasukkannya dengan hati-hati ke dalam saku gamisnya.


Saat memegang uang pemberian Abah, tangannya gemetaran dengan perasaan campur aduk. Rasanya ingin menangis saja. Makanan sederhana yang biasa dia makan bersama ibunya setiap lebaran dan pernah dipandang remeh oleh para tetangga yang tidak menyukai mereka ternyata sangat dihargai oleh keluarga mertuanya. Antara bahagia dan sedih, hatinya campur aduk.


"Abah suka makan bubur kamu. Besok saat keluarga yang lain datang ke sini, Abah minta kamu masakin bubur ini kepada semua orang. Mau enggak?" Tanya Abah serius.


Kemarin istrinya menceritakan sikap perhatian Azira selama berbelanja di pasar. Azira tidak pernah mengizinkan Umi memegang belanjaan ataupun membayar belanjaan, selama belanja tugas Umi adalah menawar. Sisanya dilakukan oleh Azira. Abah tante senang mendengarnya dan bersyukur karena menantunya tidak mengabaikan istrinya.


"Mau, Abah. Azira akan memasak sepanci besar bubur untuk semua orang." Janji Azira bersungguh-sungguh.


"Tenang aja, kak. Nanti aku pasti ikut bantu masak kok. Ngomong-ngomong, kakak dapat resep ini dari mana? Mungkinkah dari internet?" Internet zaman sekarang sangat kaya.


Berbagai macam resep makanan bertebaran di mana-mana dan bebas di akses oleh siapapun. Namun seringkali resep yang dibuat tampak asal-asalan dan tidak sehat, jadi Sasa kurang tertarik menonton acara makan.


"Bukan, resep ini adalah milik keluarga ibuku di kampung. Ibu bilang resep ini sudah ada turun temurun dari kakek dan nenek buyut. Hampir semua orang di keluarga kami menggunakan resep ini." Azira tidak tahu yang sebenarnya karena dia agaknya tidak memperhatikan masakan orang di kampung. Lagian, dia masih kecil saat tinggal di kampung. Kepalanya selalu diisi tentang bermain. Bukankah rata-rata anak kecil seperti ini?


Apalagi bagi mereka yang tinggal di kampung, jauh dari hidup perkotaan yang masih kecil sudah memegang ponsel.


"Oalah ternyata resep keluarga. Pantesan rasanya enak banget, kak."


Azira tersenyum,"Kalau enak kamu juga bisa belajar memasak dan kapan-kapan membuatkan semua orang bubur, gimana?"


Umi ragu,"Ini kan resep dari keluarga kamu, Nak. Apa tidak apa-apa dipelajari oleh kami?" Pasalnya resep keluarga itu sama seperti resep restaurant, tidak boleh diakses oleh sembarang orang.


"Bukan masalah besar. Lagian... Kita kan keluarga." Azira malu.


Umi tersenyum lebar, menganggukkan kepalanya dan tidak menolak. Malah dia menekan putrinya agar segera mempelajarinya dari Azira.


Sarapan pagi berlalu begitu saja. Nasi goreng dan beberapa makanan yang tidak tersentuh di atas meja diberikan kepada pekerja di luar. Jumlahnya lumayan banyak, jadi semua pekerja di luar ikut kebagian dan tak ada makanan yang terbuang sia-sia pagi ini.


Setelah membereskan meja makan dan dapur bersama Sasa, dia kemudian kembali ke kamarnya dengan semangkuk bubur dan segelas air putih untuk suaminya.


Cklak


Pintu kamar dibuka dari dalam. Kenzie baru saja mau keluar.


"Mau ke mana, mas?" Kenzie sepertinya baru bangun dari tidurnya dan belum sempat mencuci muka.


Kenzie tidak menjawab dan malah menarik Azira masuk ke dalam kamar mereka.


"Cari kamu. Hum, makanan apa yang kamu bawa ke sini?" Azira membawa nampan makanan bersamanya masuk ke dalam kamar.


Tanpa membuka tutup tudung saji, dia bisa menghirup wanginya. Mungkin makanan yang lezat.


Azira menaruh nampan di atas nakas setelah menyingkirkan gelas kosong. Kemudian dia membuka tudung saji, memperlihatkan kepada suaminya semangkuk bubur hangat dan segelas air putih.


"Duduklah." Kenzie menarik kursi rias untuk diduduki istrinya.


Azira tersenyum malu.


"Terima kasih."


"Um, pagi ini aku sengaja memasak bubur untuk mas Kenzie. Tapi Sasa memberitahuku bahwa semua orang di rumah ini tidak menyukai bubur termasuk mas Kenzie. Jika mas Kenzie tidak mau memakannya, aku akan mengambil makanan lain untuk mas." Azira tidak memaksa suaminya untuk memakan perbuatannya.


Dia juga mengerti bahwa suaminya tidak menyukai bubur. Dan bila percobaan ini gagal, maka di masa depan nanti, dia tidak akan pernah memasak bubur lagi.


"Terima kasih, aku akan memakannya." Kenzie tidak merasa keberatan.


Di bawah pengawasan mata istrinya yang gugup, Kenzie mengambil sesuap besar bubur dan memasukkannya ke dalam mulut. Segera, ekspresi Kenzie langsung melunak.


Dalam satu suapan dia menyimpulkan bahwa bubur ini akan menjadi salah satu makanan favoritnya mulai dari sekarang.


"Lezat. Aku suka." Mengambil sesuap besar bubur ke dalam mulut untuk dinikmati kembali.

__ADS_1


Hanya dalam dua menit saja, semangkuk besar bubur itu telah kehilangan setengahnya. Dia tidak berbohong karena dia sangat menyukai bubur buatan Azira. Berbeda dari yang lain. Ada manis dan pedas, juga asin. Semuanya menyatu dengan baik di bawah tekstur bubur yang tidak terlalu lembut seperti yang dijual-jual atau buatan orang lain di luar sana.


Melihat suaminya makan bubur dengan lahap, Azira sangat senang. Bibirnya tidak berhenti membentuk garis senyuman dan jantungnya kembali berpacu cepat di dalam dada. Hal sekecil ini saja membuatnya sangat mudah bahagia, cinta memang sesuatu yang sangat luar biasa.


Mungkin karena cinta alasan kenapa ibunya jauh-jauh datang ke kota untuk mencari ayah. Tidak peduli seberapa lama mereka berpisah, rasa cinta ibu kepada ayah tidak pernah padam. Sekarang Azira mengerti dari mana asal keluguan ibunya dulu.


"Kalau mas Kenzie suka, sesekali aku akan membuat mas bubur lagi."


Kenzie menggelengkan kepalanya menolak.


"Jangan terlalu lelah."


Hati Azira menghangat mendengar perhatian suaminya,"Tidak melelahkan, sungguh."


Selamat Kenzie bisa tersenyum, dia tidak akan merasa lelah atau sampai mengeluh. Karena dia suka melihat suaminya tersenyum.


"Kalau begitu, aku tidak akan sopan. Aku ingin membawa bubur ini ke rumah sakit buat makan siang. Kamu nggak perlu buatin aku bekal pagi, cukup bawakan aku makan siang saja."


Apakah yang dimaksud suaminya adalah dia bisa datang ke rumah sakit lagi?


"Maksud, mas?"


Kenzie setelah menghabiskan satu bubur mangkuk dalam waktu yang singkat. Dia meletakkan mangkuk itu kembali ke tempatnya dan meminum air putih.


"Datanglah ke rumah sakit. Kita bisa pulang bersama-sama." Kata Kenzie samar.


Samar, tapi Azira langsung mengerti. Artinya dia akan pergi ke kantor Kenzie untuk mengantarkan makan siang sekaligus menunggu suaminya bekerja. Setelah selesai bekerja mereka akan pulang bersama-sama. Azira mengerti. Entah bagaimana caranya menggambarkan perasaannya sekarang. Dia merasa sangat ringan. Seolah-olah dibawa terbang tinggi, rasanya sungguh luar biasa. Menemani Kenzie bekerja, Azira sangat excited mendengarnya.


"Kalau aku datang ke sana, apakah aku tidak akan mengganggu waktu kerja mas Kenzie?" Azira bersemangat namun menahan diri.


"Tidak terganggu. Datang saja."


"Tapi aku harap kamu bersiap secara mental karena Humairah juga bekerja di sana. Mungkin dia akan mengganggu kita, apakah kamu tidak keberatan?" Matanya menatap lurus tepat ke mata Azira.


Sekali lagi perasaan itu datang. Perasaan di mana dirinya sedang diburu. Di bawah tatapan suaminya, dia tidak berkutik dan salah tingkah pada saat yang sama. Apa yang harus dilakukan, ke mana harus meletakkan tangan dan kakinya, pertanyaan konyol ini berputar-putar di dalam kepalanya.


"Humairah... Juga bekerja di sana? Tapi bukankah dia sudah berhenti?"


Seingat Azira, masa magang Humairah sudah selesai saat persiapan pernikahan dilakukan. Dia yakin karena mendengarnya sendiri langsung dari orangnya. Dan masih jelas percakapan Humairah dan Mamanya waktu itu di dalam pendengaran Azira. Saat itu Humairah ingin masuk bekerja ke rumah sakit, tapi Mamanya melarang karena Kenzie sudah mengurusinya surat sehingga dia bisa tinggal di rumah dengan tenang mempersiapkan pernikahan.


Pada saat ini Azira berpikir..


Mungkinkah mas Kenzie masih belum melepaskan Humairah dari hatinya? Batin Azira masam.


Dia merasa cemburu dan tidak rela pada saat yang sama.


Dia tidak berani meminta perlindungan dari suaminya. Karena dia takut suaminya akan membela Humairah dibandingkan dia. Toh, dia sendiri orang yang salah di sini.


Kenzie tersenyum dalam.


"Baguslah jika kamu tidak keberatan. Ngomong-ngomong, nada suaramu tiba-tiba berubah. Jika aku tidak salah menembak, mungkinkah kamu sedang cemburu?" Tebakan Kenzie tepat sasaran.


Azira merasa pahit mendengarnya. Namun dia berusaha tetap tenang di depan suaminya, seolah-olah dia tidak merasa cemburu.


"Cemburu? Kenapa aku harus cemburu?" Kata Azira acuh tak acuh.


Kenzie terkekeh.


"Oh. Sayang sekali. Tunggu, jangan bergerak." Kenzie menghentikan Azira yang akan mengambil nampan di atas nakas.


"Ada apa, mas?" Azira dengan kaku bertanya.


Mungkinkah mas Kenzie melihat ada sesuatu yang salah di wajahku? Mungkinkah mas Kenzie menyadari kalau aku sedang cemburu kepadanya? Batin Azira cemas.


Jangan sekarang. Dia berdoa jangan sekarang. Dia tidak inginkan Kenzie menyadari perasaan dulu. Dirinya masih belum bersiap.


"Ini... Ada sesuatu di wajahmu."


Tuh kan!


Azira meraung panik di dalam hatinya. Tangannya otomatis terangkat ingin mengusap wajahnya, tapi sekali lagi Kenzie menahannya.


"Tunggu, jangan bergerak. Biarkan aku melakukannya."


Gugup, Azira menurunkan tangannya dan membiarkan Kenzie menyentuh sisi wajahnya yang lain. Azira pikir Kenzie dapat melihat perasaan cemburunya. Tapi melihat tindakannya sekarang, dia kira mungkin itu karena ada makanan yang menyangkut di sisi wajahnya.


"Di sini.." Kenzie perlahan merendahkannya kepalanya, jarak mereka berdua semakin menipis. Mungkin beberapa senti lagi, bibir itu menyentuh sisi wajahnya.


Azira sangat gugup. Dengan jarak sedekat ini dia tidak berani terlalu banyak bernafas. Tanpa sadar dia menahan nafasnya dan berharap bisa melarikan diri dari tempat ini. Dia sangat malu dengan jarak sedekat ini bersama Kenzie.


"Mas...ada apa? Jika tidak bisa, biar aku melakukannya sendiri-"


Cup


Suara Azira langsung tertahan merasakan sentuhan lembut nan singkat di sisi wajah kanannya.


"Maukah kamu melakukannya sendiri?" Tanya Kenzie dengan suara serak dan rendah tepat di samping telinga Azira.


Hembusan nafas hangat dan lembut itu bertiup lembut di telinganya. Azira langsung kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri, lututnya lemas terasa lemas. Untung saja dia duduk di atas kursi, kalau tidak, dia mungkin sudah jatuh merosot sekarang.

__ADS_1


"Aku.." Azira akhirnya tersadar.


Beberapa detik kemudian, dia mencerna kembali apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya.


"Aku akan pergi mencuci piring dulu." Setelah mengatakan itu Azira membawa nampan kabur keluar dari kamar.


Dia tidak tahu bagaimana ekspresi suaminya sekarang karena dia tidak berani melihatnya. Tapi untuk dirinya sendiri, tidak perlu ditanyakan. Dia sangat ketakutan dan langsung melarikan diri. Setelah jauh dari kamar, barulah dia merasakan kalau kaki dan tangannya sedang gemetaran sekarang. Takut nampan itu jatuh, dia meletakkannya di atas meja sambil mengatur nafasnya.


"Ya Allah, ya Allah... Apa yang baru saja terjadi? Mas Kenzie... Baru saja mencium pipiku!" Kata Azira sembari menepuk kedua pipinya panik dan cemas bercampur menjadi satu.


"Maukah kamu melakukannya sendiri?" Tanya Kenzie dengan suara serak dan rendah tepat di samping telinganya.


Suara berat dan nada rendah suaminya terus terngiang-ngiang di dalam pendengarannya. Telinga kanan tempat suaminya berbisik masih saja terasa panas. Seakan-akan suara itu melekat di telinganya.


"Ah, ini sangat memalukan!" Azira mencubit telinganya yang panas berharap segera menghilangkan suara-suara itu.


"Kak Azira?" Sasa melihat perilaku kakak iparnya sedikit aneh jadi dia datang untuk menyapa.


Azira terkejut. Gelagapan, dia balas menyapa Sasa dengan suara terbata-bata.


"Oh...dek, kamu ngapain di sini?"


Sasa memperhatikan wajah kakak iparnya memerah tidak normal.


"Apakah kak Azira tidak apa-apa?" Tanyanya ragu.


Azira akhirnya dapat menenangkan dirinya.


"Aku nggak apa-apa. Emangnya kenapa, dek?"


Sasa menunjuk wajahnya sendiri.


"Wajah kakak kelihatan merah banget, udah kayak orang demam aja. Beneran kakak nggak apa-apa? Mau aku panggilan kak Kenzie biar kondisi kakak bisa dicek?"


Mendengar nama suaminya disebut, Azira sontak melambaikan tangan menolak. Justru Kenzie adalah sumber ketidak abnormalan situasinya sekarang. Kalau Kenzie dipanggil, bisa-bisa semakin parah kecemasannya sekarang.


"Aku beneran gak apa-apa, dek. Ini.. kakak cuma kepanasan aja. Nanti setelah mandi wajah kakak kembali normal kok." Azira mengelak, membuat alasan sendiri.


"Siapa yang mau dicek?" Suara Kenzie dari lantai atas.


Jantung Azira langsung berdegup kencang. Wajahnya kembali memanas dan ingatan barusan berputar-putar di dalam kepalanya. Dia ingin melarikan diri lagi.


Sasa tidak tahu kecemasan kakak iparnya dan dengan polos menjawab.


"Kak Azira, kak. Lihat deh wajahnya, merah banget. Aku khawatir kak Azira lagi demam jadi aku sarankan kak Kenzie mengecek tubuhnya mungkin ada sesuatu yang salah."


Kenzie berpura-pura memasang wajah serius.


"Begitukah, Azira-" Sebelum dia menyelesaikan panggilannya, Azira langsung memotong ucapan suaminya.


"Aku nggak apa-apa. Nggak ada yang perlu diperiksa. Okay, kalian berdua bisa mengobrol di sini. Aku akan pergi ke dapur untuk beres-beres." Setelah mengatakan itu kepada mereka berdua, dia mengambil nampan di atas meja dan bergegas pergi ke dapur.


Sasa tercengang melihat operasi cepat Azira. Dan dia menyadari bahwa ada yang salah dengan kakak iparnya itu. Seolah-olah kakak iparnya sedang melarikan diri. Melarikan diri?


Sasa menatap kakaknya dengan mata menyipit.


"Kenapa kak Azira begitu?" Tanya Sasa curigai kepada kakaknya sendiri.


Jangan salahkan dia curiga kepada Kenzie. Buktinya banyak. Kenzie selalu berhasil menakuti orang dengan wajah datarnya.


Ditanya oleh adiknya sendiri, Kenzie tidak menganggapnya terlalu serius.


"Kamu masih anak kecil. Belum mengerti urusan orang dewasa. Cepat nikah, ya, biar paham sendiri."


Sasa yang sudah berusia 21 tahun,"....?" Apakah kakaknya masih waras?


Mungkinkah kepala kakaknya tertinggal di ruang operasi tadi malam?


"Sekarang berbicara kakak hampir sama dengan Ayana, cek... Aku curiga kalau kalianlah saudara kandung yang sebenarnya. Dibandingkan aku, kakak lebih mirip dengan Ayana. Huh... Aku curiga ada konspirasi di dalam keluarga kita." Pikir Sasa sakit gigi.


Kenzie tersenyum geli,"Tenang saja, aku akan memberitahu Ayana soal apa yang kamu katakan tadi. Semoga saja uang jajanmu darinya semakin bertambah." Kenzie jelas sedang mengancamnya.


Sasa langsung merasa dongkol.


"Kak Kenzie, ah! Ngeselin banget jadi orang!" Dumel Sasa tidak mau berbicara dengan Kenzie lagi.


Dia pergi menyusul kakak iparnya di dapur dan ingin mengajaknya pergi nongkrong. Biarkan saja Kenzie pusing sendiri karena istrinya dibawa kabur. Salahkan dirinya yang suka mengadu. Padahal sudah besar juga, tapi kelakuan masih anak kecil. Sasa memiliki dendam kepada kakaknya kalau sudah menyangkut uang!


Ugh, bagi perempuan uang adalah hal yang sangat sensitif!


Tanpa uang, perempuan tak bisa merawat kulit ataupun wajah bahkan membeli pakaian!


Tapi kakaknya tidak mengerti!


"Jangan macam-macam, yah." Seolah membaca pikiran adiknya, Kenzie memperingatkannya agar jangan bermain-main.


Sasa berpura-pura tidak mendengar dan berjalan terus ke arah dapur.


"Awas saja kalau membuat masalah." Gumam Kenzie tersenyum simpul.

__ADS_1


__ADS_2