Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 18.1


__ADS_3

Azira tercengang melihat tamu tersebut. Dalam sekejap mata senyuman yang sempat membeku tadi segera menarik garis yang lebih jauh. Tersenyum lebar untuk menyapa tamu yang sudah lama terlempar dari pikirannya.


"Humairah, lama tidak bertemu. Melihat keadaan kamu sekarang, akhirnya aku tahu kalau kamu selama ini pasti baik-baik saja." Kata Azira ramah namun tidak menyingkir dari pintu.


Dia bermaksud menghalangi Humairah masuk ke dalam karena ini adalah kantor suaminya. Mana rela dia melihat wanita ini memasuki wilayah pribadi suaminya, Azira bukanlah wanita yang bodoh.


"Azira.." Humairah memanggil nama Azira dengan gigi gemeretak.


Allah yang tahu betapa sakit dan marah hatinya sekarang saat berhadapan langsung dengan Azira. Sakitnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia marah dan terlebih kecewa kepada wanita yang dulunya dianggap sebagai saudara. Bodohnya lagi pernah berharap bila wanita ini akan menggantinya sebagai sinar mentari di rumah saat akan menikah dengan Kenzie. Tapi apa yang terjadi?


Apa yang dia dapatkan dari semua harapan semu itu?


Dia dihancurkan, dikecewakan, dikhianati dan menjadi sumber nyeri di dadanya yang tiada berkesudahan. Humairah benci!


"Iya, ada apa adikku?" Azira menjawab pelan.


Humairah tersenyum kecut.


"Kamu bukanlah kakakku. Kamu tidak pantas mendapatkan gelar ini lagi. Dan kamu bukanlah bagian dari kami, kamu tidak layak di dalam keluarga kami." Kata-kata ini diucapkan dalam satu tarikan nafas.

__ADS_1


Mencurahkan beberapa bagian dari isi hatinya.


Azira mengangguk paham. Tidak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Humairah. Dia sudah menebaknya sejak awal. Sayang seribu sayang, dia tidak pernah menganggap dirinya bagian dari mereka, jadi kata-kata ini tidak berpengaruh apa-apa kepadanya.


"Ya, aku tahu dan aku juga tidak perduli. Lagipula hidup bersama suamiku jauh lebih nyaman dan menyenangkan daripada tinggal di rumah kamu. Oh astaga, apakah kamu ke sini untuk bertemu dengan suamiku? Humairah, aku minta maaf sebelumnya. Suamiku tidak ada di sini. Dia sedang-"


"Azira!" Teriak Humairah histeris.


Kedua matanya memerah menahan sakit.


Azira terkejut,"Humairah jangan berteriak, ini rumah sakit dan bukan rumah mu." Peringat Azira dengan nada serius yang dibuat-buat.


"Azira, apakah kamu tidak merasa malu? Beraninya kamu muncul di sini setelah apa yang telah kamu lakukan! Semua orang di rumah ataupun di sini tahu orang seperti apa kamu dan apa saja yang telah kamu lakukan, tapi aku tidak menyangka jika kamu masih sangat berani muncul di sini. Azira, jika aku jadi kamu, lebih baik aku mati saja daripada memamerkan wajahku untuk dicemooh. Sungguh, menjijikkan." Ucap Humairah tajam sambil menatap Azira dengan mata melotot tanpa rasa takut.


Malu?


Azira sudah lama melupakan hal ini semenjak dia jatuh cinta kepada Kenzie. Terlepas perasaannya masih seumur jagung, dia sama sekali tidak perduli. Yang dia tahu adalah Kenzie cinta pertamanya jadi dia harus memegangnya erat-erat.


"Ini memang sangat memalukan, tapi kamu jauh lebih memalukan dariku, adik." Kata Azira lemah.

__ADS_1


"Apa?" Humairah terkesan dengan kata-katanya.


"Tidakkah ini memalukan? Meskipun mas Kenzie sudah menikah denganku, tapi kamu masih saja mengejar-ngejarnya sampai membuat suamiku takut datang ke rumah sakit. Humairah, tolong berhenti. Suamiku risih dengan pengejaran yang kamu lakukan. Dia sangat kesal dan bahkan berniat ingin berhenti saja bekerja di sini agar kamu jangan mengganggunya lagi." Ucap Azira balik mencemooh.


Apa yang dia ucapkan tadi tidak benar. Kenzie tidak pernah mengatakan itu semua kepadanya. Azira sengaja berbohong untuk mempermalukan Humairah. Rasanya sangat menjengkelkan mendengar semua kata-kata Humairah. Jadi untuk mempermalukannya dia terpaksa berbohong.


"Tidak mungkin.." wajah Humairah langsung pucat pasi.


Tidak, dia tidak percaya apa yang dikatakan oleh Azira. Itu pasti bohong.


Melihat Humairah mulai goyah, wajah Azira langsung berseri terang.


"Aku ini istrinya, kenapa aku harus berbohong kepadamu? Kalau tidak, lalu kenapa dia tidak pernah datang mencari kamu atau membalas pesan dan sekedar mengangkat telpon dari kamu?" Azira menyipitkan matanya menguji Humairah.


Dia hanya ingin menguji Humairah saja. Siapa tahu reaksi Humairah sangat keras dan secara tidak langsung mengkonfirmasi tebakannya.


"Azira, cukup! Dia memang tidak datang menemui ku dan membalas ataupun mengangkat teleponku, lalu kenapa? Bukankah itu wajar untuk pasangan yang sedang bertengkar?" Tangannya gemetaran menahan sakit juga amarah.


Apa yang dikatakan Azira sangat tepat sasaran. Sampai dengan detik ini Kenzie tidak pernah datang mencarinya untuk mengungkapkan permohonan maaf. Malah Humairah yang lebih dulu mencarinya. Tapi Kenzie selalu mengabaikannya. Memblokir nomornya sehingga Humairah tidak bisa menghubunginya. Itu semua benar lalu memangnya kenapa!

__ADS_1


Humairah tahu tapi dia sangat takut untuk mengakuinya. Terus menerus membohongi dirinya kalau Kenzie suatu hari akan berbalik kepadanya.


__ADS_2