Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 30.8


__ADS_3

"Ayo pulang." Tegas bibi Safa hanya segera melarikan diri dari tempat ini.


Bibi Safa membantu keponakan tersayangnya bangun. Mereka berdua berjalan tertatih-tatih di bawah pengawasan semua orang.


"Kami tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi ke tempat ini." Kata bibi Safa berjanji.


"Bahkan meskipun kamu menginginkannya, kamu tidak akan memiliki kesempatan untuk datang ke tempat ini lagi. Rumah ini tidak menerima orang-orang seperti kalian." Balas Sasa tidak mau kalah.


Memangnya siapa yang mau melihatnya datang ke rumah ini?


Tidakkah wanita ini terlalu percaya diri?


"Huuu... Keluar dari sini! Kalian telah mengacaukan kedamaian semua orang!"


"Cepatlah pergi! Kami sangat jijik tinggal di satu ruangan dengan kalian!"


"Aku bahkan merasa mual saat mengetahui kita menghirup udara yang sama dengan mereka!"


Satu demi satu tamu mulai berbicara, meminta mereka untuk segera keluar dari rumah ini dengan kata-kata celaan, cibiran dan cemoohan yang sangat tidak nyaman di telinga.


Mama dan ayah berwajah muram. Perlahan bangun, Mama membantu ayah berdiri dan berjalan pergi tanpa mengucapkan pamit kepada keluarga Abah. Untuk semua penghinaan dan rasa malu yang mereka rasakan hari ini, mereka tidak akan pernah melupakannya seumur hidup. Pasalnya mereka sangat dikacaukan. Semua orang melihat lelucon yang mereka tampilkan. Tidak ada yang memiliki kata-kata baik dibibir para tamu. Dalam waktu yang sangat singkat nama baik mereka dihancurkan. Orang yang paling mengetahui konsekuensi dari masalah ini adalah ayah.


Ayah tahu bahwa perusahaannya tidak akan pernah baik-baik saja sejak keluar dari rumah ini. Entah masalah apa yang akan dihadapi, Ayah tidak bisa memikirkannya lagi. Memikirkan hal-hal ini membuat kepalanya sakit. Tak bisa melupakan semua penghinaan itu.


"Terus lah berjalan dan jangan pernah menoleh ke belakang!" Seorang tamu berteriak jijik.


Ketika mereka akan melewati pintu keluar, Humairah tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dengan ragu-ragu dia menoleh ke belakang, menatap Azira yang dikelilingi oleh orang-orang baik dengan mata merah dan berkaca-kaca.


"Kak Azira!" Panggilnya berteriak.


Teriakannya membuat semua orang menoleh kepadanya. Humairah tidak perduli. Dia hanya ingin memanggil Azira saja.

__ADS_1


Azira melihatnya, kedua mata mereka bertemu. Namun itu hanya beberapa detik, karena setelah itu Azira langsung memalingkan wajahnya bersembunyi di dalam pelukan Kenzie.


Hati Humairah menegang. Dia mengepalkan tangannya menahan diri untuk tidak menangis.


"Apalagi yang kamu inginkan?! Pergi!" Desak orang-orang di dalam rumah.


"Cepat pergi dari sini! Melihat wajahmu membuatku muak!" Satu demi satu suara bermunculan memintanya untuk segera pergi.


Bibi Safa sangat marah. Dia menarik lengan Humairah.


"Kenapa kamu memanggilnya?! Ayo pergi, masalah ini cepat atau lambat, suatu hari nanti kita akan membalasnya!" Kata bibi Safa penuh kebencian.


Humairah menghela nafas panjang. Apa yang bibi Safa katakan tidak bisa membuatnya merasa tenang. Tapi apa yang harus dia lakukan, Azira sudah sangat kecewa dan tidak mau berbicara dengannya lagi. Menyesal, dia memalingkan wajahnya kembali melangkah keluar bersama dengan bibi Safa.


Ayah dan yang lainnya menanggung semua penghinaan ini dalam diam.


Begitu keluar dari gerbang rumah ini, Humairah akhirnya mulai menangis terisak. Dia mendengarkan semuanya. Semua yang orang-orang ini katakan tentang keluarganya yang bejat, dia tidak melewatkan satu patah kata pun.


Yang paling membuatnya shock dari semua itu adalah rahasia keluarganya. Dia tidak menyangka bila Bibi yang dia idolakan dengan senang hati ternyata adalah orang yang berhati kejam. Dan dia sama sekali tidak menyangka bila orang tua yang selama ini dia anggap orang yang paling lembut di muka bumi justru adalah orang yang berhati kejam.


Tak bisa dibayangkan betapa hancur hati Azira melihat keluarga Ayah selalu tersenyum sementara hatinya menangis.


Humairah sekarang menyadarinya.


"Tidak ada yang perlu ditangisi. Kamu tidak akan pernah masuk penjara. Kami akan memiliki cara untuk menyelamatkan kamu dari hukuman." Kata bibi Safa berusaha menghibur suasana suram hati Humairah.


Tapi Humairah saja menangis dan tidak mengatakan apa-apa. Karena tidak bisa dibujuk, maka bibi Safa dan yang lainnya membiarkan Humairah menangis. Toh, mereka juga punya keluhan masing-masing. Badan mereka sakit-sakit semua dan belum lagi pikiran tentang langkah selanjutnya yang akan mereka tempuh dalam masalah ini.


Baik Mama dan bibi Safa sangat cemas kenzi memiliki bukti tentang perdagangan manusia mereka lakukan beberapa tahun yang lalu. Sejujurnya tidak apa-apa, karena bukti, yaitu ibunya Azira sudah lama meninggal dunia.


Dia tidak bisa dijadikan sebagai bukti. Lalu apa yang Kenzie dan Abah pegang hingga membuat mereka berdua begitu percaya diri akan melaporkan masalah ini ke kantor polisi?

__ADS_1


Mereka bingung dan tidak bisa menemukan jawabannya untuk sementara waktu.


Sampai akhirnya setengah jam kemudian mereka akhirnya kembali ke rumah.


Orang-orang rumah sangat terkejut melihat penampilan mereka. Tapi tak ada yang mau berbicara.


"Apakah yang orang-orang itu katakan tadi benar?" Suara sendu Humairah menghentikan ayah dan mama yang akan kembali ke kamar.


Sementara Bibi Safa yang sedang duduk di sofa dibuat tercengang oleh pertanyaan ini.


"Jawab aku, apakah yang orang-orang itu katakan tadi benar? Kalian memperdagangkan manusia, memaksa Ibu Azira masuk ke pekerjaan kotor itu sehingga dia tidak bisa menghindari pekerjaan ini seumur hidupnya! Apakah ini semua benar?" Tanya Humairah menahan sakit yang membuat sesak di dalam hati.


Selama ini dia hanya tahu bila Ibu Azira bekerja sebagai wanita malam. Dia kira Ibu Azira rela melakukan pekerjaan itu karena memang pergaulan yang tidak sehat.


Tapi apa yang baru saja dia dengar?


Apa yang baru saja dia dengar?!


"Humairah-" Mama memanggil.


"Jawab aku, ma! Apakah semua yang orang-orang itu katakan benar?" Potong Humairah sambil menangis.


Ruangan langsung menjadi sunyi. Kecuali tangisan Humairah, tak ada satupun orang yang berbicara.


"Mengapa tidak ada yang menjawab pertanyaan ku?" Kata Humairah merasakan hatinya semakin sakit.


Sikap diam mereka justru menunjukkan bahwa apa yang orang-orang itu katakan memang benar. Humairah sangat kecewa. Dia sungguh sangat kecewa!


"Ayah tidak ada hubungannya dengan masalah itu karena mama dan bibi mu yang bertanggungjawab. Bila kamu ingin bertanya, bertanyalah kepada mereka berdua, karena mereka berdua orang yang paling tahu kebenarannya." Kata Ayah menyerahkan masalah ini kepada istri dan adiknya.


Ayah benar-benar penat dengan semua masalah hari ini. Dia tak memiliki mood untuk pergi ke kamar lagi karena di sini putrinya menuntut sebuah kebenaran.

__ADS_1


Bersambung...


Awas typo bertebaran. Saya enggak sempat perbaiki karena mepet.


__ADS_2