Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 19.1


__ADS_3

Azira mengikuti ke arah mana Sasa melihat. Memang nampak seorang wanita berjilbab panjang yang tersembunyi di sudut sedang menatap ke arahnya. Dari pakaiannya Azira tahu bahwa wanita itu adalah seorang pelayan. Saat kedua mata mereka bertemu, bola mata wanita itu membesar karena terkejut sebelum akhirnya menundukkan kepala. Sikapnya aneh tapi belum tentu mencurigakan atau berbahaya.


Azira langsung berpikir seperti ini. Entahlah, dia tidak mengenal wanita itu dan yakin tidak memiliki kesan apapun kepadanya. Tapi entah kenapa saat bertemu dengan matanya dia berpendapat bahwa wanita itu tidak memiliki pikiran jahat kepadanya. Mungkin... karena matanya?


Azira bingung. Mata wanita itu agaknya tidak terlalu asing tapi Azira tidak tahu pernah melihatnya dimana.


"Aku tidak mengenalnya. Dia mungkin melihatku karena penasaran." Azira santai.


Sasa berpikir itu tidak sesederhana itu. Karena wanita itu tidak pernah berpaling dari Azira sejak masuk. Barulah saat Azira melihat ke arahnya, wanita itu langsung berhenti menggerakkan matanya.


"Mungkin... mungkin saja." Tapi rasanya masih meragukan. Batin Sasa di dalam hati.


Azira tersenyum. Menarik tangan adik iparnya pergi ke tempat yang lain dan melempar masalah ini ke belakang.

__ADS_1


Setelah Azira, Sasa dan Mona berpindah tempat, wanita itu kembali mengangkat kepalanya menatap punggung ramping Azira. Matanya menyipit memikirkan sesuatu. Ingin bertanya, tapi dia merasa ragu. Apalagi perilakunya tadi telah membuat Azira dan yang lainnya merasa tidak nyaman.


"Eka, kamu ngapain sih dari tadi ngintipin orang kaya gitu? Enggak sopan tau, mereka jadi enggak nyaman gara-gara kamu." Tegur pelayan lain saat memastikan Azira tidak ada di sini.


Eka menundukkan kepalanya malu. Dia juga tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


"Aku..aku enggak maksud apa-apa, mbak. Aku ngeliatin wanita cantik itu murni karena aku penasaran. Soalnya wanita itu agak mirip dengan bibiku yang sudah bertahun-tahun menghilang di kota." Jelas Eka menggigit bibirnya malu.


Dia benar-benar tidak sengaja. Bukan niatnya untuk terus melihat ke arah Azira. Karena dia juga tahu Azira pasti terganggu dilihatin terus olehnya. Tapi apa yang harus dia lakukan karena wajah Azira sangat mirip dengan wajah bibinya yang telah menghilang selama 10 tahun lamanya. Eka sangat yakin karena Ibunya di rumah terus menerus memikirkan tentang bibinya yang tidak pernah pulang selama 10 tahun setelah pergi ke kota. Ada kecurigaan di dalam hatinya kalau wanita itu adalah putri dari bibinya.


Tanpa bertanya pun dia tahu kalau wanita itu berasal dari keluarga kaya yang dapat dilihat dari pakaian yang digunakan dan penampilan dua gadis yang selalu mengikuti wanita itu kemana-mana.


Ibu selalu bilang kalau kehidupan bibinya tidak baik. Mereka semua miskin, jadi bagaimana mungkin wanita kaya ini putri bibinya yang malang?

__ADS_1


"Apapun alasan kamu, perbuatan yang kamu lakukan tadi tidak bisa dibenarkan. Masih bagus pelanggan tidak menganggap serius apa yang kamu lakukan dan tetap berbelanja di dalam, bagaimana jika tidak? Apakah kamu yakin masih bisa bekerja di sini?" Pelayan itu berbicara serius kepada Eka.


Dia tidak perduli tentang apa yang dipikirkan oleh Eka, sebab itu bukan urusannya. Tapi berbeda kalau soal menyangkut pekerjaan. Dia harus memperjelas nya kepada Eka agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.


"Aku minta maaf, mbak. Aku janji nggak akan aku mengulanginya lagi. Kalau perlu aku akan pergi meminta maaf kepada mereka sekarang." Eka panik dan buru-buru meminta maaf.


Pekerjaan ini sangat penting untuknya karena ini adalah pekerjaan pertamanya setelah tiba di kota.


Pelayan itu menghela nafas. Hatinya melunak dibawah mata merah Eka yang panik.


"Tidak usah pergi. Bagus kalau kamu tahu ini salah dan tidak akan mengulanginya. Ngomong-ngomong pelanggan yang datang tadi adalah pelanggan langganan butik kita. Sebenarnya hanya dua orang, yaitu Sasa dan Mona. Datang ke sini bersama kakak mereka, wanita yang terus kamu lihat tadi, namanya Azira. Insya Allah, mulai malam ini Azira akan menjadi langganan tetap butik kita dan dia akan lebih sering berkunjung lagi di masa depan. Jadi, saat dia berkunjung nanti perlakukan dia dengan sopan dan jangan menatapnya seperti itu lagi, mengerti?"


Eka tercengang. Matanya menatap kosong wajah pelayan itu. Dengan patuh kepalanya mengangguk mendengarkan. Sementara kepalanya telah terbang jauh entah kemana.

__ADS_1


"Azira...Ibu bilang nama sepupuku juga Azira..." Gumam Eka semakin bingung.


__ADS_2