Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 25.6


__ADS_3

"Okay, fokus! Aku harus mencari buku yang kucari dan setelah itu pergi ke rumah Abah!" Dia memperingati dirinya sendiri tujuan kenapa dia ada di sini.


Benar dia datang ke sini untuk mencari buku. Setelah membeli buku dia tidak boleh berlama-lama di sini dan harus segera pergi.


"Nah..cari buku!" Setelah mengatur dirinya agar lebih tenang, dia kemudian mempercepat langkahnya untuk mencari buku yang ditugaskan oleh dosen.


Buku yang dia cari lumayan susah karena rak-rak di sini lebih banyak buku novel daripada buku edukasi. Apalagi sudah berkaitan dengan pelajaran di kampus. Kemungkinan mendapatkan buku itu sangat kecil. Bisa jadi buku itu telah habis dibeli oleh orang lain dan Mona terlambat membelinya. Bisa jadi. Dalam situasi ini mungkin saja terjadi. Tapi Mona berdoa di dalam hatinya agar buku yang dia cari ketemu. Jangan sampai dia harus pindah tempat ke daerah lain untuk mencari buku dosennya. Mona malas ke mana-mana.


"Loh, kok enggak ada, sih?" Mona sudah mencari di beberapa rak, dan dia belum menemukan buku yang dia cari.


Jangan sampai mimpi buruknya terjadi.


Sibuk mencari dia tidak sadar bila seseorang yang sempat dihindari tadi kini berada tepat di sebelahnya. Al sudah lama menonton Mona mencari buku. Mulai dari berbicara sendiri hingga merengek sendiri, Al melihatnya dalam diam. Sampai akhirnya Mona terus menggeser badannya dan tidak sengaja menabrak pundak lawan barulah Mona menyadari bila ada seseorang di sekelilingnya.


Buk


Buku yang ada di tangan Al jatuh. Mona sangat terkejut, menunduk melihat ke bawah, dia buru-buru mengambil buku yang jatuh di atas lantai. Saat melihat judul buku tersebut, kedua matanya langsung berbinar.


"Sosiologi hukum karya Pak X?" Dia sangat senang menemukan buku yang di cari, kemudian dia tersadar kalau buku ini udah ada yang punya.


"Um, maaf sebelumnya. Aku tidak sengaja menabrak-" Mona tidak bisa melanjutkan ucapan selanjutnya.


Melihat Al berdiri tepat di sampingnya, Mona sontak mundur beberapa langkah ke belakang menjaga jarak dari Al.


"Buku." Kata Al singkat sambil menatap lurus ke arah mata Mona.


Mona tidak mendengarkan apa yang dia katakan. Pikirannya saat ini sedang meraung tidak jelas. Itu karena dia belum pernah sedekat ini dengan orang yang sangat dia cintai. Mungkin hampir setengah tahun sejak terakhir kali dia bertemu dan berdiri sedekat ini dengan pemilik wajah tampan yang telah menjadi mimpi buruk sekaligus mimpi indah di dalam hidup Mona.


Melihatnya sedekat ini Mona tiba-tiba merasa bahwa dia ditarik ke dalam mimpi-mimpi yang dia lalu setiap malamnya.


"Apakah kamu tidak mau menyerahkan bukuku?" Suara berat nan dingin Al berhasil menarik Mona dari kekacauan hatinya.


"Buku?" Tanyanya bingung.


Al menurunkan matanya menatap lurus ke arah buku yang sedang dipegang oleh Mona.


Mona menundukkan kepalanya mengikuti ke arah mana Al memandang, beberapa detik kemudian dia tersadar buku yang dimaksud oleh Al ternyata buku yang dia pungut tadi.


"Oh...maaf... Maaf, aku tidak sengaja melakukannya. Dan ini buku mas- oh, maaf, ini buku Anda, Pak." Seru Mona sembari mengembalikan buku itu kepada Al.


Sayang sekali, tadinya dia berencana ingin bernegosiasi dengan pemilik buku ini. Dia berharap pemilik buku tersebut mau menyerahkan bukunya kepada Mona. Tentu saja Mona akan memberikan orang tersebut sejumlah uang karena dia sangat membutuhkan buku ini. Tapi saat melihat siapa pemilik buku ini, dia langsung mengurungkan niatnya. Orang ini tidak mudah disentuh apalagi barang-barang yang ada di tangannya. Mustahil Al mau memberikannya membeli buku ini.


Al mengambil buku itu.


"Kamu sedang mencari buku apa?" Tanyanya datar.


Mona sangat terkejut. Dia pikir Al langsung pergi setelah mengambil buku itu dan dia sama sekali tidak mengira kalau Al mengajaknya berbicara.


Rasanya mustahil.


"Aku... Mencari buku sosiologi hukum, Pak." Jawab Mona hati-hati.


Saat berbicara, Mona tidak berani mengangkat kepalanya menatap ke arah Al. Dia menundukkan kepalanya berpura-pura melihat ke arah lantai seolah permukaan lantai jauh lebih menarik daripada sosok tampan di depannya ini.


"Jadi kamu mencari buku ini?" Al memainkan buku yang ada di tangannya.


Membolak-balik buku itu dengan sengaja di depan Mona.


"Iya, Pak. Tapi sepertinya buku ini sudah habis terjual di sini, jadi aku mungkin harus mencari buku ini ke toko buku lain." Kata Mona hati-hati.


Di depan Al, dia berusaha berbicara dengan hati-hati agar tidak menyakiti ataupun membuat Al tersinggung. Karakter Al agak sulit dipahami. Terkadang hangat terkadang pula dingin, Mona dulu sering kesulitan menghadapinya. Namun karena dia keras kepala, seburuk apapun sikap Al kepadanya, dia tetap bertahan mengejarnya bahkan sampai melakukan hal-hal konyol yang tidak menyenangkan.


"Sayang sekali, aku pernah mendengar Pak dosen X pernah berkata kalau bukunya tidak dicetak banyak dan langka di berbagai toko buku. Kamu tahu sendiri jika mahasiswa seangkatan kamu sedang memburu buku ini, mereka berlomba-lomba mencari buku ini dan membelinya, secara harfiah buku ini tidak bisa ditemukan lagi. Lalu, ke mana kamu harus mencari buku ini?"


Mona berpikir keras. Memang benar bila teman-teman kelasnya dan anak-anak di kelas lain sedang mencari buku ini. Dan dia juga sempat mendengar di beberapa toko buku, buku ini sudah habis terjual. Artinya dia tidak akan menemukan buku ini sekuat apapun dia mencari di toko-toko buku yang lain. Dan sekarang, apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan buku ini, sementara buku ini sudah habis terjual. Untuk sejenak, Mona merasa kesulitan dan mencoba berpikir keras kemana harus mencari buku ini.


"Jika aku tidak menemukannya di toko buku lain setelah mencari, maka aku tidak punya pilihan selain pergi meminjam." Kata Mona setelah berpikir keras.


Dia tidak punya pilihan selain pergi meminjam.


"Teman-teman kamu juga membutuhkan buku ini." Al mengingatkan dengan murah hati.


Mona berpikir, apa yang dia katakan oleh Al benar, saat ini teman-temannya juga membutuhkan ini. Jika tidak meminjam ke teman-teman sebayanya, maka pinjam saja ke kakak tingkatnya.


"Bila aku tidak bisa meminjam ke teman-temanku, maka aku bisa meminjam ke kakak tingkat." Mona berencana ingin meminjam buku ke Tio.


Soalnya dia adalah seniornya di kampus jadi dia pasti memiliki buku ini.


Al menatap Mona perihatin.


"Apakah kamu belum mengenal dosen yang mengajar mu? Ingat, Dia baru saja masuk mengajar di kampus mu semester ini jadi mana mungkin kakak tingkat mu memiliki buku ini. Kecuali kamu pergi meminjam buku ke mahasiswa kampus di luar kota. Aku ingat, dia pindahan dari kampus X di kota h, itupun kalau kamu cukup waktu." Untuk yang kedua kalinya, Al mengingatkan dengan murah hati bahwa dosen yang mengajar Mona sebelumnya tidak pernah mengajar di kampus. Melainkan dia adalah dosen pindahan dari luar kota.


Mona panik. Semua pintu tertutup untuknya. Lalu ke mana dia harus meminjam buku?


Jika Mona tidak dapat menemukan buku, maka habislah sudah dia. Dosen yang mengajar sosiologi hukum terkenal eksentrik dan harus diturutin. Kalau tidak, apapun alasannya, dosen akan tetap memberikan nilai minus kepada orang-orang yang tidak membawa bukunya di saat jam pelajarannya.


"Kalau begitu," Mona menatap buku yang ada di tangan Al.


Al adalah seorang dosen dan dia tidak mengajar sosiologi hukum, lalu kenapa dia memiliki buku ini?


Mungkinkah untuk Sasa? Batin Mona skeptis.


"Aku bisa meminjamkan kamu buku ini." Kata Al tiba-tiba.


Mona terkejut. Tanpa sadar dia mengangkat kepalanya menatap Al tidak percaya.


"Apakah aku boleh meminjam buku ini?" Mona bertanya hati-hati.


Al tersenyum dangkal.


"Tentu saja kamu boleh. Tapi aku ragu meminjamkannya kepada kamu." Kata Al terlihat ragu-ragu.


Jantung Mona berdebar kencang.


"Kenapa?" Lalu dia tersadar, buru-buru menundukkan kepalanya tidak memiliki keberanian menatap Al lagi.

__ADS_1


Meremas tangannya gugup,"Apakah karena masa lalu? Aku... Aku berjanji tidak akan-"


"Kenapa kamu bolos dari kelasku kemarin?" Sebelum Mona menyelesaikan ucapannya, Al langsung memotongnya dengan sebuah pertanyaan.


Mona tercengang. Mungkinkah Al tahu kalau dia juga berada di kelas mata kuliah yang dia ajar kemarin?


"Ingat, mulai hari itu nilai kamu akan bergantung kepadaku karena mulai hari itu pula aku menggantikan dosen pengajar pertama. Sekarang katakan kepadaku, kenapa kamu membolos dari kelasku?" Tanya Al dengan tampang dingin dan nada yang dingin pula.


Mona sangat gugup. Apakah Al berpura-pura bodoh atau memang tidak tahu kalau alasan dia bolos kelas kemarin murni karena tidak ingin bertemu dengannya. Sekali lagi bukan karena Mona tidak mau melihat Al, tapi justru sebaliknya, itu karena Al tidak mau melihatnya.


Masih terngiang jelas apa yang di katakan Al setengah tahun yang lalu kepadanya. Al bilang dia sangat muak dan mual melihat wajahnya terus. Dan Mona tidak akan lupa betapa frustasinya Al hari itu memintanya untuk segera pergi, pergi sejauh mungkin dan jangan pernah mengganggunya.


Mona tidak akan pernah lupa, tidak lupa bahwa hari itu dia merasa sangat hancur sehancur-hancur nya.


"Aku... Kurang enak badan." Faktanya hatiku lah yang sakit.


"Jadi aku memutuskan untuk tidak masuk kelas." Aku tidak berani bertemu langsung dengan kamu, mas. Saat melihatku, aku pikir kamu akan marah dan kesal.


Namun kata-kata ini tak berani dia katakan secara langsung. Dia memendamnya dalam diam, dan meresapi semua rasa sakitnya dalam diam.


"Oh..." Al tidak memberikan komentar apa-apa.


Mona pikir Al tidak mau meminjamkannya buku itu. Tapi yang tidak dia duga adalah Al menyodorkan buku itu kedepannya.


"Ambil." Kata Al.


Mona tertegun. Dia menata buku yang ada di depannya dengan tatapan tak percaya.


"Tidak mau?" Kata Al menguji.


Mona menggelengkan kepalanya membantah.


"Enggak mas- um, maksudnya aku mau, Pak." Kata Mona setelah menepuk bibirnya yang salah bicara.


"Kalau begitu ambillah." Kata Al murah hati.


"Terima kasih, Pak-" Namun saat Mona mengulurkan tangannya untuk mengambil buku itu, Al langsung menarik tangannya menjauh.


"Ah?" Mona bingung.


Al tersenyum miring,"Kapan kamu menggunakan buku ini?"


Mona buru-buru menjawab,"4 hari lagi, Pak. Tapi aku harus menggunakan buku ini untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen pengajar." Artinya Mona sangat membutuhkannya sekarang.


Al mengangguk.


"Baiklah, tepat 4 hari kemudian setelah kamu menyelesaikan kelas, buku ini harus dikembalikan kepadaku, mengerti?"


Mona mengangguk lagi. Dia berjanji akan mengembalikannya langsung tanpa membuang banyak waktu.


"Kamu harus menepatinya, kalau enggak, nilai kamu taruhannya." Ancam Al horor.


Mona bergidik mendengarnya. Dia benar-benar heran dengan dirinya sendiri, kenapa bisa-bisanya dia jatuh cinta dengan laki-laki sedingin Al. Lihat saja ancamannya, tak tanggung-tanggung dia mempertaruhkan nilai Mona di mata kuliah yang dia ajar.


"Insya Allah enggak, Pak. Aku janji."


"Tepati janjimu." Setelah itu dia berjalan menjauh.


Suara langkah kakinya yang berat terdengar nyaring di dalam pendengaran Mona.


Mona mengangkat tangannya menyentuh dada, merasakan debaran jantung yang meletup-letup menyebarkan euforia kebahagiaan.


Apa yang baru saja terjadi?


"Baru saja...aku bertemu dan berbicara dengan mas Al?" Gumamnya tidak percaya.


"Tidak, aku memang sedang tidak bermimpi. Baru saja aku berbicara dengan mas Al. Walaupun sikap mas Al kepadaku masih acuh tak acuh seperti dulu, namun dia memberikan ku kesempatan untuk meminjam bukunya." Mona meremas dadanya bahagia.


Meski ini bukan percakapan yang manis tapi Mona sudah sangat bersyukur karena akhirnya dia memiliki kesempatan untuk berbicara lagi dengan pujaan hatinya. Hanya Allah yang tahu betapa tersiksanya dia setengah tahun ini memikirkan cara bagaimana meminta maaf kepada Al.


Tapi karena Allah memberikannya kesempatan sekarang. Mona tidak akan lagi mengulangi kesalahannya yang dulu. Dia tidak akan mengganggu kehidupan Al sama seperti yang dia lakukan dulu.


"Alhamdulillah... Selain mendapatkan buku aku juga berkesempatan berbicara dengan mas Al." Kata Mona dalam suasana hati yang baik.


Tapi saat mengambil buku itu di samping rak, senyumnya langsung menguap digantikan oleh tatapan konyol.


"Lha.." Bukunya belum dibayar.


"Ini...ini belum dibayar!" Masih ada label harganya.


Artinya buku ini masih milik toko buku dan belum dibayar.


"Serius, ini belum di bayar!" Mona membolak-balik buku itu untuk memastikan dan memang benar belum dibayar!


Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis! Sungguh, dia tidak pernah mengira Al juga bisa membuat lelucon!


"Ya Allah, mas Al! sebenarnya niat ngasih pinjam apa enggak sih?" Mona menatap buku itu lalu beralih menatap jalan yang baru saja dilalui oleh Al.


Menggigit bibirnya tak berdaya.


"Terus kenapa aku janji sama mas Al untuk mengembalikan buku ini kepadanya? Karena aku yang bayar harusnya kan buku ini jadi milikku." Mona bergumam kesal.


Bisa-bisanya Al melakukan ini kepadanya. Apakah dia sengaja mempermainkannya?


"Tapi jika aku tidak menepati janjiku dan mengembalikan buku ini kepadanya, bagaimana jika nilaiku yang menjadi taruhannya?" Mona di sini bingung.


Dia merasa telah dipermainkan oleh Al. Namun, bila dia tidak mengikuti permainan Al, takutnya yang kena imbasnya adalah nilainya sendiri.


"Terserahlah, kalau mas Al mau mengambil buku ini maka berikan saja kepadanya, yang penting nilaiku selamat." Mona tidak mau ambil pusing lagi, dia pasrah, namun nyatanya bibirnya tidak berhenti tersenyum.


Intinya saat ini dia sangat bahagia.


Setelah mendapatkan buku itu, dia tidak berniat melihat-lihat buku yang lain.


Saat membayar, staf yang tadi berbicara dengannya tidak berhenti tersenyum ketika melihat ke arahnya.

__ADS_1


Mona bingung.


"Kenapa?" Tanya Mona sambil tersenyum.


"Hilalnya sudah kelihatan ya, mbak?" Kata staf wanita itu.


Mona bingung. Hilal apa yang dimaksud oleh staf wanita itu. Sampai akhirnya dia teringat dengan percakapan singkatnya bersama staf wanita itu beberapa saat yang lalu.


Dia langsung menepuk jidatnya sembari menggelengkan kepalanya tak berdaya. Hilal apa?


Dia tidak berani berharap. Pasalnya setiap kali dia berharap, Allah selalu punya cara untuk menyadarkannya dari harapan semu.


"Jangan ngaco, deh. Dia itu dosen aku di kampus. Enggak mungkin lah aku sama dia ada apa-apa." Mona melambaikan tangannya membantah.


"Jangan pesimis begitu dong, mbak. Jodohkan gak ada yang tahu." Ujar staf wanita itu memiliki pikiran yang positif.


Tapi Mona menolak untuk percaya. Dulu dia mungkin memiliki pemikiran ini, tapi tidak untuk sekarang. Dia benar-benar tidak berani memikirkannya.


"Okay, aku pergi dulu ya. Kapan-kapan aku akan mampir ke sini lagi." Pamit Mona kepadanya.


Staf wanita itu melambaikan tangannya.


"Jangan sampai ngilang lagi, mbak. Kita setiap minggu pasti kedatangan bukan buku baru."


Mona mengangkat jempol tangannya sebelum benar-benar menghilang dari pandangan staf wanita itu. Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan meminta sopir taksi mengantarkannya ke alamat rumah yang disebutkan. Setelah itu, dia menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memeluk buku yang baru saja dipegang oleh Al. Merabanya penuh nostalgia, Mona seakan merasakan jejak suhu tangan yang ditinggalkan oleh Al beberapa saat yang lalu. Hangat dan manis, Mona memeluknya erat, berharap suhu hangat yang ditinggalkan oleh tangan besar milik Al dapat merasuk ke dalam hatinya.


"Mas Al...maaf, aku belum bisa melupakan kamu." Bidiknya sendu.


...*****...


Pulang dari kantor Azira membawa beberapa belanjaan di tangannya. Awalnya mereka hanya turun di jalan untuk membeli buah-buahan, tapi siapa yang tahu Azira langsung jatuh hati melihat makanan-makanan lezat yang masih hangat berjajar rapi di depan etalase. Alhasil Azira membeli apapun yang menarik perhatiannya sampai-sampai membuat suaminya geleng-geleng kepala melihat tingkah lakunya yang tidak sabaran di depan makanan.


Azira selalu lemah bila berhadapan dengan makanan lezat tapi tidak terlalu tertarik dengan produk perawatan kulit.


"Assalamualaikum, Umi, apakah Umi sudah makan? Jika belum, aku sama mas Kenzie kebetulan membeli banyak makanan. Kenapa kita tidak memakannya bersama-sama di halaman belakang? Aku lihat di luar langit cerah berawan, keluarga seperti ini tidak terlalu panas dan cocok untuk bersantai." Azira banyak bicara di depan Umi.


Dia tidak sabar ingin menunjukkan semua makanan yang dia beli kepada Umi.


Umi menggelengkan kepalanya geli. Senang rasanya melihat Azira kembali aktif dan mulai banyak makan daripada beberapa waktu lalu saat tidak bisa memasukkan makanan ke dalam perutnya.


"Umi sudah makan, tapi masih bisa memasukkan beberapa potong makanan lagi ke dalam perut. Memangnya apa yang Azira beli, pasti gorengan lagi? Nak, Umi senang kamu makan banyak tapi Umi nggak senang kalau kamu makan gorengan terlalu banyak. Itu nggak sehat buat kesehatan kamu dan bayi kamu." Ujar Umi menasehati.


Azira tersenyum malu. Semua orang di rumah sudah tahu kalau dia pecinta goreng. Dan Azira sudah sering dinasehati oleh mereka bahwa tidak baik terlalu banyak makan gorengan. Terkadang Azira mendengarkan tapi terkadang tidak karena dia sungguh tidak bisa menahan godaan gorengan yang berseliweran di depan matanya.


"Iya, Umi. Kami tidak membeli gorengan. Mas Kenzie juga tidak akan mengizinkan aku membeli gorengan. Tadi kami masuk ke supermarket untuk membeli buah-buahan dan kebetulan aku melihat manisan Turki. Aku ingat kalau Umi sangat suka manisan Turki, jadi aku sengaja membeli banyak. Selain itu karena ini adalah hari penjualan pertama, mereka sedang diskon besar. Makanya membeli banyak." Azira menjelaskan dengan senyum di wajahnya.


Dia membongkar semua belanjaannya dan mengeluarkan paket demi paket yang berisi manisan Turki. Hum, mencium baunya saja sudah membuat Azira dan Umi ngiler.


"Terlalu banyak makan makanan manis nggak baik buat gigi." Kenzie mengingatkan dengan murah hati.


Dia tidak menyukai hal-hal yang berbau manis, apalagi manisan Turki yang notabene terlalu manis untuk Kenzie.


"Kami bukan anak kecil lagi." Jawab Umi acuh tak acuh.


Umi terlihat excited membuka setiap paket. Jika Umi bertemu dengan rasa kesukaannya, dia akan berseru senang dan buru-buru memindahkan kotaknya untuk dimakan sendiri.


"Rasa ini aku beli banyak, Umi. Ada 3 paket kalau enggak salah, semuanya aku beli khusus untuk Umi." Kata Azira sambil mencari rasa yang sama dan menyerahkan semuanya untuk Umi.


Dia suka melihat Umi tertawa. Soalnya suara tawa Umi itu renyah dan buat orang jadi nyaman.


"Masya Allah, terima kasih ya, Nak. Azira jauh lebih ngerti Umi daripada Kenzie sendiri. Umi bersyukur banget kamu nikahin Kenzie." Dengan makanan, Umi tidak tahu menjelekkan nama putranya.


Kenzie menggelengkan matanya.


"Kebalik, yang ada Kenzie kali yang nikahin Azira." Ralat Kenzie memperbaiki.


Umi tidak perduli dan berpura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzie.


"Buat Abah mana?" Abah muncul dari arah dapur.


"Di sini juga ada buat Abah. Aku juga beli banyak!" Kata Azira sembari mencari rasa kesukaan Abah.


Abah buru-buru datang menghampiri mereka. Dia tidak suka manis tapi masih bisa makan sedikit. Misalnya rasa lemon, tidak terlalu manis karena ada asam dari buah lemon. Abah suka memakannya.


Saat sedang membagi-bagi makanan, tiba-tiba rumah mereka kedatangan tamu.


"Permisi, Umi, ada seorang wanita yang datang mencari tuan Kenzie." Bi Imah datang memberikan laporan bahwa ada tamu yang tengah menunggu di depan.


"Wanita?"


Seketika semua orang langsung menatap arah Kenzie. Umi menatap Kenzie dengan tatapan pengawasan sementara Abah memiliki sikap seolah sedang menonton pertunjukan. Azira sendiri tersenyum, tapi kasih tahu bahwa senyuman Azira menyembunyikan pisau di dalam.


"Siapa?" Tanya Kenzie tenang.


Dia tidak pernah merasa memiliki seorang teman wanita. Kecuali Amara tentunya, tapi sekarang sudah didiskualifikasi karena menurutnya dia tidak layak dipertahankan.


Bi Imah buru-buru menjawab takutnya menyebabkan kesalahpahaman di antara para majikan.


"Kalau tidak salah namanya Amara, dia bilang teman tuan Kenzie sewaktu SMA dulu." Jawab bi Imah menerangkan.


"Amara?" Sekali lagi Kenzie dihujani tatapan pengawasan oleh Umi dan Abah.


Kenzie menggelengkan kepalanya tak berdaya.


"Azira, ayo temani aku ke depan." Kenzie mengulurkan tangannya kepada sang istri.


Melihat tindakan Kenzie, Umi menganggukkan kepalanya puas. Dari awal dia tidak menyukai Amara karena rumor yang beredar di luar, namun setelah mengetahui kebenarannya Umi semakin tidak menyukainya. Dia merasa kalau Amara adalah parasit yang mengganggu kehidupan putranya. Kenapa Umi menyebutnya parasit?


Karena dia berani meminta Kenzie untuk meneruskan cita-citanya yang tidak sampai. Sungguh gila, jika bukan karena pengaruhnya, Kenzie pasti sudah lama memiliki karir yang bagus di dunia bisnis sama seperti jejak Abah.


"Iya, mas. Umi mau ikut?" Azira mengajak Umi murni karena ingin bersenang-senang.


Mana mungkin Umi tidak mengerti jalan pikiran menantunya.


"Ayo pergi. Aku ingin melihat seperti apa rupanya wanita yang telah mengganggu kehidupan putraku. Memangnya secantik apa dia sampai-sampai berani memaksa putraku untuk meneruskan cita-citanya yang tidak tergapai! Huh, kalau dia mau jadi dokter kenapa tidak rajin belajar saat sekolah dulu dan bukannya memaksa otak anakku untuk menggantikannya! Tidak tahu malu!" Umi berdiri sambil marah-marah.

__ADS_1


"Umi sebentar lagi tahu betapa cantik sahabat baik suamiku ini." Kata Azira menyindir.


Kenzie merasakan kepalanya sakit. Dia memegang kepalanya pusing menghadapi dua harimau betina yang siap mengamuk.


__ADS_2