Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 28.6


__ADS_3

Humairah menatap hamparan langit jauh di sana. Semuanya tampak kelabu dengan udara lembab pertanda hujan akan segera turun. Bibirnya terkatup rapat tidak mengeluarkan sepatah katapun sementara' kedua matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Harapannya pupus. Cinta yang dia dambakan ternyata bertepuk sebelah tangan tanpa ada peluang untuk menggapainya. Sering. Dia sudah sering memikirkannya. Dengan otak secerdas dia, mustahil bila dia tidak pernah memiliki pemikiran ini di dalam hatinya. Tapi tak rela sudah cukup menutupi semua kewarasannya untuk melepaskan Kenzie.


Sakit, tapi kenapa terus memaksakan diri?


Alasannya sederhana tapi sulit untuk dipahami, yaitu kenapa harus Azira?


Inilah yang tidak dia temukan jawabannya selama waktu-waktu kesakitan yang dia lalui.


Kurang apa dirinya dibandingkan dengan Azira?


Daripada kurang, justru dia jauh lebih baik dari segi manapun bila dibandingkan dengan Azira. Keluarga?


Dia punya lengkap tapi Azira cuma sebatang kara. Pendidikan?


Dia sudah menyelesaikan S1 kesehatan tapi Azira justru hanya lulusan SMA pinggiran kota yang tidak bisa disebutkan namanya, akreditasinya tak perlu diragukan lagi kualitasnya yang rendah.


Bagaimana dengan fisik?

__ADS_1


Yah, memang sekilas Azira lebih baik tapi dia menolak kalah karena merasa dia lebih cantik. Kenapa? Dia telah melalui banyak jenis perawatan kulit untuk memoles kecantikannya sementara Azira tidak pernah menyentuh barang-barang itu. Mahal, Azira tak mampu. Jangankan membeli perawatan kecantikan, biaya untuk membeli makanan saja dia tak mampu. Lalu, dimana kurangnya?


Dia lebih, lebih baik daripada situasi Azira. Tapi kenapa harus Azira?


Inilah yang tidak dimengerti nya.


"Masih memikirkan pembicaraan tadi?" Tiba-tiba bibi Safa datang dan duduk di sebelah Humairah.


Bibi Safa tidak ikut dalam pembicaraan tadi tapi dia tidak ketinggalan informasi. Mama langsung bergerak cepat menghubunginya agar bisa menghibur Humairah yang tengah bersedih.


"Um. Aku... bingung, bibi. Dadaku sesak dan aku masih tidak bisa merelakan Azira hidup bahagia bersama mas Kenzie. Aku merasa terhina." Ucap Humairah kebingungan.


"Maaf, Humairah. Rencana bibi meleset. Jika Azira tidak terlalu licik, maka mungkin sekarang dia sudah hidup menderita." Bibi Safa mengingat rencananya dengan nyonya Bara yang gagal total.


Humairah tersenyum kecut,"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" Dia bingung.


Bibi Safa mengubah posisi duduknya miring menghadap Humairah.

__ADS_1


"Kamu mau datang ke acara mereka?"


Humairah semakin bingung. Dia tak mau datang, tapi penasaran dengan keadaan Azira. Namun bila dia benar-benar datang, dia akan bertemu dengan Azira yang hidup bahagia di atas penderitaannya. Ugh, memikirkannya saja membuat Humairah benci.


"Datang saja. Lihat situasinya. Tenang ada bibi bersama kamu. Nanti jika kita menemukan sesuatu, bibi bisa membantu kamu menyingkirkan Azira." Samar-samar dia sudah memiliki ide di benaknya.


Humairah menatap bib Safa tak percaya.


"Bibi masih mau membantu?" Memang benar, hanya bibi Safa yang paling mengerti perasaannya. Itulah yang Humairah pikirkan sekarang.


Baik Ayah maupun Mama tak berani melakukan apa-apa, tapi berbeda dengan bibi Safa. Dia sangat menyayanginya hingga tak keberatan melakukan hal-hal berani untuk membahagiakannya.


Tersenyum simpul,"Pasti. Apasih yang tidak buat kamu. Kebetulan aku juga sedang badmood akhir-akhir ini, tak apa-apa bersenang sedikit saja untuk mengembalikan mood." Katanya meremehkan.


Humairah sangat senang. Dia lantas memeluk bibi Safa.


"Bibi, kamu adalah yang terbaik. Aku akan pergi bersamamu besok!"

__ADS_1


Bibi Safa tertawa,"Anak baik. Yakinlah bibi tidak akan mengecewakan kamu."


__ADS_2