Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 14.8


__ADS_3

Azira tersenyum cerah. Dia membalas genggaman tangan suaminya sembari menyentuh sisi Ibunya. Seakan-akan dia ingin menunjukkan kepada Ibunya bahwa inilah sosok laki-laki yang telah berhasil merebut hatinya dan membuatnya selalu tersenyum dikala bersama ataupun tidak.


"Bu, jika suamiku melanggar janjinya, jangan sungkan untuk memberikannya hukuman." Kata Azira bercanda.


Kenzie menggelengkan kepalanya tak berdaya.


"Istriku adalah pengadu." Balas Kenzie balik bercanda.


Dan lagi-lagi membuat Azira tersenyum. Lalu Azira menatap sisi Ibunya dengan perasaan nostalgia.


Bu, aku berjanji akan hidup bahagia bersama suamiku. Aku berjanji tidak akan membuat Ibu sedih lagi. Bu, yakinlah. Setelah tinggal bersama mas Kenzie aku tidak pernah kelaparan, tidak pernah kedinginan karena kekurangan selimut di rumah, aku juga tidak pernah kehujanan karena atap rumah suamiku sangat kokoh dan kuat, hujan tak mampu menerobosnya seperti rumah kita dulu. Aku juga tidak pernah kekurangan uang karena suamiku selalu menyiapkan uang belanja untukku. Dan yang paling ku syukuri dari semua itu adalah aku diterima dan dihargai di dalam keluarga suamiku. Bu, sungguh aku tidak lagi memikirkan tentang Ayah dan keluarganya. Aku tidak sedih meskipun Ayah tidak memikirkan aku seperti yang dia lakukan ketika memikirkan Humairah. Aku juga tidak sedih ketika mereka mengizinkanku tinggal di rumah itu dengan faktor belas kasihan. Aku tidak sedih lagi, Bu. Ibu harusnya tahu apa yang telah aku lakukan kepada mereka. Maaf, Bu. Tak bisa aku tepati janjiku kepadamu menjadi wanita yang baik. Sebab hatiku sudah terlalu sering mereka lukai dan kemarahanku melihatmu disiksa oleh mereka membuatku berpikir untuk mengambil tindakan nekat. Jika Ibu masih hidup Ibu akan marah besar kepadaku, namun beginilah cara Allah mempertemukan aku dengan suamiku. Beginilah cara-Nya mempersatukan kami. Jika aku tidak melakukan kejahatan itu maka kami tidak akan bertemu dan hari ini mungkin aku tidak akan tersenyum selebar ini. Bu, maaf, aku tidak menyesali apa yang aku lakukan. Tapi aku ingin jujur kepada Ibu. Aku sangat bahagia sekarang, sungguh sangat bahagia. Ini harusnya tenang melihatku di sini. Karena aku tidak kesepian lagi dan aku memiliki orang-orang yang mau menghargai diriku terlepas dari masa lalu kita. Bu, aku sangat bahagia. Kuharap Ibu pun bahagia melihat ku dari sana. Batin Azira berbicara dengan Ibunya.

__ADS_1


Azira berharap bahwa apa yang dia katakan didengar oleh Ibunya. Agar Ibunya tidak merasa risau di sana memikirkan hidupnya di sini.


"Bagaimana perasaan kamu sekarang?" Sebuah usapan lembut di puncak kepala segera menarik Azira dari lamunan panjangnya.


Azira menatap suaminya.


"Jauh lebih baik. Aku senang akhirnya bertemu dengan Ibu lagi." Bisik Azira jujur.


Azira menyesal telah memperlakukan Ibunya dengan buruk.


"Baguslah. Ayo kita bersihkan tempat Ibu. Um, ngomong-ngomong kalau kamu mau kita bisa memindahkan tempat Ibu ke tempat yang lebih baik lagi." Kata Kenzie ingin mendengarkan pendapat Azira.

__ADS_1


Menurutnya pribadi di mana saja tidak ada bedanya sebab posisi setiap orang di mata Allah tidak akan pernah berubah sekalipun tempat dipindahkan.


Azira menggelengkan kepalanya menolak.


"Di sini saja. Sudah menjadi takdir."


Kenzie tersenyum.


"Sudah menjadi takdir. Ayo bersihkan sebelum kita pulang."


Mereka berdua lalu membersihkan tempat Ibu. Menyingkirkan rumput-rumput liar yang mulai tumbuh. Dan bagi bunga-bunga yang berjatuhan, untuk beberapa alasan yang tidak diketahui Azira enggan membuang atau menyingkirkannya dari tempat Ibu. Jadi dia membiarkannya tergeletak begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2