Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 27.5


__ADS_3

Entah sadar atau tidak, saat ini Azira tampak agak manja ketika berbicara dengannya.


"Aku bosnya, bisa datang kapan saja. Kamu enggak usah khawatir." Tapi di dalam hati Kenzie berdoa agar asistennya tidak marah lagi karena hari ini, untuk yang kesekian kalinya dia mengambil cuti demi Azira.


Tidak apa-apa. Demi istrinya dia bisa melakukan apa-apa. Lagipula selain absen di kantor, Kenzie tidak meninggalkan tanggung jawabnya. Terkadang dia akan mengerjakan semua dokumen-dokumen yang dikirimkan oleh asistennya di malam hari sebelum tidur. Saat itu suasananya sangat mendukung dan nyaman untuk dia bekerja. Karena Azira ada di kamar duduk bersamanya dengan patuh. Terkadang bila Azira bosan, dia akan mengambil buku dan pulpen, lalu menulis sesuatu yang seringkali Kenzie baca diam-diam. Tulisan istrinya terlalu lucu. Bercerita tentang kehidupan sehari-hari di rumah atau apa saja yang dia kerjakan di rumah. Azira selalu menyembunyikannya di suatu tempat tapi Kenzie tidak akan kesulitan menemukannya.


Sebelum hamil, Azira akan menyiapkan cemilan dan minuman selama bekerja. Meskipun... ujung-ujungnya semua cemilan itu dilahap oleh istrinya.


Kenzie jarang bekerja saat Azira tertidur. Alasannya karena dia tidak ingin melewatkan momen ketika mereka berdua tertidur. Yaitu, mendekap Azira untuk berbagi kehangatan, dia tak mau melepaskan momen ini.


"Ya Allah, mas..jangan memaksakan diri. Kalau sibuk, mas bisa pergi bekerja biar nanti Abah atau Umi yang masakin aku di rumah." Maunya sih Kenzie, tapi Azira juga tidak mau egois.


Suaminya punya tanggung jawab dan kewajiban di luar. Dia tak mau menjadi orang yang menghambat suaminya untuk menunaikan kewajibannya.


Kenzie anehnya tidak merasa tenang. Dia sedikit marah karena Azira berubah pikiran.


"Jangan mikirin yang macam-macam. Pokonya aku yang masak nanti. Abah dan Umi sibuk, kita tidak usah mengganggu waktu mereka berdua." Kenzie bersikeras memasak.

__ADS_1


Azira geli.


"Baiklah, kalau mas Kenzie memaksa. Aku senang banget, mas. Udah enggak sabar pengen makan masakan mas Kenzie." Azira memeluk pinggang suaminya bahagia.


Um, hal kecil ini sudah membuatnya sangat bahagia. Dia bersyukur karena suaminya ada ketika dia sangat membutuhkannya dan bahkan selalu ada untuk hal-hal yang sangat sepele. Ini merupakan nikmat yang tak semua istri di dunia ini miliki dan Azira sangat mensyukurinya.


"Aku akan langsung masak nanti setelah kita selesai sarapan." Kata Kenzie berjanji sambil berpikir apakah masih ada daging di dalam lemari es.


"Mas," Azira melirik ke belakang dan langsung merasa heran melihat wanita itu tak kunjung pergi.


"Mas, sebenarnya siapa sih wanita tadi? Kenapa dia terus melihat mas Kenzie?" Tanya Azira cemburu.


Pikiran Kenzie langsung ditarik. Mencerna apa yang Azira tanyakan, dia senang karena Azira cemburu. Tapi dia tidak berani terlalu senang karena Azira kalau udah cemburu pasti berbahaya dan bisa-bisa membuat keputusan fatal seperti terakhir kali.


Kenzie tak mau kehilangan istrinya. Tangannya yang memegang pinggang Azira tanpa sadar meremas pinggang itu kuat.


"Mas Kenzie!" Azira meringis.

__ADS_1


Kenzie langsung tersadar dan buru-buru mengelus pinggang istrinya penuh kasih. Dia terlalu terbawa suasana.


"Maaf, aku...aku terbawa emosi. Aku mengingat hal-hal yang tidak ingin ku ingat." Kata Kenzie sakit hati.


Azira cemas,"Apa yang mas Kenzie pikirkan?"


Kenzie mengecup puncak Azira lengket dan menekan kening Azira dengan keningnya.


"Aku memikirkan hari dimana kamu meminta berpisah denganku. Itulah adalah ingatan yang tidak ingin aku ingat kembali, rasanya hatiku sakit." Bisik Kenzie merasa perih dihatinya.


Azira langsung tahu apa yang dibicarakan suaminya. Hari itu tak mungkin dilupakan karena sangat berkesan.


"Maafkan aku, mas." Bisik Azira menyesal.


Suaminya mungkin terlihat sempurna di luar, tapi jauh di dalam hati Azira tahu bahwa suaminya tidak sesempurna itu. Dia memiliki sebuah obsesi dan rasa kepemilikan yang kuat terhadap hal-hal yang telah dia miliki. Contohnya seperti Azira.


Bagi Kenzie, Azira adalah separuh hidupnya. Jika Azira pergi maka hidupnya tidak akan lengkap bahkan kacau.

__ADS_1


__ADS_2