Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 21.9


__ADS_3

Sasa tertawa kering.


"Kak, kak Kenzie enggak cuma 'cukup' anti tapi benar-benar anti wanita. Aku aja yang adiknya jarang banget diperhatiin sama dia, apalagi wanita lain yang orang luar? Ya Allah, kak Kenzie memang pantas dijuluki batu berjalan!" Sasa mengolok-olok.


"Oh, berjalan yah?" Suara dingin seseorang langsung membuat Sasa tersedak!


"Uhuk!" Sasa batuk-batuk.


Mona di samping kebetulan dekat keran, jadi dia buru-buru mengambil baskom untuk mengisi air keran, sebelum memberikannya kepada Sasa.


"Ini minum...minum.." Desak Mona khawatir.


Sasa dengan bodoh meminum air itu, setelah mengambil beberapa teguk dia menyadari ada sesuatu yang salah. Matanya berkedut tertahan menatap baskom yang sedang dia pegang. Baskom ini tidak asing, karena dia sering menggunakannya untuk mengambil air saat mencuci piring. Belum lagi permukaan baskom yang cacat karena termakan usia, Sasa langsung tahu bahwa Sasa mengambilnya dari wastafel!


Lalu bagaimana dengan airnya?


Jangan-jangan....


Sasa menatap Mona tajam.


"Kamu ngasih aku air keran?" Tanyanya geram.

__ADS_1


Mona memasang tampang polos di wajahnya. Dia terlihat tidak bersalah. Seperti tidak tahu apa-apa. Mungkinkah dia tidak sengaja melakukan itu?


Melihat ekspresi tidak bersalah di wajahnya, orang mungkin berpikir kalau dia memang benar-benar tidak tahu apa-apa. Tapi ini Sasa!


Dia sangat mengenal bagaimana karakter sepupunya itu!


Kecelakaan ini pasti disengaja.


"Em...iya, mungkin?" Berpura-pura ragu.


Sasa murka.


"Mona, ah! Kenapa kamu ngasih aku air keran?" Sasa paling anti sama air mentah kecuali air mineral kemasan yang dijual di luar.


"Kamu pantas mendapatkannya." Suara tanpa simpati Kenzie sekali lagi membuat Sasa tersedak.


Bahkan kakaknya sendiri tidak berpihak kepadanya, ini sangat memalukan.


"Kak Kenzie ih..." Sasa merajuk.


Kenzie tersenyum kecil,"Okay, nanti kakak ajak keluar ke butik sama kakak kamu." Kenzie mengusap puncak kepala adiknya.

__ADS_1


Dia tidak memasukkan ke hati apa yang dikatakan oleh adiknya. Memang pada dasarnya dia sering mendengar orang-orang mengatakan kalau dia sama seperti batu. Wajahnya jarang menunjukkan emosi dan yang lebih penting lagi, dia sangat keras kepala. Keputusannya tidak mudah digoyahkan yang terkadang membuat orang-orang merasa jengkel.


"Eh, serius, kak?" Sasa senang.


Hari ini Kenzie dalam suasana hati yang baik. Dia bersedia memaafkan kelakuan adiknya yang durhaka. Selain itu dia senang melihat adiknya akrab dengan istrinya, jadi mau enggak mau dia ingin memberikan sedikit hadiah kepada adiknya.


"Kita pergi nanti sore, biar pulangnya nggak kemaleman kayak terakhir kali." Kenzie memastikan.


Dia berbicara sambil memperhatikan kedua mata istrinya yang berbinar terang. Jantung Kenzie berdegup kencang di dalam dada. Suaranya begitu nyaring hingga memenuhi kepalanya.


"Oh, cuma Sasa aja yang diajak, Mona enggak?" Mona protes. Wajahnya cemberut.


Kenzie tersadar dari lamunannya.


Menarik diri dari wajah merah Azira, senyum diwajahnya semakin lebar.


"Kamu juga adikku, tentu saja pergi. Kalau mau Umi juga bisa pergi bersama kalian. Ngomong-ngomong, aku perhatiin baju di sana bagus-bagus. Umi mungkin suka."


Umi sudah senang mendengar anak-anaknya pergi bersenang-senang di luar dan dia tidak berniat ikut pergi. Jadi dia melambaikan tangannya menolak.


"Kalian pergi saja. Aku lebih suka bersenang-senang di rumah sama Abah."

__ADS_1


Azira menyayangkannya. Dia membujuk mertuanya untuk ikut, tapi tetap tidak mau. Jadi yang pergi cuma mereka berempat.


__ADS_2