Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 22.5


__ADS_3

Humairah tersenyum lembut. Penampilan Humairah saat ini mengingatkan bibi Safa pada hari-hari sebelum Azira masuk ke dalam hidup dan menjelma menjadi mimpi buruk mereka.


Bibi Safa merasa kecemasannya agak mereda. Tapi dendamnya pada Azira tidak menghilang. Dia masih menantikan hari dimana Azira menderita. Akan tetapi dia sangat kesal baru-baru ini. Mungkin tepatnya selama bulan ini kemarahan dihatinya kian memuncak. Karena apa?


Itu karena nyonya Bara tiba-tiba memutuskan hubungan kerja sama tanpa mengatakan alasan yang masuk akal. Bibi Safa tidak bisa menerimanya begitu saja. Club' malam yang nyonya Bara pegang saat ini mungkin 30 persen adalah miliknya.


Bibi Safa dulu tidak sudi berhubungan dengan dunia gelap tapi dia terpaksa jatuh ke jalan ini untuk menyingkirkan Azira dan Ibunya. Bertahun-tahun yang lalu dia berhasil menciptakan neraka untuk ibu Azira, membuatnya tersiksa dimana mati lebih baik daripada hidup. Itu sangat memuaskan kemarahannya.


Dan ini juga berlaku untuk Azira. Tidak ada alasan dirinya tak mampu menyentuh kehidupan Azira. Selama dia bertekad, kehidupan Azira tidak akan jauh berbeda dengan Ibunya dulu. Akan tetapi nyonya Bara tidak mau bermain lagi!


Tidak apa-apa nyonya Bara mengambil bagiannya, bibi Safa tidak terlalu menghargainya! Tapi bisakah nyonya Bara berhenti setelah berhasil mendapatkan Azira!


Ini sangat menjengkelkan.

__ADS_1


"Bibi, kurasa bibi lebih baik beristirahat dulu di dalam kamar." Humairah perihatin.


Dari tadi bibi Safa terus menerus memijat kepalanya. Pasti dia merasa pusing dan menurutnya harus bergegas ke kamar untuk beristirahat.


"Yah..aku juga berpikir begitu." Bibi Safa mencoba berdiri dan segera dibantu oleh Humairah.


"Haruskah aku memanggil paman untuk menemani bibi?" Humairah melihat ke pintu, mencoba mencari sosok pamannya.


Bibi Safa tersenyum kecut.


Suaminya juga aneh baru-baru ini. Selain lebih sibuk dengan berbagai macam alasan di luar rumah, suaminya juga agak enggan menyentuhnya. Padahal bibi Safa yakin bahwa tidak ada yang salah dengan tubuhnya. Dia masih cantik dan segar, pada usia ini banyak laki-laki yang mengidamkan nya.


"Ah..paman sangat sibuk akhir-akhir ini. Aku akan menghubunginya nanti agar segera pulang dan menemani bibi di rumah." Humairah baru tahu ini.

__ADS_1


Padahal baru dua hari yang lalu pamannya pulang dari perjalanan bisnis. Tidakkah ini keterlaluan?


Jika begini terus, kapan paman akan memiliki waktu bebas menemani keluarganya?


"Terima kasih, Humairah. Kamu adalah anak yang bijak. Ngomong-ngomong rayu juga Ayah mu agar jangan membebani paman untuk bekerja di luar, bibi jadi kesepian di rumah menunggunya." Bibi Safa bercanda.


Dia sekarang berjalan pelan bersama Humairah menuju kamarnya.


Tidak terlalu jauh. Dalam beberapa menit berjalan mereka sudah sampai di depan pintu.


"Jangan khawatir, bi. Aku akan bicara. Sekarang istirahat lah, ada sesuatu yang ingin kulakukan di kamar."


Setelah memastikan bibi Safa masuk ke dalam kamar, dia segera kembali ke dalam kamarnya. Dia tidak sabar ingin berbicara dengan orang yang telah mengirimkan nya informasi tadi. Tangannya sampai gemetaran memegang ponsel. Suasana hatinya yang bersemangat tergambar jelas di wajahnya yang merah.

__ADS_1


"Ini adalah balasan... tidak, jangan senang dulu. Aku harus memastikan bahwa berita ini bukanlah kebohongan. Aku harus.."


__ADS_2