Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 12.1


__ADS_3

Pukul 05.00 sore Azira dan Sasa pulang ke rumah tanpa Kenzie. Suaminya masih ada pekerjaan di rumah sakit sehingga tidak pulang bersamanya. Ada operasi. Dan operasi ini cukup fatal dan membutuhkan waktu serta konsentrasi yang tinggi. Jadi mungkin Kenzie baru bisa pulang besok setelah shalat subuh. Azira ingin kembali ke rumah sakit membawakannya makan malam tapi Kenzie menolak. Soalnya dia tidak akan pernah bisa keluar dari ruang operasi sebelum operasi diselesaikan. Dan kemungkinan besar dia akan keluar dari ruang operasi pukul dini hari di mana waktu makan malam sudah lewat. Jadi percuma saja mengirimkannya makanan karena dia tidak akan pernah menyentuhnya.


Azira sangat menyayangkannya. Dan dia berharap bahwa kebiasaan buruk ini tidak akan merusak kesehatan pencernaan suaminya. Sebab karena pekerjaan suaminya terkadang telat makan atau tidak makan sama sekali. Ini adalah pola makan yang sangat buruk hingga dapat membahayakan organ lambung jika tidak diperhatikan.


"Assalamualaikum?" Salam Sasa dan Azira begitu masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah Umi dan Abah sudah menunggu mereka berdua pulang ke rumah. Tapi mereka tidak melihat keberadaan putra mereka.


"Loh Kenzie ke mana?" Tanya Umi tidak melihat keberadaan putranya.


"Kak Kenzie hari ini ada operasi besar makanya nggak bisa pulang. Katanya baru bisa pulang mungkin besok subuh-subuh." Jawab Sasa lelah sembari mendudukkan dirinya di sofa bersama Azira.


Sebenarnya dia tidak melakukan apa-apa di rumah sakit. Sebagian besar waktunya dihabiskan selama di sana untuk bermain ponsel dan rebahan. Sisanya mengobrol sebentar dengan Ayana. Dia benar-benar tidak melakukan apa-apa tapi anehnya merasa lelah. Yah, lelah berpikir tepatnya.


"Operasi lagi. Bisa-bisanya kakak kamu tahan melihat darah orang lain. Kalau Umi pasti udah nggak bisa makan." Umi menggelengkan kepalanya tak berdaya.


Dia sudah biasa dengan pekerjaan Kenzie ini. Dan menurutnya selama Kenzie tahu arah pulang, maka dia tidak akan berpikir terlalu banyak.


"Lha kan kak Kenzie dokter, Umi. Itu sudah pekerjaannya melihat darah. Bakal aneh kalau seorang dokter tidak bisa melihat darah." Sasa menimpali Umi malas.


"Iya iya iya, Umi tahu kok kalau kakak mu dokter. Udah, kalian berdua lebih baik masuk ke dalam kamar dan mandi. Nanti setelah bersih turun ke bawah bantu Umi masak di dapur."


Sasa dan Azira tidak mengomentari. Mereka berdua dengan patuh berjalan ke arah kamar masing-masing. Namun saat Azira akan naik ke atas tangga, dia tiba-tiba dihentikan oleh Sasa.


"Kenapa, dek?"


Sasa memberikannya sebuah paper bag putih. Azira melihat kalau paper bag ini Sasa bawa dari rumah sakit setelah keluar siang itu. Azira tidak tahu apa isinya dan tidak ingin bertanya karena itu adalah privasi adik ipar-nya.


"Ini buat kakak. Tadi siang aku sengaja keluar karena dipanggil sama teman-teman kuliahku. Kami pergi ke sebuah butik yang baru dibuka. Ada diskon besar-besaran di sana. Ketika aku masuk ternyata gamisnya bagus-bagus dan katanya juga nyaman. Berhubung lagi diskon besar-besaran, aku beli beberapa baju untuk aku sama kakak. Dan beberapa baju diantara kita kembar, kak. Coba deh kak Azira lihat, kakak pasti langsung suka saat pertama kali melihatnya." Kata Sasa dengan senyuman manis di bibirnya.


Dia benar-benar tidak berbohong. Saat sedang bermain ponsel tiba-tiba teman kuliah mengajaknya keluar. Katanya ada butik yang baru dibuka dan sedang diskon besar-besaran. Sasa langsung tertarik. Apalagi dia baru saja mendapatkan uang, jadi kenapa tidak membeli beberapa baju untuk merayakan kebahagiaannya hari ini. Selain itu dia juga ingin membelikan Azira sesuatu dan moment ini sangat tepat, jadi dia membeli beberapa pakaian yang dirasa cocok untuk kakak iparnya itu.

__ADS_1


"Ya Allah, dek. Jangan buang-buang uang. Kamu nggak perlu beliin kakak baju. Karena baju yang kita beli aja di mall kemarin masih belum kakak pakai di lemari. Harga semua baju ini berapa? Biar kakak yang ganti uang kamu." Adik iparnya masih sekolah dan belum bekerja. Dia masih berpangku tangan kepada orang tua jadi Azira tidak enak menggunakan uang Sasa.


Meskipun niat Sasa baik, tapi tetap saja dia tidak enak. Jujur saja, terlepas dari rasa tidak nyamannya menggunakan uang Sasa, namun dia sangat senang karena Sasa masih mengingatnya ketika melakukan sesuatu.


"Enggak, kak. Serius, aku nggak ngeluarin banyak uang buat beli ini semua. Selain itu hari ini aku mendapatkan uang belanja tambahan lagi makanya aku mau beli pakaian. Kalau uangku sedikit, mana mau aku belanja, kak." Sasa melambaikan tangannya menolak.


Dia sungguh tidak mau menerima uang dari kakak iparnya. Kalau kakaknya tahu dia mengambil uang dari Azira, mungkin pulang-pulang dia akan dikebiri.


"Tapi kakak nggak enak. Terus bagaimana dengan, Umi? Apa sebaiknya pakaian ini buat Umi saja?"


"Kakak jangan khawatir masalah, Umi. Karena aku juga membelikannya pakaian. Oh ya, beberapa pakaian sengaja aku beli kembar. Jadi nanti kalau kita pergi kondangan, kita bertiga bisa menggunakan pakaian yang sama biar kompak dan orang-orang jadi iri."


Sasa masih sempat-sempatnya bercanda. Setelah mengatakan ini Azira tidak lagi berat hati. Dia menerima pemberian Sasa dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Setelah itu dia kembali ke kamarnya.


Paper bag nya ditaruh di atas kasur. Dia tidak sempat membukanya karena badannya gerah dan ingin segera membersihkan diri. Setengah jam kemudian dia sudah berganti baju dan keluar dengan tampilan yang lebih menyegarkan. Sebelum turun ke bawah dia mengeluarkan pakaian yang ada di dalam paper bag. Totalnya ada empat gamis dan modelnya sangat bagus-bagus. Azira langsung suka ketika melihatnya. Dan sekilas dari model dan kainnya, Azira menebak kalau harganya tidak mudah. Mungkin jauh lebih mahal dari pakaian-pakaian yang dia beli di mall beberapa waktu lalu, tentu saja, untuk sekelas butik harga mahal itu memang sudah menjadi biasa karena kualitas barang mereka juga bagus.


"Ya Allah, dek. Kapan-kapan kalau aku punya uang, aku akan membelikan kamu dan Umi beberapa pakaian di butik juga." Azira memiliki niat ini di dalam hatinya.


Semua orang memperlakukannya dengan baik, maka dia harus memperlakukan orang lebih baik lagi.


Dia harus berjuang karena dia tidak mau kehilangan hidup yang dia jalani sekarang.


...*****...


Keesokan harinya Azira merasakan seseorang mengganggu tidurnya. Tangan-tangan itu bergerak nakal memegang pipinya. Pipinya terasa gatal dan di dalam tidur sesekali Azira akan mendengung tidak puas. Namun tangan itu masih saja mengganggunya.


"Siapa- mas?" Samar, dia melihat wajah suaminya begitu dekat dengan wajahnya.


Untuk sesaat di terbengong karena masih belum bisa berpikir jernih. Beberapa detik kemudian di akhirnya tersadar kalau suaminya sudah pulang ke rumah.


"Mas Kenzie... Sudah pulang? Jam berapa sekarang?" Mengusap matanya yang masih mengantuk dan duduk di atas kasur.

__ADS_1


"Sebentar lagi adzan subuh. Kamu pasti belum shalat malam, yah?" Ini hanyalah pertanyaan basa-basi, karena tanpa bertanya pun dia tahu kalau istrinya tidak bangun sholat.


Agaknya dia kesel karena istrinya tidak sholat. Menurutnya sholat malam itu sangat berharga. Sungguh sangat berharga. Karena berharga, dia berharap Azira tidak akan melewatkannya. Tapi ternyata malam ini Azira melewatkannya.


Awalnya dia kesal. Tapi ketika melihat tumpukan pakaian yang sudah diseterika rapi di dalam rak dan belum sempat di taruh kembali ke dalam lemari, Kenzie langsung mengerti. Istrinya semalam menyetrika semua pakaiannya hingga larut malam. Sebelum dia sempat menaruhnya kembali ke dalam lemari, dia keburu ngantuk dan ketiduran di kasur.


Tiba-tiba dia merasa bersalah.


"Maaf, mas. Aku ketiduran." Kata Azira malu.


Biasanya juga Kenzie yang membangunkannya untuk sholat.


Sholat malam di lakukan di waktu tengah malam, waktu-waktu yang paling krusial karena waktu itu adalah yang paling nyaman untuk tidur. Jadi terkadang Azira keberatan bangun jam segitu, mungkin karena belum terbiasa makanya terkadang dia ogah-ogahan. Tapi di bawah paksaan Kenzie, dia tidak berani mengeluarkan suara penolakan. Soalnya Kenzie kalau lagi kesel itu nakutin.


"Lain kali jangan bekerja sampai tengah malam. Nyaman?" Kenzie mengambil tangan Azira dan memijatnya dengan terlatih.


Pijatan Kenzie terasa enak. Azira berpikir mungkin itu karena pekerjaannya sebagai dokter sehingga tangan Kenzie terasa nyaman ketika memijatnya. Selain itu tangan Kenzie juga bersih dan panjang tanpa cacat. Sangat enak dipandang. Bagi seorang dokter bedah, selain kepala tentu saja yang paling penting adalah tangannya. Jadi Azira tidak heran melihat tangan suaminya yang terawat dengan baik.


"Nyaman. Mas Kenzie tidak mengantuk? Tidur dulu yuk, mas. Semalam pasti mas enggak punya waktu untuk tidur." Azira menyingkirkan tangannya dari Kenzie dan beralih menarik Kenzie untuk rebahan di kasur.


Kenzie terkejut melihat sikap Azira yang tidak secanggung biasanya. Bagaimana mengatakannya, rasa malu itu masih ada tapi Azira tidak terlalu malu-malu lagi. Melihatnya mengambil tangannya di bawah inisiatif sendiri adalah sebuah perubahan.


Mata Kenzie melunak


"Tadi malam aku memang belum sempat beristirahat karena operasi baru selesai pukul 3 pagi. Rencananya saat pulang ke rumah aku mau langsung tidur, tapi tunggu waktu sholat subuh dulu biar pikiran aku tenang." Kenzie memutar tangannya dan kembali menahan tangan Azira untuk dipijat.


Azira tidak mengelak dan dengan senang hati membiarkan suaminya memijat kembali tangannya.


"Mas lapar?"


Kenzie menggelengkan kepalanya tak memiliki selera makan.

__ADS_1


"Aku enggak, aku tidak punya selera makan." Dia sama sekali tidak memikirkan makanan.


Untuk saat ini setiap kali membayangkan makanan, dia pasti langsung mual dan ingin muntah. Um, itu karena operasinya lumayan parah malam ini yang membuatnya enggan makan.


__ADS_2