
Suasana makan malam terasa jauh lebih damai dan menyenangkan dari malam-malam sebelumnya. Saat berada di meja makan, Umi sesekali akan mengobrol dengan Azira. Bertanya apakah dia suka makan ini, makan itu, atau apakah ada makanan yang tidak disukai di atas meja?
Awal-awal Azira akan menjawab canggung. Pasalnya dia agak terkejut dengan sikap antusias Umi kepada dirinya. Lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan mulai nyaman berbicara dengan Umi. Setiap makanan yang Umi kirimkan ke atas piring langsung dilahap habis oleh Azira. Dia tetap membawa makanan ke dalam mulut meskipun perutnya sudah kenyang.
"Umi cukup, Azira sudah kenyang." Untungnya Kenzie melihat situasi Azira.
Wajah Azira tegang dan postur duduknya terlihat tidak nyaman. Sesekali Azira akan menyentuh perut, menepuk perutnya pelan sambil memaksa diri untuk menelan makanan.
"Oh, sudah kenyang, yah?" Umi baru menyadari kalau Azira sudah kenyang.
Azira juga tidak mengatakan apa-apa dan menelan setiap makanan yang dikirimkan Umi ke atas piring. Kalau Azira menghentikannya, mustahil dia kan menjejali banyak makanan ke atas piring Azira lagi.
__ADS_1
"Aku sekarang kenyang, Umi. Masakan Umi sangat lezat. Mulutku tidak berhenti mengunyah karena semua makanan ini terlalu lezat. Jika perutku tidak penuh, aku sanggup kok menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja." Azira membual di depan Umi agar dia tidak berkecil hati.
Sebenarnya masakan Umi memang lezat. Azira sanggup menghabiskan semua yang ada di atas meja bila kapasitas perutnya tidak kecil. Sayangnya, ketika ada makanan lezat di depan mata, dia tidak bisa membawa semuanya ke dalam perut. Dulu saat tinggal bersama Ibu, mereka berdua makan seadanya dan dalam porsi yang sedikit. Sering kali dia kelaparan di tengah malam. Jika tidak menemukan makanan apa-apa di dalam dapur, maka dia akan meremas perutnya sampai dirinya kembali terpejam.
"Alhamdulillah... Umi senang mendengarnya. Besok subuh turun ke bawah ya temani Umi memasak di dapur. Umi akan mengajari kamu beberapa resep keluarga yang disukai oleh semua orang di rumah. Nanti kalau Umi misalnya tidak ada di rumah, kamu bisa memasak menggunakan resep ini. Gimana?"
Ini merupakan kejutan untuk Azira. Dia tidak berharap Umi akan mengajaknya masuk ke dalam dapur. Dan yang lebih membuat Azira terkejut, Umi bersedia membagi resep keluarga kepadanya dan mengatakan bahwa dia bisa memasak menggunakan resep ini suatu hari nanti.
"Em, Azira akan mendengarkan Umi."
"Anak baik." Puji Umi.
__ADS_1
Sasa tersenyum lembar,"Berarti besok aku boleh kan nggak masuk ke dalam dapur?"
Setiap hari dia harus membantu Umi memasak di dalam dapur, itu pekerjaan yang sangat membosankan.
"Jangan bermimpi. Kamu adalah seorang wanita. Cepat atau lambat kamu akan pergi ke rumah suami mu. Untuk membuat suamimu dan keluarganya terkesan, kamu harus bisa memasak. Jika tidak bisa mereka akan malu untukmu." Umi menolak mentah-mentah.
Sasa adalah putri satu-satunya di rumah ini dan suatu hari nanti akan pergi ke rumah orang lain. Umi tidak mau melihat anaknya terlalu manja karena dia tahu betul kehidupan di rumah mertua tidak sebaik di rumah sendiri.
"Ah...Umi.."
Umi menutup telinga terhadap keluhan Sasa.
__ADS_1