
Keesokan harinya Azira bangun terlambat. Saat melihat ke jendela dia menemukan matahari sebentar lagi terbit.
"Astaghfirullah, aku ketiduran!" Azira langsung turun dari kasur dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Selesai mengambil wudhu, dia mengambil mukenah dan menggelar sajadah menghadap kiblat. Beberapa detik kemudian kedua tangannya terangkat sembari menggemakan takbir pertama dalam sholat.
Beberapa menit kemudian Azira menyelesaikan sholat subuh. Duduk lemas di atas sajadah masih mengantuk. Namun dia berusaha bertahan karena harus menyelesaikan zikir pagi. Setengah jalan zikir, Azira tidak kuat lagi. Dia menyeret dirinya dengan susah payah naik ke atas kasur untuk melanjutkan tidur.
"Hum... nyaman." Gumamnya dalam sisa-sisa terakhir kesadarannya sebelum kembali menjelajahi dunia mimpi.
*****
"Kak Azira belum turun?" Sasa bertanya kepada Umi setelah menaruh piring terakhir di atas meja.
Tadi malam dia pulang jam 10 malam. Kebetulan berpapasan dengan Kenzie di pintu masuk rumah. Kenzie akan pergi ke rumah sakit karena ada panggilan darurat. Sebelum masuk ke dalam mobil Kenzie berpesan untuk mengawasi Azira agar jangan terlalu banyak bekerja. Soalnya Kenzie memperhatikan Azira sebenarnya kelelahan tapi terus memaksakan diri untuk bekerja.
Sasa mendengarkan dan berjanji akan mengawasi.
Hari ini dia langsung meluncur ke dapur setelah selesai sholat subuh. Biasanya Azira juga ada di dapur jam segitu, tapi sampai saat ini batang hidung Azira tidak kunjung nongol. Sasa teringat pesan Kenzie semalam dan mulai cemas. Apakah kakak iparnya sakit?
"Belum, Nak. Kamu naik ke atas dong panggil Azira. Umi khawatir dia kenapa-napa soalnya semalam wajahnya agak pucat." Suruh Umi kepada Sasa.
Sasa langsung mengiyakan dan segera pergi ke lantai dua untuk memanggil Azira.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum, kak Azira?" Sasa mengetuk pintu ringan.
Namun tak ada suara ataupun respon dari dalam.
Tak menyerah, sekali lagi dia mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Azira.
"Kak Azira?" Masih belum ada jawaban.
Karena tidak ada respon dari Azira, dia akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.
Cklak
Pintu kamar dibuka. Tidak terkunci.
Sasa pertama-tama menjulurkan kepalanya mengintip ke dalam. Melihat ke dalam kamar hingga matanya terkunci menatap Azira di atas kasur.
"Kak Azira?" Panggil Sasa.
Azira tidak mendengarkan. Dirinya masih berkelana dengan bebas di alam mimpi sendirian.
"Apakah kakak sedang tidur?"
Sasa masuk ke dalam dan menutup pintu kamar dengan hati-hati. Saat menghampiri Azira, dia melihat Azira tertidur sangat lelap tanpa sempat melepaskan kain mukenanya.
"Kak Azira, bangun?" Sasa menggoyangkan lengan Azira.
Azira terbangun.
"Hum?" Dia masih mengantuk.
"Ayo sarapan di bawah. Umi dan Abah sudah menunggu kakak." Kata Sasa kepada kakak iparnya itu.
Azira tidak lapar. Dia tidak mau makan dulu karena perutnya masih tidak nyaman. Mungkin asam lambungnya sedang naik sehingga membuatnya kehilangan nafsu makan.
"Dek, aku tidak akan ikut sarapan hari ini karena perutku belum lapar. Tolong sampaikan salam ku kepada Umi dan Abah agar sarapan tanpa perlu menungguku." Pinta Azira kepada adik iparnya.
"Apakah kak Azira sedang tidak sehat?" Tanya Sasa khawatir.
Azira tersenyum geli. Dia secara alami menggelengkan kepalanya membantah.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit mengantuk karena badanku masih pegal-pegal." Azira membuat asumsi sendirian.
Dia mungkin kelelahan terlalu banyak bekerja hingga mengabaikan kondisinya sendiri yang membutuhkan waktu untuk beristirahat. Sasa melihat prihatin kakak iparnya. Pantesan aja kakaknya khawatir sebelum pergi tadi malam,eh ternyata Azira memang menyedihkan.
"Oh... kalau begitu kakak mau minum bubur, enggak?"
Minum bubur?
Kedengarannya menarik tapi Azira tidak tertarik. Saat ini dia hanya punya satu tujuan, yaitu tidur.
"Tidak perlu. Aku hanya membutuhkan waktu untuk tidur sebentar saja." Kata Azira menolak.
Nah sekarang Sasa mulai merasa aneh. Kenapa kakak iparnya sangat suka tidur daripada mengisi perut, padahal biasanya nafsu makan Azira baik-baik saja. Selain itu setidak nyaman apapun Azira sebelumnya, dia pasti tidak akan pernah melewatkan makan. Jadi Sasa mau enggak mau merasa heran.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu. Nanti kalau kak Azira butuh sesuatu, panggil saja aku di bawah."
"Hum, dek."
Setelah memastikan suhu tubuh Azira normal dan keadaannya baik-baik saja, Sasa akhirnya keluar dari kamar dan kembali ke meja makan. Di sana Mona, Umi dan Abah sedang menunggu. Mereka belum menyentuh makanan.
"Dimana kakakmu?" Umi heran.
Sasa menjelaskan.
"Dia di kamar, Umi. Katanya kecapean jadi mau istirahat sebentar saja. Aku juga udah cek suhu tubuhnya, alhamdulilah normal kok. Mungkin setelah tidur sebentar dia akan kembali beraktivitas normal." Setelah ragu-ragu Sasa tidak menceritakan hal yang membuatnya bingung.
Mungkin Azira sedang tidak fit sampai-sampai membuatnya menyukai tidur.
"Kasihan kak Azira, dia pasti sedih karena Amara sudah pulang ke Indonesia." Suara melankolis Mona langsung membuat meja makan hening.
Mona menggigit bibirnya malu saat merasakan tatapan membara dari semua orang.
"Apa...apa aku baru saja mengatakan sesuatu yang salah?" Tanyanya hati-hati.
Jantung Sasa bertalu panik. Dia memegang pundak sepupunya.
"Kamu...kamu tadi ngomong apa? Amara pulang? Siapa yang ngasih tau kamu? Apakah kamu enggak asal ngomong?"
Tidak ada satupun yang tau mengenai kepulangan Amara di rumah ini. Baik Azira dan Kenzie tidak pernah memberi tahu siapa pun. Hanya Mona yang tahu dan itupun tidak sengaja mendengar dari pembicaraan Ayana bersama Fathir kemarin.
"Aku enggak asal ngomong. Kak Ayana dan kak Fathir yang ngomong gitu. Aku enggak sengaja dengar mereka ngomong kemarin." Mona membantah.
"Apa kamu enggak salah dengar, Nak?" Tanya Umi tidak enak.
Jika benar apa yang Mona katakan maka pertengkaran sepele yang Azira maksud semalam bisa jadi berkaitan dengan Amara!
Umi sangat kesal sekarang dan ingin sekali mencubit pipi putranya yang tidak mau mendengarkan!
"Umi, aku enggak salah dengar. Kak Ayana dan kak Fathir sendiri yang ngomong. Yang aku dengar kak Ayana merasa kasihan sama kak Azira. Dia bilang kak Azira harus mempertahankan rumah tangga ini." Setidaknya itulah yang dia dengar.
Sasa dan Umi saling memandang sebelum beralih menatap Abah. Tidak seperti kekhawatiran mereka bertiga, Abah justru santai-santai saja. Entah sejak kapan nasi goreng sudah menumpuk di atas piringnya lengkap dengan suwiran ayam dan telur mata sapi. Di saat semua orang mengobrol dalam kecemasan, Abah justru sibuk menyuapkan masi goreng ke dalam mulutnya.
"Abah.." Mulut Umi berkedut tertahan melihat suaminya yang sangat santai.
"Jangan terlalu dipikirkan. Ini urusan rumah tangga mereka. Jika Azira bisa menghadapi ujian ini maka insya Allah rumah tangga mereka tidak akan mudah goyah. Ngomong-ngomong nasi goreng hari ini tidak terlalu pedas, apakah Umi tidak menaruh banyak cabai di dalamnya?" Abah mengernyit setelah mengambil beberapa suap.
Gara-gara suasana tegang tadi langsung mencair.
"Aku setuju dengan apa yang Abah katakan. Selain ujian untuk Azira tapi ini juga untuk Kenzie. Jika dia berani memilih wanita itu maka aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Dia harus menerima semua amarahku di rumah ini." Kata Umi bersungguh-sungguh.
Penilaiannya tentang Amara sangat buruk semenjak Kenzie berubah menjadi orang yang berbeda. Menurut Umi, Amara telah merampas kebahagiaan putranya jadi dia tidak terlalu senang mendengar nama wanita ini disebutkan apalagi sampai melihatnya.
Abah tiba-tiba tertawa aneh.
"Kamu sangat suka berimajinasi jauh." Bisiknya seraya menggelengkan kepalanya tak berdaya.
*****
Siang harinya tepat saat adzan sedang berkumandang di masjid, Azira akhirnya bangun. Badannya jauh lebih enak dan tidak seletih kemarin. Dia mendesah nyaman dan berpikir kalau tidur adalah obat terbaik.
"Eh, ada pesan dari nomor asing?" Saat mengecek waktu di ponselnya, dia melihat ada chat baru dari nomor tak dikenal.
Tanpa curiga dia membukanya.
Deg
Hati Azira kembali nyeri saat melihat ini dari pesan tersebut. Di dalamnya ada sebuah foto Kenzie tengah mengobrol dengan seorang wanita berpakaian hijau khas seorang pasien. Di dalam foto itu Kenzie masih menggunakan baju tidur semalam dan mantel coklatnya. Azira sangat menghapal apa yang dikenakan suaminya semalam. Tempat duduk mereka berdampingan, tampak intim dan harmonis pada saat yang sama. Di depan mereka ada banyak sekali makanan. Mungkin sedang makan siang karena semuanya bukan menu sarapan.
Azira menghirup udara dingin. Caption foto itu sangat menusuk titik sakitnya.
Pengganti tetaplah seorang pengganti. Saat cinta sejati datang, pengganti tidak lagi dibutuhkan. Apakah kamu setuju?
Azira meremas selimutnya gemetaran.
Plop
Dia menaruh ponsel ke dalam laci dan tidak berniat membalas pesan. Suasana nyaman dihatinya seketika sirna digantikan oleh kepahitan. Untuk sejenak kepalanya melayangkan memikirkan omong kosong suaminya sebelum pergi semalam.
"....Apa sih yang kamu omongin? Kenapa aku harus ke tempat Amara malam-malam begini? Kita bukan mahram, ingat?..."
"Hahaha..." Azira tertawa kecil. Menggelengkan kepalanya, dia turun dari kasur dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Namun dia tinggal cukup lama dikamar tadi. Jauh lebih lama dari waktu biasanya. Setengah jam kemudian dia akhirnya keluar. Matanya merah dan suaranya serak. Dia tampak baru saja menangis di dalam kamar mandi.
Berdiri di atas sajadah yang tidak sempat dia lipat setelah sholat subuh tadi pagi, Azira mengangkat kedua tangannya menggemakan takbir pertama tanda dimulainya sholat zuhur.
Beberapa menit kemudian dia akhirnya menyelesaikan sholat zuhur. Melipat mukena dan kain sajadah, lalu meletakkannya di tempat semula. Setelah beres, dia keluar kamar dan turun ke bawah bertemu dengan banyak orang.
__ADS_1
"Nak, bagaimana keadaan kamu sekarang?" Melihat menantunya turun, Umi buru-buru menghampirinya dan mengajak Azira ke ruang makan untuk makan.
Semua orang sudah selesai makan dan hanya Azira di rumah ini yang belum makan.
"Alhamdulillah, keadaan ku baik-baik saja, Umi." Azira tersenyum hangat.
Umi sangat prihatin dengan keadaan Azira. Wajahnya masih agak pucat tapi meskipun begitu dia tetap tersenyum seolah tidak ada yang terjadi. Umi merasa tertekan.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Makan siang sekarang? Kebetulan Umi hari ini masak bubur ayam suwir kesukaan kamu. Mau coba?" Umi menekan pundak Azira duduk di salah satu kursi.
Setelah itu dia sibuk pergi ke dapur mengambil semangkuk bubur hangat untuk Azira. Dia masih tidak memiliki nafsu makan. Awalnya dia tidak ingin makan dulu, tapi melihat perhatian Umi kepadanya, Azira berubah pikiran. Mungkin makan sedikit saja tidak apa-apa?
"Iya, Umi. Sedikit saja." Azira tulus meminta.
Namun Umi tetap memberikannya semangkuk besar bubur. Melihatnya saja dari jauh langsung mengurangi kepercayaan diri Azira, apakah dia bisa menyelesaikan bubur sebanyak ini?
"Nah, bagaimana wanginya?" Umi datang dan meletakkan bubur itu di depan Azira.
Azira menciumnya. Baunya agak aneh, tidak enak juga tidak buruk. Indera penciumannya mungkin bermasalah. Azira langsung tahu kalau masalah itu datang dari diri sendiri bukan dengan dari masakan Umi. Menurutnya orang yang paling pandai memasak di rumah ini adalah Umi. Nggak mungkin masakan Umi bermasalah. Ini pasti karena indra penciuman nya yang salah.
"Enak, Umi." Azira berbohong.
Umi terlihat senang.
"Syukurlah kalau wanginya enak. Ayo makan, jika kamu mau nambah lagi katakan saja sama Umi. Umi senang kalau kamu makan banyak."
Azira tersenyum hangat. Dia hanya menganggukkan kepalanya, berdoa semoga dia bisa menelan makanan ini.
Di bawah pengawasan Umi, dia bertahan memasukkan sesuap demi sesuap bubur itu ke dalam mulutnya. Pada suapan keempat, Azira menyerah. Dia tidak bisa memaksakan dirinya untuk menelan bubur itu lagi.
"Jika kamu tidak bisa memakannya maka jangan memaksakan diri." Umi sangat tertekan melihat keadaan Azira.
Lagi-lagi dia menyalahkan Kenzie di dalam hatinya. Jika putranya lebih berdedikasi, memilih menjaga Azira di rumah daripada pergi bekerja di rumah sakit atau apalagi sampai berhubungan dengan wanita itu, maka mungkin Azira tidak akan semenderita ini.
"Maaf, Umi. Aku sudah kenyang." Padahal tidak. Dia hanya menolak memakan bubur.
Umi mengerti.
"Tidak apa-apa, Nak. Melihat kamu memakan buburnya saja Umi sudah senang. Sini mangkuknya, Umi akan mencucinya di dapur." Umi mengulurkan tangannya tapi Azira menjauhkan mangkuk itu dari jangkauan Umi.
"Biar aku saja yang melakukannya." Tolak Azira.
Umi tidak setuju.
"Nak, jangan keras kepala-"
"Umi, bibi Arumi di depan mau ketemu sama Umi. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan." Suara teriakan Abah menginterupsi ucapan Umi.
Azira langsung menggunakan kesempatan ini untuk membiarkan Umi pergi.
"Bibi Arumi sedang menunggu Umi di depan. Pergilah, Umi, pekerjaan ini sangat sepele aku bisa menyelesaikannya sendiri." Azira merasa bersyukur sekaligus tidak tahan dengan sikap Umi yang memperlakukannya seperti porselen rapuh.
Dia pernah sakit parah tapi masih bisa bekerja. Sedangkan ketidaknyamanan yang dirasakan beberapa hari ini bukanlah masalah serius. Dia masih bisa bekerja atau pun melakukan banyak hal.
"Letakkan saja di wastafel kalau kamu kurang enak badan. Nanti Sasa yang akan mencucinya." Umi masih bersikeras Azira tidak boleh mencuci piring.
Azira hanya tersenyum. Dia tetap berada di tempatnya memandangi punggung tua Umi yang perlahan menjauh dari pandangannya.
Setelah Umi pergi, dia mencuci mangkuk itu dan menaruhnya di rak. Perutnya agak lapar, tapi dia tidak mau makan nasi ataupun bubur. Namun saat memikirkan buah-buahan, mulutnya tanpa sadar berdecak.
Tak bisa menahan diri, dia pergi mengambil beberapa buah dari dalam kulkas. Untuk saat ini dia mengambil dua buah persik, dua buah pir hijau, beberapa biji anggur hijau dan satu biji jeruk. Sebelum memakannya Azira pertama-tama mencucinya di wastafel dan membawanya pergi.
Hari ini langit cerah berawan. Tidak panas dan cukup nyaman beraktivitas di luar. Membawa sepiring buah, dia pergi ke taman belakang. Duduk di kursi santai memandangi pepohonan hijau yang berayun lembut ditiup angin. Masih segar di dalam ingatan bahwa beberapa bulan yang lalu, tepatnya di kursi santai ini dia pernah sarapan berdua dengan Kenzie di satu piring. Saat itu dia belum jatuh cinta kepada Kenzie dan belum dekat juga, tapi selama makan bersama waktu itu tangannya berkeringat dan jantungnya terus memompa karena gugup.
Kalau dipikir-pikir hari itu sangat manis.
"Apa sih yang aku pikirkan?" Azira tertawa pahit menertawakan kekonyolannya.
Entahlah, tiba-tiba dia merasa bahwa mungkin.... mungkin dia akan meninggalkan tempat ini. Mungkin saja.
...*****...
"Dok, pasien itu datang lagi mencari Anda." Asisten Kenzie sekali lagi memberitahu kalau pasien wanita yang berkunjung tadi pagi sekarang ada di depan pintu kantornya.
Kenzie masih fokus menatap dokumen di depan.
"Biarkan saja. Apakah kamu tidak melihat aku sedang apa?" Suara Kenzie acuh tak acuh.
Asisten itu juga tahu Kenzie sedang apa tapi wanita itu sangat keras kepala dan tetap berdiri di luar menunggu Kenzie keluar.
"Aku sudah mengatakannya." Kata asisten itu sakit kepala.
Kenzie mengangguk.
__ADS_1
"Maka jangan pedulikan lagi."