
Aku tidak bisa tidur sekeras pun diriku mencoba. Kepalaku terus memikirkan apa yang dikatakan mas Kenzie kepadaku. Semua kata-kata itu begitu dalam, bohong jika hatiku tidak tersentuh olehnya. Aku malah merasa terpesona, mulai membayangkan fantasi-fantasi indah dalam sebuah pernikahan yang sering aku dengar dari orang-orang di luar sana.
Ada keraguan juga ketakutan di dalam diri ini. Seperti yang mas Kenzie katakan bahwa pernikahan ini mungkin tidak akan bertahan lama atau mungkin juga bertahan lama, tidak ada yang tahu jawabannya sampai hari itu benar-benar tiba. Justru karena inilah yang membuat aku takut. Takut bila diri ini terlanjur mencintainya, tapi pada akhirnya ditinggalkan oleh mas Kenzie.
"Mas Kenzie..." Aku melirik dompet baru yang ada di atas nakas.
Dompetku menggembung karena terdapat banyak uang di dalamnya. Jumlah total semuanya 2.700.000, uang ini akan aku gunakan untuk membeli kebutuhan dapur dan uang sakuku selama 3 hari. Setiap 3 hari sekali mas Kenzie akan memberikanku uang yang sama meskipun uang sebelumnya belum dihabiskan.
Awalnya aku tidak mau menerimanya. Tapi setelah mendengarkan apa yang mas Kenzie katakan, mau tak mau aku membawa uang itu.
"Bisakah aku?" Menarik pandanganku dari dompet itu, dengan hati-hati aku menggeser tubuhku ke samping kiri dan memperhatikan wajah terlelap suamiku.
Bahkan di saat sedang tidur pun dia masih terlihat tampan. Aku tak pernah berhenti mengagumi ketampanannya.
"Bila mas Kenzie bisa mencobanya, maka seharusnya aku juga bisa?"
Benar, entah sampai kapan pernikahan ini aku tidak boleh terus membeku. Sama seperti mas Kenzie mengambil langkah pertama, aku juga harus mengambil langkah untuk menyusulnya. Berperanlah sebagai istri yang baik, yang selalu ada di rumah menunggu suaminya pulang, selalu siap siaga menyiapkan makanan di dapur, dan menghandle semua yang ada di rumah layaknya seorang tuan rumah. Bahkan meskipun aku benar-benar jatuh cinta kepadanya, itu bukan apa-apa. Lagi pula aku tidak bisa menghentikan perasaan yang tumbuh di dalam hatiku kepada mas Kenzie. Yah, terserah. Jika tumbuh maka tumbuhlah. Tidak peduli apakah mas Kenzie membalas perasaanku atau tidak, hati ini tetap tidak bisa menampik perasaanku kepadanya.
Mengambil nafas panjang,"Baiklah Azira...aku harus memulai semuanya juga. Jadilah seorang istri... Jadilah seorang istri." Bisikku pada diriku sendiri.
Tanpa kusadari mataku menjadi berat, dan perlahan semuanya meredup hingga menjadi gelap. Kekhawatiran di dalam hati entah cuma perasaanku saja atau tidak, karena saat akan tertidur aku merasa hatiku lebih ringan dan manis. Em, keputusanku tidak akan salah.
...*****...
__ADS_1
"Ugh..."
Dengan linglung Azira membuka matanya. Bingung, dia melihat dada bidang nan hangat yang langsung bersentuhan dengan puncak hidungnya.
1 detik,
2 detik,
3 detik,
Hingga detik kelima dia baru menyadari bahwa posisinya salah.
"Ya Allah!" Dia menutup mulutnya shock.
Sejak kapan dirinya menempeli dan memeluk Kenzie?
"Mas?" Dengan suara yang amat sangat kecil Azira memanggil suaminya.
Tapi Kenzie tidak menjawab.
"Mas Kenzie?" Dia melambaikan tangan di depan wajah Kenzie.
Masih tidak ada pergerakan.
__ADS_1
"Mas Kenzie masih tidur." Azira menghela nafas lega.
Dengan hati-hati dia menurunkan tangannya, lalu menggeser tubuhnya mundur ke belakang hingga meninggalkan jarak yang cukup lebar.
Dia sangat malu tiba-tiba bangun di dalam pelukan Kenzie - oh, lebih tepatnya dia yang memeluk Kenzie!
"Tapi untunglah mas Kenzie belum bangun..." Bisiknya lega sembari mengelus dada.
Azira melirik wajah tampan Kenzie yang masih tertidur lelap, sedetik kemudian dia memalingkan wajahnya merasakan suhu panas kembali merambat ke wajahnya.
"Aku...aku akan cuci muka." Katanya sambil bangun dari kasur.
Dengan hati-hati dia menurunkan kaki kanannya ke lantai berniat pergi ke kamar mandi. Tapi,
"Azira?"
Azira langsung menahan nafas. Tubuhnya seketika kaku.
"I-iya, mas?" Dia menoleh ke belakang.
Nihil, Kenzie belum bangun. Azira kembali bernafas. Dia hampir saja pingsan saking gugupnya. Untung suaminya belum bangun.
"Syukurlah, masih tidur ternyata." Dia lega dan menurunkan kaki yang lain dengan lancar.
__ADS_1
Kemudian pergi ke kamar mandi. Setelah pintu kamar mandi tertutup sepenuhnya, Kenzie, orang yang selama ini tidur terpejam tak bergerak perlahan membuka matanya menatap langsung ke arah kamar mandi.
Menyeringai,"Menarik."