Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 28.4


__ADS_3

Setelah menjawab telepon Ayah tiba-tiba menjadi orang yang pendiam. Mata tuanya yang keruh menatap layar ponsel di tangannya dengan mata kebingungan. Nafasnya terdengar cukup berat karena sesak yang mulai merambat di dalam dada. Baru saja dia mendapatkan kabar gembira dari putri yang telah dia telantarkan selama ini. Kabar gembira itu menegaskan dengan jelas bahwa rumor yang selama ini dia dengar ternyata memang benar adanya. Benar, putrinya memang hamil dan kandungannya sekarang sudah memasuki usia tujuh bulan.


Putri yang dia telantarkan dan remehkan tidak akan hidup bertahan lama di rumah itu ternyata baik-baik saja. Setiap kali berbicara dia merasa bila putrinya sedang tersenyum saat itu sambil mengelus permukaan perutnya yang besar. Ah, berbulan-bulan menunggunya datang memohon membuat Ayah berpikir linglung. Ternyata hari yang dia harapkan tak pernah datang dan putri yang dia telantarkan serta remehkan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari yang pernah dia bayangkan selama ini.


Aneh, dia merasa bahagia tapi cukup menyesalinya. Bagaimana pun itu putrinya dan penyesalannya adalah bahwa putrinya itu hidup diatas penderitaan putrinya yang lain.


"Ayah, apakah ada masalah? Kenapa setelah menjawab telepon tadi Ayah tiba-tiba berhenti berbicara? Apakah perusahaan memiliki masalah?" Humairah duduk di sisi sofa yang lain sambil meletakkan secangkir kopi hangat kepada Ayah.


Semuanya tidak berjalan dengan baik beberapa waktu ini. Setelah mendengar berita pengunduran diri Kenzie di rumah sakit, dia kehilangan semangat untuk pergi bekerja. Dia merasa itu tidak ada artinya. Setelah dipikir-pikir dia tidak memiliki alasan bertahan di rumah sakit jadi dia memutuskan untuk mengundurkan diri dan perlahan mempersiapkan diri untuk mempelajari bisnis, dia berencana ingin melamar pekerjaan di perusahaan Kenzie.


"Nak," Ayah meletakkan ponsel di atas meja.

__ADS_1


"Kenapa, Ayah?" Dia tak melihat tatapan penyesalan Ayah.


"Iya, Yah. Jelaskan kepada kami apa yang sedang Ayah pikirkan, mungkin saja kami bisa membantu." Mama juga cemas dengan kebisuan suaminya yang tiba-tiba.


Biasanya ini pertanda buruk.


Ayah menggelengkan kepalanya lemah. Lalu mata keruhnya fokus memandangi putri terkasihnya, putri yang selalu menjadi kebanggaannya selama ini.


"Itu adalah telpon dari Kenzie." Kata Ayah dengan perasaan rumit.


"Mas Kenzie! Untuk apa dia menghubungi, Ayah? Apakah dia mencari ku? Apakah dia ingin berbicara denganku? Terus kenapa Ayah enggak kasih aku ngomong sama dia tadi?" Humairah langsung antusias mengetahui yang menelpon adalah Kenzie.

__ADS_1


Pikirannya langsung menjadi liar. Bertanya-tanya kenapa Kenzie menelpon Ayah. Ada banyak sekali kemungkinan yang berasal dari harapan semu Humairah. Dia memiliki banyak sekali harapan yang berkelebat di dalam kepala, tapi sejauh itu tidak ada yang bisa mengalahkan harapan bahwa Kenzie dan Azira bercerai!


Ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu Humairah selama ini.


"Benar Ayah, kenapa dia tiba-tiba menelpon? Mungkinkah dia ingin kembali dengan putri kita?" Mama pun sangat mengharapkan hasil ini.


Ini adalah kebahagiaan putrinya yang direnggut oleh Azira.


"Tidak. Bukan seperti itu. Dia menelpon untuk memberitahu kami bahwa beberapa hari lagi Kenzie akan mengadakan acara syukuran untuk tujuh bulanan Azira. Dia dan Azira.. berharap kita datang ke acara itu." Ayah menjelaskan.


Begitu kata-kata ini jatuh, senyuman Humairah dan Mama langsung membeku, kemudian menghilang entah kemana.

__ADS_1


"Tujuh bulanan?" Humairah shock.


__ADS_2