
Mataku tak bisa berkedip memandangi halaman luas rumah ini yang telah didekorasi dengan cantik. Bagiku dekorasi ini lebih cocok untuk merayakan sebuah pernikahan daripada acara syukuran atas 7 bulan seorang wanita hamil apalagi itu adalah Azira, tempat ini semakin tidak cocok untuknya. Aku selalu tahu bahwa keluarga mas Kenzie adalah keluarga terpandang dan memiliki banyak koneksi. Tapi yang tidak pernah aku ketahui adalah keluarga mas Kenzie memiliki sebuah perusahaan besar. Perusahaan yang sangat besar dan baru-baru ini memasuki jajaran 10 perusahaan berprestasi di dalam negeri. Bayangkan betapa kuat keluarga mas Kenzie?
Dulu aku kira mas Kenzie hanyalah seorang dokter tanpa latar belakang yang begitu kuat. Tapi beberapa waktu yang lalu Ayah tiba-tiba memberitahuku bahwa Kenzie sekarang menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan properti pusat kota. Awalnya aku tidak mempercayainya lalu ayah memintaku untuk berpikir mengapa mas Kenzie tiba-tiba mengundurkan diri sebagai seorang dokter dan memilih untuk bekerja di kantor. Padahal jabatannya sebagai seorang dokter sudah cukup tinggi dan mendapatkan kecemburuan banyak orang, jika mas Kenzie bekerja lebih keras sedikit saja, ayah bilang cepat atau lambat dia akan memiliki jabatan yang di dalam rumah sakit. Bahkan tidak menutup kemungkinan bila mas Kenzie akan menjadi direktur rumah sakit.
Setelah pembicaraan hari itu aku mulai merenunginya. Memang jika ditelaah dengan benar, aku mendapatkan kalau apa yang Ayah bilang ada benarnya juga. Jika tidak mengurus sebuah perusahaan besar mas Kenzie tidak mungkin mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dan setelah pergi melihat-lihat ke tempat kerja mas Kenzie, aku semakin yakin dan semakin tidak rela melepaskan mas Kenzie untuk Azira.
Lihat saja seberapa besar gedung mereka, gedung keluarga mas Kenzie jauh lebih besar daripada gedung perusahaan ayah. Dengan kekuatan sebesar itu mas Kenzie pasti memiliki banyak koneksi di dunia bisnis. Ah... Sekarang aku mengerti alasan kenapa ayah sangat berharap aku bisa menikah dengan mas Kenzie. Selain karena menyayangiku, berharap bahwa dengan pernikahan ini aku bisa hidup bahagia di tempat yang baik, Ayah juga sangat membutuhkan koneksi dari perusahaan mas Kenzie.
Tapi sayang seribu sayang harapan Ayah telah dihancurkan oleh Azira. Yah, walaupun pertunangan ini diprakarsai di Ibu Azira, tapi itu sangat tidak adil bagiku karena akulah yang lebih dulu bertemu dengan mas Kenzie dan aku pula yang menghabiskan lebih banyak waktu dengan mas Kenzie. Aku yang seharusnya berakhir dengan mas Kenzie.
Tapi Azira... Ya Allah aku tidak akan pernah hidup bahagia di dunia ini jika dia masih hidup dan mengganggu kehidupanku!
"Keluarga Kenzie menghabiskan banyak uang untuk acara ini. Padahal ini cuma acara 7 bulanan biasa. Tak seharusnya mereka membuang banyak uang untuk hal sepele ini." Bibi Safa bergumam di sampingku.
Aku mengganggu setuju dengan apa yang dikatakan oleh bibi Safa. Ini cuma hamil biasa terlalu sia-sia menggunakan banyak uang untuk merayakannya.
"Hush, jaga bicara kalian berdua. Hari ini kita datang sebagai tamu. Jangan sampai kalian salah bicara karena ini menyangkut perusahaan kita. Safa, di mana suami kamu? Bukankah aku meminta kamu untuk membawanya ke sini hari ini?" Ayah bertanya kepada Bibi Safa.
Memutar bola mataku tidak setuju dengan apa yang ayah katakan. Aku tidak akan berhati-hati di depan Azira, malahan aku berniat mempermalukannya hari ini. Tapi, di mana paman?
Mengapa akhir-akhir ini aku tidak pernah melihatnya di rumah?
Setiap kali aku bertanya kepada Bibi Safa, Bibi selalu bilang kalau Paman sedang pergi keluar kota untuk urusan bisnis. Bisnis?
Apakah harus setiap hari?
Dibandingkan dengan ayah yang memimpin perusahaan, mengapa paman lebih sibuk diluar, padahal jabatannya lebih rendah daripada ayah.
"Entahlah Kak, aku sudah memberitahunya sejak dua hari yang lalu tapi dia sangat sibuk. Semalam dia bilang akan berangkat pulang nanti subuh, tapi diperjalanan dia mengalami kendala. Jalanan macet lah dan ban mobilnya bocor, hasilnya dia mungkin akan sampai rumah nanti malam. Aku sangat kesal dan tidak mau membicarakannya lagi." Jawab bibi Safa sangat kesal.
Kalau memang benar begitu maka paman sangat apes. Yah, lagi pula dia di desak pulang untuk menghadiri acara Azira, wajar saja kalau di sial hari ini.
"Perjalanan bisnis lagi? Seingat ku dia tidak memiliki perjalanan bisnis apapun bulan ini, apakah kamu salah dengar Safa?" Ayah ragu dan kami pun juga ragu.
Melihat wajah bibi Safa, ekspresinya berubah menjadi bingung dan kesal pada saat yang sama. Apa yang ayah katakan sontak mengundang keraguan di dalam hati kami, apalagi di hati bibi Safa yang selaku istri paman.
"Suamiku selalu bilang sedang dalam perjalanan bisnis aku tidak mungkin salah dengar. Dan dia sudah berkali-kali mengatakannya, mana mungkin aku salah dengar berkali-kali? Tidak, jika ada sesuatu yang salah dengan dia, maka awas saja! Aku tidak akan pernah memaafkannya!" Kata bibi Safa mulai gelisah.
Melihat bibi Safa seperti ini aku juga ikut takut. Semoga saja apa yang aku pikirkan tidak benar-benar terjadi kalau paman melakukan hal yang tidak tidak di luar sana tanpa sepengetahuan bibi Safa. Aku sangat berharap kalau rumah tangga mereka berdua baik-baik saja, jangan sampai kehidupan rumah tangga mereka diganggu oleh wanita lain, sama seperti ayah dulu.
"Baiklah, sampingkan dulu masalah ini. Ayo masuk, mau sampai kapan kita berdiri terus di sini?" Mama menggoyangkan lengan Ayah.
Kami sudah berdiri lama di sini dan beberapa kali mendapatkan perhatian dari orang-orang.
__ADS_1
Mungkin orang bertanya-tanya mengapa mereka hanya berdiri diam di sini sementara acara sedang berlangsung di dalam. Faktanya kami memang sengaja datang terlambat untuk menunjukkan bahwa kami tidak menyetujui pernikahan ini. Tepatnya ini aku yang membuat rencana dengan bibi Safa. Kami yakin bahwa perilaku kami pasti membuat Azira sangat malu. Huh, memangnya siapa yang meminta dia untuk berbuat onar lebih dulu. Sekarang lihat apa yang akan aku lakukan kepadanya. Bagaimana jika...um, kenapa tidak mencobanya?
"Baiklah, ayo masuk." Ayah dan mama memimpin jalan di depan sementara aku mengikuti di belakang mereka.
Untuk datang ke acara ini kami ingin memberikan sedikit wajah kepada Azira. Yah, ini hanyalah sebuah hadiah kecil yang akan kami berikan kepadamu yang belum pernah melihat dunia sama sekali. Kasihan, dia mungkin tidak pernah melihat perhiasan jadi tidak apa-apa untuk membelikannya. Toh, harganya juga murah. Aku tidak percaya kalau keluarga mas Kenzie membelikannya perhiasan. Kalaupun iya, perhiasan yang mereka berikan kepadanya pasti sangat murah.
"Apa yang kamu tertawakan?" Bibi Safa berbisik kepadaku.
Aku memiringkan kepalaku memandang bangunan rumah indah yang semakin dekat seiring langkah kami bergerak.
"Apalagi yang aku tertawakan, bibi jauh lebih tahu. Aku berpikir bagaimana penampilan Azira sekarang? Ah, apakah dia akan sangat senang menerima hadiah dari kita?" Aku menerka-nerka.
Bibi Safa tertawa mengejek.
"Tebak, anak itu belum pernah melihat dunia. Pastinya dia sangat senang menerima hadiah ini. Memangnya sejak kapan orang miskin memiliki banyak uang untuk membeli perhiasan?" Bibi sangat meremehkan kakakku itu.
Hahaha... Aku juga menantikannya.
Kami berjalan cepat menuju pintu masuk. Di depan pintu masuk ada beberapa orang yang bertugas menerima kartu undangan. Ayah dan mama menyerahkan kartu undangan, mereka masih diam di tempat untuk mencatat nama kami. Sementara aku dan Bibi Safa langsung masuk ke dalam tidak ingin membuang waktu di sini. Begitu kami berdua masuk ke dalam sana, lagi-lagi aku dibuat terkejut oleh dekorasi yang mereka buat. Dekorasinya memang tidak mewah, tampak sederhana tapi sangat mencolok, kelihatannya megah. Berbagai macam bunga ditempatkan di tempat-tempat yang menarik perhatian. Ada yang bunga palsu dan ada pula yang bunga asli, mengambil nafas dalam-dalam, rumah ini sangat harum. Keharumannya sama sekali tidak terpengaruhi oleh lautan manusia di dalam rumah ini. Aku bertanya-tanya seberapa banyak bunga yang mereka habiskan untuk menciptakan wangi ini?
Kemudian mataku tertuju memandangi rumah ini. Ya Allah, terakhir kali aku datang ke sini saat membicarakan pernikahan dengan mas Kenzie. Sejak pertama kali melihat rumah ini, aku sudah sangat menyukainya. Bahkan aku sudah mulai merencanakan apa yang akan aku lakukan di rumah ini dan kegiatan apa yang akan aku lakukan di rumah ini tatkala mas Kenzie pergi bekerja di rumah sakit. Aku sudah memikirkan semuanya dan diam-diam menantikannya. Tak kusangka bahwa pembicaraan hari itu adalah hari terakhir aku datang ke sini.
"Waw, rumah ini di dekorasi dengan cantik. Um, lihatlah para tamu yang datang ke sini. Sebagian besar dari mereka berasal dari kalangan elit-elit." Ujar bibi Safa di samping.
Dia menggigit tangan yang memberinya makan. Sangat memuakkan.
"Mereka adalah suami istri yang sangat mesra. Lihat saja perhatian suami itu kepada istrinya, aku seperti melihat pasangan yang baru menikah." Beberapa orang berbisik-bisik di sekelilingku.
Aku menoleh melihat ke mereka, ternyata perkumpulan ibu-ibu. Kemudian aku mengalihkan pandanganku mengikuti apa yang mereka lihat.
Bug
Jantungku langsung berdebar kencang, rasanya nyeri dan sakit pada saat yang sama. Siapa lagi yang aku lihat kalau bukan Azira dan mas Kenzie.
Hari ini mereka menggunakan pakaian pasangan dengan tema warna hijau muda. Mas Kenzie terlihat selalu tampan dengan pakaian apapun yang dia kenakan, sementara Azira... Aku memperhatikannya dalam diam. Perutnya sangat besar seperti orang yang tengah hamil 9 bulan, mungkinkah itu kembar?
Aku tidak tahu dan aku berharap bila anaknya tak pernah lahir ke dunia ini. Salahkah aku berharap begini?
Berbulan-bulan tidak pernah bertemu lagi Azira terlihat lebih gembil. Dia tidak sekurus dulu dan berisi mungkin karena hamil. Hal yang paling membuatku cemburu adalah dia selalu tersenyum, seolah-olah hari yang dia lalui selalu bahagia. Aku tidak suka seperti ini!
"Apa yang kamu lihat?" Bibi Safa bertanya.
"Aku sedang melihat anak haram itu, siapa lagi?" Jawabku sinis.
__ADS_1
"Oh, penampilannya sangat berbeda sekarang. Dia...lebih cantik." Bibi Safa terdengar ragu-ragu.
Aku tersenyum muram. Mataku rasanya panas melihat sikap lembut mas Kenzie kepadanya. Setiap kali Azira berbicara, mas Kenzie akan mendengarkan dengan sepenuh hati. Mata mas Kenzie tidak pernah berpaling dari wajah Azira. Entah apa yang harus Azira katakan di sana, mas Kenzie akan selalu meresponnya dengan beberapa patah kata sambil tersenyum. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri tidak hanya bibir mas Kenzie yang tersenyum ketika melihat Azira, tapi matanya juga. Seakan-akan hanya ada Azira di dalam matanya. Bagaimana mungkin ini semua terjadi?
Dan kenapa...
Ya Allah kenapa harus Azira?!
Mengapa harus Azira yang mendapatkan mas Kenzie!
Perhatian mas Kenzie, senyuman mas Kenzie, kesabaran mas Kenzie, mengapa semua itu bukan milikku?
Dulu, aku berjuang keras untuk menarik perhatian mas Kenzie, tapi kenapa hanya penolakan yang aku dapatkan?
Sedangkan Azira... Dia merebut calon suamiku ya Allah, dia mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku dengan cara yang sangat jahat, tapi kenapa... Kenapa dia malah mendapatkan semuanya?
Dia mendapatkan semuanya dari mas Kenzie, semua yang tidak bisa aku dapatkan dengan mudahnya didapatkan, apakah ini adil?
"Humairah, tahan emosi kamu, Nak. Sekarang ada banyak tamu, kamu tidak boleh bertindak gegabah. Ingat, tetap tersenyum dan bersikap acuh tak acuh. Kalau kamu menunjukkan emosi kamu di depan Azira, maka dia akan menertawakan kamu!" Bibi Safa memberikan ku tissue sambil mengomel.
Aku langsung menundukkan kepalaku. Buru-buru menghapus air mata dengan tisu yang bibi Safa berikan kepadaku. Sungguh, aku tidak bisa mengendalikan sakit hatiku. Setiap kali mata ini menangkap Azira, aku rasanya sangat marah. Merasa semakin marah lagi ketika melihat betapa dekatnya Azira dengan mas Kenzie. Aku sungguh tidak bisa mengendalikan diriku.
"Bibi, maaf. Aku... Hatiku sangat sakit sekarang, bibi. Aku sulit mengendalikan apa yang aku rasakan." Kata ku malu.
Bibi Safa menepuk pundak ku.
"Bibi mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi cobalah untuk menahan diri, setidaknya untuk hari ini saja." Kata bibi Safa kepadaku.
Nadanya jauh lebih lembut daripada yang tadi.
Aku cuma mengangguk. Bisa atau tidaknya, aku tidak tahu.
"Kalian berdua di sini. Ayah dan mama dari tadi mencari-cari kalian. Kenapa tidak menunggu kami tadi di luar?"
Mama dan ayah akhirnya datang. Ketika melihat mama aku langsung memeluknya untuk mencari kenyamanan.
"Eh...eh... Anak mama kenapa?" Mama menyentuh puncak kepalaku.
Aku menggelengkan kepalaku tidak mau melepaskan pelukan mama.
"Biasa, dia sedih melihat Kenzie dengan Azira." Kata bibi Safa menjelaskan.
Kurasakan mama menghela nafas panjang. Dia pasti sangat sedih melihatku menderita.
__ADS_1
"Okay, ayo lupakan semuanya, Nak. Kenzie sudah bahagia bersama Azira, maka kamu pun harus berjalan maju ke depan. Tunjukkan bahwa kamu bisa lebih bahagia dari mereka." Bisik mama kepadaku.