
Perumahan yang ada di komplek ini sangat besar, jauh lebih besar daripada rumah Ayah. Memikirkannya saja membuat Azira merasa bangga karena Ayah tidak sekaya yang disombongkan keluarga itu.
"Mas Kenzie? Mari masuk mas." Penjaga gerbang langsung menyapa Kenzie dan mempersilakannya masuk ke dalam.
Saat Kenzie dan Azira melewati gerbang, mata penjaga itu menatap Azira aneh sekaligus heran. Mengenai pernikahan Kenzie beberapa hari yang lalu, itu bukan rahasia umum lagi di sini karena pernikahan itu sesungguhnya sangat megah juga mewah. Tapi bukan ini alasan mengapa Kenzie menjadi perbincangan banyak orang. Kenzie batal menikahi calon pengantin yang seharusnya tapi malah menikahi wanita lain, kejadian ini sangat kontroversial dan menjadi perbincangan hangat baru-baru ini. Ada yang menyayangkan, ada juga yang mengasihani dan bahkan menertawakan. Intinya ada banyak respon dari pernikahan ini.
Bohong jika Azira tidak merasakan tatapan itu. Namun dia berpura-pura tidak tahu dan mengacuhkannya. Dalam hal sandiwara, dia terbukti pernah memenangkannya.
"Assalamualaikum, Bibi? Di mana pamanku?" Kebetulan di halaman depan Bibi Dian sedang menyirami tanaman.
Bibi Dian melihat ke arah pengunjung, wajah berlemaknya langsung membentuk senyuman lebar ketika melihat Kenzie tapi berubah menjadi kaku saat matanya berpaling melihat Azira.
"Waalaikumsalam. Kenzie, kamu akhirnya mampir ke rumah Bibi. Ayo ke sini. Umimu juga ada di sini bersama Abahmu. Dan mereka sekarang ada di dalam rumah karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan Paman dengan mereka."
Umi juga ada di sini, perasaan Azira menjadi tidak enak. Ragu-ragu, dia duduk di samping Kenzie yang masih betah bersikap ramah dengan Bibi Dian.
"Bibi aku baru saja memetiknya dengan Azira. Istriku bilang buahnya manis dan besar, Bibiku pasti akan langsung menyukainya." Kenzie lalu menarik tangan Azira dan mendorong punggungnya untuk menyerahkan kemasan buah itu sendiri ke Bibi Dian.
Punggung Azira langsung menegang. Jantungnya berdegup kencang. Antara malu juga canggung, perasaan ini bercampur aduk di dalam hatinya. Namun dia berusaha menelannya dengan mentah-mentah sembari membentuk senyuman terbaik yang bisa dia lakukan.
"Bibi ini buahnya, kami berdua baru saja memetiknya di halaman belakang tadi." Ucap Azira sopan sembari menyerahkan kemasan itu kepada Bibi Dian.
Bibi Dian melihat tangan yang memegang kemasan itu, jari-jarinya ramping tapi tidak dirawat dengan baik karena pasti digunakan untuk bekerja keras. Kemudian dia beralih melihat wajah tersenyum Azira. Menurutnya Azira tidak secantik Humairah dan memiliki penampilan biasa-biasa saja, tidak terlalu pandai mencocokkan warna pakaian dengan jilbab. Melihatnya seperti ini Bibi Dian jadi heran kenapa keponakannya mau mempertahankan pernikahan ini.
__ADS_1
"Terima kasih Kenzie. Kamu harusnya tidak perlu repot-repot." Ucapnya sambil sambil mengambil kemasan itu dari Azira dan menaruhnya di bawah meja.
Bibi Dian jelas tidak memasukkan Azira ke dalam matanya.
Azira menarik tangannya canggung. Senyuman di wajahnya sudah lama menjadi kaku. Perlahan dia duduk di samping Kenzie lagi mendengarkan pembicaraan baik di antara mereka berdua.
"Sungguh anak yang malang. Kehidupanmu dan Humairah hancur dalam waktu yang sangat singkat. Bibi tidak bisa berkata apa-apa. Terutama kepada Umi kamu. Entah berapa kali dia menangis di sini setiap kali memikirkan pernikahan kamu, Nak. Dia merasa sangat bersalah dan sedih dengan keputusan kamu mempertahankan pernikahan ini. Sebenarnya kami semua mengerti kenapa kamu melakukan itu, Nak. Tapi harusnya kamu juga memikirkan perasaan Humairah atas keputusan ini. Dia adalah calon istrimu yang sesungguhnya dan menderita kekalahan karena dicurangi. Bibi dengar setelah kejadian itu dia langsung jatuh sakit dan belum sembuh sampai dengan hari ini. Kenapa kamu tidak-"
"Bibi sepertinya kamu sedang sibuk. Kami tidak akan mengganggumu lagi. Ayo Azira, berikan salam kepada Bibi." Kenzie segera bangun dan meraih tangan Azira.
Tangan Azira sangat dingin dan berkeringat. Dan dia baru menyadari sekarang bila Azira ternyata sangat gugup. Dia pikir Azira tidak terlalu gugup datang ke sini melihat betapa biasa ekspresi wajahnya. Tapi fakta yang ditemukan justru sebaliknya, Azira sangat gugup.
Meremat tangan basahnya, Azira terkejut karena Kenzie tidak jijik dengan keringat dingin di telapak tangannya. Padahal tangannya sudah lama basah karena gugup dan reaksi normal kebanyakan orang adalah tidak mau menyentuh tangan basah orang lain yang dibasahi oleh keringat.
"Bibi, kami pulang. Assalamualaikum." Mencium punggung tangan Bibi Dian secara bergilir dengan Kenzie, mereka berdua kemudian pergi dan melanjutkan perjalanan menyapa keluarga yang lain.
*****
"Mereka baru saja menikah beberapa hari, tapi keponakanku sudah dibuat seperti ini olehnya. Ya Allah, mengapa Engkau menguji keluarga kami dengan ujian ini? Wanita itu jelas bukanlah wanita yang baik lalu mengapa keponakanku mempertahankannya?" Desah Bibi Dian melihat punggung mereka berdua menghilang dari gerbang rumahnya.
Dia menggelengkan kepalanya tidak berdaya sambil melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi. Untungnya Kenzie bukanlah putranya jadi kepalanya tidak sakit setiap kali memikirkannya. Dan tidak heran bila Umi terus menerus mengeluh kepadanya karena Azira sendiri sangat mengecewakan.
"Dian, kamu kenapa?" Umi, Abah dan Paman keluar dari rumah.
__ADS_1
Di dalam mereka sempat mendengar percakapan. Dan samar, mereka mengenali suara Kenzie. Tapi begitu keluar mereka tidak menemukan siapapun di sini.
"Ini kakak, Kenzie dan menantumu baru saja datang ke sini. Mereka mengirimiku buah kelengkeng." Kata Bibi Dian sembari menunjukkan kemasan kelengkeng ke atas meja.
Kemasannya tidak dibuat rapi karena ini adalah pekerjaan Kenzie. Azira tidak bisa membuat kemasan yang rapi dan tidak terlalu berani memegangnya, jadi dari awal hingga akhir Kenzie lah yang bekerja.
"Kenzie datang ke sini bersama wanita itu?" Tanya Umi kaget.
Abah melirik wajah kaget istrinya.
"Dia adalah menantumu juga. Jangan menyebutnya seakan-akan dia adalah orang asing." Kata Abah menasehati istrinya.
Umi sangat enggan tapi tidak membantah apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Iya, kakak. Mereka baru saja pergi dan mungkin akan melanjutkan ke rumah yang lain. Ngomong-ngomong kakak, ternyata menantu kalian tidak secantik Humairah dan pendidikannya pun mungkin jauh lebih tinggi milik Humairah. Aku heran kenapa Kenzie mau menerimanya?"
Diungkit masalah ini semakin membuat hati Umi tidak puas. Jangankan Bibi Dian yang sebagai seorang Bibi. Dia, orang yang melahirkannya ke dunia ini dan membesarkannya dengan susah payah pun merasa bingung mengapa putranya seperti itu.
"Sudahlah jangan disebut-sebut lagi. Ini adalah pernikahan Kenzie dan hidup Kenzie, kita tidak perlu ikut campur lagi." Paman merasa tidak enak melihat wajah kakak iparnya semakin buruk setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Bibi Dian.
"Kenapa kita tidak boleh ikut campur? Kita adalah keluarganya! Sudah kewajiban kita untuk mengingatkannya agar jangan sampai tersesat." Kata Bibi Dian keras kepala.
"Apakah menikahi Azira adalah jalan yang sesat?" Tanya Abah dengan suara yang sangat tenang.
__ADS_1
Ketika tidak ada lagi yang berbicara. Bibi Dian dan Umi saling menatap, mendesah ringan dan menundukkan kepala. Jelas mereka ingin mengatakan banyak tapi karena Abah mereka tidak berani bersuara.