
Umi memperhatikan kalau putranya yang bebal sering melihat ke arah pintu. Bukan cuma sekali dua kali, tapi berkali-kali. Umi geretan dengan kebebalan putranya. Untung saja menantunya adalah Azira, kalau itu wanita lain, Umi nggak yakin kalau wanita itu bisa tahan menghadapi putranya yang tidak peka. Hah...tak tahan lagi.
"Kenzie, kamu ngapain sih ngeliat ke pintu terus? Kalau kamu mau nyari Azira, tinggal masuk aja apa susahnya sih, Nak?" Umi enggak habis pikir.
Daripada bolak-balik ngeliat ke pintu, lebih baik langsung masuk ke dalam rumah untuk mencari Azira. Lagian kalau begini Umi juga tahu putranya tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja. Kasian suaminya. Capek panas panasan di depan sambil berpikir keras memikirkan kolam ikan sementara Kenzie justru sibuk memikirkan istrinya di dalam rumah.
Ah, putraku akhirnya tahu bagaimana rasanya memiliki istri. Batin Umi lucu sekaligus kesal.
Kenzie menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah... jadi Kenzie boleh masuk ke dalam?" Kenzie senang.
Umi memutar bola matanya.
"Boleh, tapi cuma sebentar. Ajak aja Azira keluar biar ada temen Umi berbicara. Kalian enggak boleh lama-lama di dalam, soalnya Abah kasian kerja sendirian." Umi mendikte.
__ADS_1
Kerja sendirian?
Sudut mata Kenzie berkedut tertahan menatap ke tempat Abah berdiri. Di depan Abah berdiri dengan kedua tangan di pinggul sambil memberikan arahan sesekali kepada para pekerja yang tengah berusaha menggali tanah. Mulai dari pak Maman hingga satpam dan penjaga kebun, mereka bekerja bersama-sama mengikuti arahan Abah. Sekilas, klaim Umi tidak bisa dibenarkan karena sejak awal Abah hanya berdiri dengan mulut cerewet sementara para pekerja bekerja sangat keras.
"Iya, Umi." Tapi dia tidak mengatakan apa-apa,"Aku masuk dulu." Karena dia sangat ingin bertemu dengan Azira.
Semenjak kesalahpahaman beberapa waktu ini, mungkin lebih tepatnya semenjak rekaman CCTV yang dikirimkan oleh Arian kepadanya, Kenzie merasakan betapa sakit sebuah rasa penyesalan sehingga dia memiliki kecenderungan untuk melihat dan memastikan Azira dalam jangkauannya kembali.
Katakan saja dia posesif, Kenzie tidak membantah karena dia memang merasakannya.
Kenzie berlari kecil masuk ke dalam rumah. Saat melewati ruang tamu, dia dicegat sama Sasa.
Sasa tidak bilang apa-apa, cuma menaruh jari di bibirnya sambil menunjuk ke arah ruang tengah. Kenzie langsung mengerti tanpa perlu bertanya. Istrinya, Azira Humaira pasti sedang beristirahat sekarang di ruang tengah.
"Dia tidur jam segini?" Kenzie menggelengkan kepalanya tak berdaya.
__ADS_1
Dia meringankan suara langkah kakinya tapi tidak mengendurkan kecepatannya berjalan. Tidak butuh satu menit, dia masuk ke ruang tengah. Di sofa panjang, tepatnya di depan TV yang tidak menyala, istrinya tengah tertidur lelap. Melihat tidurnya yang nyaman, Kenzie tersenyum lebar. Ah, seolah melihat rumahnya yang hangat, Kenzie dengan langkah lebar mendekatinya. Tetapi saat melihat situasi istrinya, senyuman Kenzie langsung menguap entah kemana.
Wajah Azira pucat dan berkeringat. Tarikan nafasnya agak berat, Azira pasti tidak baik-baik saja.
"Sayang?" Kenzie duduk berlutut di samping sofa.
Tangan besarnya mengusap keringat di kening istrinya. Tidak panas, Kenzie menghela nafas lega.
"Sayang, dimana yang tidak nyaman?"
Kelopak mata Azira bergetar, beberapa detik kemudian dia terbangun dari tidurnya yang ringan.
"Mas Kenzie?" Azira merasa sangat nyaman setelah melihat suaminya.
Seolah-olah dia dilemparkan ke dalam kolam dingin dan sejuk setelah berjalan jauh di gurun pasir. Dia lega.
__ADS_1