
Sasa memberikan beberapa pakaian ke Kenzie dengan wajah enggan. Sekalipun sampah harus dibuang pada tempatnya, Sasa masih tidak sudi memberikan apa yang pernah dia gunakan kepada Azira. Rasanya hati ini seperti digaruk-garuk saking tidak nyamannya. Mau menolak juga tidak bisa karena Kenzie kalau sudah marah pasti sangat mengerikan. Selain itu Sasa juga takut berulah di depan kakaknya itu sebab uang tambahan belanja biasanya diberikan oleh kakaknya. Baik Umi dan Abah akan mengontrol uang belanjanya setiap bulan sehingga Sasa jadi rada takut jika berbelanja ke mall. Takutnya dia terlalu boros. Namun ceritanya akan lain jika Kenzie sudah memberikan uang tambahan. Uang yang diberikan pun jauh lebih banyak daripada kedua orang tuanya sehingga Sasa tidak takut membeli banyak hal kalau sudah di dalam toko perbelanjaan.
"Kakak akan segera mengembalikannya setelah Azira membeli pakaian." Kata Kenzie berjanji.
Sasa langsung menolak.
"Enggak perlu, lagipula ini..." Cuma sampah.
Tapi Sasa tidak berani mengatakan kalimat terakhir. Takutnya Kenzie akan lebih marah lagi kepadanya jadi dia hanya bisa menelannya pahit.
"Aku udah enggak pakai lagi kok, kak." Memangnya siapa yang mau menggunakan bekas sampah itu?
Memikirkannya saja membuat Sasa merinding.
Kenzie tidak mengobrol lagi dengan adiknya. Setelah mendapatkan apa yang dicari, dia langsung kembali ke lantai dua dan melihat Azira masih tertidur lelap di ranjang. Kenzie tidak membangunkannya. Dia sengaja membiarkan Azira tidur lebih lama lagi karena mungkin saja batin istrinya itu sangat kelelahan.
Setelah meletakkan pakaian yang dipinjam ke dalam lemari, Kenzie kemudian pergi ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda tadi malam. Pekerjaan ini dikirim oleh pihak rumah sakit sesuai dengan permintaan Kenzie. Dengan situasi antara dia dan Azira yang masih asing satu sama lain saat ini, Kenzie tahu bahwa cuti pernikahannya akan dihabiskan dengan menganggur di rumah.
Karena tidak mau menganggur, Kenzie menghubungi pihak rumah sakit agar segera mengirim pekerjaan yang akan dia kerjakan setelah cuti pernikahan selesai.
...****...
Rumah kembali sepi karena satu persatu keluarga yang lain pulang ke rumah masing-masing. Hari yang harusnya dihabiskan dalam tawa dan canda nyatanya tidak terjadi. Kemunculan Azira bagaikan duka di rumah dan semua orang. Keluarga yang lain seringkali menatap Umi dan Abah perihatin karena bencana yang menimpa keluarga ini. Tidak ada pembicaraan yang riang gembira seperti beberapa hari yang lalu. Wajah-wajah orang dipenuhi oleh kabut gelap kesedihan dan kekecewaan.
Sasa sendiri yang paling merasakan perubahan suasana rumah. Para sepupunya pergi dari rumah ini setelah menyelesaikan sarapan, meninggalkan Sasa dalam kebosanan yang mencekam. Ingin keluar rumah untuk berbelanja, dia merasa tidak enak dengan kedua orang tuanya. Dia tidak bisa pergi bersenang-senang sementara kedua orang tuanya di sini dirundung kesedihan.
"Umi lagi ngapain?" Sasa masuk ke dalam ruang tamu dan menemukan Umi sedang duduk di depan tv yang tidak menyala.
Wajah Umi murung. Menatap kosong ke arah tv.
"Umi enggak ngapa-ngapain." Kata Umi lemah.
Sasa kasihan melihat Uminya. Dia lalu duduk di samping Umi berniat menemaninya mengobrol.
"Abah dimana, Umi?" Sasa tidak melihat Abah.
Biasanya Abah dan Umi sering menghabiskan waktu bersama-sama jika tidak ada kegiatan di rumah. Dan Sasa tahu jika hari ini Abah tidak pergi mengajar di pondok bambu. Karena tidak pergi mengajar maka Abah akan menemani Umi di rumah untuk bersantai. Tidak hanya Abah saja, tapi Kenzie juga akan ikut bergabung jika tidak ada jadwal operasi di rumah sakit.
"Abah pergi ke rumah sebelah ngomong sama paman kamu." Jawab Umi masih tidak mengalihkannya dari tv.
__ADS_1
Sasa terdiam. Dia merasa bila pikiran Umi sepertinya sedang tidak ada di tempat. Apakah Umi masih memikirkan Azira dan Kenzie?
Sasa ragu bertanya. Dia takut bila Umi semakin terluka jika mengungkit kejadian kemarin. Pasalnya kejadian kemarin benar-benar tidak menyenangkan. Sebut saja itu mimpi buruk untuk semua orang di rumah.
"Nak, tadi bibi Safa menghubungi Umi. Dia bilang Humairah jatuh demam dari semalam dan masih belum baikan sampai saat ini."
****
Malam harinya perut Azira tiba-tiba jadi keram. Ia menebak bila tamu bulanannya akan datang malam ini. Satu minggu jauh lebih lambat dari bulan kemarin. Mungkin karena ditinggal Ibunya, Azira kemarin jadi stres dan memengaruhi siklus tamu bulanannya.
Saat keluar dari kamar mandi ia berdiri canggung sambil menatap Kenzie. Ia tidak membawa apapun ke rumah ini, jangankan pakaian dalam, kebutuhan wanita saja ia tidak punya saat ini. Awalnya ia masih bisa menahannya untuk satu atau dua hari menggunakan pakaian dalam yang sama. Tapi sekarang situasinya berbeda. Pakaian dalamnya kotor karena tamu bulanan. Ia butuh pengganti dan pembalut, jika tidak maka malam ini ia akan sangat tersiksa.
Hanya saja...
Matanya melihat Kenzie lagi dan kebetulan mata mereka bertabrakan.
Azira jadi gugup melihatnya.
"Ada apa?" Tanya Kenzie datar.
Dari tadi dia merasakan bila Azira terus memperhatikannya tapi tidak mengeluarkan suara.
"Aku malam ini...itu... kedatangan tamu...tapi aku..." Tidak punya pakaian dalam dan pembalut!
Azira tidak bisa mengatakannya.
Kenzie langsung mengerti. Keningnya mengkerut tampak sedang berpikir.
"Jadi kamu hanya membutuhkan pembalut?" Bagaimana pun Kenzie juga seorang dokter walaupun ada rasa malu di hatinya.
Ujung telinganya bahkan memerah.
Azira berusaha terlihat biasa-biasa saja di depan Kenzie.
"Tidak, aku juga butuh pakaian...dalam." Katanya tertahan.
Kenzie terkejut,"Oh..."
Dia lupa Azira tidak membawa apa-apa saat ke sini. Maka hari ini...
__ADS_1
Kenzie menatap Azira aneh, dia tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat mengetahui bila Azira belum pernah mengganti pakaian dalamnya hari ini. Tidak hanya tidak mengganti, tapi Azira juga tidak mengatakan apa-apa soal itu. Jika ia berbicara kan seenggaknya Kenzie akan pergi membelikannya.
"Kamu tunggu di sini." Kata Kenzie seraya bangun dari duduknya.
Azira juga tahu diri.
"Aku tidak akan duduk dan mengotori barang-barang di sini." Janji Azira tersipu.
Kenzie berdecak salah tingkah,"Enggak, maksudku kamu jangan kemana-mana."
Tapi Azira tidak menangkap maksudnya.
"Aku hanya akan berdiri di sini." Katanya teguh.
Kenzie spontan menepuk jidatnya tidak berdaya. Dia tiba-tiba heran kemana sikap dingin dan acuh tak acuh Azira saat pertama kali mereka bertemu?
"Duduk di manapun kamu mau. Kau tahu... ketika seorang wanita datang bulan perutnya pasti mengalami kram..." Dan Kenzie baru menyadari jika wajah istrimu agak pucat saat ini.
Melihat ekspresi malu di wajah Azira, dia tidak tinggal lama di kamar ini lagi. Dia langsung pergi setelah mengambil kunci mobil di atas meja kerja.
"Fiuh..." Azira menghela nafas lega.
Perutnya memang kram dan nyeri, ia tak tahan berdiri terus. Untungnya Kenzie mengerti dan mengizinkannya duduk.
Tepat saat ia akan duduk di pinggiran sofa, pintu kamar tiba-tiba dibuka. Gerakan Azira mandek, satu detik kemudian ia langsung menegakkan punggungnya.
"Mas.."
Kenzie menggaruk kepalanya malu.
"Itu...aku lupa membawa dompet." Mengambil dompet di atas nakas dan menggoyangkannya di depan Azira,"Aku pergi." Dan,
Bam!
Pintu kamar tertutup.
Bersambung...
Up?
__ADS_1