Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 22.4


__ADS_3

Umi mendengus tak senang. Dia menarik tangannya terpaksa sambil tidak lupa memberikan ancaman kepada putranya.


"Sekarang Umi cubit pinggang kamu, lain kali kamu teledor lagi yang Umi cubit giliran ginjal kamu. Pintar kok bodoh, Umi heran di sekolah dulu kebanyakan belajar apa duduk." Dumel Umi mengabaikan ekspresi terdistorsi Sasa dan Mona di tangga.


Sasa mengelus permukaan perutnya ngilu. Baru kali ini Umi semarah ini sama Kenzie, apalagi sampai ngancem mau cubit ginjal, untuk sesaat Sasa enggak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya saat ini. Mau ketawa tapi serem, nah mau sedih juga omongan Umi lucu. Jadi bimbang kan?


Setelah Umi pergi, Kenzie kembali memasang wajah datarnya yang menyebalkan. Mata gelapnya menatap Sasa dan Mona di tangga. Merasakan tatapan tak bersahabat Kenzie, mereka tahu bahwa ini adalah ancaman tak kasat mata yang Kenzie layangkan. Mereka dapat melihatnya melalui mata gelap tak berdasar itu, belum lagi perubahan energi negatif yang mulai mengepung mereka yang tak bersalah, hati murni mereka terancam ternodai!


"Ehehe... karena kak Azira lagi istirahat, kita enggak akan ganggu, deh. Kalau gitu kita ke bawah dulu ya, kak, dah!" Sasa langsung kabur dengan kurus seribu langkah, meninggalkan Mona yang tertangkap tidak siap.


Takut, dia buru-buru mengejar Sasa di belakang.


"Cek, ada-ada saja." Kenzie menggelengkan kepalanya sembari berbalik kembali ke kamarnya.


Namun tangan kanannya tidak berhenti mengelus tempat yang dicubit oleh Umi. Diam-diam membayangkan penampilan marah Umi tadi, Kenzie sejujurnya geli tapi juga takut. Soalnya tenaga Umi cubit enggak main-main. Jauh lebih sakit dari cubitan Azira!


Jangan bermain-main dengan Azira lagi. Batin Kenzie menasehati dirinya sendiri.


Lalu dia masuk ke dalam kamar lagi untuk bersantai bersama istrinya yang tengah tertidur lelap.


*****

__ADS_1


"Hahahaha...ini sangat lucu, hahahaha..." Tawa puas Humairah bergema kuat di dalam ruangan dan mengejutkan semua orang.


Humairah selalu memiliki kesan yang lembut dan ceria, kalau tertawa suaranya renyah dan sopan. Sangat berbeda dengan sekarang. Dia tertawa keras dengan mulut terbuka lebar, dia tampak sangat puas. Penampilan Humairah hari ini langka dan mengundang keheranan dari keluarganya.


"Humairah, apa yang kamu tertawakan?" Bibi Safa memijat keningnya yang pusing.


Humairah perlahan meredakan tawanya.


"Bibi, ini kabar baik, aku sangat senang!" Humairah tertawa lagi dalam suasana yang bahagia.


Bibi Safa menurunkan tangannya sambil menatap Humairah dengan rasa penasaran tak terselubung. Dia juga mau tahu kabar baik apa yang membuat keponakan tersayangnya tertawa begitu bebas hari ini.


"Oh, ya? Kabar baik apa ngomong-ngomong?"


"Ini kabar yang sangat baik. Beberapa hari lagi bibi Safa akan mengetahuinya. Jadi tahan rasa penasaran bibi sekarang sampai di waktu yang tepat." Dia juga sudah tidak sabar menunggu kabar selanjutnya.


Sayang sekali memerlukan beberapa hari lagi untuk mendengarnya, dia tidak sabar tapi dengan enggan menahannya.


Bibi Safa mengangkat bahunya tidak lagi tertarik.


"Baiklah. Mungkin kabar baik ini benar-benar baik." Dia sekali lagi menyentuh kepalanya yang pusing.

__ADS_1


Humairah melihat situasi bibinya yang tidak benar.


"Apakah bibi tidak enak badan?" Humairah menggeser duduknya lebih dekat.


Bibi Safa tersenyum kecut.


"Yah, sedikit."


Humairah perihatin.


"Sudah minum obat?"


Bibi Safa merasa hangat.


"Nanti. Ini masalah sepele. Bangun tidur mungkin akan baik-baik saja." Bibi Safa benar-benar tidak membutuhkan obat.


Humairah tidak setuju.


"Bibi, jangan menyepelekan sekecil apapun sakit yang bibi rasakan. Segera minum obat atau konsultasi ke dokter biar enggak kenapa-napa kedepannya." Humairah memberikan nasehat.


Bibi Safa mengangguk ringan tapi tidak berniat menurut.

__ADS_1


"Yah, keponakan selalu pandai berbicara."


__ADS_2