
Setelah salat ashar aku dan mas Kenzie langsung pergi ke tempat acara. Mas Kenzie bilang acaranya di vila pinggir pantai. Kebetulan pantainya di pinggir kota jadi kami tidak membutuhkan waktu lama untuk datang ke sana. Setengah jam kemudian kami akhirnya sampai di pantai. Tepatnya di depan sebuah bangunan mewah bernuansa putih bersih yang sangat harmonis dengan pemandangan laut di sini.
Dari halaman depan aku bisa mendengar suara-suara orang di dalam. Suaranya ramai, pasti orang yang berkumpul tidak sedikit. Ah memikirkannya saja membuatku gugup. Aku berharap bisa berkomunikasi baik dengan mereka karena mereka adalah teman-teman suamiku.
"Mas Kenzie!" Teriakan nyaring seorang wanita menarik pikiranku yang tengah mengembara jauh.
Aku sontak menoleh ke arah pintu masuk. Di depan pintu masuk villa berdiri seorang wanita cantik dengan wajah kemerah-merahan. Melambaikan tangan penuh semangat kepada suamiku.
Satu hal yang menarik perhatianku. Yaitu pakaian kami. Gaya gamis yang kupakai dengannya sama tapi beda warna. Aku terkejut. Seingatku orang di butik bilang kalau gamis ini adalah desain mereka dan hanya ada satu di toko, tapi kenapa sekarang wanita itu menggunakan model yang sama dengan diriku?
"Mas Kenzie, aku sangat merindukan kamu. Bagaimana kabar mu di sini? Aku dengar kamu sudah menikah." Mungkin karena tidak sabar, wanita itu berjalan cepat menghampiri kami-oh, yang ku perhatikan dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan suamiku.
Dari jauh aku bisa melihat wanita ini cantik, tapi setelah mendekat, tiba-tiba aku merasa minder karena wanita ini sangat cantik dan pada saat yang sama sangat wangi.
"Amara, lama tidak bertemu. Kabarku baik-baik saja di sini, apalagi setelah menikah, hidupku semakin baik. Oh ya, kenalkan ini istriku, namanya Azira." Punggungku didorong ke depan oleh suamiku.
Amara?
Deg
Jantungku berdebar sangat cepat. Wanita yang selama ini menghantuiku dan membuat ku terjebak dalam ketakutan ternyata memiliki paras wajah yang sangat cantik. Aku bisa mengerti mengapa suamiku sulit melepaskan cinta pertamanya dulu jika Amara itu adalah wanita ini.
"Oh Azira, aku sudah mendengar tentang istrimu dari kak Nabil. Hum, seperti yang kakakku bilang, dia adalah wanita yang sangat cantik, aku sampai malu berdiri di depannya." Dia sangat sering tersenyum dan bersikap ramah.
Dia berbeda dari Meri. Dia tidak memandang rendah orang dan selalu bersikap ramah kepadaku, seolah-olah aku ini adalah teman dekatnya.
Di sini, aku semakin malu dan mempertanyakan diriku sendiri.
Sepanjang dia berbicara dengan suamiku, senyumku perlahan menjadi kaku. Aku merasa tidak nyaman berada di antara mereka berdua. Seolah-olah aku mengganggu reuni mereka.
"Oh, Amara, biarkan mereka berdua masuk. Jika kamu berbicara dengan Kenzie terus di sana, maka kami semua akan menjamur menunggu kalian berdua." Suara keras Nabil dari depan pintu masuk.
Entah itu cuma perasaanku atau tidak, aku merasa kalau Nabil sengaja mengecilkan kehadiranku.
"Ah... Aku terlalu bersemangat, maafkan aku. Mas Kenzie dan Azira, ayo masuk ke dalam. Hari ini adalah perayaan kepulanganku ke Indonesia. Ugh, sebenarnya aku tidak mau membuat acara ini tapi teman-teman yang lain bersikeras. Katanya mereka sangat merindukan aku, hahahah...."
Ah, jadi acara yang ditunggu-tunggu oleh suamiku adalah acara perayaan kepulangan Amara ke Indonesia. Sekarang aku mengerti. Tidak, tidak seperti ini. Suamiku sudah memiliki aku di hatinya, yah, dia sudah memiliki aku.
Hanya saja hatiku... rasanya agak tidak nyaman. Ya Allah, hatiku perih. Mungkin aku terlalu cemburu.
"Amara dan Kenzie, bagaimana perasaan kalian berdua setelah berpisah sekian lama?"
Begitu kami masuk ke dalam vila, seorang laki-laki asing tiba-tiba bertanya kepada suamiku dan Amara.
Aku tanpa sadar melihat ke arah suamiku. Meskipun dia tidak sedang tersenyum, tapi cahaya di matanya menunjukkan kalau di dalam suasana hati yang baik sekarang.
Hatiku rasanya tidak nyaman. Ugh, semacam rasa perih yang tak bisa ku jelaskan.
"Baik-baik saja. Aku senang dia bisa kembali ke Indonesia." Ini adalah jawaban suamiku.
Setelah suamiku menjawab, orang-orang mulai bersiul dan ada pula yang bertepuk tangan.
"Mungkinkah cinta lama bersemi kembali?"
"Jangan berbicara omong kosong. Di sini ada istri mas Kenzie. Tolong jaga perasaan Azira teman-teman."
Harusnya mas Kenzie yang mengatakan ini karena aku adalah istrinya, tapi malah Amara yang lebih mengerti posisiku. Sementara mas Kenzie hanya berdiam diri tanpa mengeluarkan suara, sikapnya menunjukkan seolah-olah aku tidak ada di sini. Mengapa aku merasa mas Kenzie agak aneh?
"Azira, kak Nabil pernah bilang kalau masakan Azira sangat enak. Nah kebetulan kamu di sini, mengapa kamu tidak membantu kami memasak? Soalnya koki yang kami panggil belum datang ke sini dan teman-teman sudah lapar." Amara kini berbicara kepadaku.
Memasak untuk orang-orang sebanyak ini?
Aku... Aku bukannya tidak mau tapi tidak sanggup karena saat ini aku sedang tidak enak badan. Jika keadaanku sedang fit mungkin aku bisa mengerjakannya, tapi untuk sekarang sepertinya sulit dikatakan.
"Apakah aku mengerjakan sendiri?" Aku bertanya kosong.
Kenzie memegang tanganku lembut.
"Aku akan membantu kamu di dapur."
"Tidak usah merepotkan Kenzie. Kebetulan istriku ada di sini. Biarkan saja dia dan Azira yang memasak. Kamu adalah laki-laki, kamu tidak pantas masuk ke dalam dapur. Ayo keluar dan mengobrol lagi. Kita punya banyak urusan yang perlu dibicarakan." Seseorang buru-buru mencegah suamiku.
__ADS_1
Aku juga sempat berpikir begitu. Suamiku pasti lelah bekerja di rumah sakit jadi tidak seharusnya dia membantuku di dapur. Untungnya masih ada wanita di sini yang akan membantuku bekerja di dapur.
Tapi yang membuatku semakin tidak nyaman adalah, mas Kenzie menerima begitu saja ajakan mereka.
"Azira, jika butuh sesuatu panggil aja aku." Kata mas Kenzie kepadaku sebelum pergi.
Aku tersenyum tipis.
"Tentu, mas."
Aku kira Amara juga akan tinggal di dapur, tapi ternyata dia ikut pergi bersama suamiku. Sedangkan aku berdiri kosong di sini memandang punggung suamiku dan Amara yang berjalan berdampingan perlahan menjauh dari pandanganku.
Amara dan suamiku mengobrol santai berdua. Komunikasi mereka sangat lancar dan sikap mereka pun cukup intim. Ya, aku cemburu. Aku sungguh sangat cemburu melihat kedekatan mereka. Setelah menikah dengan suamiku pun kami tidak berbicara selancar ini.
Suamiku lebih banyak diam dan mendengarkan daripada berbicara ketika sedang bersama denganku. Tapi begitu dia bertemu dengan Amara. Frekuensi berbicaranya jauh lebih banyak. Udah terlihat agak bersemangat.
"Huh..." Apa yang sedang ku pikirkan ini?
"Azira, ayo kita mulai. Orang-orang sudah kelaparan. Jadi sambil menunggu koki datang, kita akan memasak beberapa hidangan sederhana dulu. Kamu bisa kan mengurus seafood?" Wanita itu bertanya kepadaku.
Aku menganggukkan kepalaku ringan.
"Aku bisa."
Dia tersenyum, terlihat agak aneh, dari tatapan matanya dia seperti sedang mengasihani ku.
"Kalau begitu aku akan menyerahkan urusan seafood kepadamu, sedangkan aku akan memasak sayuran. Bagaimana?"
Aku tidak punya pilihan. Wanita ini sepertinya tidak mau berkompromi. Jadi aku menerima begitu saja.
Setelah membuat keputusan kami mengerjakan urusan masing-masing. Sambil memasak sesekali aku akan melihat ke arah luar, melihat suamiku yang masih berdiri berdekatan dengan Amara.
Dulu aku selalu merasa kalau suamiku anti terhadap wanita. Soalnya dia selalu menjaga jarak dengan wanita manapun yang dia temui. Tapi sekarang aku menemukan kalau suamiku mungkin tidak anti wanita.
Entahlah sudah beberapa kali aku menghela nafas panjang. Rasanya dadaku masih saja sesak. Padahal aku sudah minum banyak air untuk melegakannya.
"Azira, apakah ada yang bisa ku bantu?" Amara masuk ke dalam dapur masih dengan senyumnya yang cemerlang.
"Semuanya sudah beres. Tinggal menunggu beberapa menu matang saja lalu sisanya bisa segera dihidangkan." Kataku sambil menunjukkan beberapa panci di atas kompor.
"Woah, wanginya sangat harum. Ini pasti rasanya sangat lezat." Katanya memujiku.
Dia lalu menunjuk hidangan yang sudah matang,"Apakah aku boleh mencicipinya?"
"Boleh, ini baru saja matang. Karena udangnya besar-besar aku memutuskan untuk membuat udang asam manis, jadi tidak terlalu pedas dan cocok untuk orang yang tidak suka pedas." Aku menggeser piring udang asam manis ke depannya.
Amara tiba-tiba menatapku. Senyumnya manis, tampak cerah yang membuat orang-orang nyaman ketika berbicara dengannya.
"Terima kasih, aku akan mencobanya." Dia mengangkat piring dengan tangan kiri sementara tangan kanan memegang garpu.
Lalu dibawah pengawasan mataku dan mata membara wanita di sampingku, Amara memasukkan langsung satu biji udang ke dalam mulutnya.
Aku sangat gugup menunggu reaksinya. Apakah masakan ku enak?
Prang!
Piring di tangan kirinya tiba-tiba jatuh. Amara batuk parah, wajahnya memerah terang seperti udang rebus dan tangan kanannya gemetaran memegang dada. Dia terlihat sangat kesakitan. Apa yang terjadi?
Apakah Amara keracunan?
"Amara!" Teriakan panik wanita itu langsung menyadarkan ku dari lamunan.
Aku bergegas menghampiri Amara, merasakan tubuhnya mulai kejang-kejang dengan mulut berbusa. Pemandangan ini sangat menakutkan. Lutut ku lemas tak bisa bangun.
"Tolong...tolong!" Teriakan keras wanita itu langsung menarik perhatian orang-orang di luar.
Brak
Pintu dapur dibanting oleh seseorang. Saat aku menoleh, aku melihat wajahku pucat suamiku. Dia terlihat sangat dingin.
Dengan langkah besar dia datang ke sini.
__ADS_1
"Apa yang sedang terjadi- Amara, apa yang terjadi dengan Amara?" Suara suamiku panik.
"Aku... Aku nggak tahu, mas. Tiba-tiba saja dia jatuh setelah memakan udang di piring-" sebelum aku selesai berbicara, mes Kenzie menyela ucapanku.
"Kamu memberinya makan udang?" Tanya Kenzie dengan suara dingin dan mata melotot.
Aku... Aku sangat ketakutan. Baru pertama kali aku melihat suamiku semarah ini.
Dia seperti orang yang berbeda. Dia bukan suami yang aku kenal di rumah.
"I-iya, karena Amara bilang dia mau memakannya-"
"Bohong!"
Lagi-lagi ucapanku dipotong. Tapi kali ini bukan suamiku, melainkan wanita yang memasak bersamaku di dapur.
"Bohong?" Di mana aku berbohong.
"Kamu bohong. Amara sudah mengatakan kalau dia alergi udang, tapi kamu terus memaksanya untuk mencicipi masakan kamu. Kamu bilang hanya mencicipi sedikit tidak apa-apa jadi dia terpaksa memakan masakan kamu!"
Ini fitnah!
Ini adalah fitnah! Apa yang wanita itu katakan adalah kebohongan yang sebenarnya. Aku sama sekali tidak pernah memaksa Amara untuk memakan masakanku. Melainkan dia sendiri yang ingin memakan masakanku. Selain itu Amara tidak pernah menjelaskan kalau dia memiliki alergi, jika aku tahu dia memiliki alergi, aku pasti tidak akan pernah membiarkan dia memakan udang!
"Aku tidak pernah-"
"Oke, berhenti berbicara, itu tidak penting! Aku dan teman-teman yang lain akan mengirim Amara ke rumah sakit dulu!" Mas Kenzie membentak ku dengan wajah dingin.
Setelah itu dia membawa Amara ke dalam pelukan dan mengangkatnya untuk dibawa pergi. Aku ingin ikut pergi tapi mas Kenzie memperingatkan ku dengan tatapan dinginnya. Dia tidak mengizinkan ku pergi ke rumah sakit.
"Pulanglah, kamu tidak dibutuhkan di sana." Setelah itu dia melangkah cepat meninggalkan dapur.
Semua orang pergi. Menyisakan aku sendirian di sini. Bahkan orang yang paling aku cintai juga pergi tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.
Tiba-tiba aku merasa kedinginan. Perasaan sepi ini, perasaan ditinggalkan ini mengingatkanku pada hari dimana Ayah memalingkan wajah dari Ibuku. 10 tahun yang lalu, Ayah memandang Ibuku dengan dingin dan meminta agar Ibuku tidak pernah muncul lagi ke dalam kehidupannya.
Dulu aku bertanya-tanya, bagaimana rasa sakit yang Ibu ku rasakan ketika mendengar laki-laki yang paling dia cintai di muka bumi ini memintanya untuk pergi dan menghilang?
Sekarang... Rasa sesak dan perih di dalam hatiku, mungkinkah rasanya sama seperti yang Ibuku rasakan dulu?
"Aku tidak... Aku tidak pernah memaksa Amara untuk memakan masakanku, dan Amara pun tidak pernah mengatakan kalau dia memiliki alergi. Aku sungguh tidak... Dia berbohong, suamiku...tolong percayalah hiks...."
Ya Allah dadaku sesak, rasanya sakit sekali ya Allah. Aku takut melihat kemarahan suamiku dan aku sangat takut suamiku akan membenciku. Rasanya sangat tidak nyaman ya Allah...aku takut.
Entah berapa lama aku menangis di sini. Karena saat aku melihat keluar, langit sudah mulai menggelap. Aku buru-buru mengusap air mataku, membersihkan air mata menyebalkan itu. Tidak boleh menangis. Aku tidak suka menangis. Menangis berarti membuktikan bahwa aku adalah orang yang lemah.
Aku buru-buru keluar dari villa. Di sini sangat sepi. Tak ada satupun manusia. Semua orang sudah pergi. Bahkan koki yang dikatakan sedang dalam perjalanan pun tidak ada.
"Aku curiga jika Amara sengaja memakan udang itu. Padahal dia alergi udang dan mengetahui kesehatannya dengan baik. Aku yakin kalau Amara mau menjebak ku." Dan bodohnya aku masuk ke dalam jebakan yang dia buat.
Menyedihkan.
"Dimana mas Kenzie?" Sebenar lagi malam.
Siapa yang akan mengirim ku pulang.
"Aku akan menelponnya." Aku mengambil ponsel dari dalam tas dan segera menghubungi mas Kenzie.
"Mas, ayo dong angkat." Aku menggigit bibirnya cemas.
Tapi berkali-kali pun aku mencoba menelpon, aku mas Kenzie tidak kunjung menjawab teleponku.
"Lebih baik aku mengirim pesan saja.."
Mas, aku mau pulang. Kamu dimana?
Lalu klik send, aku menunggu.
Namun sama seperti melempar batu ke dalam laut, aku tidak mendapatkan balasan apapun dari suamiku. Sunyi dan sepi, sama seperti laut luas yang ada di depanku sekarang.
Sangat sunyi. Tiba-tiba aku merasa kasihan kepada diriku sendiri yang putus asa.
__ADS_1