Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 24.5


__ADS_3

Azira selesai menyeka tubuhnya dengan handuk. Sesekali matanya melirik ke arah gelas susu tak jauh darinya. Dia ingin mendekat untuk memastikan hasilnya, tapi dia memiliki beberapa keraguan. Misalnya mungkin saja waktunya belum cukup pas atau alasan yang paling membuat hatinya gundah adalah sebuah ketakutan. Apakah hasilnya seperti yang dia dan suaminya harapkan, atau justru sebaliknya, sebuah kekecewaan.


"Apakah sudah waktunya aku melihat?" Dia berbicara dengan dirinya sendiri.


Beberapa detik kemudian dia menggelengkan kepalanya tidak setuju. Bagaimana bila waktunya belum pas?


"Ah... misalnya... hasilnya sudah keliatan, bagaimana jika hasilnya mengecewakan?" Azira diterpa keraguan.


Dia takut tapi juga penasaran ingin mengetahui apa hasilnya. Hanya saja dia tidak mau bertindak karena mengantisipasi rasa takut di dalam hatinya.

__ADS_1


"Tapi... Kalau dipikir-pikir bulan ini aku belum datang bulan. Aku kira terlambat beberapa hari karena aku juga tahu sedang banyak pikiran selama waktu ini. Tapi ini sudah akhir bulan, jaraknya cukup jauh dari jadwal datang bulan ku yang normal. Mungkinkah..." Azira memegang kepalanya gugup.


Melirik wadah gelas susu itu untuk yang kesekian kalinya, dia memejamkan matanya membuat keputusan yang menurutnya paling tepat.


"Ah... mungkin waktunya belum cukup. Aku...aku akan mengeceknya setelah selesai sholat malam aja biar hasilnya lebih mendukung." Kepalanya mengangguk setuju seperti ayam mematuk nasi.


"Yah...aku harus segera sholat." Dia berjalan ke pintu, memegang gagang pintu, dia tidak segera mendorongnya tapi ragu-ragu melihat ke belakang. Tepatnya menatap kumpulan tespek di dalam wadah.


Menarik nafas panjang, di dalam hati dia bersenandung lembut.

__ADS_1


Ya Allah, berikan lah kesempatan kepadaku dan mas Kenzie untuk memiliki amanah berharga dari-Mu. Aku berjanji, aku sungguh berjanji akan menjadi Ibu yang baik untuk anak-anak kami, melimpahkan semua kasih sayang dan cinta yang tak sempat ku rasakan dulu kepada anak-anak kami. Aku berjanji anak-anak kami tidak akan pernah merasakan rasa sakit yang kurasakan dulu, aku akan memastikan mereka hidup dalam kasih sayang yang melimpah tanpa ada ketidakadilan di antara mereka. Kan ku jadikan mereka adalah salah satu anak yang hidup bahagia di dunia ini bersama keluarganya. Aku berjanji atas nama-Mu. Batin Azira melambungkan sebuah doa dari dalam hatinya.


Mungkin karena penderitaan di masa lalu membuat Azira menumbuhkan harapan tulus ini di dalam hatinya. Karena sejatinya dia sangat merindukan kasih sayang orang tuanya.


Mungkin Ibu ataupun keluarga yang lain tidak tahu betapa cemburu yang dia rasakan ketika melihat anak-anak sebayanya dulu hidup bahagia bersama orang tua yang lengkap sementara dirinya dicampakkan.


Azira cemburu, sungguh sangat cemburu. Tapi dia tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan karena dia tahu bahkan sekalipun dia menceritakan apa yang dia rasakan kepada Ibu, kecemburuan di dalam hatinya tidak akan pernah sirna karena Ibu tidak mampu mengembalikan Ayah ke dalam hidup mereka dan Ayah pun tak akan sudi masuk ke dalam kehidupan mereka.


Azira tahu. Di usianya yang begitu muda dia mengerti hal ini dengan baik. Karena itulah dia terbiasa menutup semuanya di dalam hati sembari berjanji, bila dia memiliki kesempatan untuk mempunyai anak, maka dia akan berusaha menjaga anak-anaknya agar tumbuh dalam kebahagiaan yang tak sempat dia rasakan.

__ADS_1


__ADS_2