
Tapi Azira juga tidak bisa disalahkan dalam masalah ini. Sejauh apapun jarak yang terbentang antara dia dan ayahnya takkan pernah bisa menepis hubungan darah mereka. Tidakkah orang-orang mengatakan bahwa darah lebih kental daripada air?
Justru karena darah lebih kental dari air setidaknya Azira dapat perlakuan yang lebih baik dari ayahnya. Namun sungguh mengecewakan. Entah itu dulu ataupun sekarang, tidak ada bedanya. Di mata Ayah dia masih tidak berarti apa-apa. Dia tidak sebaik Humairah. Jujur tidak apa-apa, rasanya agak kesal saja bertemu orang tua yang begitu aneh.
"Apa yang kamu rasakan normal, memang begitulah seharusnya. Aku tidak tahu harus berkomentar apa melihat sikap ayah. Nyatanya juga aku sangat marah karena Ayah terlalu bias kepada kamu. Bila ayah bukan siapa-siapa kamu, maka mungkin aku tadi akan kehilangan kendali dan memukulnya. Siapa yang meminta dia bersikap tidak adil kepada istriku terkasih? Tapi tidak apa-apa istriku. Marah boleh saja, itu normal kamu merasa tidak nyaman. Kamu memilih aku di sisi kamu. Dengan aku di sisi kamu tidak akan ada orang yang akan menyakiti kamu. Kalaupun ada, maka mereka akan berhadapan langsung dengan ku. Suami kamu ini sangat hebat lho." Kenzie sempat-sempatnya membanggakan diri sendiri.
Tapi apa yang Kenzie katakan bukanlah suatu kebohongan. Dengan dia ada di sini tidak akan ada orang yang mau menyakiti Azira. Orang-orang yang kehilangan kepala itu akan berpikir dua kali menyakiti Azira. Sebab yang mereka hadapi bukan hanya Azira, tapi sebuah identitas besar. Bagi beberapa orang Kenzie bukanlah orang yang mudah diajak bicara apalagi sampai di singgung?
"Suamiku memang hebat. Um." Azira tersenyum geli.
Suaminya mulai narsis lagi. Namun meskipun suaminya narsis, Azira tetap senang mendengarnya. Karena faktanya Kenzie memang sehebat itu. Dia tidak melebih-lebihkan.
"Lalu bagaimana dengan mas Kenzie sendiri. Apa yang mas Kenzie rasakan selama pertengkaran tadi?" Kini Azira berbalik tanya.
Biasanya laki-laki memiliki sedikit emosi, artinya mereka tidak mudah mengeluarkan banyak emosi karena mereka tidak se sensitif itu. Apalagi berbicara tentang suaminya yang memang minim ekspresi dan emosi, dia tidak berharap terlalu banyak dalam hal ini. Hanya suka berbicara saja dan murni yang ingin tahu.
"Apa yang kurasakan selama pertengkaran tadi?" Kenzie berkedip ringan membayangkan kejadian beberapa saat yang lalu.
Perasaan itu masih begitu nyata di dalam hati. Dan sampai sekarang dia masih belum bisa melupakan semua emosi-emosi itu.
"Apa yang aku rasakan saat itu adalah ketakutan. Aku takut terhadap banyak hal. Sejak orang-orang ini datang aku sudah merasa tidak nyaman. Sepanjang berbicara dengan orang-orang ini aku berusaha tidak melepaskan fokus ku kepadamu. Sampai akhirnya kejadian itu benar-benar terjadi. Kamu hampir saja..... Kamu hampir saja celaka di bawah tanganku. Aku sangat ketakutan. Badanku langsung gemetar. Jika aku terlambat sedikit saja menghentikan Humairah melakukan sesuatu kepadamu, maka aku bisa saja kehilangan kamu dan bayi kita. Azira, aku adalah laki-laki yang egois. Aku tidak masalah kehilangan bayi kita selama kamu tidak pergi meninggalkanku. Faktanya kamu jauh lebih penting dari bayi ini. Jika harus memilih, aku lebih suka memilih kamu tetap tinggal bersamaku daripada bayi ini tinggal. Kamu jauh lebih berharga daripada mereka. Aku tidak ingin terjadi apa-apa kepada kamu. Aku bisa gila bila benar-benar kehilangan kamu. Aku tidak sanggup Azira. Aku tidak bisa memikirkan hidup tanpa kamu." Dia menceritakan semua ketakutan yang dirasakan selama pertengkaran tadi.
Apa yang dia katakan sama sekali tak terbayangkan oleh Azira. Dia merasa sakit juga terharu setelah mendengarnya. Dirinya tidak tahu Kenzie bahkan berpikir sampai sejauh itu. Dia rela melepaskan anak ini selama Azira bertahan. Dia rela anak ini pergi selama Azira tetap hidup. Untuk alasan ini Azira merasakan dua emosi di dalam hatinya. Antara suka dan duka, hanya Allah yang tahu betapa rumit apa yang ia rasakan sekarang.
Namun lebih dari itu semua Azira merasa sangat bersyukur dipertemukan dengan laki-laki yang sangat menghargai dan mencintainya. Laki-laki yang senantiasa memperlakukannya dengan sangat baik hingga membuat iri para wanita diluar sana. Azira tidak menampik bahwa dia sangat senang mendengarnya, tapi di sisi lain dia juga merasa sedih mendengar penolakan Kenzie terhadap anak mereka. Ah, seharusnya bukan penolakan. Tapi tetap saja Azira sedih memikirkannya.
"Ini adalah bayi kita, mas. Dia adalah buah hati kita, di dalamnya ada darah kamu dan darahku, aku tidak rela melepaskannya pergi. Jika harus memilih siapa yang bertahan di dunia ini, maka aku akan memilih anak kita. Dia harus hidup dan menjalani kehidupan dengan baik, dia harus melihat betapa indahnya dunia ini. Jangan seperti aku yang melalui kehidupan sengsara dari kecil."
__ADS_1
Kenzie langsung mengeratkan pelukannya kepada Azira.
"Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Bila kamu sampai berpikir begitu, maka aku tidak memberikan cinta kepada anak kita. Azira, aku mohon jangan terlalu egois. Coba pikirkan aku. Jika kamu pergi maka semuanya akan kembali di titik di mana aku belum mengenal kamu, dan mungkin aku akan jauh lebih merosot lagi." Dia sangat tidak suka mendengar Azira mengatakan itu.
Azira langsung tertawa kecil. Ini hanya berandaian saja, tidak benar-benar terjadi. Tapi suaminya bereaksi terlalu keras yang menunjukkan bahwa dia benar-benar takut dan memikirkan apa yang dia katakan dengan serius. Azira tidak tahu harus tertawa atau menangis melihatnya seperti ini. Laki-laki yang biasanya terlihat tangguh dan berwibawa di depan banyak orang, nyatanya memiliki sikap yang pemarah dan manja di depannya.
Hush, ini adalah rahasia kecil di antara dia dan suaminya. Orang-orang tidak boleh tahu. Faktanya tanpa Azira katakan pun semakin besar orang di keluarga ini sudah mengetahui betapa manjanya Kenzie kepadanya.
"Baiklah...baiklah...baiklah, aku hanya bercanda saja, mas." Meskipun faktanya itu benar.
"Kamu harus bercanda kalau masalah ini. Jangan sampai kamu memiliki pemikiran seperti ini di dalam kepala kamu!" Tegas Kenzie kepada Azira.
"Dan jika suatu hari nanti kamu benar-benar memilih untuk bertahan di dunia ini sementara kamu memilih pergi meninggalkan aku, maka yakinlah kehidupan anak ini di sini tidak akan bahagia. Aku akan menyiksanya, memukulinya, dan tidak memberikan cinta kepadanya sehingga dia melalui semuanya penderitaan!" Ancam Kenzie dengan nada serius. Apa yang dia katakan ini bukanlah ancaman semata melainkan sebuah sumpah yang akan dia lakukan bila hari itu benar-benar terjadi.
Kejam, kan?
Demi kebahagiaannya dia akan bersikap kejam bahkan kepada anaknya sendiri. Bukankah dia pernah mengatakan kalau dia adalah laki-laki yang egois?
"Ya Allah, mas!"
"Makanya kamu harus bertahan jika kamu tidak ingin anak itu kenapa-napa. Jadilah ibu yang kuat, maka dengan begitu aku tidak akan melakukan hal yang macam-macam kepada anak kita." Yang terbaik dari semuanya adalah Azira dan anaknya tetap bertahan.
Dia memang rela melepaskan anak ini demi Azira bertahan. Tapi lebih dari semua itu dia tetap berharap bila istri dan anaknya tetap bertahan sehingga mereka menjadi keluarga kecil yang lengkap.
"Tanpa mas Kenzie meminta pun aku akan tetap bertahan. Aku juga ingin melihat anak kita lahir dan tumbuh besar menjadi anak yang baik." Kata Azira keras kepala.
Sempat kesal dengan ancaman Kenzie sebelumnya.
__ADS_1
"Bagus jika kamu mengerti." Kata Kenzie acuh tak acuh dalam suasana hati yang baik.
Azira memutar bola matanya malas. Lalu dia teringat dengan keluarga ibunya yang baru saja datang dari kampung. Dia tidak sempat berbicara dengan mereka dan langsung dibawa pergi ke sini oleh suaminya.
"Mas, aku belum ngomong sama keluarga ibuku." Azira baru ingat dan dia merasa cemas.
Dia takut paman dan yang lainnya pulang ke kampung.
Kenzie memeluk pinggang Azira agar jangan gelisah.
"Mereka masih ada di rumah ini. Abah dan Umi sudah menyiapkan kamar tamu untuk mereka. Seperti yang Abah dan Umi bilang, kamu tidak diizinkan keluar apalagi berbicara dengan mereka sebelum kamu beristirahat." Tegas Kenzie segera menepis pikiran Azira jauh-jauh.
Azira cemberut.
"Ngomong-ngomong, dari mana mereka tahu tentang alamat rumah kita?" Bahkan bisa masuk ke sini, Azra yakin mereka memegang kartu undangan sehingga bisa masuk. Kalau mereka tidak memegangnya, para pelayan tidak mungkin mengizinkan mereka masuk ke dalam.
"Aku yang memberitahu mereka." Akui Kenzie kepada istrinya.
Azira sudah menebaknya. Hanya saja dia bingung dari mana suaminya mendapatkan alamat keluarganya di kampung. Karena dia saja yang pernah lahir dan sempat tumbuh di sana sudah tidak ingat lagi jalan menuju ke sana.
"Coba ceritakan aku apa yang terjadi. Pasti ada cerita di dalamnya." Azira mau mendengarkan.
Kenzie tersenyum geli. Tangan besarnya mulai memijat pinggang Azira yang sering pegal, memberikan rasa kenyamanan untuk istrinya yang telah bekerja keras hari ini.
"Apakah kamu ingat kita pernah ke butik bersama-sama denganmu Mona dan Sasa beberapa bulan yang lalu, saat itu ada pelayan toko yang selalu memperhatikan kamu?"
Azira masih mengingatnya. Dan kebetulan dia juga sempat melihat pelayan toko ini di sini- ah, pantas saja dia merasa familiar saat melihat wanita itu tadi. Ternyata dia adalah pelayan toko waktu itu. Tapi jika dilihat-lihat wanita itu datang bersama keluarga ibunya. Mungkinkah?
__ADS_1
Seolah bisa melihat isi pikiran Azira, dia mengangguk pelan.
"Benar, aku berhasil menemukan keluarga ibu lewat dia. Sejujurnya aku penasaran kenapa wanita itu terus melihat ke arah kamu. Karena menurutku dia tidak memiliki perasaan jahat kepadamu. Cukup penasaran, aku iseng meminta sektretaris ku untuk menyelidiki dan hasilnya, aku benar-benar menemukan mereka. Dan aku tahu alasan kenapa wanita itu terus melihat kamu. Ternyata ketika dia melihat kamu, dia merasa kamu sangat mirip dengan bibinya yang telah lama hilang."