
Rasanya sungguh aneh. Saat menghadapi seorang pasien, seberapa parah penyakit mereka, dia tidak akan bereaksi seburuk ini dan mampu menenangkan dirinya. Tapi di depan istrinya, sangat sulit mempertahankan ketenangannya. Melihat wajah pucat istrinya dan mendengarkan semua keluhan-keluhan istrinya, Kenzie merasa tertekan. Dia berusaha sebaik mungkin membantu istrinya mulai dari memberi obat hingga memijat bagian-bagian tubuhnya yang tidak nyaman untuk mengurangi ketidaknyamanan di tubuh istrinya.
"Mau muntah, mas, perut aku nggak nyaman banget." Jawab Azira lemas.
Mabuk perjalanan sangat menyiksa dirinya sekarang. Badannya lemas, kepalanya pusing, dan perutnya mual ingin muntah terus. Tapi untuk alasan yang tidak diketahui dia tidak bisa muntah. Ini sangat menyiksa.
"Mau muntah sekarang?" Kenzie dengan sigap mengambil kantong kresek hitam dari dalam tasnya.
Azira menggelengkan kepalanya sambil mendorong kantong kresek itu menjauh darinya.
"Aku nggak bisa muntah...mual.." tolak Azira.
Kenzie frustasi,"Rasanya masih nggak nyaman, ya, setelah minum obat? Efeknya belum terasa?"
Beberapa menit yang lalu dia memberikan Azira obat mabuk. Seharusnya efeknya sudah mulai kelihatan sekarang. Tapi situasi Azira tidak kunjung membaik. Kenzie cemas. Bertanya-tanya mungkinkah dosisnya kurang atau mungkin fisik Azira memang tidak cocok untuk obat ini. Namun menurutnya hampir semua orang sangat menyukai obat ini. Rata-rata orang yang melakukan perjalanan jauh seringkali meminum obat ini untuk mengatasi mabuk perjalanan. Katanya sih paling ampuh dan ramah. Dan sebagai seorang dokter setelah membaca dosis obat tersebut, Kenzie merasa obat ini aman-aman saja dan bagus untuk dikonsumsi saat melakukan perjalanan.
Azira berkedip,"Aku merasa sedikit lebih baik... Tapi pusing ku nggak hilang dan mual di dalam perutku masih ada."
Agak mendingan tapi masih tidak terasa nyaman.
Kenzie langsung menghela nafas lega. Itu artinya obat berjalan dengan baik dan mungkin beberapa waktu lagi istrinya akan merasa lebih nyaman.
"Syukurlah... tahan sakitnya sebentar lagi. Tidurlah di sini. Ketika bangun kita pasti sudah sampai di puncak."
Azira mengangguk lemas. Menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang kuat dan lebar. Sangat nyaman.
"Tapi ngomong-ngomong sayang, dilihat dari gejala yang kamu bilang tadi kamu kayaknya lagi hamil. Apa aku mainnya terlalu keras?" Bisik suaminya bercanda.
Azira membuka matanya melirik dagu di atasnya.
"Jangan bercanda...mas, kita baru..baru aja memulai, mana mungkin aku hamil secepat itu." Bantah Azira malu.
Tapi gara-gara suaminya dia jadi tertawa. Berpikir kalau suaminya sangat aneh. Bisa-bisanya Kenzie berpikir ke arah itu. Faktanya mereka baru bersama beberapa hari dan logikanya Azra tidak akan secepat itu hamil. Kalau lebih dari seminggu sih tidak apa-apa, mungkin ada harapan. Tapi ini baru beberapa hari yang bisa dihitung dengan jari, jadi kemungkinan untuk hamil mungkin agak tidak bisa dijelaskan.
"Akhirnya kamu tertawa. Aku jadi lega.." Dia sengaja membuat candaan agar Azira tertawa.
Kalau Azira bisa tertawa berarti kondisinya jauh lebih baik.
Azira malu, tak bisa dipungkiri hatinya merasa hangat. Di dunia ini selain Ibu yang akan selalu menemani ketika sakit, ternyata Allah juga menyiapkan seorang laki-laki hebat untuk sisa hidupnya di dunia ini. Azira sangat berterima kasih, sungguh, dia sungguh ingin berterima kasih kepada nikmat yang Allah berikan kepadanya. Dulu dirinya tidak percaya kata-kata seperti ini, bahwa setelah hujan pasti akan muncul pelangi. Artinya setelah kesulitan pasti akan muncul kebahagiaan, dulu dia meragukan ini. Tapi setelah bertemu dengan Kenzie, ya akhirnya tahu makna kata-kata ini dan dia merupakan salah satu orang di dunia ini yang berkesempatan membuktikan bahwa kata-kata ini memang benar adanya.
"Hem, terima kasih, mas. Aku akui perjalanan ini menyiksaku, tapi karena dilalui bersama mas Kenzie, aku merasa jauh lebih baik." Mungkin karena dalam situasi yang sangat rapuh, Azira dengan mudahnya mengakui suasana hatinya.
Kenzie tersenyum lebar. Tangan kirinya memeluk erat pinggang ramping Azira, menggeser Azra agar semakin dekat dengannya hingga masuk sepenuhnya ke dalam pelukan.
"Tidak ada ucapan terima kasih di antara suami istri, aku dan kamu harus terbiasa dengan ini." Peringat Kenzie serius kepada istrinya.
Azira memiringkan kepalanya menatap wajah tampan suaminya. Dari posisinya dia hanya bisa melihat wajah kiri suaminya.
"Kamu sangat baik, mas.." kata Azira memuji.
Kenzie menurunkan kepalanya, tangan besarnya mengusap keringat dingin di wajah istrinya. Lalu turun menyentuh sudut basah di mata istrinya.
"Lain kali kalau kita keluar rumah usahakan jangan menggunakan make up, atau gunakan saja masker untuk menutupinya."
Meskipun masih pusing Azira masih bisa berpikir jernih dan mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia merasa malu. Tangannya menyentuh pipinya. Mungkinkah dia terlihat jelek dengan lapisan make up?
Atau dia tidak cocok menggunakan make up dan membuat Kenzie malu saat membawanya keluar?
__ADS_1
"Aku... Apa aku terlihat jelek menggunakan make up? Ini memalukan."
Jika dia tahu hasilnya akan seperti ini maka mungkin dia tidak akan menggunakan make up. Sejujurnya dia hanya menggunakan make up tipis. Sesuai dengan kebiasaan sehari-harinya sebelum menikah. Tapi ketika Ayana, Sasa dan Mona melihat wajahnya, mereka langsung memprotes dan menyeret Azira ke depan cermin. Mereka bilang Azira memang sudah cantik tanpa menggunakan make up. Namun kalau menambahkan make up, Azira akan memiliki sentuhan yang berbeda. Bukan glamor, tapi nilai keanggunan sebab bentuk wajah Azira saja sudah bagus. Jadi mereka bertiga bekerja sama memberikan make up dan menghiasi wajah Azira agar tampil lebih cantik.
"Bukan begitu... Kamu cantik, kamu sangat cantik. Dengan penampilan seperti ini orang-orang pasti suka melihat kamu. Tapi aku nggak suka melihat mereka melihat kamu. Bagiku, kamu adalah istriku dan kamu adalah milikku. Dan sebagai milikku, seharusnya hanya akulah yang dapat melihat kelebihan ini. Aku tidak rela orang lain melihat apa yang aku lihat dari dirimu, jadi lain kali kalau keluar gunakan masker. Kalau berdandan di rumah sih tidak apa-apa, kamu bisa tampil semau yang kamu mau dan tanpa menggunakan masker karena aku suka melihatnya. Tapi kalau di luar, lakukan apa yang aku inginkan, okay?" Jelas Kenzie menjelaskan tanpa terburu-buru.
Dia memiliki sisi posesif terhadap apa yang dia miliki. Tidak masalah bila orang lain memiliki barang yang sama dengan miliknya. Dia tidak paranoid untuk hal sepele seperti itu. Yang menjadi masalah adalah orang lain menatap barang-barangnya. Apalagi bila menyangkut istrinya. Kenzie sangat tidak suka. Dan bahkan mungkin memiliki titik di mana dia akan membenci orang-orang itu. Mau bagaimana lagi, rasa cemburunya tidak bisa dikontrol.
"Okay, mas... Aku akan menggunakan masker masker lain kali. Aku kira mas Kenzie tidak menyukainya... hehehe...." Jawab Azira malu-malu.
Tidak ada yang lebih memuaskan dari jawaban pasti istrinya.
"Baguslah, aku senang kamu mau mendengarnya." Katanya sembari merendahkan kepalanya mengecup lembut kening istrinya.
Dia mengecupnya berulang kali sebelum benar-benar berhenti dan memeluk istrinya erat.
"Ayo tidur, kita akan sampai setelah bangun nanti." Bisik Kenzie membujuk istrinya untuk kembali beristirahat.
Azira tersenyum. Dia sungguh sangat bahagia. Dari tadi hatinya seolah dihujani air madu, manis dan hangat pada saat yang sama, dirinya tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Ya Allah suaminya sangat manis. Dia agak terkejut ketika mengetahui karakter suaminya ternyata tidak seburuk tampilan dingin itu. Suaminya adalah orang yang romantis, terkadang bisa manja juga, dan yang pasti juga narsis. Bagian-bagian ini membuat Azira terperangah, bagaikan membuka kotak Pandora, dirinya diliputi banyak kejutan yang mengandung nektar manis.
"Hem.." di dalam pelukan suaminya, Azira berjuang menghirup sepuasnya wangi khas Kenzie.
Menyegarkan, dirinya seolah berada di dalam hutan pinus.
"Azira." Panggil Kenzie.
Azira membuka matanya tak bergerak.
"Kenapa, mas?" Matanya kembali terpejam saat merasakan kecupan singkat Kenzie di atas puncak kepalanya.
"Apakah kamu masih merasa tidak nyaman?"
"Sudah merasa baikan." Jawab Azira dengan suara terendam.
Kenzie lega.
"Syukurlah. Ayo tidur. Istirahat yang baik agar kamu pulih lebih cepat. Dan ketika kamu bangun nanti, kita sudah sampai di puncak." Ini ketiga kalinya Kenzie meminta Azira untuk tidur.
Azira tersenyum geli. Suaminya sudah berulang kali memintanya untuk tidur. Tapi berulang kali pula suaminya mengajaknya berbicara sehingga istirahatnya tertunda. Azira tidak marah, tapi merasa tidak berdaya juga. Karena suaminya ternyata bisa cerewet juga.
Ini adalah kejutan untuknya.
"Hem, selamat siang, mas."
Kenzie membalas,"Selamat siang." Seraya mengeratkan pelukannya.
Mereka berdua tidak tahu jika selama ini interaksi mereka telah dipantau oleh Mona dan Sasa. Awalnya mereka ingin menghampiri Azira saat mengetahui dia tidak nyaman. Tapi mereka langsung mengurungkan niat ketika melihat perhatian dengan manis Kenzie kepada Azira. Mereka kira lama-lama Kenzie akan meminta bantuan kepada mereka berdua, tapi yang membuat mereka heran adalah sampai sekarang Kenzie masih tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Azira. Mereka merasa malu sendiri melihat betapa lembut Kenzie memperlakukan Azira.
"Kak Kenzie dan kak Azira romantis banget, beda sama kak Ayana dan kak Fathir." Dengan kosong Mona dan Sasa mengalihkan pandangan mereka ke arah kursi pasangan yang lain.
Tidak seperti Kenzie dan Azira yang mesra, pasangan ini justru sangat memilukan. Entah sejak kapan mereka berdua tidur, mirisnya lagi mereka tidurnya jauhan, tidak seperti pasangan Kenzie dan Azira yang berpelukan. Untuk sesaat mereka tidak tahu harus berkata apa.
"Mereka memang agak lain, mengapa aku merasa kalau kak Ayana tidur seperti babi..." mulut Sasa berkedut menatapnya.
Mona tertawa kering. Memang tidak ada harapan dari kakaknya yang galak ini. Apalagi tidurnya yang lelap tak tergoyahkan seperti babi mati, Mona sudah lama angkat tangan
"Yah, memang agak lain. Menyebutnya babi juga tidak apa-apa..."
__ADS_1
...*****...
Pukul 03.00 sore mereka akhirnya tiba di puncak. Tidak seperti awal berangkat, semangat orang-orang sudah lama menguap kita turun dari bus. Mereka kelelahan ditambah lagi punggung dan pinggang terasa pegal-pegal karena terlalu lama duduk di kursi.
"Alhamdulillah, sampai juga. Masya Allah, udara puncak sejuk dan dingin. Hufh... segarnya..." ucap Mona dramatis sembari merentangkan tangannya merasakan dan mencoba meresapi setiap lambaian udara manis yang menerpa wajahnya.
Sekarang lagi musim panas. Dan pergi liburan ke puncak adalah pilihan yang bagus. Sudah lama dia ingin pergi ke sini. Tapi dia belum mendapatkan kesempatan. Selain karena sibuk kuliah, orang tua juga pasti tidak akan pernah mengizinkan. Kecuali dia pergi bersama keluarga seperti halnya hari ini.
"Mon, jaga image dong. Ingat misi kita ke sini. Liburan sambil cari jodoh!" Sasa menepuk pundak Mona agar segera menjaga sikapnya.
Di sini mereka harus tampil cantik dan manis untuk menarik perhatian mangsa yang akan mereka buru.
"Ingat, ingat, ingat, ingat, ingat! Aku nggak bakal lupa misi kita!" Mona langsung memperbaiki dirinya dan bergabung dengan Sasa yang telah memasang mood gadis manis.
Sementara itu Kenzie dan Azira baru saja turun dari bus. Sejak memasuki kawasan puncak, mata Azira tidak pernah berhenti menatap keluar jendela bus. Dia sangat bersemangat sampai-sampai lupa dengan pusing kepalanya. Terutama saat menghirup udara sejuk khas puncak, dia langsung mendesah nyaman. Ini adalah pengalaman yang sangat berkesan untuknya pribadi. Pertama kalinya liburan ke tempat sejauh ini bersama dengan orang yang dicintai, ya Allah, hatinya terasa begitu bahagia.
"Suka?" Bisik Kenzie di sebelah.
Azira mengangguk cepat.
Kenzie tertawa puas.
"Kapan-kapan kalau ada waktu luang kita akan liburan ke sini lagi. Mau?"
Azira semakin bersemangat,"mau, mau banget, mas! Kapan-kapan kita ke sini lagi, yah. Soalnya aku suka dengan suasana di sini. Udaranya sejuk, tempatnya indah, dan banyak pepohonan kayak suasana hutan. Aku suka."
Kenzie terkekeh kecil. Tangan besarnya mengusap puncak kepala istrinya penuh kasih.
"Dimengerti. Ayo pergi, kamu pasti bakal suka sama tenda kita. Aku sengaja pilih yang dekat sama danau biar kamu bisa lihat danau dari dalam tenda."
Di sini orang tidak perlu membawa tenda karena pihak penyelenggara sudah menyiapkan semuanya. Mulai dari tenda, tempat tidur, tv, AC dan kamar mandi pribadi di dalam ruangan, semuanya sudah tersedia. Makanya biaya menginap di sini lumayan mahal, untuk 1 tenda dengan akses terbaik yang dimiliki oleh Kenzie, sewanya 3 juta pertiga hari. Berbeda dengan tenda-tenda yang agak jauh dari danau, biaya sewanya 2 juta pertiga hari yang lebih irit 1 juta.
Meskipun harganya mahal tapi semua fasilitasnya memuaskan, semua orang tidak keberatan mengeluarkan sedikit uang untuk liburan ini.
"Ini tenda kita, mas?"
Azira tidak berhenti melihat kesana kemari sejak masuk ke wilayah puncak. Mulutnya berdecak kagum melihat deretan tenda-tenda mewah yang tersebar luas sejauh mata memandang. Dia terlihat seperti orang desa yang belum pernah melihat kemewahan.
"Bukan, tapi yang ini." Kenzie menunjuk sebuah tenda putih yang berbatasan langsung dengan danau.
View yang didapatkan jauh lebih indah dari tenda-tenda yang lain.
"Yang ini! Ya Allah, indah banget, mas!" Azira berlari kecil menghampiri tenda itu.
Di samping pintu tenda ada sebuah kartu ucapan selamat datang yang khusus ditulis untuk Kenzie dan Azira, selaku penyewa tenda.
Azira tersenyum. Tangannya menyentuh kartu itu sayang dan menoleh ke belakang untuk ditunjukkan kepada suaminya.
"Ini cukup bagus." Kenzie memuji.
Azira mengangguk setuju.
"Ini sangat bagus." Tekan Azira kepada suaminya.
Kenzie menggelengkan kepalanya tak berdaya.
"Baiklah, ayo masuk."
__ADS_1
Kenzie mengambil tangan Azira dan membawanya masuk ke dalam tenda. Di dalam tenda Azira sekali lagi dibuat melongo kaget. Karena setahunnya yang dia lihat di tv-tv tenda tidak seperti ini. Tidak ada TV di dalam, tidak ada AC maupun kamar mandi pribadi, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah tempat tidur. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pergi berkemah juga bisa semewah dan senyaman di rumah. Di tempat ini hanya satu yang kurang, yaitu dapur.