Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 23.1


__ADS_3

Azira telah memperhatikan ada sesuatu yang salah dengan suaminya. Dia menyadari hal ini semenjak bertemu dengan Al. Mungkin cemburu?


Azira optimis suaminya memang cemburu.


Kalau tidak kenapa suaminya lebih banyak diam daripada berbicara- yah, memang karakter Kenzie jarang bicara tapi setelah benih-benih cinta tumbuh, semua orang menyadari di rumah kalau Kenzie tiba-tiba jadi banyak bicara dan aktif. Walaupun yah... tidak sebanyak orang lain, tapi perubahannya sangat besar dibandingkan sebelum bertemu dengan Azira.


Azira sejujurnya tidak tahan melihat suaminya bersikap seperti ini. Dia ingin membujuk, namun ada suara di dalam hatinya yang mencegahnya melakukan itu. Jangan katakan apa-apa kepada Kenzie, biarkan dia tenggelam dalam kecemburuan yang berlarut sama seperti yang Azira rasakan beberapa waktu lalu.


"Lagian siapa suruh jahatin aku kemarin, sekarang Allah balas, kan?" Dumel Azira dendam.


Aneh, biasanya dia enggak seperti ini sama Kenzie, tapi baru-baru ini perasaannya agak sensitif. Kalau cemburu ya jadi cemburu banget sampai dipikirin dengan berbagai macam pikiran negatif yang menyiksa. Kalau bahagia ya bahagia banget, bawaannya mau senyum terus. Azira tahu kalau dia sedikit sensitif tapi tidak terlalu memikirkannya.


"Ya udah, kalau enggak mau bicara ya aku turuti, mas." Gumam Azira sambil cekikikan enggak jelas.


Sasa dan Umi menatap Azira aneh. Mereka saling memandang, kompak menggelengkan kepala tidak berniat menegur.


"Azira, kamu belum selesai?" Wajah datar Kenzie muncul dari sisi pintu dapur.

__ADS_1


Wajahnya masih datar yang biasanya, sekilas tak ada yang berubah. Tapi bila diperhatikan sorot mata Kenzie agak suram yang menunjukkan jika dirinya saat ini dalam suasana yang buruk.


Azira dan yang lainnya kompak menoleh ke arah pintu. Kebetulan mereka baru saja selesai beres-beres dapur dan akan keluar.


"Sudah, mas." Azira tersenyum kecil berpura-pura tidak melihat kesuraman di mata suaminya.


Kenzie tidak sabar.


"Ayo pergi." Katanya tidak sabar.


Azira mengangguk. Dia mengelap tangannya yang basah menggunakan kain lap yang dipegang Sasa.


Semua laki-laki itu hampir sama kalau marah ke istrinya. Rata-rata mereka melampiaskannya dengan hubungan ranjang. Umi tidak setuju karena dia khawatir bila menantunya sedang mengandung. Dirinya tidak mau terjadi sesuatu yang tidak-tidak kepada calon cucunya gara-gara kecemburuan Kenzie.


Kenzie mengerti. Telinganya terasa panas. Tapi di depan Umi dirinya berusaha bersikap sangat tenang seolah tidak mengerti apa Umi bicarakan.


"Kak Azira mau langsung naik ke kamar?" Sasa ragu-ragu bertanya.

__ADS_1


Dia meremas kuat tangannya yang lembab karena belum terlalu kering setelah menyentuh air dingin.


"Iya, kenapa dek?" Melihat tingkah beku suaminya, dia mungkin tidak bisa bersantai dengan Sasa dan Mona malam ini.


Sasa menggelengkan kepalanya. Kalau dipikir-pikir dia bisa membicarakannya dengan Azira besok.


"Enggak apa-apa, kak. Aku cuma iseng nanya aja."


Azira tidak melihat kegelisahan di dalam mata Sasa dan menerima begitu saja alasan klise adik iparnya itu.


"Ayo Azira, aku sudah mengantuk." Desak Kenzie dari arah pintu.


Azira menghela nafas panjang. Ini baru saja jam 9 malam! Bagaimana mungkin dia tidur sepagi ini?


Di tambah lagi dia sudah banyak tidur hari ini sehingga dia belum mengantuk!


"Iya iya, mas. Sasa, Umi, aku sama mas Kenzie ke kamar dulu, yah."

__ADS_1


Umi dan Sasa mengangguk. Mereka membiarkan Azira pergi di bawah desakan tak sabar dari Kenzie.


__ADS_2