Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 5.5


__ADS_3

Halaman belakang benar-benar berbeda dari yang Azira bayangkan. Di sini tidak terlalu ditumbuhi banyak bunga yang seringkali ditampilkan di rumah-rumah besar lainnya, melainkan tempat ini dipenuhi dengan berbagai macam pohon buah-buahan. Ada buah kelengkeng yang sudah berbuah lebat, pohon jeruk yang belum matang buahnya, pohon delima yang baru berkembang, pohon mangga yang juga baru berkembang, dan pohon beberapa buah yang tidak dikenali oleh Azira.


Akan tetapi di antara semua pohon buah-buahan ini, hal yang paling menarik perhatian Azira adalah pohon buah kelengkeng yang sudah lebat berbuah. Wangi buahnya semerbak, langsung menghantam indra penciuman Azira. Karena lahir dari keluarga yang sangat miskin Azira jarang memakan buah yang mahal. Kemampuan ibunya hanya terbatas untuk membeli buah mangga, buah jambu, semangka dan yang paling mahal adalah buah kelengkeng. Buah ini sangat membekas di ingatannya karena di pemukiman kumuh dulu udah sangat suka mengintip para anak-anak memegang buah ini ketika sedang musim buah.


Dengan keuangan Ibu, dia hanya bisa melakukan sesekali dan itu pun Ibu berpura-pura tidak suka, menyerahkan semua buah kepada Azira untuk dimakan sendirian.


"Kenzie suka bertani. Semua pohon buah-buahan yang ada di taman ini ditanam oleh Kenzie. Katanya lebih sehat menanam sendiri daripada membeli buah di luar sana. Jika dia tidak masuk kedokteran dulu semua orang hampir mengira dia akan masuk sekolah pertanian karena dia suka sekali bertanam." Suara tua Abah menghamburkan lamunan Azira tentang masa lalu.


Azira tersadar, kedua tangannya saling meremat karena gugup, ragu-ragu kakinya melangkah menghampiri Abah yang kini tengah terduduk di sebuah kursi tunggu khas milik taman yang Azira lihat di luar sana.


"Mas... Mas Kenzie bekerja sebagai dokter lalu siapa yang akan merawat semua tanaman ini di saat dia sedang bekerja?" Azira tahu dari pembantu di rumah Ayah bahwa Kenzie adalah seorang dokter bedah.


"Aku dan Umi terkadang mengurus halaman ini, tapi sekarang sudah ada kamu di rumah ini jadi tugas ini secara alami akan kuserahkan kepadamu. Apakah kamu bersedia melakukannya?" Kata Abah seraya mengalihkan pandangan tuanya menatap Azira.


Punggung Azira langsung menegang ditetap oleh Abah. Di depannya Azira tidak berani terlalu banyak bicara karena di rumah ini dia selalu merasa bahwa Abah adalah bukan orang sembarangan. Auranya sungguh tidak main-main dan suaranya didengarkan.


"Bolehkah?" Melihat buah kelengkeng itu saja membuat dirinya rakus ingin memakannya.


"Tentu saja kamu boleh. Oh ya Azira, tolong petikan Abah satu tangkai buah kelengkeng. Buahnya sudah matang dengan baik, kalau tidak bisa segera di panen buahnya akan rusak."


Abah memperhatikan bila mata menantunya seringkali melirik ke arah pohon kelengkeng yang sedang berbuah lebat. Dan seolah mengerti, dia meminta menantunya untuk memetik buah itu.

__ADS_1


"Baik, Abah." Azira senang mendengarnya.


Tapi karena gugup senyumnya menjadi kaku. Dia lalu pergi menghampiri pohon kelengkeng dan memetik tangkai yang paling lebat buahnya. Menghirup wanginya saja membuat air liurnya banjir, apalagi ketika melihat setiap buahnya lebih besar dari yang dijual di luar sana.


"Ini Abah." Azira meletakkannya di tangan Abah, tapi Abah balik meletakkan buah itu di samping depan duduknya dan meminta Azira untuk duduk.


Azira bingung dan ragu-ragu mendudukkan dirinya di samping Abah. Mata bulatnya memandangi Abah lekat-lekat berusaha membaca ekspresi di wajah tua nan keriput Abah.


"Aku sudah tua, buah ini terlalu manis jadi makanlah." Katanya sambil mendorong buah itu ke Azira.


Azira terhenyak kaget. Mata bulatnya perlahan memerah, merendahkan kepalanya, perlahan buah kelengkeng itu terlihat buram di dalam pandangannya. Aneh sekali, ini adalah perhatian sepele tapi kenapa Azira menjadi sedih?


"Kapan kamu datang ke kota ini? Aku dengar kamu berasal dari luar kota?"


"Kami datang ke sini untuk mencari nafkah karena di kampung.... Sudah tidak ada pekerjaan yang layak." Ucapan Azira melanjutkan.


Bohong. Mencari pekerjaan di kota adalah rencana yang tidak pernah terpikirkan sebelum datang ke kota. Azira pikir dia akan hidup baik bersama Ibunya setelah bertemu dengan Ayah. Tapi nyatanya justru sebalik, dia hidup sengsara.


"Oh... Jadi kalian datang ke sini untuk mencari nafkah. Lalu bagaimana dengan keadaan Ibumu sekarang?"


Azira heran dan merasa pertanyaan Abah terlalu intim, seolah Abah pernah mengenal Ibunya. Tapi ini hanya perasaannya saja bukan?

__ADS_1


Dunia mereka berdua berbeda, lalu kenapa mereka harus saling mengenal?


"Ibu... Ibu sudah meninggal beberapa minggu yang lalu. Jika Ibu tidak meninggal aku tidak mungkin berada di rumah Ayah." Hatinya sakit tiap kali mengingat malam kepergian Ibunya.


Karena kepergian Ibunya malam itu, Azira mulai membenci hujan karena Ibunya pergi di malam hujan lebat datang. Bila hujan tak datang, maka setidaknya tubuh Ibu tidak sedingin itu dan masih bisa diselamatkan jika dilarikan ke rumah sakit.


Hujan, apa yang baik tentang ini?


Dia menyesalinya. Andai dia tahu hari itu akan tiba, dia tidak akan pernah mengabaikan Ibunya atau bahkan berbicara kasar kepadanya. Tapi penyesalan tidak ada gunanya. Sebagai seorang anak yang merindu, dia akan meluangkan waktu sebanyak mungkin mendoakan Ibunya di sana.


"Innalilahi, aku turut berduka cita dan aku tidak bermaksud mengungkit lara mu, Nak." Abah mendesah ringan.


Abah sepertinya kaget mendengar kematian Ibunya. Ekspresi di wajahnya tidak benar. Tapi Azira tidak terlalu memperhatikannya. Dia pikir itu adalah reaksi yang wajar.


"Tidak apa-apa, Abah. Semuanya sudah berlalu."


Cuacanya begitu lembut. Nyaman rasanya saat merasakan sapuan hangat dari angin sore yang menerpa wajahnya. Kain jilbabnya terbang bergelombang mengikuti arah angin pergi. Untuk pertama kalinya Azira senang menggunakan jilbab.


"Kamu menikahi putraku dengan cara yang curang."


Bug

__ADS_1


Tangan tangan Azira sontak melepaskan buah kelengkeng yang baru saja selesai dikupas. Jantungnya berdebar kencang merasa cemas dan takut pada saat yang sama.


"Bohong bila aku tidak marah, Nak. Pernikahan yang ditunggu-tunggu oleh keluargaku dihancurkan oleh seorang gadis yang tidak dikenal, hati siapa yang tidak marah dan kecewa? Kami semua merasakannya, Nak. Keluarga dan kerabat menyuarakan protes mereka kepada kami. Meminta kami untuk membatalkan pernikahan ini. Ini berat memang tapi kami menghormati pilihan putra kami sendiri. Kenzie, suamimu bersedia menerima pernikahan ini terlepas dari cara curang mu. Tapi meskipun kami menerima bukan berarti yang lainnya juga menerima. Mereka masih sulit menerima pernikahan ini. Jadi karena tidak bisa mempengaruhi keputusan Kenzie, beberapa orang memilih untuk bersikap acuh kepadamu. Mengesampingkan kamu, menggambarkan keberadaan mu, dan tak jarang mencari kesalahan mu. Mereka melakukan ini untuk menyuarakan ketidakbahagiaan mereka terhadap pernikahan Kenzie dan kamu. Aku ingin bertanya kepadamu, Nak. Apa kamu marah dengan sikap semua orang kepadamu di rumah ini?" Abah berbicara dengan nada yang tenang tanpa ada rasa ketidaksukaan sehingga tidak menyakiti hati Azira.


__ADS_2