
Humairah benar-benar ingin tahu maksud dari perkataan Ayana. Bukannya dia berpikir negatif atau macam-macam, namun melihat reaksi Ayana saja dia memiliki tebakan samar di dalam hatinya.
Masuk ke halaman belakang dia segera melihat kedua orang tuanya dan paman sedang mendiskusikan sesuatu. Bibi Safa mengatakan untuk jangan mengganggu, namun sayang sekali, dia sudah terlalu penasaran. Kalau dia tidak bertanya sekarang, maka dia akan melupakan topik ini. Itulah kenapa ketika dia mengingatnya, dia langsung memutuskan untuk bertanya kepada orang tuanya.
"Ayah, mama, paman selamat siang. Apakah aku boleh bergabung dengan kalian?" Tanya Humairah sopan dengan senyum lembut di wajah cantiknya yang tirusan.
Mereka bertiga tentunya tidak keberatan. Terutama ayah dan mama. Mereka sangat senang melihat perubahan Humairah. Akhirnya dia tidak lagi mengurung diri, tidak memiliki wajah suram ataupun terlihat murung, meskipun dia tidak seceria dulu, tapi ini jauh lebih baik daripada terus-menerus mengurung diri di dalam kamar.
"Sini, Nak. Memang sudah sepatutnya kamu bergabung dengan kami. Biasakan duduk bersama para orang tua agar kamu dapat mengetahui bisnis dan bagaimana kemajuan bisnis keluarga kita. Karena pada akhirnya bisnis itu akan diteruskan oleh kamu." Kata Mama sambil mengajak Humairah duduk di sampingnya.
Bibi Safa tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh mama. Warisan hanya boleh jatuh pada pihak laki-laki, dan di keluarga ini satu-satunya yang melahirkan anak laki-laki adalah bibi Safa. Jadi bisnis akan jatuh ke tangan putranya. Sementara wanita tidak pantas memegang bisnis keluarga. Selain wanita terlahir lemah, wanita juga akan tinggal di rumah suaminya. Tidak mungkin bagi pihak wanita membawa hartanya ke rumah suami. Di samping itu Humairah juga tidak bekerja di bidang bisnis. Dia lebih suka bekerja di bidang medis. Menjadi pesuruh para dokter dengan gaji yang tidak seberapa. Bibi Safa sudah lama tidak setuju dengan pekerjaan Humairah. Namun setiap kali dibahas Humairah pasti akan mempertahankan opininya dengan keras kepala.
"Ma, aku akan mempertimbangkannya lain kali. Tapi hari ini aku ingin berbicara sesuatu kepada mama dan Ayah." Humairah menjawab lembut.
Dia selalu memperlakukan kedua orang tuanya dengan hormat dan penurut. Setidaknya sedari kecil dia telah diajarkan untuk lebih menghormati orang tua dan bijaksana terhadap orang-orang yang lebih muda.
"Kamu mau membicarakan apa, sayang?" Tanya Mama penasaran.
Bibi Safa juga penasaran. Dia duduk di samping suaminya dan mengambil teh hangat suaminya untuk diseruput.
Cuaca sangat bagus siang ini. Tidak terlalu panas juga tidak mendung, cuaca ini cocok bagi orang-orang yang ingin keluar bersantai.
"Ini tentang perjodohanku dengan mas Kenzie." Ketika Humairah menyebutkan topik ini, semua orang yang ada di sini langsung terdiam.
Humairah tahu bahwa keluarganya tidak terlalu suka mengungkit masalah perjodohan. Awalnya Humairah mengira itu karena kegagalan pernikahan. Tapi sekarang melihat reaksi mereka, mungkin ada sesuatu yang telah disembunyikan mereka darinya.
Menenangkan diri. Dia berusaha untuk tidak mengikuti emosinya.
"Perjodohan kamu dan Kenzie sudah selesai. Apalagi yang perlu dibicarakan, Nak?" Bibi Safa mau tidak mau berbicara.
Kata-katanya terdengar kejam untuk keponakan tersayangnya. Namun apa yang harus dia lakukan?
Apa yang harus mereka semua lakukan?
Sungguh kabar baik bila Humairah memutuskan untuk melupakan masa lalu dan memulai kehidupan baru. Sebab sampai kapanpun masa lalu yang ingin dikejar oleh Humairah tidak akan pernah kembali dan tidak akan pernah dapat diperbaiki seperti semula. Alasannya tentu saja karena semuanya berawal dari kepalsuan.
Perjodohan palsu. Objek perjodohan palsu. Semuanya palsu. Bibi Safa tidak tega mengatakan kebenaran ini kepada Humairah.
Tapi Humairah tidak setuju.
"Menurut bibi perjodohan ini sudah selesai, tapi menurutku tidak. Maksud dari awal perjodohan ini di antara aku dan mas Kenzie, orang lain tidak diizinkan masuk. Untuk perjodohan ini aku rela menolak cinta yang lain karena aku percaya kehidupan pernikahanku dengan mas Kenzie akan diwarnai kebahagiaan. Seperti ayah dan mama, bibi Safa dan Paman, kemudian ada juga bibi Sifa. Aku ingin memiliki pernikahan seperti kalian Karena itulah aku menyerahkan sepenuhnya hatiku kepada mas Kenzie. Demi mas Kenzie aku bahkan rela menjadi seorang perawat, cita-cita yang tidak pernah ku impikan semenjak kecil. Sebab mas Kenzie adalah dokter maka alangkah baiknya aku sebagai istrinya menjadi perawat yang tetap menemaninya di rumah ataupun sedang bekerja. Aku juga melakukan beberapa perubahan di dalam diriku untuk menyenangkan hati mas Kenzie. Dulu diriku yang manja perlahan menjadi wanita yang tenang, kalian semua menjadi saksi perubahanku itu. Dan pernikahan yang aku tunggu-tunggu setelah sekian lama, aku mencoba mengerahkan semua yang aku mampu untuk menyenangkan hati calon suamiku dan keluarga suamiku. Tapi apa yang aku dapatkan dari semua yang ku korbankan ini? Bibi Safa, pernahkah bibi membayangkan betapa hancurnya hatiku di hari itu. Semua usaha dan jerih payahku hancur dalam waktu yang singkat oleh saudaraku sendiri. Saudara yang berusaha ku terima kehadirannya dengan tulus dan baik, berharap setelah diriku pergi dia dapat membuat hari-hari kalian menjadi lebih baik. Dia mengkhianati ku, menghancurkan pernikahan yang aku impi-impikan, merebut calon suamiku yang telah kalian semua putuskan untuk masa depanku. Bibi, bagaimana bisa hatiku berdamai? Bagaimana bisa aku melupakan semua rasa sakit ini! Akulah yang menjadi korban di sini. Akulah yang paling hancur. Apakah kalian tidak pernah bertanya bagaimana hari yang ku lalui lalui setelah hari itu, bagaimana hatiku setelah kegagalan itu, dan apakah aku masih bisa tersenyum ketika melihat suamiku bersama wanita lain, saudaraku sendiri! Aku hancur, aku sangat hancur. Kenapa aku tidak bisa memikirkan masalah ini lagi? Mas Kenzie adalah laki-laki yang kalian jodohkan denganku, dia adalah tunangan ku, jadi bagaimana mungkin aku bisa rela melihatnya pergi dengan wanita lain?! Ayah, mama, bibi Safa dan paman. Kalian semua adalah keluargaku. Kalian semua sangat mencintaiku. Jadi aku mohon kepada kalian, tolong berikan aku keadilan. Kembalikan mas Kenzie kepadaku. Kita juga bisa melaporkan masalah ini ke polisi. Karena... Karena aku adalah tunangan mas Kenzie, keluarga kita punya perjanjian dengan keluarga mas Kenzie. Kita punya saksi, kenapa kita tidak menuntut masalah ini?" Humairah berbicara dengan emosi menggebu-gebu.
__ADS_1
Tadi dia sempat menahan diri. Namun karena pertanyaan kejam dari bibi Safa, emosinya terpancing dan semua rasa sakit yang dia pendam selama ini langsung menguap untuk ditumpahkan. Semua orang terkejut mendengarkan keluh kesahnya. Mereka tidak pernah mendengar Humairah berbicara sebanyak ini. Jujur saja, hati mereka sakit mendengar betapa tersiksa dan hancurnya hati Humairah. Mereka merasakan sakit melihat Humairah mengungkapkan betapa sakit dia sekarang.
Mama sampai menangis mendengarnya. Dia memeluk bahu Humairah, berusaha menguatkannya. Padahal dia sendiri hampir saja tumbang karena masalah Humairah ini. Memangnya ibu mana yang tega melihat putrinya hancur?
Mama pernah memiliki pemikiran yang sama dengan Humairah. Sebelumnya dia ingin melaporkan Azira ke kantor polisi. Tapi Ayah selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Mama pikir itu karena Ayah memihak anak dari istri pertamanya, tapi ternyata ada rahasia yang tersembunyi di balik penolakan itu.
"Jangan memikirkan masa lalu lagi. Hentikan semua ini Humairah. Lupakan Kenzie. Jika dia benar-benar menghargai kamu, maka mengapa dia masih mempertahankan Azira di sisinya?" Pertanyaan Ayah telak memukul hati Humairah.
Kenzie memang mempertahankan Azira sebagai istrinya. Ketika mereka bertemu tempo hari, Kenzie secara terang-terangan mengungkapkan bahwa dia telah memiliki istri dan memintanya untuk melepaskan masa lalu. Humairah bukan orang yang bodoh, dia tahu bahwa Kenzie mungkin tidak memiliki minat kepadanya. Tapi lalu apa?
Orang yang dijodohkan di sini adalah dia dan Kenzie. Bukan Azira. Jadi dia memiliki hak untuk menuntut pernikahannya kepada Kenzie.
"Ayah aku tahu apa yang ayah maksud. Tapi aku sangat mengenal bagaimana karakter mas Kenzie. Dia mempertahankan Azira karena dia ingin bertanggung jawab. Mas Kenzie selalu memiliki karakter ini. Dia akan menghormati wanita dan tidak akan menyakitinya. Sama seperti Azira. Aku tahu dia terpaksa menerima Azira karena tidak ingin menjanda kan nya." Alasan Humairah masuk akal, tapi masih kurang.
Jika Kenzie benar-benar menghormati seorang wanita, lalu mengapa dia memilih menghormati wanita yang salah dan malah mengabaikan wanita yang telah berjuang untuknya?
Dalam pernikahan ini orang yang benar-benar dipermalukan adalah Humairah. Nama Humairah menjadi jelek, maka bukankah Kenzie harus lebih memihak Humairah karena dia yang dipermalukan dan menjadi korban?
"Nak, terlepas dari alasan apapun Kenzie mempertahankan Azira, Ayah ingin mengatakan sesuatu kepadamu." Wajah Ayah terlihat lelah dan muram pada saat yang bersamaan.
Tidak hanya rencana yang telah disusun bertahun-tahun lamanya gagal, tapi dia juga menghancurkan kehidupan putrinya. Ayah sangat menyesalinya. Apalagi ketika melihat air mata mulai membasahi wajah cantik putrinya, dia semakin merasa bersalah.
Salahkan cintanya yang terlalu dalam untuk Humairah sehingga membuatnya jadi serakah dan menyimpang. Memanipulasi perjodohan. Berharap bahwa putri keduanya lah yang menikah dengan Kenzie agar dia memiliki kehidupan yang baik juga terjamin.
Dia sangat berharap bahwa Ayah mau mengabulkan permintaannya.
"Ayah ingin membuat pengakuan bahwa orang yang sebenarnya menjadi objek perjodohan bukanlah kamu, melainkan Azira dan Kenzie. Mereka berdua telah bertunangan sebelum kamu lahir. Maka ketika kamu bertanya alasan kenapa keluarga Kenzie tidak menolak Azira dan memilih mempertahankannya adalah karena ini. Karena memang pada awalnya Azira yang bertunangan dengan Kenzie, bukan dirimu, Nak." Kata-kata Ayah bagaikan sebuah vonis hukuman untuk Humairah.
Bukan dia yang bertunangan dengan Kenzie namun melainkan Azira. Apakah Ayah sedang membuat lelucon?
"Ayah jangan berpikir omong kosong. Aku tidak akan percaya." Humairah bersikeras menolak mempercayai apa yang ayah katakan.
Pertunangannya dengan Kenzie bukanlah rahasia lagi. Hampir semua orang yang mengenal Humairah mengetahui tentang masalah ini. Jadi dia tidak percaya bahwa tunangan Kenzie adalah Azira, saudaranya yang dibawa pulang dari entah berantah oleh ayah.
"Ayah tidak berbohong, Nak. Azira adalah tunangan Kenzie yang sebenarnya, bukan kamu." Ayah menegaskan sekali lagi.
Humairah menggelengkan kepalanya. Menatap langsung mata tua Ayah untuk melihat apakah sedang berbohong atau tidak. Namun yang dia temukan di mata itu adalah keseriusan. Tidak ada warna lelucon atau kebohongan di dalamnya. Ayah benar-benar serius dan dia tidak berbohong. Hati Humairah langsung sakit. Sakit sungguh sangat sakit. Dia menangis terisak di dalam pelukan mama, menumpahkan semua keluh kesah hatinya beberapa hari ini dan mengungkapkan betapa hancurnya dia mendengar kebenaran yang ayah ungkapkan tadi. Dia sehancur ini, dan semua orang yang mendengarkan tangisannya ikut merasakan sedih. Hati mereka perih melihat permata yang telah mereka jaga selama ini menangis keras tepat di hadapan mereka.
"Bagaimana bisa begitu... Ayah... Ayah membuat perjanjian dengan keluarga mas Kenzie jika akulah yang akan bertunangan dengannya. Bagaimana bisa itu menjadi Azira, apakah Ayah tidak mencintaiku Humairah? Apakah Ayah lebih mencintai Azira sehingga Ayah putuskan untuk menjodohkan Azira dan mas Kenzie! Jadi ayah selama ini tidak benar-benar menyayangi aku?!" Tanyanya bertubi-tubi kepada Ayah.
Bagaimana tidak dia memiliki pikiran seperti itu. Pasalnya dia dibesarkan oleh Ayah secara langsung, bermandikan cinta dan kasih sayang dari semua orang, dia merasa sangat berharga di rumah ini. Tapi tiba-tiba dia mendengar kabar buruk bahwa Ayah telah menjodohkan Azira dengan Kenzie, dan bukan dirinya. Jelas Humairah langsung mempertanyakan kasih sayang Ayah.
__ADS_1
"Nak, jangan berbicara seperti itu. Kamu salah paham, Nak. Sebenarnya perjodohan ini tidak ada sangkut pautnya dengan Ayah. Melainkan di antara ibu Azira dan Abah lebih dari 20 tahun yang lalu. Perjodohan ini terjadi karena Abah ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada ibu Azira, sebab dia telah diselamatkan dari sebuah kecelakaan. Namun karena Ayah bercerai dengan ibu Azira pada saat itu dan bahkan tidak mengetahui Azira lahir di dunia ini, Ayah memutuskan untuk menjadikan kamu sebagai objek perjodohan. Berpura-pura bahwa ibu Azira sudah tidak ada di dunia ini. Dan seperti yang kamu lihat, semuanya berjalan lancar sampai akhirnya Azira masuk dalam rumah ini dan menghancurkan semua upaya Ayah untuk masa depan kamu." Ayah menjelaskan kebenarannya.
Kecuali bagian perceraian, semuanya memang benar adanya. Ayah berupaya membuatkan Kenzie jatuh cinta kepada Humairah lewat perjodohan ini. Dia ingin memberikan kehidupan yang layak untuk putri tercintanya. Tapi semua rencananya gagal karena kedatangan Azira.
Setelah mendengar penjelasan Ayah, Humairah akhirnya mengerti. Ternyata Ayah sangat menyayanginya sehingga mengubah posisi Azira di dalam perjodohan. Dia sangat senang mendengarnya. Tapi dia marah karena gara-gara kelalaian Ayah semuanya menjadi seperti ini.
"Ini semua gara-gara Ayah. Coba saja Ayah tidak membawa Azira pulang ke rumah, semuanya tidak akan seperti ini. Aku pasti sudah menikah dengan mas Kenzie sekarang." Ucap Humairah sambil menangis sesenggukan.
Dia benar-benar sedih.
Ayah sudah lama disalahkan oleh mama dan bibi Safa gara-gara keputusannya membawa Azira pulang ke rumah. Jangankan mereka dirinya pun sangat menyesali keputusan itu.
"Jika ayah tahu dia memiliki pemikiran yang licik, maka pasti ayah tidak akan mau membawanya pulang ke rumah ini. Anakku, tolong maafkan ayah. Ayah telah gagal membahagiakan kamu." Kata Ayah tulus dari dalam hatinya.
"Kakak terlalu naif. Azira dibesarkan oleh wanita malam dan hidup di tempat yang sangat kotor, menurut kakak apakah Azira akan memiliki hati yang murni dengan asuhan kasar dari wanita malam itu dan lingkungan yang kotor? Tentu saja dia tidak lebih baik daripada ibunya. Malah aku pikir dia mungkin sama seperti ibunya. Menggadaikan harga dirinya kepada beberapa lagi hidung belang. Ish, naudzubillah. Aku takut tubuhnya sudah najis dan kotor. Heran juga si Kenzie mau saja mempertahankan wanita itu." Kata bibi Safa merasa mual.
Dia sering berkunjung ke rumah Azira dan ibunya dulu. Coba tebak untuk apa?
Tentu saja untuk menyiksa mereka. Membalas dendam kepada Azira dan ibunya, karena gara-gara mereka berdua, rumah tangga kakaknya sering diwarnai pertengkaran.
Jadi untuk melampiaskan sakit hati kakak iparnya, dia pergi diam-diam ke kawasan kumuh bersama orang-orangnya untuk melakukan ronde penyiksaan.
"Inilah yang aku sesali saat itu. Aku memang pernah berpikir kalau anak itu pasti memiliki hati yang tidak murni karena tumbuh liar di tempat seperti itu. Tapi kakak kamu tidak mau mendengarkan ku. Dia hanya berkata kalau Azira adalah tanggung jawabnya, dan mau tidak mau sebagai istri yang baik, aku mengizinkannya membawa anak itu pulang. Tapi tak disangka, bukannya berterima kasih kepada kebaikan kami, dia malah membalas kita dengan sakit hati. Menghancurkan kehidupan permata rumah kita, jika aku tahu masalah ini akan terjadi, aku pasti sudah mengusirnya dari rumah ini." Mama ikut-ikutan marah kepada ayah.
Dia lupa bahwa apa yang Azira terima di rumah ini bukanlah belas kasihan, melainkan sebuah hak, hak yang seharusnya Azira dapatkan.
"Aku tahu jika aku salah. Kalian semua tenang saja. Aku akan mencoba mencari kesempatan untuk berbicara dengan Azira. Jika dia tidak mau mendengarkan aku, maka aku tidak akan mengakuinya sebagai anakku lagi. kita lihat saja nanti, ke mana dia bisa pergi ketika Kenzie telah mencampakkannya." Kata ayah muram.
Dia berencana akan berbicara dengan Azira tentang masalah ini. Walaupun dia tahu cepat atau lambat Kenzie akan menceraikannya, namun Ayah tidak akan merasa puas sebelum Azira datang meminta maaf langsung kepada Humairah. Kalau perlu Azira harus mencium kaki Humairah untuk menunjukkan ketulusannya.
"Kakak benar. Aku tidak percaya Kenzie akan betah dengan wanita seperti itu. Palingan dalam waktu dekat mereka akan bercerai. Dan pada saat dia ditendang dari rumah itu... Tentu saja dia tidak akan kembali ke rumah ini." Ucap bibi Safa telah membuat rencana untuk Azira.
Dia tidak akan diterima lagi di rumah ini. Lalu ke mana dia bisa pergi selain rumah ini?
Coba tebak.
Paman melihat ekspresi bermakna di wajah istrinya. Namun dia tidak membuat komentar apapun. Dan membiarkan istrinya melakukan apapun yang diinginkan. Toh, ini juga kabar baik untuknya.
"Aku tidak mau Azira kembali lagi ke rumah ini, Ayah. Aku tidak akan sanggup." Setelah mendengar kata perceraian, Humairah memiliki keyakinan lagi di dalam hatinya.
Sama orang benar. Kenzie tidak mungkin betah tinggal bersama Azira. Mungkin dalam waktu dekat Azira akan ditendang dari rumah itu. Dia sangat lega memikirkannya.
__ADS_1
"Tentu saja, Nak. Setelah menyakiti kamu dia tidak diizinkan tinggal di sini lagi." Kata Ayah berkomitmen.
Mereka berbicara seolah-olah Azira sangat merindukan rumah ini. Padahal jangankan tinggal di sini, melihatnya saja Azira muak. Namun karena balas dendam, dia terpaksa tinggal di sini saat itu.