Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 26.7


__ADS_3

Ayah mengangguk paham. Wajahnya yang datar tidak menunjukkan ekspresi apapun. Amara langsung merasakan firasat buruk. Tepat saat dirinya mulai berpikir liar, ayah membuat instruksi baru.


"Baiklah, ayo pergi." Tiba-tiba beberapa wanita muncul dari dalam.


Mereka tidak lain dan tiada bukan adalah keluarga Amara sendiri dari pihak ayah maupun ibu. Atas perintah ayah, mereka semua secara kompak menyeret Amara masuk ke dalam mobil. Mengabaikan suara tangisan dan teriakan Amara yang memekakkan telinga.


Ayah serius dan Amara sama sekali tidak menyangka. Karena kemarahan tidak menghasilkan apa-apa, dengan berurai air mata dirinya memohon kepada keluarganya agar dia tidak usah dibawa pergi. Dia memohon pilu namun semua orang seolah menulikan telinga dan tidak ada satupun yang menggubris permohonan Amara


Pedih rasanya. Mereka adalah seorang wanita dan seorang Ibu. Mereka ikut sedih mendengar tangisan pilu Amara. Namun apa yang bisa mereka lakukan?


Mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Dengan berat hati mereka memaksa Amara dan mengapitnya erat agar tidak melarikan kemana-mana dari hukumannya.


"Ayah..Bu...apa salah Amara? Kenapa kalian berdua tega mengusir Amara? Apakah kalian sudah tidak menyayangi Amara lagi seperti dulu?" Isak Amara bertanya kepada orang tuanya dari dalam mobil.

__ADS_1


Yang Amara tahu tidak ada orang tua yang tega mendong anaknya menjauh apalagi sampai mengusirnya dari rumah. Amara tidak yakin ada orang tua Setega ini.


Ayah menghela nafas berat.


"Kamu bertanya kepadaku? Mengapa kamu tidak bertanya kepada diri sendiri? Coba tanya kesalahan apa yang telah kamu lakukan?"


Amara merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Amara enggak pernah..." Dia tak menyelesaikan ucapannya.


"...Jangan coba-coba mengancam ku dengan paman karena aku juga bisa bertindak. Kamu pikir aku akan diam saja? Jangan harap, aku akan menceritakan semua yang kamu lakukan kepada paman agar dia tahu sendiri bagaimana kamu bekerja selama ini! Dan mati kita lihat hukuman apa yang akan paman berikan kepada kamu? Yakin setelah ini kamu bisa tinggal di sini? Dan penjara adalah batas kesabaran ku membantu kamu. Cukup sudah, aku peringatkan jangan menantang batas kesabaran Kenzie karena dia tidak main-main dengan ancamannya. Tapi kalau kamu tidak mau mendengarkan aku dan dengan keras kepala ingin membuat masalah lagi kepada Kenzie maka silakan, aku tidak mau ikut campur. Silakan tanggung sendiri resikonya nanti. Sekarang aku masih ada rapat jadi silahkan keluar dari sini!..."


Suara Nabil terngiang-ngiang di dalam pikirannya. Sekarang Amara mengerti. Dadanya sangat sesak tidak sabar ingin mencabik-cabik sepupunya itu. Dia kira sepupunya cuma asal menggertak, tapi siapa yang tahu kalau dia akan berbicara jujur.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah menemukan jawabannya?" Menilai dari ekspresi putrinya ayah tahu kalau apa yang dikatakan oleh Nabil benar.


Amara gelagapan.


"Ayah...ayah enggak bisa hukum Amara gara-gara kesalahan sepele ini. Amara enggak mau pergi!"


Ayah semakin kecewa terhadap putrinya. Tidak hanya tidak menyesalinya, tapi Amara malah menyepelekan masalah ini.


"Amara, urusan penjara merupakan perkara yang serius. Ayah harus menghentikan kamu agar berhenti membuat masalah lagi. Ini demi kebaikan kamu, ayah percaya dengan pergi keluar negeri kamu dapat menjadi orang yang lebih baik lagi." Kata ayah berat


Amara menangis keras.


"Ayah...aku minta maaf, aku enggak mau pergi."

__ADS_1


Ayah menggelengkan kepalanya. Melambaikan tangannya meminta supir segera jalan.


"Ini yang terbaik." Gumam ayah merasa berat ditinggalkan putrinya.


__ADS_2