Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 30.4


__ADS_3

"Inilah saatnya kamu membalaskan semua dendam kamu kepada Azira. Lihat perutnya baik-baik, bayi yang ada di dalam kandungannya adalah sumber kebahagiaannya dengan Kenzie. Jika kamu mau melihat Azira hidup dalam penderitaan maka singkirkan bayi itu, saat bayi itu pergi maka pergi pula kebahagiaan Azira. Tidak hanya kebahagiaannya yang pergi, tapi Kenzie juga akan pergi dari dalam hidupnya. Kamu harus melakukannya sekarang!" Desak bibi Safa kepada Humairah.


Humairah mendengarkan semua yang dikatakan oleh bibi Safa. Matanya yang basah berkedip memikirkan apa yang dikatakan oleh bibi Safa. Dia ragu melakukannya karena ini menyangkut nyawa seseorang. Tapi saat matanya menangkap pemandangan di depan, dimana betapa lembut Kenzie memperlakukan Azira, hatinya langsung terbakar cemburu. Keraguan di dalam hatinya langsung menghilang.


Bila Azira saja begitu dengan mudah menghancurkan kebahagiaannya, maka mengapa dia harus ragu menghancurkan kebahagiaan Azira?


Ini bukan salah aku. Semua ini terjadi karena kamu, Azira. Jika kamu tidak lebih dulu menghancurkan hidupku, maka aku tidak akan pernah melakukan ini kepadamu. Ini adalah timbal balik atas apa yang telah kamu lakukan kepadaku. Batin Humairah membuat keputusan di dalam hati.


"Jangan diam saja! Lakukan sebelum dia pergi!" Desak bibi Safa tidak sabar kepada Humairah.


Humairah tidak ragu lagi. Dia melepaskan tangannya dari mama seraya bangkit.


Kenzie langsung melirik waspada saat melihat Humairah tiba-tiba bangun, gerak-geriknya sangat aneh. Waspada, memiringkan badannya memberikan perlindungan kepada sang istri. Dari penilaiannya, dia menyadari bila ekspresi di wajahnya tampak tidak benar. Dan Kenzie semakin curiga ketika melihat Humairah tiba-tiba berlari cepat ke arah mereka dengan kedua tangan terangkat seolah ingin meraih perut Azira. Tanpa keraguan sedikitpun, dia mengambil bantal sofa yang ada di dekatnya, lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga ke kepala Humairah.


Bug


Tubuh Humairah langsung limbung ke samping dan jatuh begitu saja di atas karpet tanpa perlawanan apa-apa. Bagaimana dia tidak bisa melawan, walaupun Kenzie hanya melemparkan bantal sofa, tapi dia menggunakan kekuatan laki-laki, bahkan mengeluarkan seluruh tenaganya!


Kepala Azira sakit dan dia tertangkap tidak siap sehingga langsung jatuh ke lantai.


"Akh, sakit!" Ringis Humairah kesakitan.


Melihat tindakan tiba-tiba Humairah, semua orang langsung berseru kaget. Umi, Abah, dan keluarga yang lain langsung berdiri mengelilingi Azira. Wajah mereka semua sangat muram, mereka jelas sangat marah. Mereka bukanlah orang yang bodoh untuk tidak mengerti apa yang ingin Humairah lakukan kepada Azira. Humairah bermaksud mencelakai Azira, berharap Azira kehilangan bayinya. Tindakannya ini tidak bisa ditoleransi lagi oleh keluarga besar!


"Apa yang kamu lakukan kepada Humairah!" Teriak Ayah murka sembari berjalan ke arah Humairah yang masih belum bangun.


Melihat Humairah terjatuh, mama dan bibi Safa langsung menghampiri Humairah.


Humairah jelas kesakitan. Dia terus memegangi kepalanya dipukuli oleh Kenzie.


Kenzie kini membawa Azira masuk ke dalam pelukannya.


Baru saja, itu sangat dekat.


Jika dia terlambat sedikit saja menyadari tujuan Humairah, maka semuanya akan berakhir kacau!


Dia tidak menunjukkan apa-apa di wajah datarnya tapi saat ini jantungnya berdebar sangat kencang dan kedua tangannya pun berkeringat dingin karena gugup. Hanya Allah yang tahu betapa takutnya dia tadi. Dia hampir saja... Hampir saja!


"Harusnya aku yang bertanya kepada ayah, apa maksud Humairah tadi? Dia jelas-jelas ingin menyerang istriku!" Kata Kenzie murka!


Sekarang dia benar-benar tidak memiliki nada hormat di depan Ayah. Bila sebelumnya dia masih memiliki sedikit rasa hormat karena Ayah adalah satu-satunya orang tua Azira sekarang terlepas dari masa lalu yang pahit, maka sekarang, dia tidak memiliki rasa hormat itu sedikitpun!


"Kamu terlalu berlebihan! Humairah tidak mungkin menyakiti saudaranya sesakit apapun hatinya sekarang. Bahkan jika dia memiliki tujuan ini di dalam hatinya tadi, bukankah dia tidak benar-benar melakukannya? Humairah masih belum menyentuhkan Azira!" Kata Ayah tidak mau kalah.


Kenzie mengepalkan kedua tangannya marah. Tidak ingin menyakitinya?


Lalu apa yang terjadi tadi?

__ADS_1


Humairah ingin menyerang istrinya, dan semua orang bisa melihatnya. Bagaimana bisa Ayah masih membela anaknya yang jelas-jelas melakukan kesalahan?


"Tolong, apakah Ayah masih memiliki hati nurani? Bahkan bila Azira lahir dari rahim wanita yang tidak Ayah cintai tapi tetap saja dia adalah putri Ayah. Azira sedang hamil besar, pikirkan apa yang akan terjadi bila Humairah berhasil melakukanya? Nyawa Azira dan bayi kami terancam olehnya. Apakah kamu masih Ayahnya? Baru saja jika aku terlambat sedikit Azira dan bayi kami akan celaka! Ini menyangkut soal dia nyawa! Dan itu masih nyawa putrimu, ayah! Tapi kenapa kamu begitu bias kepada istriku! Dia masih anakmu bukan!" Teriak Kenzie membentak.


Untuk sejenak semua orang terdiam, suasana sangat tegang dan serius. Para tamu dengan kompak tidak memberikan komentar apapun karena ranah masalah ini sudah sangat serius karena menyangkut nyawa kehidupan.


"Iya, pak. Bukankah tindakan Anda terlalu bias? Mereka berdua sama-sama putri Anda, yang satu adalah korban yang satunya lagi adalah pelaku yang memiliki niat jahat. Tidakkah seharusnya Anda bersikap adil di posisi ini?" Seorang laki-laki paruh baya mengangkat suara.


Dia adalah salah satu rekan bisnis. Ayah mengenalnya. Mana mungkin dia tidak mengenal pebisnis sukses di depannya ini.


"Meskipun Anda hanya menyukai istri Anda yang sekarang, namun perilaku memihak Anda pada salah satu anak tidak dapat dibenarkan. Humairah memang putri Anda, tapi Azira juga putri Anda. Anda harus memberikan sikap yang adil dalam masalah ini." Seorang wanita elit juga angkat bicara.


Mereka sudah gerah melihat perilaku keluarga Ayah yang sangat bias terhadap Azira. Awalnya beberapa orang tidak mempercayai keberpihakan Ayah kepada putri-putrinya. Tapi saat melihatnya sekarang, akhirnya mereka benar-benar percaya bahwa ternyata ada orang tua seperti itu di muka bumi ini.


Ayah melihat orang-orang yang berbicara ini dari kalangan yang tidak bisa dia singgung. Dia malu dan marah pada saat yang sama, tapi tidak berdaya karena mereka bukan lawannya.


"Mas Kenzie.." Mata Azira basah.


Dia merasakan badan suaminya bergetar hebat karena panik. Suaminya pasti sangat ketakutan tadi. Dia pun sama. Bayinya dalam bahaya...dia sangat takut kehilangan bayi yang ada di dalam perutnya ini.


Dan hal yang paling tidak disangka adalah ketakutannya ternyata benar-benar terjadi. Humairah kehilangan kendali dan berniat jahat ingin mencelakainya. Untung saja Kenzie melihat rencananya lebih dulu sehingga kecelakaan bisa dihindari.


Kenzie mengusap puncak kepala Azira untuk menenangkannya. Dia menenangkan Azira tapi di saat yang sama juga menenangkan dirinya. Mengatakan berulang kali di dalam hatinya bahwa semuanya masih baik-baik saja. Azira masih ada di dalam pelukannya, masih bernafas dan memiliki suhu hangat dalam tubuhnya, bayi mereka pun masih terjaga di dalam perut istrinya. Semuanya masih aman. Dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini di dalam hati.


"Okay, semuanya baik-baik saja. Ada aku di sini. Kamu dan bayi kita tidak akan kenapa-napa." Kata Kenzie berbisik kepada istrinya.


Kenzie berusaha menggunakan nada yang sangat lembut, tapi sayang sekali selembut apapun dia mencoba berbicara, getaran cemas di dalam suaranya tidak dapat disembunyikan.


Melihat situasi Azira yang tidak baik-baik saja, Mona dan Sasa datang menghampiri. Mereka sangat khawatir terjadi apa-apa kepada Azira.


"Apakah kakak baik-baik saja?" Tanya Sasa cemas.


Kejadian itu terjadi tepat di depan matanya sendiri. Dia melihat dengan kedua mata kepalanya bagaimana Humairah bergerak mendekati Azira. Pada waktu itu dia tidak berpikir yang aneh-aneh, dia tidak merasa ada sesuatu yang salah dengan Humairah. Barulah dia sadar bahwa Humairah tidak benar saat Kenzie melemparkannya bantal sofa hingga terjatuh.


Yang Sasa sangat syukuri selain Azira baik-baik saja, Kenzie juga tidak mengambil benda keras untuk melempar Humairah. Padahal dengan situasi panik seperti tadi, bisa saja Kenzie mengambil vas bunga yang ada di atas meja dan melemparkannya ke kepala Humairah.


Tapi untungnya itu tidak terjadi.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja..." Azira sangat bersyukur suaminya selalu siaga.


Sasa dan Mona menghela nafas lega.


"Kak Kenzie, kasihan kak Azira berdiri terus. Lebih baik kak Azira kembali duduk di sofa agar dia merasa lebih nyaman." Kata Mona menyarankan.


Dia kasihan kepada Azira. Pasti sekarang dia ketakutan gara-gara masalah ini. Dan dengan kondisi perutnya yang besar, tak disarankan untuk berdiri lama-lama karena Azira pasti tidak merasa nyaman.


Kenzie akhirnya tersadar. Karena gugup dia sampai lupa.

__ADS_1


"Nak, bantu Azira duduk di sofa." Suruh Umi kepada Kenzie.


Setelah diingatkan oleh Mona, dia juga berencana akan membantu Azira duduk di sofa.


"Mas, jangan pergi." Azira memegang kuat kain baju suaminya.


Kenzie merasa hatinya sangat sakit melihat wajah pucat istrinya. Dia pasti ketakutan pikirnya.


"Aku tidak akan pergi kemana-mana." Jawab Kenzie sembari membawa Azira masuk ke dalam pelukannya.


Mereka berdua duduk di sofa menyimak apa yang orang-orang bicarakan.


"Aku pikir sikap bias kamu kepada Azira tidak seburuk yang aku pikirkan. Cukup menggantikan Azira sebagai tunangan Kenzie, aku berusaha untuk memaafkan kamu. Tapi melihatnya sekarang, aku tidak hanya marah kepadamu tapi sangat kecewa. Sekalipun kamu sangat menyayangi Humairah tapi itu bukan berarti kamu bisa menyembunyikan kesalahan yang dilakukan. Baiklah, jika kamu sebagai pihak orang tua enggan memberikan keadilan kepada Azira, maka izinkan aku selaku mertua Azira untuk mencari keadilan untuknya. Hari ini kamu harus memberikan keadilan kepada menantuku. Jika kamu tidak memberikan keadilan untuknya maka, aku sama sekali tidak keberatan melaporkan Humairah kepada polisi." Suara Abah berat.


Jika Abah sudah membawa-bawa polisi dalam masalah ini maka Abah benar-benar marah sekarang. Semua orang yang mengenal Abah langsung menyadari kalau masalah ini sudah sangat mengganggu Abah.


Ayah tercengang mendengar apa yang Abah katakan. Untuk sesaat dia tidak tahu harus bereaksi apa. Melaporkan putrinya ke kantor polisi?


Masa depan putrinya akan benar-benar hancur setelah ini. Akan ke mana putrinya setelah keluar dari penjara?


Apakah masih ada laki-laki yang mau menerima putrinya?


Putrinya yang dulu bersinar cerah dan selalu membawa kebahagiaan di sekelilingnya kini harus berakhir di dalam penjara. Ayah tidak bisa membiarkan itu terjadi.


"Abah, putriku memang bersalah. Tolong maafkan dia. Aku tahu bahwa sikapku sangat salah sebab membela Humairah. Tapi tolong pahami juga posisiku sebagai orang tua. Humairah adalah satu-satunya harapan ku, dia adalah penerus keluargaku. Jika Humairah berakhir di dalam penjara, masa depannya akan benar-benar hancur. Kalian semua tahu bukan jika seorang wanita masuk ke dalam penjara maka dia sudah tidak memiliki harga diri lagi di mana masyarakat. Aku tidak ingin putriku berakhir seperti itu. Maka aku mohon tolong maafkan putriku sekali saja. Aku berjanji dia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi." Tak memiliki jalan Ayah akhirnya meminta maaf kepada Abah.


Lagi pula dia berada di posisi yang salah dan Humairah tidak dapat membuat pembelaan apapun karena buktinya sudah jelas serta banyak saksi yang melihat.


Hah... Jauh di dalam hatinya Ayah sangat kecewa kepada putrinya. Bagaimana bisa dia lepas kendali hingga membuat masalah sebesar ini, nyawa putrinya yang lain hampir saja...


Abah mendengus dingin,"Kenapa aku harus memaklumi apa yang dilakukan Humairah hanya karena dia adalah satu-satunya harapan mu? Mengapa tidak saja kamu yang memaklumi aku karena Azira adalah satu-satunya menantuku di rumah ini dan sedang mengandung darah daging putraku? Bagaimana jika kita berpikir seperti ini? Ingatlah, Azira juga putrimu. Dia tetaplah putrimu. Dan putrimu ini hampir saja mengalami kecelakaan gara-gara Humairah. Mengapa kamu masih belum berpikir jernih?" Tanya Abah tidak mengerti sama sekali dengan jalan pikiran Ayah.


Ayah menundukkan kepalanya malu. Dia juga tahu bahwa Azira adalah putrinya. Dia mengerti apa yang Abah maksud. Namun apa yang harus dia lakukan?


Waktu yang dilalui bersama Humairah lebih banyak, dia telah menyaksikan Humaira tumbuh di dekatnya. Secara otomatis dia akan lebih condong kepada Humairah daripada Azira.


Melihat ayah di pojokkan oleh Abah dan yang lainnya, mama tidak tahan lagi. Dia takut suaminya akan terus dipojokkan sampai titik dimana ayah akan menyerah mempertahankan Humairah.


Dia tentu saja tidak bisa membiarkan ini terjadi.


"Tapi Humairah tidak benar-benar menyentuh Azira. Lihat, dia masih baik-baik saja!" Kata mama membuat pembelaan.


Bibi Safa jika hari berkicau,"Iya, kalian semua jangan terlalu berlebihan. Orang yang kalian bela dan perhatikan nyatanya tidak apa-apa. Dia masih baik-baik saja. Sementara Humairah sekarang sedang kesakitan di sini. Jika Humairah ingin mencelakai Azira-"


"Siapa yang ingin mencelakai Azira!" Suara tua seorang laki-laki menginterupsi suara bibi Safa.


Kemudian beberapa wanita dan laki-laki paruh baya berpakaian sederhana menerobos kerumunan. Penampilan mereka sangat berbeda dibandingkan dengan penampilan para tamu yang ada di tempat ini. Mereka terlihat sederhana, sekilas penampilan mereka menunjukkan bahwa mereka berasal dari tempat yang biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Siapa orang-orang ini?" Ada suara-suara kebingungan diantara kerumunan.


l


__ADS_2