Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 6.4


__ADS_3

"Em," Malu, dia berpura-pura melihat keluar jendela untuk menutupi rasa malu,"Kita sudah sampai ya, mas?"


Sudah beberapa bulan tidak datang ke sini Asri merasa bahwa desa telah memiliki banyak perubahan. Desa ini dan desa tempat tinggalnya bersebelahan. Dulu dia dan adiknya sering berjalan kaki ke desa ini untuk menemui beberapa kerabat. Bahkan mereka berdua juga sering menghabiskan banyak waktu di sini untuk bermain dengan anak-anak di desa ini. Terkadang mereka akan pergi ke sungai untuk mandi atau mencari ikan kecil. Mereka melakukannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Bapak dan Ibu. Sebab jika orang tua tahu bila mereka nakal pergi ke sungai, betis mereka berdua akan dipecuti dengan rotan oleh Bapak. Katanya sungai berbahaya dan tempat yang harus dijauhi. Jika arus sungai besar, mereka pasti mudah terbawa arus dan menghilang. Inilah yang Bapak dan Ibu tekankan setiap kali marah. Namun mereka berdua hanyalah anak kecil yang lebih peduli dengan dunia sendiri dan meremehkan pesan orang tua. Qodarullah, kenakalan mereka tidak mengundang mudarat karena hingga sebesar ini, mereka tidak pernah mendapatkan bahaya di sungai.


"Baru setengah jam yang lalu. Aku terpaksa berhenti di sini karena aku tidak tahu alamat rumah sepupumu." Suara Arka menarik Asri dari kenangan lamanya.


Setengah jam yang lalu?

__ADS_1


Maka itu artinya Arka telah duduk di sini sejak setengah jam yang lalu dan bodohnya tidak mau membangunkan dirinya.


"Ya Allah, mas... Mas Arka kan bisa bangunin aku biar nggak nunggu lama di sini. Atau kalau nggak, mas juga bisa telepon Bapak dan Ibu, bilang kalau kita sudah sampai tapi mas nggak tahu jalan ke rumah sepupu." Asri tidak tahu harus berkata apa lagi kepada suaminya.


Lihat saja sekarang tampang suaminya yang hanya cengengesan melihat tanpa penyesalan di wajah. Dia kadang bingung dengan suaminya yang sering kedapatan tertawa atau cengengesan setiap kali diomeli dan di protes oleh dirinya. Apakah ada yang lucu dari wajahnya?


Asri meraba pipinya yang tembem tapi dihentikan oleh sang suami. Arka menyingkirkan tangan Asri dan menggenggamnya lembut.

__ADS_1


Agak geli melihat tampang depresi sang istri yang pipinya selalu minta dicubit. Dia ingin menyentuh dan mencubitnya tapi tak tega karena pipi istrinya terlihat sangat merah sekarang.


"Kalau sekarang keadaan mas Arka gimana? Udah baikan?" Dari kebingungan menjadi kekhawatiran, Asri diam-diam merutuki dirinya karena tidak pengertian.


Bagaimana bisa dia melalaikan tugasnya sebagai seorang istri dan tidak memperhatikan bahwa suaminya sedang kelelahan? Tiba-tiba dia merasa dirinya lalai dan terlalu memikirkan diri sendiri.


"Hei, jangan cemberut. Aku nggak papa. Masalah ini kecil untuk laki-laki, apalagi laki-laki itu adalah aku, suami kamu." Arka buru-buru mengguncangkan istrinya agar jangan baperan.

__ADS_1


Benar sekali. Selain mudah tertidur akhir-akhir ini, istrinya juga sangat mudah terbawa emosi seperti bukan dirinya yang dulu. Masalah sekecil apapun akan dibawa ke dalam hati. Terkadang Arka merasa bila istrinya berlebihan, tapi di sisi lain dia juga menyadari bahwa istrinya mungkin terlalu lelah sehingga membuat emosinya jenuh dan mudah tersinggung.


"Aku nggak cemberut..." Katanya menghianati ekspresi di wajah.


__ADS_2