
Selepas pembicaraan itu dengan Ayana, hatinya terus menerus gelisah. Ada banyak sekali pertanyaan yang berkelebat di dalam kepalanya. Mungkinkah apa yang dia pikirkan itu benar atau mungkin saja ada alasan kenapa mempertahankan pekerjaannya sebagai dokter. Azira memejamkan matanya tanpa sadar menghela nafas panjang.
"Kamu kenapa?" Kenzie menoleh ke arah istrinya.
Kenzie telah memperhatikan keanehan istrinya semenjak kembali dari rapat. Azira terlihat tidak benar. Jelas dia ingin mengatakan sesuatu, tapi menahan diri.
Azira membuka matanya. Berkedip ringan, dia melirik suaminya ragu.
"Hem?" Ada lampu merah di depan.
Kenzie menghentikan mobil, lalu menggeser duduknya menyamping agar dapat berkomunikasi dengan Azira.
Azira lantas menundukkan kepalanya melihat jari jemarinya yang saling bertaut karena gugup.
"Mas Kenzie, aku ingin menanyakan sesuatu kepada kamu, mas."
"Oke, tanyakan saja." Kenzie mempersilakan.
"Itu mas... Apakah mas Kenzie menyukai pekerjaan yang mas lakukan sekarang?" Tanya Azira setelah terdiam beberapa detik memikirkan bagaimana caranya merangkai pertanyaan yang tepat untuk suaminya.
Kenzie merasa aneh. Tiba-tiba dia teringat dengan Ayana. Soalnya ketika mereka berdua bertemu tadi, Ayana menatapnya dengan ekspresi bersalah. Kemudian keanehan ini dikaitkan dengan sikap istrinya yang tidak terasa benar sekarang, lalu ditambah lagi dengan pertanyaan ini. Sejujurnya Kenzie rasa kalau pertanyaan ini sedikit konyol. Namun dia telah memiliki tebakan samar di dalam hatinya. Mungkinkah sepupunya telah lancang membocorkan tentang masa lalu kepada istrinya?
Kalau tidak mengapa istrinya memiliki sikap yang tidak biasa dan menanyakan sesuatu yang jelas-jelas sudah ada jawabannya.
Melihat keterdiaman suaminya, hati Azira langsung tenggelam. Mungkinkah apa yang dia pikirkan tadi memang benar adanya?
"Apakah aku menyukai pekerjaan ini, tentu saja jawabannya aku menyukai pekerjaan yang kujalani sekarang. Memang pada awalnya aku tidak menyukai pekerjaan ini. Rasanya sangat membosankan dan pada saat yang sama juga melelahkan. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai menyukai pekerjaan ini. Setidaknya untuk saat ini, aku merasa fine-fine saja menjalaninya. Memangnya kenapa kamu bertanya begitu kepadaku? Mungkinkah kamu tidak menyukai pekerjaan ku ini?"
Suara Kenzie segera menarik Azira dalam pikiran campur aduk nya. Dia terkejut, beberapa detik kemudian hatinya langsung menjadi tenang. Jawaban Kenzie memiliki makna terselubung. Itulah yang dipikirkan Azira sekarang. Tapi apa yang ingin disampaikan Kenzie kepadanya?
__ADS_1
Jadi pada awalnya Kenzie tidak menyukai pekerjaan ini, tapi kenapa dia mencoba mempertahankannya?
Atau kenapa Kenzie masih menggeluti pekerjaan ini, padahal kan dari awal dia tidak menyukainya. Jangan-jangan...
"Aku... Aku menyukainya. Tapi..." Azira ingin menanyakan tentang Amara, tapi setelah dipikir-pikir Dia memutuskan untuk tidak mengungkit tentang wanita itu lagi. Toh, wanita itu adalah masa lalu suaminya. "Yah, jika mas Kenzie menyukainya maka aku akan selalu mendukung."
Hem, dia adalah bagian dari masa lalu suaminya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kenzie telah memperhatikan semua ekspresi ataupun keraguan Azira. Tampang jelas di wajah Azira ada sesuatu yang masih mengganjal di dalam hati. Namun Azira tak kunjung menanyakannya sehingga membuat Kenzie merasa gemas. Agaknya dia kesal melihat istrinya menutup-nutupi keraguan di dalam hati. Tapi sama seperti Azira, dia tidak bisa menanyakannya secara gamblang.
Hum, anggap saja ini ujian untuknya. Batin Kenzie menekan kekesalan di dalam hati.
"Terima kasih. Aku senang kamu mendukung pekerjaanku." Lalu mobil kembali berjalan melintasi jalanan aspal ramai yang sangat hidup.
Malam ini dia akan mengirim istrinya pergi ke sebuah butik untuk membeli beberapa pakaian. Tapi sebelum pergi ke butik mereka mampir dulu ke kampus untuk menjemput Sasa dan Mona. Sebelum keluar dari rumah sakit kedua curut itu telah mengirim pesan kepada Azira agar segera dicampur karena mereka telah menyelesaikan kelas. Maka dari itu setelah menyelesaikan shalat magrib di masjid depan rumah sakit, mereka berdua langsung berangkat menuju kampus tempat kedua curut itu menunggu.
Azira langsung menggelengkan kepalanya membantah.
"Tidak ada lagi... mungkin ada beberapa tapi kita bisa membicarakannya di rumah." Kata Azira menutupinya.
Kenzie tidak berdaya.
"Baiklah."
"Apakah kamu lapar?" Kenzie melihat waktu di arlojinya, biasanya jam segini keluarga di rumah sudah makan malam.
Azira menggelengkan kepalanya tak berselera.
"Aku udah kenyang. Tadi di rumah sakit Ayana membelikan ku makanan. Jadi selama menunggu mas kembali, aku memakan semua makanan itu hingga habis. Jadi...jadi aku tidak merasa lapar sekarang. Memangnya mas Kenzie lapar, yah? Kalau lapar, kenapa kita tidak mampir dulu ke rumah makan atau restoran terdekat untuk makan?" Kata Azira malu-malu.
__ADS_1
Wajahnya terasa panas.
Itu di luar kuasanya. Meskipun galau perutnya masih bisa melahap semua makanan yang dibawa oleh Ayana. Tanpa sadar dia menghabiskan semua makanan, jadi nggak heran kalau dia tidak merasa lapar.
"Tidak usah, aku juga tidak lapar. Tadinya aku mau ngajak kamu makan di restoran kalau kamu mau makan, tapi berhubung kamu sudah kenyang maka kita tidak perlu mampir." Kata Kenzie menjelaskan.
Matanya melirik tangan Azira yang masih sibuk saling meremas.
"Tangan," kata Kenzie.
Azira bingung.
"Tangan... kenapa?" Azira melihat kedua tangannya.
Tidak ada yang aneh.
Kenzie tersenyum geli,"tangan kanan kamu siniin."
Azira bingung tapi masih membawa tangan kanannya ke suaminya. Kemudian beberapa detik kemudian semua kebingungan di wajahnya langsung terjawab oleh sentuhan hangat di atas telapak tangan basahnya.
Kenzie mengambil tangan kanan Azira dan menggenggamnya lembut tanpa merasa risih ataupun jijik dengan telapak tangan Azira yang berkeringat. Bukannya merasa jijik, dia malah mengelus telapak tangan Azira untuk memberikannya rasa kenyamanan.
"Yah, begini lebih nyaman." Gumam Kenzie puas dengan suara yang sengaja dibesar-besarkan volumenya.
Wajah Azira langsung memanas di bawah serbuan detak jantung yang berdebar kencang. Rasanya begitu manis juga hangat, desiran ini begitu hidup di dalam dirinya.
Menunduk malu, diam-diam mata aprikot nya melirik tangannya yang sedang digenggam lembut nan erat oleh tangan besar milik suaminya. Merasa sangat manis, bibirnya tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.
Ugh, suasana di dalam mobil entah kenapa memiliki bayang-bayang bunga berterbangan di dalamnya. Bahkan sekalipun mereka berdua berhenti berbicara, suasana tidak menurun menjadi titik beku dan malah semakin aneh, um...aneh juga manis. Mereka berdua jelas menikmatinya dalam diam.
__ADS_1