Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 22.9


__ADS_3

Umi cekikikan,"Enggak, Umi cuma mau ngasih tahu kalau istri kamu sekarang lagi ngobrol sama dia di depan." Kata Umi santai sambil menunjuk ke arah pintu gerbang.


Buk


Cangkul di tangan Kenzie refleks jatuh ke tanah. Wajah tampannya langsung kehilangan warna, tampak pucat seperti kekurangan darah.


Seolah tidak melihat perubahan wajah putranya, Umi semakin menambah bahan bakar ke dalam hatinya.


"Umi lihat-lihat dosennya lumayan ganteng, lho. Selain itu dia juga kelihatan ramah dan mudah tersenyum. Kalau enggak, Azira sama Sasa enggak akan tertawa sebanyak itu saat berbicara dengannya." Padahal faktanya Sasa tidak pernah tertawa sekalipun!


Jangankan tertawa, tersenyum palsu saja mulutnya seolah membeku tidak bisa digerakkan.


Kenzie mendengus dingin. Dia mengelap kedua tangannya yang kotor ke celana dan naik ke atas tanpa berpikir untuk membilas tangannya.


"Umi kenapa enggak bilang sih dari tadi kalau dia datang cari Azira lagi," keluh Kenzie dongkol.

__ADS_1


Langkah kakinya ringan dan tidak terburu-buru. Tapi langkah kakinya sangat lebar sehingga jarak ke gerbang ditempuh kurang dari 30 detik!


Sekilas Umi dan Abah menebak kalau Kenzie sedang terburu-buru.


Kebetulan saat Kenzie hampir sampai, dia mendengar Al mendesah ringan di luar gerbang.


"Jadi kamu sekarang udah nikah.." Katanya pelan.


Kenzie mengepalkan tangannya erat dan melangkah semakin jauh tanpa mengubah ekspresi datar di wajah dinginnya.


"Sayang, siapa ini?" Suara dingin Kenzie langsung menarik perhatian mereka bertiga.


Kenzie berjalan santai ke samping Azira, dan dengan alami menarik pinggang sempit Azira ke dalam pelukannya.


Azira malu. Wajah cantiknya secara perlahan mulai mengembangkan rona merah seiring suhu panas di wajahnya yang semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Ini...ini ketua OSIS aku sewaktu SMA dulu, mas. Kami sudah lama tidak bertemu, mungkin hampir 6 tahun lamanya. Kak Al," setelah mengenalkan siapa Al kepada suaminya, Azira beralih menatap Al di luar gerbang.


"Perkenalkan, ini suamiku. Namanya mas Kenzie." Azira memegang punggung tangan suaminya yang dipanggang sebagai bentuk kenyamanan.


Dia suka Kenzie memeluknya seperti ini.


Kenzie tersenyum tipis,"Oh, jadi kenalan lama."


Pantas saja Azira mau mengobrol dengannya pikir Kenzie tidak heran.


Al bisa merasakan jika laki-laki kamu di depannya ini mungkin tidak terlalu menyukainya.


"Yah, aku kakak kelasnya dulu. Aku juga tidak menyangka bisa bertemu dengan Azira lagi, soalnya kita tidak pernah bertemu cukup lama. Dan baru beberapa hari yang lalu aku melihat Azira lagi setelah selesai pindahan ke kompleks ini. Aku kira salah orang, tapi ternyata memang benar Azira. Senang bertemu dengan kamu dan aku juga ikut berbahagia melihat kamu akhirnya menikah." Suaranya sopan dan ramah.


Sangat sulit mengetahui apakah yang dia katakan memang sebuah ketulusan dari hati atau cuma topeng belaka saja, tidak ada yang tau.

__ADS_1


Kenzie masih tersenyum, tipis.


"Kami baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Apakah kamu mau masuk ke dalam?"


__ADS_2