
Azira tiba-tiba menangis. Membuat Kenzie panik. Dengan cemas yang membujuk istrinya untuk berhenti menangis. Dia sendiri bingung apakah dia memiliki kata-kata yang tidak pantas dan telah menyakiti hati istrinya?
Tapi yang mana?
Semua yang Kenzie katakan telah dia pikirkan matang-matang sebelum mengatakannya kepada Azira. Dan dia yakin kalau semuanya telah tersaring. Lagi pula kenapa dia harus mengatakan kata-kata bodoh kepada istrinya?
Kenzie yakin bahwa dia tidak melewatkan apapun. Tapi mengapa istrinya tiba-tiba menangis?
Berulang kali jari-jarinya mengusap pipi basah Azira, namun air mata itu tidak kunjung berhenti mengalir. Cairan bening dan hangat itu seperti gelombang banjir mengalir seperti air terjun dan tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti.
"Aku mohon, jangan menangis. Jika aku telah mengatakan sesuatu yang salah kepadamu, maka tolong katakan kepadaku biar aku memperbaikinya. Bila kamu tidak puas, aku juga bersedia menerima hukuman dari kamu. Aku tahu bahwa apa yang telah aku lakukan hari itu salah dan aku apa yang telah kukatakan hari ini mungkin membuatmu terluka, jadi hukum lah aku untuk melampiaskan semua ketidaknyamanan di hatimu. Asalkan berhenti menangis dan jangan mengabaikan aku lagi, oke?" Kenzie memohon dengan lembut kepada istrinya.
Sementara dia berbicara, tangannya tidak berhenti mengusap wajah basah istrinya yang menyedihkan. Dan hatinya semakin tersiksa tatkala dia menangkap suara tertahan isakan kecil istrinya. Seolah dia ikut merasakan betapa sakit dan perih yang dirasakan hati Azira hingga membuatnya menangis sebanyak ini. Mungkin ini pertama kalinya genji melihat istrinya menangis keras. Suara tangisannya yang muncul dari kalbu terdalam istrinya.
"Aku...aku tidak menangis.." ucap Azira di sela-sela tangisan.
Dia bilang tidak menangis, tapi kedua matanya terus menerus mengeluarkan air mata. Siapa yang sedang dia tipu?
Kenzie berpikir lucu.
"Jika kamu tidak menangis, lalu ada apa dengan air mata ini? Mungkinkah kamu sedang kelilipan?" Tanyanya lucu.
Dadanya bergetar hebat ketika dia tertawa. Aneh, bukan?
Baru beberapa detik yang lalu dia tertekan dengan tangisan istrinya, namun hanya butuh beberapa detik, istrinya berhasil membuatnya tertawa, dia lega. Mungkin... mungkin karena istrinya tidak menangis karena sedih, yah, Kenzie sangat berharap.
Azira merasa malu dengan tawa suaminya. Apakah ini lucu?
Bisa-bisanya Kenzie bertanya apakah dia sedang kelilipan atau tidak!
"Aku tidak bermaksud begitu, mas, jangan bercanda!" Cubit Azira gemas.
Tanpa persiapan apapun, Kenzie menerima cubitan dari Azira di pinggang. Rasanya...ugh, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Intinya bukan geli.... Karena rasanya cukup menyakitkan sampai-sampai Kenzie menutup matanya menahan ringisan.
"Baiklah.... baiklah, aku tidak akan bercanda lagi istriku. Jadi tolong... Tolong lepaskan capitmu dari pinggang rapuhku." Mohon Kenzie bersungguh-sungguh.
Azira tercengang. Iris coklatnya membesar menatap takjub ekspresi kewalahan suaminya yang tidak biasa. Ini sangat langka. Biasanya Kenzie tidak akan menunjukkan apa-apa di wajahnya meskipun dia sangat kelelahan atau sedang tidak enak badan. Azira pikir itu karena suaminya memang minim ekspresi. Akan tetapi setelah melihatnya sekarang Azira berubah pikiran. Suaminya tidak memiliki ekspresi ketika tidak nyaman ataupun sakit bukan karena minim ekspresi tapi lebih tepatnya karena suaminya belum benar-benar merasa 'kewalahan'.
Um, dan cubitan ini berhasil membuat suaminya kewalahan.
"Mas," Azira melepaskan capitnya dari pinggang 'rapuh' suaminya.
Omong kosong. Dia adalah satu-satunya saksi yang mengkonfirmasi betapa tangguhnya pinggang Kenzie. Azira sama sekali tidak mempercayai omong kosong suaminya ini.
"Kamu akhirnya berhenti menangis. Aku jadi lega." Tiba-tiba Kenzie berkata seperti itu.
Azira terdiam lalu menundukkan kepalanya kembali bersandar di dada bidang suaminya.
"Aku hanya... Merasa sangat nyaman sampai-sampai ingin tidur." Bisik Azira kepada suaminya.
Kenzie mengelus punggung kurus Azira dengan gerakan lembut, usapan lembut ini membuat kelopak mata Azira semakin berat. Azira juga tidak tahu. Karena dia merasa sangat bahagia rasa kantuk itu tiba-tiba datang melanda. Padahal dia tahu bahwa ini sedikit salah. Dan Azira juga tidak berdaya menahan rasa kantuknya. Sejujurnya dia masih punya banyak keluhan untuk dibicarakan dengan suaminya. Selain itu Azira mau membicarakan hal-hal yang serius dengan Kenzie, tapi dia tidak bisa menahan diri karena godaan tidur amat sangat berat.
"Bisa-bisanya kamu mau tidur?" Kenzie merasa heran.
__ADS_1
Dia masih ingin mengobrol panjang dengan istrinya dan belum lagi... Dia masih belum makan siang!
Namun itu tidak penting. Jika istrinya mau tidur, Kenzie tidak masalah menunda makan sebentar saja. Lagi pula tidak ada yang lebih penting dari istrinya.
"Aku juga nggak tahu, mas. Mungkin gara-gara banyak mikirin masalah kita beberapa hari ini membuat ku agak kelelahan dan membutuhkan tidur." Azira rasa mungkin ini alasannya.
Kenzie merasa semakin bersalah. Dia tahu bahwa ini tidak benar, mungkin saja berhubungan dengan medis. Ada beberapa gejala yang bisa dicocokkan dengan situasi istrinya. Akan tetapi mendengar alasan polos istrinya membuat Kenzie merasa kian menyalahkan dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia menyakiti menyakiti wanita yang paling berharga di dalam hidupnya.
"Maafkan aku, istriku. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Lain kali ada masalah seperti ini aku harus mencari tahu dulu sebelum membuat sikap. Baiklah, jika kamu ingin tidur, maka tidurlah. Aku akan membawa kamu ke kamar." Kenzie mengecup kening Azira sayang.
Awalnya dia akan berdiri membawa Azira ke kamar, tapi Azira menolak pergi karena dia menyukai suasana di sini.
"Jangan ke kamar, mas. Aku suka tidur di sini, cuacanya sangat nyaman." Cegah Azira menahan suaminya untuk tidak berdiri.
Kenzie langsung menuruti permintaan istrinya. Tadi dia memeluk Azira, tapi sekarang dia mengubah posisi Azira. Kedua lengan kuatnya dengan lancar mengangkat Azira seperti gaya pengantin dan menempatkannya di atas paha. Membiarkan istrinya tidur di atasnya. Setelah itu, dia memeluk tubuh kurus Azira yang agak berdaging, memegang tubuhnya erat-erat yang menunjukkan suasana hatinya sekarang. Sampai akhirnya dia teringat belum sempat ganti baju karena terburu-buru mencari Azira.
Kalau sudah mandi mungkin tidak apa-apa, tapi masalahnya sekarang adalah dia tidak hanya belum berganti baju tapi juga belum mandi!
Kenzie tidak nyaman. Takut istrinya mencium bau badan meskipun dia bukan orang dengan tipe memiliki keringat bau. Tapi tetap saja dia belum mandi dan berganti baju setelah beraktivitas di luar rumah.
"Sayang, sepertinya aku harus ganti baju dulu di dalam dan mandi sebentar, soalnya dari tadi pagi aku belum mandi dan berganti baju." Bisik Kenzie bersuara rendah takut mengganggu kenyamanan Azira.
Azira menggelengkan kepalanya menolak sang suami pergi. Badan suaminya tidak bau, dan malah Azira suka mencium bau keringat suaminya.
"Enggak usah, mas. Badan mas Kenzie tidak bau. Malah harum, aku suka menciumnya." Kata Azira mengakui tanpa malu-malu.
Pokoknya apapun yang terjadi suaminya tidak boleh mandi atau berganti pakaian sekarang. Mungkin ini kedengarannya aneh tapi begitu dirinya mencium bau keringat suaminya, Azira langsung ingin menempel terus. Dan gara-gara ini, keinginannya untuk tidur semakin kuat. Ah, ini seperti kembali ke dalam pelukan Ibu saat kecil saking nyamannya.
Azira tidak mau melepaskannya. Jadi dia mengeratkan pelukannya di punggung tegak sang suami.
Biasanya Azira tidak seperti ini.
Azira melenguh nyaman,"Um..."
Karena Azira tidak mau membiarkan dia pergi untuk mandi dan berganti baju, Kenzie tidak punya pilihan selain mengikuti permintaan istrinya. Walaupun dia merasa tidak nyaman tapi demi Azira, tidak apa-apa menahannya sebentar saja. Kenzie diam-diam begitu di dalam hati.
...*****...
"Apa yang sedang kalian berdua lihat?" Suara Umi tiba-tiba mengejutkan mereka berdua.
Sasa dan Mona sedang berjongkok di depan jendela. Mereka berdua sudah berjongkok di sini hampir setengah jam lamanya. Mungkin sejak Kenzie pergi ke halaman belakang, mereka berdua sudah di sini.
Sasa dan Mona memiliki kekhawatiran yang sama. Sama-sama menyukai Azira dan sama-sama membenci Amara. Wanita tidak tahu malu yang berniat menghancurkan pernikahan kakak mereka. Karena khawatir dan penasaran, alhasil mereka memutuskan untuk mengikuti Kenzie secara diam-diam ke sini. Niatnya sih ingin menonton pertengkaran. Tapi yang mereka dapatkan justru beberapa adegan tidak senonoh dan tentunya beberapa interaksi manis yang membuat wajah mereka memerah. Padahal Azira yang di goda, tapi yang merasa malu malah mereka sendiri.
Sungguh keputusan untuk datang ke sini adalah keberuntungan yang yang mungkin tidak akan mereka dapatkan dua kali di masa depan. Meskipun suara percakapan Kenzie dan Azira cukup samar sebab jarak mereka agak jauh, tapi mereka berdua masih bisa mendengarnya sedikit-sedikit.
Dengan informasi kecil itu mereka dapat membuat kesimpulan yang sangat besar dan mengejutkan!
Mereka tidak sabar ingin memberitahu orang-orang tentang informasi besar apa yang telah mereka dengar tadi.
"Umi! Umi membuatku takut!" Sasa memegang dadanya ketakutan.
Dia dan Mona sama sekali tidak menyadari Uminya berdiri di belakang.
__ADS_1
Umi melototi putrinya kurang ajar.
"Beraninya kamu berteriak sama, Umi?"
Sasa melambaikan tangannya membuat pembelaan.
"Ini tidak disengaja. Lagian siapa yang menyuruh Umi berdiri di belakang kami, pakai ngagetin segala, siapa yang nggak teriak coba." Apa yang Sasa katakan agak masuk akal.
Tapi berhubung suasana hati Umi sedang buruk, dia tidak menerima pembelaan putrinya.
"Nggak ada alasan. Teriak sama orang tua itu dosa, kamu pasti udah tahu kan!"
Sasa dan Mona saling memandang. Untungnya Mona tidak mengatakan apa-apa sehingga yang kena marah cuma Sasa seorang. Melihat sepupunya dimarahi, Mona dengan patuh menggeser posisinya berada di samping Umi. Diam-diam menonton kegembiraan melihat sepupunya kena semprot.
"Sasa tahu kok, Umi. Kalau lagi sadar pasti nggak bakal teriak, tapi tadi beneran kaget loh. Ngomong-ngomong Sasa punya kabar gembira untuk Umi. Ini berita besar. Umi pasti sangat senang mendengarnya." Buru-buru Sasa mengalihkan topik pembicaraan.
Menunggu Umi selesai ngomel nggak akan kelar-kelar. Mungkin sampai besok juga masih disebut, jadi dia harus buru-buru mengalihkan fokus Umi agar tidak kena semprot terus.
Umi tahu pikiran putrinya. Jadi dia sama sekali tidak terpancing.
"Kamu ini, Umi lagi ngomong serius sama kamu. Ini pelajaran yang baik. Kalau Umi nggak kasih kamu nasehat sekarang, akan jadi masalah di masa depan, tuh liat contohnya kakak kamu. Umi nggak pernah ngelihat laki-laki sebodoh kakak kamu." Cela Umi menyebut putranya sebagai orang bodoh.
Umi berpikir lama kalau sampai putranya tidak bisa menyelesaikan masalah, maka Umi akan menjodohkan Azira dengan dosen duda itu. Terserah anaknya mau marah atau tidak terima, Umi bakal tetap melakukan itu. Karena Umi merasa tidak enak kepada Azira. Dia merasa malu sebagai seorang mertua karena tidak bisa membantu apa-apa tentang putranya yang bodoh.
Sasa spontan memegang tangan Umi.
"Tepat, ini tepat sekali. Ini tentang kak Kenzie! Umi harus tahu kalau aku sama Mona rela-relain jongkok selama setengah jam di sini untuk menguping pembicaraan kak Kenzie dan kak Azira. Coba tebak, berita besar apa yang telah kami dengarkan tadi?"
Mendengar nama Kenzie dan Azira disebut, fokus Umi langsung berubah. Dia langsung lupa menceramahi putrinya dan berbalik mendesak putrinya agar segera menceritakan berita apapun yang dia dengar.
"Alah, kamu nggak usah berbelit-belit. Langsung saja ngomong sama Umi, apa yang mereka bicarakan. Kalau kamu nggak mau bilang, maka Umi akan memotong uang saku kamu dan Mona." Ancam Umi serius.
Mona langsung keberatan.
"Yah, jangan begitu dong, Umi. Kita kan mau ceritain. Uang saku kami jangan dipotong, ya?" Mohon Mona bergerak cepat.
Sasa langsung memutar bola matanya malas. Kalau sudah menyangkut uang, sepupunya ini paling cepat. Tadi aja ngelihat sepupunya dimarahi malah diam menonton, cek, Sasa bertanya-tanya, mungkinkah mereka sebenarnya tidak memiliki hubungan keluarga?
Kalau tidak, kenapa karakter mereka bertolak belakang dan yang paling mengenaskan adalah, Mona sama sekali tidak memiliki jiwa korsa dan malah memiliki mentalitas menonton pertunjukan!
"Kalau begitu ayo cepat ceritakan." Desak Umi tidak sabar.
Mona langsung melirik sepupunya.
"Siapa yang ngomong?"
Sasa tidak berdaya,"Aku aja deh yang ngomong."
...*****...
Kenzie menatap heran wajah lembut istrinya yang tengah tertidur. Ini baru jam 8 malam, atau tepatnya setelah shalat isya Azira mengatakan kalau dia mengantuk lagi dan ingin tidur sebentar. Kenzie semakin merasa kalau ada sesuatu yang salah dengan istrinya. Berbagai macam dugaan yang berselebaran di dalam kepalanya, tapi yang paling sering berputar-putar di kepalanya adalah kemungkinan bahwa Azira hamil.
Ini bukan tidak mungkin karena gejala yang Azira tunjukkan sangat dekat dengan kemungkinan ini. Pertama, akhir-akhir ini Azira tidak memiliki nafsu makan dan lebih suka makan buah-buahan. Azira bilang perutnya tidak nyaman ketika melihat makanan berat atau makanan yang berbau keras. Kedua, selain tidak memiliki selera makan Azira juga sering mengantuk dan tubuhnya lemas tidak mau beraktivitas. Dan anehnya lagi Azira mudah tertidur di mana saja. Di kamar, di sofa, kursi taman pokoknya ke mana pun dia pergi kalau rasa kantuknya datang, dia tidak menahan diri untuk tertidur. Lalu yang ketiga, tentunya fakta yang baru Kenzie temukan tadi siang, yaitu Azira suka sekali menempel kepadanya. Dulu memang suka tapi tidak seintens sekarang. Bahkan Azira berkata kalau dia sangat suka mencium bau keringatnya. Kenzie sempat kewalahan dibuatnya karena hampir mau magrib, barulah Azira mengizinkan Kenzie untuk mandi. Itu pun dia sedikit enggan dengan ekspresi tertekan di wajahnya, ah, Kenzie gatal ingin mencubit pipi gembul istrinya.
__ADS_1
Nah, dengan semua keanehan ini, bisa jadi Azira hamil.
"Kalau dipikir-pikir bulan ini Azira tidak pernah datang bulan. Mungkinkah... Dia sekarang sedang mengandung?" Jantung Kenzie berdebar kencang hanya memikirkannya saja.