
Seolah bisa melihat isi pikiran Azira, dia mengangguk pelan.
"Benar, aku berhasil menemukan keluarga ibu lewat dia. Sejujurnya aku penasaran kenapa wanita itu terus melihat ke arah kamu. Karena menurutku dia tidak memiliki perasaan jahat kepadamu. Cukup penasaran, aku iseng meminta sektretaris ku untuk menyelidiki dan hasilnya, aku benar-benar menemukan mereka. Dan aku tahu alasan kenapa wanita itu terus melihat kamu. Ternyata ketika dia melihat kamu, dia merasa kamu sangat mirip dengan bibinya yang telah lama hilang." Jelas Kenzie menceritakan latar belakang bagaimana dia menemukan keluarga Ibu Azira.
Azira sangat merindukan keluarganya yang ada di kampung. Namun dia tidak tahu bagaimana caranya menghubungi mereka dan dia juga tidak tahu arah jalan menuju kampung tempat tinggalnya dulu. Sebab sudah bertahun-tahun lamanya dia meninggalkan kampung. Sehingga dia tidak terlalu ingat di kampung mana tempat dia pernah tinggal dulu bersama ibunya. Satu sisi Azira juga memiliki ketakutan di dalam hati. Dia takut bila keluarga ibunya tidak mau menerimanya kembali jika mereka bertemu suatu saat nanti. Dia memiliki ketakutan ini. Mungkin karena lingkungan yang buruk dulu membuat Azira sering meremehkan dirinya sendiri.
Menganggap bahwa diri sendiri bukanlah sesuatu yang penting.
Meremehkan diri sendiri dan merasa diri adalah yang paling tidak berguna di muka bumi merupakan bahaya psikologis bagi orang-orang korban bullying. Orang-orang yang membully kehidupan seseorang mungkin tidak akan pernah tahu bahwa apa yang telah mereka lakukan telah menghancurkan kepercayaan diri orang itu untuk menghadapi dunia. Maka dari itu para pelaku kejahatan bullying jauh lebih kejam daripada penjahat yang melukai secara fisik. Luka fisik mungkin bisa diobati meskipun meninggalkan bekas di kulit, tapi berbeda dengan luka non fisik yang akan selalu teringat jelas sampai sisa hidupnya.
"Kalau aku pikir-pikir kejadian itu sudah beberapa bulan yang lalu sebelum aku mengandung, mungkinkah mas Kenzie sudah lama mengetahuinya?" Tanya Azira sembari memainkan jari jemarinya di atas dada bidang suami.
Kenzie merasa geli tapi tidak menghentikan suaminya terus bermain. Karena di satu sisi dia sangat nyaman dengan perasaan itu.
"Aku memang sudah lama mengetahuinya. Seingat ku Arian mengkonfirmasinya pada hari kita berbicara dari hati ke hati, menyelesaikan kesalahpahaman yang sempat terjadi karena Amara. Aku sudah tahu tapi sengaja tidak memberitahumu karena merasa belum waktunya. Awalnya aku ingin memberitahu kamu tentang mereka saat usia kandungan kamu sudah stabil. Niatnya ingin membawa kamu pergi ke kampung untuk menemui mereka secara langsung. Tapi kondisi kamu tiba-tiba jadi drop lagi. Dan rencana ini sekali lagi diundur sampai kondisi kamu benar-benar membaik. Yang membuat aku terkejut adalah perkembangan bayi kita. Dengan kondisi kamu seperti ini aku tidak berani membawa kamu pergi melakukan perjalanan jauh. Aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa jadi aku langsung mendiskusikan masalah ini dengan Abah untuk mendapatkan solusi. Setelah kami berbicara Abah sangat senang mendengar tentang kabar keberadaan keluarga kamu. Abah sendiri yang meminta bila keluarga ibu harus datang ke acara 7 bulanan kandungan kamu. Bahkan Abah sendiri menawarkan diri untuk pergi menjemput mereka ke kampung, tapi pihak keluarga yang ada di kampung menolak. Mereka bersikeras bisa datang sendiri ke kota sehingga dengan terpaksa Abah membiarkan mereka melakukan perjalanan sendiri. Dan seperti yang kamu lihat hari ini. Beberapa saudara ibu datang ke sini khusus untuk menemui kamu. Mereka membawa beberapa hadiah khas kampung kamu dulu. Ada kain ada juga makanan, semua itu tidak dapat ditemukan di kota. Kamu harus berterima kasih kepada mereka saat bertemu nanti. Selain mengucapkan terima kasih, kita juga harus membalas mereka dengan hadiah yang tidak kalah lebih baik. Hitung-hitung ini adalah hadiah pertemuan setelah sekian lama berpisah." Terang Kenzie menjelaskan.
Karena kondisi Azira yang sempat tidak stabil selama beberapa bulan ini, Kenzie hampir saja melupakan keluarga Ibu Azira yang ada di kampung. Untunglah dia tiba-tiba teringat dan segera menemui Abah untuk mendiskusikan masalah ini. Hasilnya sangat memuaskan. Akhirnya keluarga Ibu Azira datang ke kota dan sekarang tinggal di rumah ini. Perkembangan selanjutnya akan dilihat saat mereka bertemu dengan Azira.
"Masya Allah tabarakallah, aku senang banget mas. Aku kira tidak akan pernah bisa bertemu dengan keluarga pihak ibu lagi di dalam kehidupan ini. Mau bagaimana lagi, aku sudah lama meninggalkan kampung dan tidak ingat jalan pulang. Aku juga tidak memiliki kontak mereka semua sehingga aku tidak bisa menghubungi mereka. Sejujurnya aku sudah menyerah. Sempat berpikir mungkin ini yang terbaik untuk kami karena perpisahan dulu sangat tidak menyenangkan. Semua orang di keluargaku melarang Ibu pergi ke kota untuk mencari ayah. Mereka sudah mengatakan berkali-kali kepada Ibu bahwa ayah bukanlah laki-laki yang baik. Tapi Ibu tidak mau mendengarkan mereka dan berpisah dengan cara yang sangat buruk. Lalu setelah itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan mereka dan aku juga tidak tahu bagaimana menghubungi mereka. Aku mau jujur sama mas Kenzie. Di saat rumah kekurangan makanan atau uang, pikiran pertama aku adalah mencari keluarga aku yang ada di kampung. Memangnya siapa lagi yang bisa kami andalkan selain mereka? Kami berdua tidak punya siapa-siapa di kota. Dan aku juga sangat mengerti bahwa semarah apapun mereka kepada kami, mereka adalah orang pertama yang akan peduli kepada kami jika terjadi sesuatu. Tapi sayang sekali, aku benar-benar tidak dapat menemukan cara untuk menghubungi mereka. Sementara ibuku.... Dia mungkin masih mengingat jalan pulang tapi tak pernah menyebutkan kepadaku. Ibu tidak mau pulang ke kampung. Ibu tidak mau saudara-saudaranya melihat bagaimana keadaannya sekarang. Ibu sangat malu, mas. Aku tahu bila Ibu sangat merindukan mereka, tapi karena rasa malu, Ibu tidak berani menghubungi mereka. Inilah yang aku sesalkan dari ibu. Dia enggan menghubungi keluarganya padahal dia sendiri tahu bahwa dia sangat membutuhkan mereka." Mau tak mau Azira akan selalu mengingat ibunya yang telah lama pergi.
__ADS_1
Ibu sangat malu. Pekerjaan ibu yang sangat kotor bagaikan tamparan wajah untuk Ibu yang selalu menutup telinga terhadap kata-kata saudaranya dulu. Ibu rindu tapi Ibu juga malu bertemu, lebih dari perasaan apapun itu Ibu tahu bahwa keadaannya waktu itu pasti membuat keluarganya yang ada di kampung sedih. Jadi lebih baik menyembunyikan semuanya. Jalani saja dalam diam dan jangan katakan apapun dalam kesunyian.
"Mungkin sebagian besar orang akan melakukan hal yang sama dengan ibu bila mereka ada di posisi ibu. Tak ada siapapun yang ingin melihat keluarganya melihat betapa menyedihkannya mereka. Terlebih lagi Ibu pasti tahu bahwa ekonomi keluarga sangat sulit pada waktu itu sehingga dia memilih dia agar tidak membebani keluarga kamu yang ada di kampung. Tidak apa-apa istriku, sekarang kamu telah bertemu dengan saudara-saudara ibu. Berbicaralah baik-baik dengan mereka karena mereka adalah satu-satunya kerabat dari pihak ibu. Kita berdua akan berusaha membantu mereka, kita akan menjaga mereka sebagai perwakilan dari ibu. Ibu pasti senang melihat kita menjaga saudara-saudaranya yang ada di kampung. Menunaikan tugas yang belum sempat tugas yang belum sempat ibu kita lakukan. Ngomong-ngomong setelah aku melihat karakter mereka semua, aku merasa bahwa mereka semua orang yang sangat luar biasa. Mereka sangat menghargai hubungan persaudaraan dan saling menjaga satu sama lain, keluarga hangat seharusnya begini. Kita harus menjaga hubungan kita baik-baik dengan mereka. Beberapa hari ke depan ayo ajak mereka ke tempat ibu, mereka pasti sudah lama merindukan ibu dan ibu juga pasti sudah lama merindukan mereka. Pertemukan saja untuk saling menyapa." Sambil berbicara Kenzie mengelus puncak kepala istrinya sayang.
Tampak jelas dari nada suaranya jika dia sangat puas dengan paman dan yang lainnya. Karakter keluarga paman dan yang lainnya jauh lebih baik daripada karakter keluarga Ayah. Dia bisa mengandalkan keluarga Paman dan yang lainnya untuk memberikan rasa aman kepada istrinya. Karena sekarang istrinya tidak sendirian lagi. Dia memiliki keluarga yang berasal dari kampung dan dia juga memiliki keluarga suami yang akan selalu melindungi.
Hidup Azira memang sangat membuat diri!
"Hum, aku akan mendengarkan semua yang mas Kenzie katakan. Apapun yang mas Kenzie perintahkan kepadaku pasti memiliki kebaikan untuk diriku sendiri. Mas Kenzie, terima kasih telah mempertemukan ku dengan keluarga Ibu lagi. Terima kasih telah mewujudkan kerinduanku selama ini. Mas Kenzie tidak hanya memenuhi keinginanku yang terdalam, tapi mas Kenzie juga berhasil memenuhi keinginan ibu yang tidak terucapkan. Mas, berkali-kali aku selalu berpikir bahwa aku sangat beruntung bertemu dengan mas Kenzie dalam hidup ini. Aku sangat beruntung di pertemukan dengan laki-laki sebaik mas Kenzie. Dengan mas Kenzie aku merasakan bagaimana rasanya di cintai, aku merasakan bagaimana rasanya dibutuhkan, dan dengan mas Kenzie aku akhirnya dapat merasakan betapa hangatnya keluarga. Mas Kenzie memenuhi semua yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Terima kasih, mas. Aku sangat berterima kasih kepada mas, Kenzie. Untuk semuanya terima kasih, aku mencintai mas Kenzie." Berkali-kali dia mengucapkan rasa terima kasih kepada suaminya tercinta. Namun dia merasa bahwa semua itu masih belum cukup. Karena suaminya terlalu luar biasa. Azira tidak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, pokoknya Kenzie adalah orang yang sangat luar biasa.
Saat dia mengucapkan kalimat terakhir tadi, Azira merasa malu sehingga nada suaranya tanpa sadar melembut, begitu nyaman di dalam pendengaran Kenzie. Dia sangat senang mendengarnya.
Azira langsung membungkam mulut Kenzie dengan tangan kanannya. Dia tidak tahan mendengar ungkapan cinta Kenzie kepadanya. Rasanya manis, tapi terlalu manis sehingga membuat Azira menjadi tidak tahan. Dia takut bila terlalu lama mendengar hatinya akan meleleh, selumer karamel.
Manis.
"Sudah cukup, mas. Aku sudah cukup mendengarnya. Bila mas mengatakannya terus, aku akan merasa pusing." Kata Azira malu-malu.
"Ah!" Azira langsung menarik tangannya dari mulut sang suami.
__ADS_1
Dia sangat ketakutan ketika telapak tangannya dijilat oleh lidah licin suaminya. Kenzie terlalu ceroboh pikirnya!
"Mas Kenzie! Tangan aku kotor!" Dia belum cuci tangan.
Kenzie tertawa puas. Dia tidak peduli apakah tangan istrinya kotor atau tidak, yang penting dia mendapatkan asupan tambahan hari ini. Ugh, ngomong-ngomong dia agak lambat mendapatkan jatah selama beberapa waktu ini.
Tentu saja karena kondisi Azira baru membaik. Jika kondisi Azira baik-baik saja, Kenzie tidak mungkin menahan diri untuk berpuasa selama berhari-hari lamanya!
Sayang sekali!
Kenzie menatap perut istrinya. Berharap agar anaknya segera lahir ke dunia sehingga hubungannya dengan Azira tidak dipersulit lagi olehnya.
"Anak ini benar-benar nakal. Belum lahir saja ke dunia, dia sudah membuat masalah kepadaku. Apalagi jika dia sudah lahir nanti? Aku tidak akan segan melemparnya ke panti asuhan!" Kata Kenzie kejam kepada anaknya.
Azira sudah sering mendengar suaminya mengatakan kata-kata ini. Dia sudah terbiasa dan hanya menganggap kata-kata suaminya lucu.
"Jangan membuat masalah, mas. Dia ada di sini juga gara-gara mas Kenzie." Kata Azira santai.
Kenzie mendengus dingin. Dia sudah menyiapkan rencana untuk masa depan anaknya kelak. Ketika anaknya berusia 5 tahun dia akan mengirimnya ke pondok pesantren. Dalam waktu seminggu dia akan tinggal di sana selama dua atau tiga hari, hitung-hitung sebagai adaptasi sebelum benar-benar tinggal di pondok pesantren. Mengajarkan anak ilmu agama sejak dini juga alasan kenapa Kenzie ingin melemparkan anaknya ke pondok pesantren lebih cepat.
__ADS_1
Tapi tentu saja Azira dan Umi tidak memperbolehkannya. Alhasil anak itu hanya bisa sekolah bawang-bawang saja dulu di pondok pesantren. Baru setelah dia berusia 7 tahun, anaknya akan secara resmi menjadi santri di pondok pesantren yang dimiliki oleh keluarganya. 3 tahun pertama masuk pondok pesantren, anaknya bisa pulang ke rumah selama 4 kali sebulan. Artinya dia bisa pulang setiap minggu. Tapi setelah 3 tahun itu, yaitu 3 tahun kemudian anaknya hanya boleh pulang satu bulan sekali karena sudah bisa dianggap beradaptasi dengan pendidikan pondok. Kemudian 6 tahun setelah pendidikan di pondok pesantren, lebih tepatnya sepantaran dengan pendidikan SMA di luar, anaknya hanya boleh pulang ke rumah 6 bulan sekali. Pendidikan ini terkesan sangat ketat tapi memiliki nilai kebaikan untuk anak maupun orang tua.