Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 32.3


__ADS_3

Azira dan Kenzie pergi ke ruang tamu. Sesampainya di sana Azira terkejut melihat pasangan suami istri yang sedang duduk di sana. Azira kira mereka berdua sudah pergi selepas acara selesai. Namun yang tidak disangka mereka berdua masih di sini. Azira menebak tujuan pasangan suami istri ini menunggu di sini adalah karena ingin bertemu dengannya. Mungkin mereka berdua ingin membicarakan masalah tadi sore. Entah meminta maaf atau pembelaan Azira tidak tahu. Baginya kedua orang ini memiliki kesan yang cukup baik. Azira tidak pernah mengingat kedua orang ini berbuat jahat kepadanya. Dan dia juga tidak pernah mengingat kedua orang ini mengatakan hal-hal buruk kepadanya. Malah yang ada kedua orang ini sering membelanya ketika sedang di pojokan oleh orang-orang keluarga Ayah. Azira memiliki kesan baik jadi dia tidak mengabaikan kedua orang ini.


Dan tanpa restu dari suaminya, kedua orang ini mungkin tidak akan berada di sini. Azira tahu bila suaminya sengaja ingin mempertemukan dia dengan paman dan bibi Sifa.


Benar sekali. Pasangan suami istri itu adalah paman dan bibi Sifa. Mungkin akan sulit dilupakan bagaimana cara kedua pasangan ini saat menekan ayah untuk diberi pelajaran. Jujur saja Azira dan yang lainnya sangat shock, dan disaat yang sama Azira juga merasa terharu.


Ternyata masih ada orang yang peduli kepadanya di rumah itu.


"Paman, bibi Sifa lama tidak bertemu. Aku minta maaf tidak sempat menyapa kalian tadi sore karena situasinya berada di luar kendali kami." Safa Azira sembari dibantu duduk oleh suaminya.


Setelah dia duduk dengan nyaman di sofa, barulah Kenzie ikut duduk di sampingnya. Tangannya tidak lupa melingkari pinggang tebal Azira. Sikap yang protektif membuat bibi Sifa tersenyum. Hampir satu tahun tidak bertemu dengan mereka berdua, dia agak terkejut melihat perubahan mereka. Terutama Kenzie sendiri. Dia dulu sering bertemu dengan Kenzie dan cukup mengenal seperti apa karakter Kenzie. Di dalam benaknya Kenzie adalah orang yang acuh tak acuh juga selalu memiliki sikap dingin. Bahkan saat berdiri dengan Humairah, Kenzie masih tidak tersenyum. Bibi Sifa mengira kalau itu mungkin bawaan Kenzie dari lahir.


Tapi setelah melihatnya sekarang. Dia tahu bahwa itu bukan bawaan dari lahir tapi karena Kenzie belum bertemu dengan wanita yang tepat. Dan wanita yang tepat itu adalah keponakannya sendiri, keponakan yang sempat terabaikan dan tak pernah diperhatikan oleh kakaknya.


Di tangan laki-laki ini dia dimanjakan dan diperlakukan bagaikan harta berharga, sungguh luar biasa pikirnya.


"Kamu tidak perlu meminta maaf Azira. Urusan hari ini adalah kesalahan dari pihak aku sendiri. Dan aku tahu maaf saja tidak cukup untuk menjelaskan semuanya. Gara-gara kejadian ini acara kalian dikacaukan dan yang paling parah Azira hampir saja mengalami kecelakaan, aku sungguh tidak tahu harus berkata apa tentang masalah ini. Aku hanya berharap hatimu dapat memaafkan mereka. Sungguh aku mengerti bahwa apa yang mereka lakukan mungkin sangat sulit untuk dimaafkan. Tidak, aku tidak akan menghalangi kamu untuk menuntut mereka karena itu adalah hakmu. Tapi bolehkah aku berharap kamu mau memaafkan mereka?" Kata bibi Sifa sedikit malu.


Sangat sulit untuk memaafkannya tapi dia tetap memohon agar Azira memberikan maaf. Dia tidak ingin kejadian ini meninggal kan luka seumur hidup untuk Azira sendiri dan penyesalan tiada berkesudahan untuk ayah sendiri. Dia mengharapkan yang terbaik untuk kedua belah pihak dan dia juga berjanji tidak akan menghalangi proses hukum yang akan pihak Azira ajukan. Dia tidak memiliki hak itu.


Azira dan Kenzie saling memandang. Ternyata lebih dari yang dia pikirkan, bibi Sifa adalah orang yang bijaksana.


"Mengenai kejadian tadi, bohong bila aku tidak kecewa kepada mereka, bibi. Jujur saja untuk masa lalu pahit yang aku alami dulu, aku mulai belajar untuk mengikhlaskannya karena menurutku tidak baik terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Selain itu aku memiliki mas Kenzie dan keluarga yang sangat baik di sekelilingku, tak pantas rasanya aku terus terikat oleh masa lalu. Jadi perlahan aku mulai melepaskannya dan memulai kehidupan baru bersama orang-orang baik di sekelilingku. Jika aku tidak melepaskan masa lalu, maka aku dan suamiku tidak akan mengambil inisiatif untuk mengundang kalian datang ke sini. Sejujurnya kami ingin memperbaiki hubungan tali silaturahmi di antara kita yang sempat meregang. Akan tetapi aku sangat kecewa. Hasil yang kudapatkan justru hampir saja melukaiku. Bibi, aku tidak masalah dipukuli ataupun didorong oleh mereka, itu tidak akan terasa sakit. Tapi ceritanya akan berbeda jika bersangkutan dengan bayi yang ada di dalam kandungan. Bibi adalah seorang ibu, Bibi pasti pernah mengandung seorang anak. Saat Bibi mengandung seorang anak, pasti bibi akan berusaha menjaga anak itu sebaik mungkin. Begitu pula yang aku rasakan bibi. Aku tidak ingin terjadi apa-apa kepada anakku, tapi dia... Saudaraku sendiri malah ingin mencelakainya. Aku sangat marah, sungguh." Kata Azira bersungguh-sungguh.


Hal yang paling menakutkan adalah kehilangan anaknya. Dan untuk ketakutan ini dia sangat memperhatikan anaknya. Bagaimana mungkin dia tidak marah bila seseorang berniat mencelakainya untuk memusnahkan anaknya?

__ADS_1


Azira rasa setiap Ibu memiliki perasaan ini. Setiap ibu yang merindukan gelarnya sebagai seorang ibu tidak akan pernah mengizinkan hal-hal buruk terjadi kepada anaknya. Begitu pula yang dirasakan oleh Azira. Dan kemarahannya wajar saja. Dia bukannya tidak masuk akal. Malah akan tidak masuk akal jika dia tidak marah melihat anaknya hampir dicelakai.


"Tentu saja aku mengerti yang kamu maksud karena aku juga seorang ibu. Aku sangat mengerti apa yang kamu rasakan dan aku pun sangat marah kepada Humairah. Kamu bebas menuntut ataupun memenjarakannya, karena dia memang terbukti melakukan kejahatan. Ini adalah hak kamu sebagai korban. Tapi aku hanya memohon agar kamu mau memaafkan mereka... Aku hanya ingin memperbaiki semuanya saja. Dari masa lalu pahit yang kamu jalani hingga kejadian tadi sore, aku hanya berharap kamu memaafkan mereka. Mungkin sulit, tapi tolong berikanlah kesediaan mu untuk memaafkan mereka." Kata bibi Sifa memohon.


Kedua matanya basah menahan tangisan. Rasanya begitu hancur saat melihat keluarga yang dulunya harmonis dan hidup dalam kedamaian kini telah hancur tak bersisa. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya dia tidak berani memikirkannya.


"Aku tidak akan menuntut mereka." Kata Azira tiba-tiba.


Tidak hanya bibi Sifa dan suaminya saja yang kaget, namun Kenzie juga sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Azira. Sebelumnya Azira tidak pernah mengatakan apa-apa soal ini. Dia kira Azira setuju membawa masalah ini meja hijau karena kasusnya agak berat.


"Azira?" Bibi tiba-tiba meragukan pendengarannya sendiri.


Mungkinkah dia hanya salah dengar tadi?


"Aku tidak menuntut mereka adalah bukti bahwa aku berusaha untuk memaafkan mereka. Kesalahan mereka memang besar dari sejak aku kecil hingga sampai ke titik ini, mereka tidak ragu untuk melakukan beberapa rencana yang bisa menyakitiku. Tapi tidak apa-apa, aku sama sekali tidak masalah. Sebab aku yakin setelah hari ini mereka tidak akan berani melakukan kesalahan lagi. Mereka tidak akan memiliki keberanian menyakiti aku atau siapapun lagi karena mereka sudah mendapatkan sanksi sosial. Sanksi sosial jauh lebih kejam dan berat daripada hukuman penjara. Selama sanksi sosial ini mereka tidak akan memiliki pekerjaan, usaha mereka bangkrut, hutang ada di mana-mana, kemasukan tidak ada namun kebutuhan masih tinggi, dan orang-orang yang dulu mengelilingi mereka perlahan menjauh tidak mau dekat dengan mereka. Bibi bisa membayangkan betapa sulit kehidupan yang mereka jalani mulai sekarang. Mereka akan merasakan betapa berharganya sepiring nasi yang dulu sering mereka abaikan. Mereka akan merasakan betapa pedihnya tanpa uang yang dulu sering mereka belanjakan dengan bebas. Dan mereka akan kesulitan mencari pekerjaan karena tidak ada yang mau menampung seseorang yang memiliki karakter yang buruk. Aku sudah memikirkan semuanya baik-baik hari ini. Tidak ada yang lebih baik dari sanksi sosial ini. Seolah-olah Allah menukar posisi kami. Semua yang pernah aku rasakan dengan ibu kini akan mereka rasakan pula. Aku sungguh sangat puas. Aku tidak akan menambah beban mereka lagi dengan mendorong masalah ini ke polisi. Tidak apa-apa, aku sudah memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada Allah. Dan benar saja, hukuman yang Allah berikan menurutku lebih memuaskan daripada apapun. Bibi, apakah menurutmu aku sangat kejam?" Tanya Azira sambil tersenyum tipis.


Azira sudah melihat berita di internet tentang kejadian tadi sore. Semua yang terjadi di sore itu telah tersebar luas kemana-mana dan mungkin sudah dibaca oleh sekian banyak orang. Berita-berita yang ditampilkan di internet ditulis dengan rinci seolah-olah orang yang menulis berita itu membawa alat perekam untuk merekam semua pertengkaran. Mulai dari kasus terbongkarnya perselingkuhan ayah hingga percobaan penyerangan yang dilakukan oleh Humairah, semuanya ada. Bahkan kasus ibunya pun dinaikkan di sana, mengundang kemarahan banyak orang dan dihujani dengan kata-kata kemarahan.


Dan yang paling membuat Azira kaget adalah ada sebuah artikel yang mengungkapkan perselingkuhan suami bibi Safa dengan seorang bintang kecil. Menurut artikel tersebut hubungan mereka sudah berjalan hampir setengah tahun, sudah lama, dan selama itu mungkin bibi Safa tidak tahu bila suaminya bermain curang di belakang. Diam-diam Azira menertawakan kemalangan Bibi Safa. Selama ini siapa yang selalu menganggap ibunya sebagai perebut suami orang lain?


Lucu sekali. Sekarang suaminya lah yang direbut oleh wanita lain, persis seperti tuduhannya dulu. Azira tidak tahu seberapa hancur di bibi Safa sekarang. Dia tidak terlalu peduli, toh, ini adalah hukuman yang seharusnya didapatkan.


Makanya Azira memutuskan untuk tidak menuntut mereka. Dengan semua pemberitaan-pemberitaan ini kehidupan mereka pasti akan sangat sulit ke depannya. Azira berpikir bahwa ini saja sudah cukup. Dia tidak meminta lebih lagi.


Namun, apakah dia benar-benar kejam?

__ADS_1


Sekilas sepertinya iya. Tapi jika dipikirkan dalam-dalam jawabannya tidak. Dia tidak merencanakan apapun dan dia hanya mengikuti arus. Menurut bibi, dia malah memiliki hati yang lembut karena tidak menuntut mereka. Dengan semua situasi ini, bila Azira benar-benar menuntut mereka, maka masa depan mereka akan sangat sulit dikatakan. Mungkin tidak ada yang tersisa?


Tapi untungnya Azira tidak melakukan itu. Dia hanya mengikuti arus. Mengambil satu pilihan ketika diberikan dua pilihan. Dia tidak serakah. Karena masalah ini bibi Sifa semakin mengaguminya. Orang yang dididik oleh pengalaman emang sungguh berbeda daripada orang yang dididik oleh teori. Bibi sangat berterima kasih atas keputusan murah hati Azira.


"Terima kasih Azira, kamu adalah wanita yang lembut. Jika orang-orang mendengar apa yang kamu katakan, mereka akan mengatakan bahwa kamu terlalu bermurah hati dan memiliki hati yang lembut. Kamu sama sekali tidak kejam. Seperti yang kamu bilang tadi sanksi sosial mungkin bisa dikatakan sebagai teguran dari Allah, sebab sanksi sosial ini sangat sulit untuk dikendalikan bahkan mungkin tidak bisa. Sebab sanksi sosial itu juga ada karena perbuatan mereka sendiri. Jika mereka tidak melakukan hal-hal yang buruk, orang-orang pasti tidak akan memiliki penilaian buruk. Tapi sayang sekali mereka melakukan tindakan buruk kepada kamu. Dan dengan kamu menyerah untuk mereka justru membuktikan bahwa kamu ingin memberikan keringanan kepada mereka. Azira, kamu sungguh baik. Aku tidak tahu seberapa menyesal kakak saat mengetahui keputusan kamu ini. Aku sungguh berterima kasih atas keputusan bijak kamu. Insya Allah, Allah akan memberikan balasan yang baik untuk kebaikan hati kamu." Kata bibi Sifa sepenuh hati.


Dia jelas sangat bahagia mendengar keputusan Azira. Dengan begini keluarganya akan tetap utuh sekalipun menghadapi kehidupan yang sulit. Ini lebih baik daripada mereka masuk penjara, setidaknya mereka masih bisa bertahan.


Sementara Bibi Sifa tenggelam dalam kebahagiaannya, Azira masih belum bangun dari keterkejutannya. Aneh sekali rasanya ketika mendengar orang mengatakan bahwa dia adalah wanita yang baik dan berhati lembut, terlebih lagi orang yang mengatakan ini adalah orang dari pihak ayah. Azira merasa tidak terbiasa.


"Paman dan bibi, istriku sudah mengambil keputusan terbaik dari masalah ini. Apa yang dikatakan oleh istriku adalah apa yang aku katakan pula. Jika ini adalah sikap istriku maka ini pula sikap keluargaku. Kami akan mengikuti semua yang Azira putuskan sebab orang yang paling bersangkutan dalam masalah ini adalah istriku. Keputusan ini adalah pilihan bijak istriku. Aku sangat mohon kepada kalian berdua agar membantu istriku menjaga keluarga Ayah. Jangan biarkan mereka memiliki pikiran buruk lagi terhadap kami. Kalau tidak, maaf saja, lain kali aku yang akan mengambil keputusan. Dan pada saat aku mengambil keputusan akan aku pastikan bahwa mereka merasakan bagaimana rasanya perasaan putus asa melilit tubuh mereka. Aku tidak mengancam, tapi ini adalah janjiku. Sungguh, aku lelah melihat mereka mengganggu kehidupan istriku lagi. Tolong berikan kedamaian untuk istriku." Akhirnya Kenzie berbicara.


Dari tadi dia membiarkan istrinya waktu untuk mengungkapkan isi pikirannya. Sempat muncul rasa kesal mendengar bibi Sifa terus memohon agar istrinya mau memaafkan semua kesalahan orang-orang itu. Menurut Kenzie itu sama sekali tidak wajar karena rasa maaf yang ikhlas tumbuh dari dalam hati langsung. Biasanya rasa maaf ini dirangsang ketika orang-orang yang telah berniat jahat mengambil inisiatif untuk meminta maaf dengan tulus. Tapi di momen ini, orang yang memaksa mendapatkan maaf justru orang yang tidak terlibat dalam masalah. Jadi bagaimana Kenzie merasa tidak puas?


Tapi istrinya memiliki pikirannya sendiri dan Kenzie tidak akan mengganggunya selama dia tidak membuat pilihan yang merugikan diri sendiri. Untunglah Azira masih berpikir dengan bijak dan sekali lagi dia merasa bila hati istrinya ini terlalu lembut. Lembut sampai-sampai dia mudah memaafkan orang lain.


Mau bagaimana lagi, ini adalah orang yang dia cintai, hati orang yang dia cintai agak langka dan sangat berharga. Untungnya dia berhasil menemukannya.


"Jangan khawatir Kenzie. Kami mengerti apa yang kamu pikirkan. Dan kami berjanji akan memberi peringatan kepada mereka untuk jangan mengulangi kesalahan ini lagi. Jika mereka tidak mau mendengarkan setelah kami peringati, maka kami akan lepas tangan dan terserah kamu melakukan apa saja kepada mereka. Kami tidak akan membantu mereka lagi." Balas paman memiliki pendapat yang sama dengan Kenzie.


Sejujurnya dia sangat muak dengan apa yang dilakukan oleh kakak iparnya. Dia lebih suka orang-orang ini dimasukkan ke dalam penjara agar mendapatkan efek jera. Tapi istrinya tidak mau itu terjadi. Istrinya masih berharap ayah dan yang lainnya memiliki kesempatan untuk membebaskan diri. Meskipun enggan, Paman akhirnya dengan berat hati mengikuti keputusan bibi Sifa untuk datang ke sini. Namun hasilnya sungguh di luar perkiraan mereka berdua karena nyatanya Azira memiliki pikiran jauh ke depan, sungguh murah hati.


Untuk sesaat paman tiba-tiba menertawakan Ayah di dalam hatinya karena menelantarkan anak sebaik Azira. Putri yang mereka anggap sebagai sia-sia dan tak pantas justru menjadi dermawan mereka, tidakkah ini terdengar lucu?


"Apa yang paman katakan hari ini, jangan pernah dilupakan." Kata Kenzie dingin.

__ADS_1


__ADS_2