
Saat masuk ke dalam ruangan Kenzie sudah tidak ada lagi Ayana di sana.
"Ayana di mana, mas?" Tanya Azira bingung karena tidak menemukan sepupu suaminya di sini.
"Dia udah balik ke ruangannya. Waktu istirahat sudah habis." Jawab Kenzie tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di atas meja.
"Balik?" Bisik Azira bingung.
Jika Ayana sudah kembali ke ruangannya, maka bagaimana dengan kopi yang baru saja dia beli?
"Biarkan saja kopinya di sini. Kalau dia masih menginginkan kopinya, dia pasti balik lagi ke sini untuk mengambilnya." Kenzie menutup dokumennya dan menaruh dokumen itu kembali ke tempatnya.
Itu adalah dokumen pasien berikutnya. Rencananya dia akan melakukan operasi lagi nanti malam. Dan mungkin dia tidak akan ikut makan malam bersama di rumah karena pekerjaannya ini.
"Atau biar aku saja yang mengirimnya ke ruangannya?" Azira ragu Ayana akan ke sini lagi mencari kopinya.
Soalnya ini hanya segelas kopi, mungkin saja Ayana enggan mengambilnya karena terlalu jauh. Selain itu dia pasti sangat sibuk di ruangannya sekarang dan tidak bisa pergi ke mana-mana.
"Tenang saja, dia pasti akan meminum kopi ini. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya." Bahkan jika Ayana tidak datang ke sini untuk mengambil kopi ini, Kenzie akan memastikan sepupunya itu menghabiskan kopi yang sudah susah payah istrinya ambilkan khusus untuknya.
"Kamu beli apa aja di sana?" Kenzie melirik kantong plastik di tangan Azira.
Azira meletakkan kopi itu di atas meja dan mengambil piring yang masih bersih di dalam paper bag. Lalu dia mengeluarkan semua makanan dari dalam kantong kresek dan menyusunnya di atas piring. Berbagai macam makanan langsung memenuhi piring itu.
"Aku beli ini, mas. Mas, mau?" Kenzie hanya melihatnya sebentar dan tidak terlalu tertarik.
Dia sungguh tidak tertarik dengan makanan yang ada di kantin. Bukan karena faktor makanan ini dijual di rumah sakit yang membuatnya enggan. Tapi memang dasarnya dia tidak terlalu tertarik makan makanan di luar. Semahal dan semenggoda apapun makanan di luar, Kenzie tidak pernah tertarik untuk menyentuhnya. Malahan dia lebih suka makan makanan sederhana yang dibuat oleh rumahnya daripada makan makanan mewah di luar sana. Pikiran ini sudah sejak kecil dia tanamkan. Mungkin menurun dari sifat Abahnya. Karena Abah juga seperti ini. Abah rela kelaparan di luar sana kalau sedang bepergian dan baru makan setelah sampai di rumah.
Kebiasaan yang aneh, kan?
"Enggak, aku udah kenyang." Katanya sembari memegang lengannya yang pegal.
Entah di sengaja atau tidak, Kenzie memijat pundak dan lengannya di hadapan Azira. Mau tak mau gerakan ini menarik perhatian dari Azira.
Azira langsung merasa prihatin melihat suaminya seperti ini. Suaminya pasti lelah bekerja seharian dan karena operasi membutuhkan kewaspadaan yang tinggi sehingga sepanjang waktu otot suaminya pasti tegang, alhasil badan suaminya jadi pegal-pegal sekarang.
Azira meletakkan semua makanan itu dan memutuskan untuk memakannya setelah Sasa kembali.
"Apakah mas Kenzie mau... Mau aku pijatkan? Aku nggak tahu apakah pijatanku bagus atau enggak, tapi kata ibu tanganku cukup bagus saat memijat badannya." Tawar Azira sembari menahan kegugupan di hati.
Dia telah memobilisasi dirinya agar selalu tenang di depan Kenzie. Bersikaplah seolah semuanya selalu normal dan tampak apa adanya. Jangan pernah tunjukan kepada Kenzie ataupun orang lain seberapa rendah nilai pendidikannya selama ini. Bila tidak bisa memamerkan angka prestasi, maka biasakan diri untuk diam dan tetap tenang. Inilah yang Azira tanamkan kepada dirinya baru-baru ini. Dia tidak tahu bahwa penampilan diam dan tenangnya telah membuat beberapa orang terkesan. Mereka merasa kalau Azira adalah wanita yang anggun. Cukup menarik dibandingkan Humairah.
"Boleh." Tersenyum lebar, dia menepuk bagian pundak dan lehernya pegal, menunjukkannya kepada Azira bahwa di bagian itu dia merasa sangat tidak nyaman.
"Di sini... Aku sangat lelah, untung saja kamu ada di sini."
Azira berjalan mendekatinya. Dia merasa senang melihat senyum lebar di wajah suaminya. Ternyata membuat Kenzie tersenyum itu mudah pikirnya.
"Apakah di sini, mas?" Azira bertanya hati-hati sambil mulai memijat pundak suaminya.
"Yah, lebih atas sedikit... Benar, di sana. Sangat nyaman." Kenzie menutup matanya menikmati sentuhan istrinya.
Ternyata pijatan istrinya terasa enak dan nyaman. Dia pikir tangan Azira sama lemahnya dengan bentuk tubuhnya yang terlalu ramping, kekurangan daging dan lemak. Tapi ternyata dia kuat juga.
Azira malu dengan reaksi langsung suaminya. Tapi dia juga ikut senang karena dia bisa membantu suaminya.
Melihat mas Kenzie tersenyum, aku ikut tersenyum. Melihatnya tidak nyaman, aku juga merasa tidak nyaman. Aku malah memikirkan cara bagaimana membuatnya lebih nyaman, tidak sakit, dan kembali tersenyum. Menurut apa yang kurasakan sekarang, orang-orang bilang mungkin aku sedang jatuh cinta. Apa mungkin ya Allah? Batin Azira bersenandung lembut.
Kali ini dia merasa damai mengakui. Mungkin setelah pembicaraannya dengan Sasa tadi pagi setelah menenangkan sepenuhnya hati ini. Kalaupun dia jatuh cinta kepada Kenzie, itu tidak mengapa. Dan kalaupun Kenzie tidak jatuh cinta kepadanya, itu juga tidak mengapa. Karena Azira bisa berupaya membuat Kenzie jatuh cinta kepadanya. Mungkin membutuhkan banyak perjuangan. Namun Azira tidak takut. Karena selama dia memiliki Umi, Abah dan Sasa, setidaknya hati akan terasa lebih berani.
"Mas Kenzie?" Azira membangunkan suaminya.
"Hum?" Kenzie menjawab dengan senandung lembut.
__ADS_1
Kelopak matanya bergerak. Dia terbangun. Berkedip ringan melihat ke arah Azira. Ketika matanya menangkap wajah merah Azira, mata itu secara alami berkedip dan dengan sayu memperhatikan Azira.
Merasakan tatapan suaminya. Dia jadi malu dan salah tingkah. Untuk sesaat dia tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana dan harus melakukan apalagi. Namun dia berusaha terlihat setenang mungkin di hadapan suaminya.
"Mas Kenzie tertidur. Apakah mas tidak punya pekerjaan? Soalnya kan ini masih jam kerja?" Tanya Azira khawatir.
Yang dia tahu dokter itu biasanya sangat sibuk. Sama seperti yang dia tonton di dalam televisi, dokter akan hilir mudik dari pintu ke pintu untuk mengecek kondisi pasien. Tapi suaminya masih di sini dan jatuh tertidur setelah mendapatkan pijatan dari tangannya. Apakah tidak apa-apa jika diketahui oleh atasannya?
"Aku punya pekerjaan, tapi nanti sore. Makanya aku stay dulu di dalam ruangan. Memangnya kenapa, hum?" Suaranya rendah.
Membuat jantung Azira kacau di dalamnya.
Entah mengapa Kenzie seperti orang yang berbeda ketika bangun dari tidur. Berkali-kali membuatnya merasa gugup.
"Aku cuma... Khawatir kamu melewatkan pekerjaan mu, mas. Masih sakit?" Ngomong-ngomong tangannya yang giliran pegal-pegal karena memijat pundak suaminya terus menerus.
Ini pekerjaan sepele. Tapi membutuhkan kekuatan. Bila dilakukan terus-menerus, maka pasti menguras banyak tenaga dan membuat tangannya pegal.
"Um..." Kenzie menggerakkan pundak dan lengannya, tidak sesakit sebelumnya.
"Sudah baikan, terima kasih ya istriku. Tapi aku masih mengantuk. Aku ingin tidur sebentar lagi." Kata Kenzie kepada istrinya.
Koperasi membutuhkan tingkat fokus yang sangat tinggi karena itu menyangkut kehidupan seseorang. Untuk mengembalikan fokusnya, Kenzie sering tertidur untuk mengistirahatkan pikirannya sebelum mulai bekerja keras.
"Kalau begitu mas Kenzie tidur saja. Tapi menurutku alangkah baiknya mas Kenzie tidur di atas sofa biar badan mas Kenzie lebih nyaman." Azira tidak tahan melihatnya tertidur di atas kursi.
Kenzie tersenyum puas.
Dia lalu bangun dari kursi kerjanya dan pindah ke sofa.
"Kemari lah." Sambil menepuk sisi kursi yang kosong.
Azira tanpa ragu duduk di sampingnya. Melihat dia akhirnya duduk, Kenzie kemudian membaringkan dirinya dan menaruh kepalanya di atas paha Azira.
Tentu saja Kenzie menyadari ada sesuatu yang salah dengan istrinya. Tapi dia tidak mengeluarkan suara. Membiarkan istrinya terbiasa dengan apa yang dia lakukan. Dia menggerakkan kepalanya mendekati perut istrinya. Mencari posisi senyaman mungkin. Sampai akhirnya dia mendapatkan posisi yang nyaman ketika puncak hidungnya bersentuhan dengan permukaan perut istrinya. Kenyal dan lembut, sensasinya aneh tapi menyegarkan. Apalagi ketika mencium wangi parfum kesukaannya di pakaian Azira, dia semakin merasa nyaman.
"Tolong usap-usap kepalaku hingga tertidur. Aku tidak bisa tidur kalau kamu tidak menyentuhnya." Kata Kenzie sambil menaruh tangan Azira ke atas puncak kepalanya.
Jantung Azira berdebar kencang. Jangan tanya seberapa gugup dia sekarang. Tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Bahkan bernapas saja rasanya dia tidak terlalu berani. Karena baru kali ini dia sedekat ini dengan Kenzie. Memang biasanya dia bangun di dalam pelukan Kenzie, namun itu berbeda. Saat itu dialah yang mengambil inisiatif untuk memeluk Kenzie secara tidak sadar. Namun saat ini, Kenzie lah yang mengambil inisiatif untuk memeluknya. Sensasi yang dirasakan di dalam hati jauh lebih mendebarkan daripada saat itu. Adrenalinnya seolah tertantang namun di saat yang sama ada rasa malu yang terus-menerus menyeruak dari dalam hatinya.
"Azira." Panggilan Kenzie berhasil membangunkan Azira dari lamunannya.
"Hum?" Azira bersenandung lembut.
Dia tidak sadar menggunakan suara yang begitu lembut. Um, mungkin karena perasaannya kepada Kenzie membuatnya tanpa sadar ingin memperlakukan Kenzie dengan lembut.
"Kenapa diam saja? Tolong usap kepalaku." Desak Kenzie lagi kepadanya.
"Oh...oh, iya."
Dengan gerakan lembut dia mulai mengusap puncak kepala suaminya. Merasakan rambut suaminya yang lurus dan lembut, Azira menebak kalau rambut suaminya telah dirawat dengan baik. Memegangnya ternyata cukup menyenangkan.
Azira pernah mendengar seseorang di dalam TV berkata bahwa kepala bagi sebagian orang adalah bagian tubuh yang sangat penting. Terutama untuk laki-laki yang memiliki rasa maskulinitas dan egois terhadap wilayah kekuasaan. Kepala bagi mereka adalah mahkota yang tak boleh disentuh. Namun apabila seorang laki-laki mengizinkan orang lain terutama wanita untuk menyentuh puncak kepalanya, maka itu tandanya laki-laki itu bersedia membiarkan wanita tersebut memasuki wilayah kekuasaannya.
Jadi apakah yang dikatakan oleh orang-orang di dalam TV itu benar?
Azira mau tak mau melayangkan harapannya. Jika Kenzie memiliki perasaan yang sama dengan dirinya maka itu artinya Azira memiliki dunia ini. Dia memiliki orang yang perhatian kepadanya, menyediakan rumah untuknya, memberikan kehangatan kepadanya, dengan semua anugerah kenikmatan ini maka apalagi yang masih dibutuhkan di dunia ini?
Cukup Kenzie seorang. Maka dia berhasil mendapatkan dunia ini.
"Hum... Sangat nyaman." Gumam Kenzie sembari melingkari tangannya memeluk pinggang Azira.
Sama seperti tadi. Azira awalnya sangat terkejut. Tapi dia berusaha menenangkan dirinya agar Kenzie tidak menyadari ada sesuatu yang aneh dengan dirinya.
__ADS_1
Melihat mata suaminya tertidur nyaman di atas pahanya adalah kebahagiaan yang paling memuaskannya sejauh ini. Tidak ada embel-embel hukuman ataupun peraturan, semuanya mengalir begitu saja.
Lama mengusap kepala suaminya, Azira tidak tahu sudah berapa lama dia melakukan ini akan tetapi melihat suaminya tertidur nyenyak membuat dirinya juga tergoda dan mulai mengantuk. Perlahan pergerakan tangannya mulai melambat seiring dirinya memasuki dunia mimpi. Dan dia pun jatuh tertidur menyusul suaminya ke dunia mimpi- ah, sayang sekali hari ini dia tidak memiliki mimpi lagi namun tidurnya sangat nyenyak.
Cklak
"Assalamualaikum- Masya Allah!" Ketika Sasa masuk ke dalam ruangan ini, hal pertama yang dia lihat adalah pemandangan ini.
Azira tertidur dalam posisi duduk di atas sofa sementara Kenzie tidur dengan posisi yang intim memeluk pinggang Azira. Dengan kepala bertumpu di atas kepala Azira dan wajahnya tertidur lelap menghadap perut Azira, maka sulit dikatakan apakah Sasa tidak merasa rumit melihatnya.
"Kak?" Panggilnya kepada mereka berdua.
Tapi baik Azira maupun Kenzie tidak menjawab panggilannya. Mereka bernafas ringan dan sepenuhnya tak sadarkan diri.
"Kak Kenzie kok narsis banget jadi orang. Aku tahu nih, pasti ini semua akal-akalan kak Kenzie mau manja-manja sama kak Azira. Hah... Setidaknya kak Kenzie jauh lebih hidup daripada dulu ketika dia tak mampu melepaskan kak Ama- ah, apa yang baru saja aku katakan?" Sasa menggelengkan kepalanya tidak mau menyebut nama itu lagi.
Selain itu nama wanita itu adalah masa lalu untuk kakaknya jadi dia tidak ingin mengungkit nama yang telah membuat kakaknya jatuh seterpuruk ini.
Tapi ngomong-ngomong...
"Kenapa aku merasa kalau wajah kak Azira sedikit mirip... Dengannya?" Gumam Sasa bingung.
Namun dia segera menggelengkan kepalanya menampik jauh-jauh pikiran ini. Jangan sampai wanita ini memiliki kemiripan dengan Azira, jangan sampai.
Dan Sasa juga tahu kalau kakaknya bukanlah orang yang seperti itu. Kakaknya tidak mungkin mencari pengganti untuk wanita itu. Yah, Azira bukanlah pengganti. Bukan sama sekali.
"Sekarang mereka berdua tidur begini. Terus aku harus apa di ruangan ini?" Dia nggak mau duduk di kursi kerja kakaknya.
Aneh saja rasanya. Dia tidak terlalu suka. Daripada duduk di tempat kerja kakaknya, dia lebih suka duduk di atas sofa atau berbaring di sana. Rasanya lebih menyenangkan, rebahan sambil memainkan ponsel, itu adalah kenyamanan hakiki untuk mereka para jomblo.
"Lebih baik aku ke ruangan Ayana saja. Daripada di sini jadi nyamuk." Menaruh barang-barangnya di samping sofa, dia lalu pergi mencari Ayana di ruangan dokter anak. Cukup jauh dari tempat kakaknya bekerja. Tepatnya dia harus berpindah gedung agar sampai ke ruangan Ayana.
Sesampainya di ruangan Ayana, dia menemukan Ayana sedang sibuk mencatat sesuatu di dalam komputer. Karena dia sedang bekerja maka Sasa dengan tahu diri duduk di sofa saja sambil memainkan ponsel dan berusaha tidak mengeluarkan suara apapun. Pasalnya Ayana kalau lagi kesel seremnya sama seperti Kenzie. Mereka berdua akan sama-sama nyebelin. Padahal mereka sepupuan, tapi entah kenapa mereka sangat mirip satu sama lain seolah-olah mereka adalah saudara kandung. Sementara dirinya yang lahir dari rahim yang sama dengan Kenzie tidak memiliki kesamaan. Kenzie orangnya cuek dan datar, sementara dirinya sangat ekspresif dan ceria. Oh, Sasa juga dulu berpikir kalau Kenzie nggak akan bisa manja. Dia pasti orangnya membosankan dan tidak bisa diajak berkencan. Tapi ternyata dia salah. Karena Kenzie orangnya manja, tapi manja ketika bersama istrinya. Makanya Sasa sering bilang kalau Kenzie orangnya narsis. Iya, dia manja kalau sama istrinya doang.
"Lho, sejak kapan kamu ke sini?" Ayana kaget melihat Sasa tiba-tiba di dalam ruangannya.
Sasa menjawab santai,"Baru beberapa menit yang lalu. Kamu sih terlalu sibuk bekerja makanya nggak sadar orang datang."
Ayana mengangkat bahu tak perduli. Normalnya setiap orang datang ke ruangannya pasti mengetuk pintu dulu, tapi Sasa main gelombang masuk aja, siapa yang tidak kaget melihatnya tiba-tiba di sini?
Tapi Ayana sudah terbiasa dengan kenakalan Sasa dan tidak terlalu peduli lagi. Selama Sasa tidak mengganggu pekerjaannya, maka dia bisa bebas masuk kapan saja.
"Kenapa kamu di sini dan di mana Azira?"
Sasa melambaikan tangannya masih fokus memainkan ponsel.
"Jangan tanyakan itu. Kak Kenzie dan Kak Azira sedang tidur berduaan di sana. Aku lagi nggak mood jadi bola lampu di sana, makanya aku pindah ke sini." Jelas Sasa menjelaskan kepada Ayana.
Ayana agak surprise. Sepupunya memang menunjukkan perubahan yang sangat besar. Tapi menurutnya ini berlaku kepada siapapun yang menikah.
"Senang jadi pengantin baru. Terus kamu kapan nyusul kakakmu?" Ayana bercanda.
"Mulai deh, ah. Pernikahan kakak aja belum satu bulan, tapi aku udah ditanya-tanya. Tunggu dulu, setelah pernikahan mereka mencapai 5 tahun, mungkin aku akan menyusul kalian semua." Jawab Sasa tidak terlalu memikirkannya.
Lagi pula pernikahan Kenzie dan Azira saja belum seumur jagung, masa iya dirinya sudah ditanya-tanya kapan menyusul?
Umi dan Abah pasti tidak setuju melihatnya menikah. Menurut mereka dia masih belum stabil dalam emosi dan mental, sedangkan nikah itu sakral, urusannya panjang, nggak soal sebulan atau satu tahun. Jadi sebelum dirinya benar-benar siap secara mental maupun emosi, mereka tidak akan pernah mengizinkan Sasa menikah. Tentunya alasan lain juga karena dia adalah putri satu-satunya mereka. Jika dia menikah otomatis akan tinggal di rumah suaminya, dia akan jarang bertemu dengan kedua orang tuanya. Sedangkan Kenzie menikah tidak apa-apa. Toh, dia akan tetap tinggal di rumah bersama istrinya.
"Kelamaan tahu nggak, nanti kalau kamu kebablasan jadi perawan tua gimana?" Ayana menakut-nakuti.
Sasa tidak terlalu memikirkannya.
"Ya kalau begitu artinya jodoh aku belum datang lah. Sebanyak apapun dipaksakan, kalau belum datang ya belum datang. Jadi sabar aja." Katanya tidak mau terlalu pusing.
__ADS_1
"Duh, pikiran anak muda." Ayana mulai bekerja lagi.