Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 11.1


__ADS_3

"Frida, kenapa kamu masih di luar, Nak?" Saat keluar dari kamar, bibi Indring tidak sengaja bertemu dengan putrinya di ruang tengah.


Frida menoleh, ketika tahu itu adalah bibi Indring, dia langsung memalingkan wajahnya cemberut. Orang yang ditunggu bukan bibi Indring, tapi Kenzie. Iya, bukan tanpa alasan dirinya menunggu. Karena setelah makan malam tadi, Frida sempat mengatakan sesuatu kepada Kenzie.


Flash back


"Mas Kenzie, tunggu." Frida buru-buru mengejar Kenzie yang akan naik ke lantai atas.


Dia sudah memastikan kalau Azira sedang sibuk di dapur jadi dia bisa berbicara dengan Kenzie secara leluasa. Dia menganggap kalau ada Azira di sini rencananya tidak akan berhasil. Memangnya siapa yang tahu trik apa yang dilakukan oleh Azira untuk menarik perhatian Kenzie. Malahan dia curiga kalau Kenzie itu sebenarnya diguna-guna oleh Azira. Dia memang antara percaya dan tidak percaya soal sihir. Tapi melihat reaksi dan kedekatan Kenzie ketika berinteraksi dengan Azira yang notabene sebagai wanita liar yang asalnya dari entah berantah, Frida lebih percaya kalau Kenzie diguna-guna.


"Ada apa?" Kenzie menghentikan langkahnya.


Matanya berkedip menatap anak tangga di depan.


"Mas... Apakah mas tidak merasa aneh selama ini?" Tanya Frida hati-hati.


"Tidak." Kata Kenzie tidak berminat.


Frida mengepalkan tangannya gugup.


"Iya, apa mas Kenzie tidak merasa aneh setiap kali dekat dengan Azira?" Tanyanya menuntut.


Tidak mungkin tidak aneh. Soalnya sikap Kenzie saat bertemu dengan Azira terlalu lembut dibandingkan sikapnya ketika bertemu dengan wanita lain. Frida tidak bisa menerimanya dan selalu berpikir bahwa ada yang salah dengan Azira.


Mengerutkan keningnya,"Tidak ada yang aneh." Kenzie menekankan.


Apa yang aneh, kecuali dia melihat kalau Azira semakin menarik akhir-akhir ini. Entahlah, menurutnya Azira selalu menarik dalam beberapa hal dan tanpa sadar membuat dirinya seringkali memikirkan Azira. Entah di rumah sakit ataupun di rumah, terkadang tanpa sadar dia berpikir apa yang sedang dilakukan Azira kalau tidak apa yang sedang dipikirkan Azira sekarang. Dia berpikir seperti ini, yah, kalau dilihat-lihat memang ada yang aneh dengan dirinya.


"Tidak, tidak, tidak, tidak! Benar-benar ada yang aneh dengan mas Kenzie. Aku khawatir masalah ini akan membuat hidup mas Kenzie tidak bahagia kedepannya." Kata Frida keras kepala.


Kenzie tersenyum kecil.


"Pemikiran apalagi yang kamu pikirkan? Pertama begitu pulang dari rumah sakit, kamu menghadang ku dan mengatakan hal-hal yang tidak benar, khusus masalah ini aku memilih untuk memaafkan kamu karena kamu sudah meminta maaf kepada istriku. Tapi sekarang, ini yang kedua kalinya kamu berbicara aneh, seolah-olah mengatakan kalau istriku memiliki sesuatu yang tidak bisa didekati. Apakah kamu sudah cukup tidur?" Nada malas Kenzie berbicara acuh tak acuh kepadanya.


Kenzie diam selama ini bukan berarti dia mau-mau saja dibodohi oleh Frida. Diamnya justru membuktikan bahwa dia tidak percaya juga tidak memperdulikan apa yang Frida katakan. Tapi kalau Frida terus seperti ini, mencari masalah kepada istrinya, maka Kenzie tidak akan diam.


"Nggak mas kali ini aku serius. Oke, aku minta maaf soal tadi. Karena aku benar-benar marah sama istri mas jadi aku nggak sengaja meluapkan emosiku. Tapi kali ini aku benar-benar serius, aku nggak bohong." Ucap Frida serius.


Dia sama sekali tidak bohong. Dia merasa ada sesuatu yang salah dengan Azira. Lihat saja dari Umi, Abah, Sasa sampai Kenzie, mereka semua menerima Azira di rumah ini dan bahkan melindunginya. Ini tidak masuk akal kan?


Memangnya keluarga mana yang gila menerima wanita liar masuk ke dalam rumah mereka?


Apalagi wanita liar itu merusak pernikahan orang, normalnya reaksi orang akan menjauhinya atau bahkan mengirimnya ke penjara. Tapi ini tidak, tidak sama sekali. Reaksi keluarga ini sangat terbuka, seolah-olah pernikahan yang gagal tidak terlalu menyakiti mereka.


"Sudah selesai bicara? Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku. Aku nggak mau terlihat berduaan dengan wanita lain, karena istriku itu pencemburu." Kenzie enggan melayani pemikirannya yang terlalu berfantasi.

__ADS_1


Frida sangat gugup dan kesal. Dia ingin berbicara lebih lama dengan Kenzie.


"Bagaimana... Bagaimana kalau kita berbicara setelah Azira tidur?" Frida menatap Kenzie penuh harap.


Kenzie tidak mengatakan apa-apa. Tapi senyumnya menarik garis tipis. Tidak tulus.


Sayang sekali Frida tidak memperhatikan ini dan menganggap kalau senyum Kenzie adalah persetujuan.


"Oke, aku menunggu di ruang tengah."


Kenzie langsung naik ke lantai atas tanpa memberikan jawaban.


Flash back end


"Frida, ditanya kok malah ngelamun, sih? Kamu ngapain bengong di sini sendirian? Ini hampir jam satu malam, kamu nggak ngantuk apa?" Tanya bibi Indring gemas.


Niatnya keluar ingin mengambil air putih karena di kamar air sudah habis. Saat melewati ruang tengah, dia kaget melihat putrinya duduk di sana sendirian. Akhirnya dia datang menyapa. Bertanya-tanya mungkinkah putrinya terlalu sedih karena mereka akan keluar dari rumah ini besok.


"Aku nggak ngantuk, ma. Aku di sini nungguin mas Kenzie. Kita udah janjian ketemu di sini." Kata Frida pamer di depan bibi Indring.


Bibi Indring mengernyitkan keningnya, bukannya dia tidak percaya kepada putrinya, tapi sikap Kenzie selama ini kepada mereka, terlebih lagi kepada putrinya sudah menunjukkan bahwa Kenzie sama sekali tidak menghargai.


Yah itu semua karena Azira, memangnya siapa lagi yang bisa membuat Kenzie bersikap sedingin itu kepada mereka. Wanita ular itu pasti telah mengatakan sesuatu yang buruk tentang mereka kepada Kenzie.


Frida tak senang. Apa bibi Indring tidak mengerti?


Dia dan Kenzie janjian bertemu di sini, jadi bagaimana mungkin dia bisa tidur?


"Mama ini kenapa sih, nanti kalau aku pergi dan Kenzie datang nggak nemuin aku di sini gimana?" Tanyanya jengkel.


Bibi Indring terdiam. Beberapa detik kemudian dia bertanya kepada putrinya.


"Apakah Kenzie mengatakannya sendiri kepadamu bahwa dia akan turun menemui kamu di sini nanti?" Tanya bibi Indring.


Saat mendengar pertanyaan ini, dia jelas melihat kalau wajah putrinya agak mengelak. Tanpa bertanya pun dia tahu kalau putrinya telah membodohi dirinya sendiri.


"Dia tidak mengatakannya?" Tebak bibi Indring.


Frida menganggukkan kepalanya ragu namun masih mencari pembenaran untuk dirinya.


"Mas Kenzie memang tidak mengatakan akan ke sini tapi saat aku memintanya ke sini dia tersenyum. Itu artinya dia akan datang ke sini kan?" Kata Frida mulai percaya diri lagi.


Sekarang bibi Indring tahu kalau putrinya memang bodoh.


"Bodoh, dia tersenyum bukan berarti menyetujui permintaan kamu, tapi mungkin dia tersenyum karena dia sedang menertawakan kamu. Coba katakan sama mama, sebelum memintanya datang ke sini kamu pasti pernah mengatakan sesuatu kepadanya?" Bibi Indring dapat melihatnya.

__ADS_1


Sejak kejadian di halaman belakang, bibi Indring memiliki pemahaman baru tentang putrinya. Yaitu putrinya mudah bersikap impulsif, membuat keputusan tanpa berpikir panjang dan tanpa sadar membodohi dirinya sendiri. Gara-gara kecerobohannya ini, dia tidak hanya merusak kepercayaan pemilik rumah tapi dia juga berhasil dipandang sebelah mata oleh pemilik rumah. Jika terus-menerus seperti ini maka, Kenzie akan semakin menjauhi putrinya.


"Kenapa diam saja, kamu pasti ngomong sesuatu yang salah sama Kenzie?" Wajah bibi Indring terlihat tidak sedap dipandang.


Frida tahu kalau dia sedang marah.


"Aku nggak ngomong sesuatu yang salah, ma. Aku berbicara fakta. Masa mama nggak perhatiin kalau mas Kenzie tiba-tiba berubah menjadi orang lain saat bersama dengan Azira. Aku curiga, ma, kalau Azira menggunakan hal-hal aneh kepada mas Kenzie dan anggota keluarga yang lain. Kalau nggak, kenapa semua orang sangat peduli kepada Azira? Padahal harusnya reaksi mereka semua tidak seperti ini. Mereka harusnya mengirim Azira keluar dari rumah ini atau kalau tidak melaporkannya ke polisi, tapi mereka semua tidak melakukan itu, ma. Mereka malah melindungi Azira. Aku nggak percaya. Aku yakin kalau Azira menggunakan guna-guna untuk merebut hati semua orang. Mama jangan- AW! Mama kenapa sih tiba-tiba mukul kepalaku?!" Tanya Frida terkejut sekaligus marah.


Dia sedang berbicara serius kepada mamanya tapi tiba-tiba kepalanya di pukul, siapa yang tidak marah coba?


"Biar kamu sadar kalau omongan kamu ngelantur. Pantesan aja Kenzie tersenyum, omongan kamu memang lucu. Mama bilang jangan terlalu berpikir banyak. Kalau kamu over thinking, beginilah jadinya, sekarang Kenzie tidak hanya merasa kamu menyebalkan tapi dia juga berpikir bahwa kamu sudah gila. Frida, berkali-kali mama ngomong sama kamu agar jangan bertindak impulsif. Mama tahu kamu suka sama Kenzie dan mama juga tahu kalau kamu cemburu melihat Kenzie dengan Azira. Tapi bukan begini caranya? Gara-gara tindakan kamu, semua rencana hancur dan di mata mereka namamu sudah terlalu buruk. Sekarang apa? Sekarang kamu harus kembali ke rumah dan untuk merenungi dirimu sendiri. Merenungi kebodohan yang telah kamu buat di rumah ini. Padahal mama sudah mengingatkan kamu agar bertindak dengan cara yang cantik, bersih dan rapi. Karena apa? Kenzie bukan orang yang bodoh Frida! Dia jauh lebih pintar daripada kamu. Apa kamu pikir kata-kata ngelantur kamu itu bisa membuat hubungannya meregang dengan Azira? Kamu salah besar. Yang ada dia malah ilfil sama kamu. Lalu apa solusinya?" Bibi Indring menatap putrinya serius.


Kali ini dia tidak akan memberi ampun kepada putrinya yang bodoh dan sulit dinasehati. Benci rasanya, sangat benci melihat kata-kata culas Umi ketika dia ingin mengusir Frida dari rumah ini. Dia sangat lelah mendengarnya. Jika bukan karena Kenzie, dia pasti telah berteriak dan bertengkar dengan Umi karena lebih mendengarkan Azira, benih liar yang datang dari mana daripada putrinya yang jelas jauh lebih unggul.


"Mama bilang bermainlah dengan cara yang cantik. Gunakan kelemahan Azira di rumah ini. Azira berasal dari keluarga miskin, mama dengar dia putus sekolah dan ibunya bekerja sebagai wanita malam. Harusnya kamu menggunakan kelemahan ini ketika berhadapan dengan Azira, otomatis kamu pasti akan menarik perhatian Kenzie. Gunakan kelebihan dirimu yang bersekolah tinggi, berasal dari latar belakang keluarga yang mampu dan baik, jangan seperti yang kamu lakukan di taman. Bermain kasar, sungguh tidak ada artinya dan malah menghancurkan diri kamu sendiri. Kenapa tidak memakai cara halus saja, rebut perhatian semua orang dan dengan begitu kamu bisa memiliki suara di rumah ini! Apa sekarang kamu mengerti, hah?" Tanya bibi Indring tajam.


Frida terdiam mendengar semua yang dikatakan oleh bibi Indring. Baru dirinya menyadari kalau dia telah melangkah terlalu jauh dan menghancurkan dirinya sendiri. Dan dia juga sadar kalau apa yang dia katakan kepada Kenzie pasti tidak dapat diterima. Wajar saja bibi Indring memarahinya. Sekarang apa, dia telah bermain impulsif dan memberikan kesan yang sangat buruk kepada semua orang di rumah ini. Dia menyesal sekarang.


"Lalu... Aku harus apa sekarang, ma?" Tanya Frida sedih.


Wajahnya menyendu ketika memikirkan orang yang dia sukai bertahun-tahun lamanya begitu mudah didapatkan oleh orang lain, bukankah itu tidak adil?


"Perluas kesabaran kamu, Nak. Jadilah wanita yang anggun dan menahan diri. Coba hilangkan sikap yang impulsif kamu agar kamu dapat memupuk diri kamu menjadi wanita yang berkelas. Sekarang ini PR kamu ketika kembali ke rumah. Tenangkan diri kamu, dan ketika setelah kamu bersiap, kita bisa datang ke rumah ini dengan cara yang baik. Yakinlah, hubungan Azira dan Kenzie tidak sebaik yang terlihat di depan umum. Karena mama sangat mengenal orang seperti apa Kenzie itu. Jadi jangan khawatir. Pupuk saja dirimu dan setelah siap, kita akan kembali ke rumah ini." Ucap bibi Indring lembut kepada putrinya.


Dia sangat mengerti bagaimana perasaan putrinya kepada Kenzie. Dia mengerti karena itulah dia menekankan kepada putrinya agar menjadi wanita terhormat, wanita yang disukai oleh Kenzie.


"Mama... Hatiku sakit, aku sedih." Kata Frida sembari memeluk pinggang bibi Indring.


"Kalau begitu tahan, ini adalah perjuangan kamu. Sekarang kembalilah ke kamar. Karena besok pagi kita harus kembali ke kota." Bisik bibi Indring ikut merasakan sakit melihat putrinya sedih.


"Lalu kapan kita kembali ke sini?"


"Segera, kamu tenang saja." Setelah menghibur perasaan putrinya yang tengah bersedih, Bibi Indring lalu mengirimnya ke kamar Sasa untuk beristirahat.


...*****...


Selepas pasangan ibu dan anak itu meninggalkan ruang tengah. Seseorang yang selama ini bersembunyi di balik tangga akhirnya menunjukkan penampilannya. Dia menatap punggung kedua orang itu dengan mata merendahkan, menertawakan obrolan pasangan ibu dan anak itu yang diwarnai suatu kepercayaan diri yang tinggi.


"Aku tahu bahwa kalian memiliki tujuan tertentu datang ke rumah ini. Namun kalian terlalu banyak berpikir karena mas Kenzie tidak sedungu yang kalian pikirkan." Ucapnya kesal.


Kenzie sulit dipahami olehnya. Tapi dibandingkan mereka berdua, dia jauh lebih mengerti Kenzie. Mereka tidak tahu kalau Kenzie adalah orang yang berperut hitam. Maksudnya Kenzie penuh dengan intrik dan jalan pikiran yang sulit dipahami. Contohnya sikap manja Kenzie kepadanya baru-baru ini.


"Hah, buang-buang waktu saja." Keluhnya kesal.


Dia lalu naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar lampu telah dimatikan dan hanya menyisakan lampu tidur yang bersinar redup. Di atas kasur Kenzie tengah tertidur lelap, tidak menyadari bahwa orang di samping tidurnya baru saja kembali dari luar.

__ADS_1


__ADS_2