
Paginya Azira turun dari kamar tanpa menunggu Kenzie pulang dari masjid karena Kenzie pasti lama sekali berdoa di dalam masjid. Ada acara berdoa dan dzikir yang menghabiskan banyak waktu hingga membuat Azira bosan menunggu di kamar. Akan baik-baik saja jika perutnya masih bermasalah seperti kemarin. Dia hanya perlu tidur rebahan di atas kasur menunggu kepulangan Kenzie. Tapi hari ini dia sudah pulih. Dirinya tidak nyaman mendekam di dalam kamar tanpa membantu di dapur. Apalagi setelah beberapa hari absen tidak turun membantu di dapur, keluarga di rumah pasti memiliki banyak pendapat negatif kepadanya.
"Assalamualaikum, Umi. Selamat pagi." Azira masuk ke dalam dapur. Kakinya sempat tersendat saat melangkah tadi ketika melihat Sasa juga di berada di dalam dapur.
Dia masih ingat saat pertama kali masuk ke dalam dapur rumah ini, jilbabnya dilepaskan dan dibuang begitu saja oleh Sasa. Sejujurnya Itu adalah sebuah penghinaan bagi wanita manapun yang diperlakukan kasar oleh Sasa. Namun sekali lagi dia hanyalah pendatang di rumah ini dan dia tidak bisa mengeluh karena masalah ini juga terjadi disebabkan oleh dirinya sendiri.
"Huh, nyonya rumah akhirnya keluar juga. Aku tidak tahu dari mana dia mendapatkan kepercayaan bahwa di rumah ini dia bisa melakukan apa saja sesuka hatinya, bertindak rumah ini adalah rumah leluhurnya. Ke mana rasa malu di dalam dirinya, aku tidak tahu kemana dia pergi." Sindir Sasa tanpa menoleh ke arahnya.
Mulutnya berbicara pedas tapi kedua tangannya tidak berhenti membantu Umi memasak. Sasa sangat tidak puas dengan kakak iparnya ini karena pekerjaan rumah yang harusnya dikerjakan oleh Azira malah dikerjakan olehnya. Sakit saat menstruasi memang dirasakan oleh hampir semua wanita di dunia ini tapi belum pernah sekalipun dia melihat wanita semanja Azira. Ini hanya sakit biasa tapi dibesar-besarkan seolah lumpuh saja.
"Maaf, aku akan ikut membantu." Azira menundukkan kepalanya berdiri di samping Sasa. Dia tidak tahu Umi pagi ini memasak apa dan hanya mengikuti apa yang Sasa lakukan.
"Tunggu."
"Iya, Umi?"
Umi tiba-tiba mengambil sayuran yang baru saja dipegang oleh Azira dan melemparkannya ke wastafel. Azira bingung dengan tindakan Umi. Dia melihat sayuran dibuang begitu saja ke wastafel.
"Kamu masih berhalangan?" Tanya Umi dengan ekspresi tidak puas di wajahnya.
Jantung Azira langsung berdebar kencang.
"Iy-iya, Umi."
"Karena kamu masih berhalangan maka jangan datang ke dapur untuk membantu. Kamu masih kotor dan orang yang kotor di rumah ini tidak boleh menyentuh makanan." Kata Umi berusaha menyamarkan ekspresi jijik wajahnya.
Dia telah berbicara dengan Bibi Safa tentang asal muasal dari mana Azira datang. Seperti yang Sasa pernah ungkapkan kepadanya, Azira berasal dari tempat yang kotor dan Ibunya pun melakukan pekerjaan kotor. Dengan lingkungan yang tidak sehat seperti itu mustahil jika azirah dapat tumbuh menjadi gadis yang baik. Azira pasti terbiasa dengan kehidupan di tempat kotor itu hingga membuat hatinya menghitam. Bukti yang paling valid adalah dia menggigit tangan tuan yang memberikan makanan kepadanya.
__ADS_1
Seharusnya Azira bersyukur dibawa pulang oleh Ayah serta keluarganya Ayahnya. Bukannya malah membalas mereka dengan pengkhianatan. Kabar yang paling membuat Umi patah hati adalah Humairah masih terbaring sakit di kamarnya dan seringkali menyebut nama Kenzie di dalam tidurnya. Kondisi Humairah sangat memprihatinkan, dan Umi sebagai selaku calon mertuanya dulu sangat bersalah karena putranya lebih memilih wanita hina daripada wanita baik yang sudah terjamin karakternya.
Setiap kali memikirkan pembicaraan mereka, ketidaksukaan Umi terhadap Azira berkali-kali lipat dan dia terus berpikir langkah apa yang harus dilakukan untuk memisahkan putranya dengan wanita itu. Berpikir, cara apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Kenzie dari wanita hina itu. Dan memikirkan banyak cara untuk meyakinkan Kenzie untuk melepaskan wanita tak layak itu dan kembali bersama dengan Humairah.
"Umi..." Sasa merasa tidak enak melihat sikap tajam Umi.
"Pergilah keluar, tempatmu bukan di sini. Kamu diizinkan masuk ke dalam dapur jika kamu sudah bersih." Kata Umi tanpa memberikan wajah sedikit pun kepada Azira.
Azira diam terpaku di tempat. Hatinya seolah tercabik-cabik mendengar setiap patah kata yang dikeluarkan oleh Umi. Kejamnya dia berpikir. Dia kira di dunia ini manusia tidak mudah bertindak jahat kita memiliki hati nurani yang bersih, jika tidak bisa berbuat baik maka setidaknya menghormati lawan bicara sudah cukup tanpa mengeluarkan kata-kata kejam. Namun apa yang dia pikirkan ternyata salah besar. Tidak semua orang memiliki hati yang besar dan luas, juga tidak semua orang memiliki rasa simpati sedikit saja kepada orang asing.
Ini salahku. Semua ini salahku. Jangan menangis. Apa yang dia bilang memang benar adanya. Batin Azira menguatkan dirinya sendiri.
Dia mengambil nafas dalam-dalam sembari menekan perasaan tidak nyaman di dalam hatinya. Matanya berkedip cepat berusaha menghentikan cairan hangat yang mulai menggenang di matanya. Ini sakit, tapi bukan apa-apa untuknya. Sakitnya tidak sesakit saat dia melihat tubuh dingin Ibunya.
"Kalau begitu... Aku akan membersihkan halaman belakang. Assalamualaikum." Setelah mengucapkan salam, Azira berbalik keluar dari dapur. Berjalan cepat menuju halaman belakang.
"Umi... Kenapa Umi tiba-tiba seperti ini?" Sasa melihat Umi aneh sebab biasanya orang yang paling sabar di rumah ini adalah Umi. Dan Umi juga cara mengucapkan kata-kata kasar seperti itu, tapi hari ini, Sasa sangat terkejut.
******
Setelah sampai di halaman belakang Azira tidak lagi memikirkan masalah di dapur. Kemarin sore Abah mengatakan bahwa halaman ini akan diurus olehnya mulai dari sekarang. Maka dari itu dia harus menyempatkan diri sesering mungkin datang ke halaman untuk membersihkan dan menyiraminya. Tugas ini sangat penting baginya karena diperintahkan langsung oleh Abah dan pada saat yang sama semua tumbuhan yang ada di halaman ditanam langsung oleh suaminya.
"Buah apa ini? Kenapa aku belum pernah melihatnya?" Saat menyapu halaman Azira berhenti sejenak untuk menatap sebuah pohon tinggi yang berdampingan langsung dengan pohon kelengkeng.
Pohon itu sudah memiliki buah kecil-kecil di setiap dahannya. Warnanya hijau dan bentuknya aneh, sekilas mirip seperti jambu air tapi bukan jambu air.
"Ini namanya buah pir. Kak Kenzie membawa pohonnya langsung dari Jerman. Buah pir ini memiliki rasa yang sangat manis dan renyah, salah satu buah yang disukai oleh kak Kenzie. Jika buahnya besar nanti kamu bisa mencobanya."
__ADS_1
Sasa datang dengan nampan makanan di tangannya. Dia menaruh nampan makanan itu di atas meja sambil berbicara. Karena situasi canggung di dapur tadi, dia mengambil inisiatif untuk menyiapkan makanan dan mengirimkannya ke halaman belakang. Dia bukannya menerima Azira, tidak, tidak sama sekali!
Hanya saja... Hanya saja saat melihat mata merah Azira di dapur tadi hatinya tiba-tiba merasa tidak nyaman- tidak, bukan karena dia bersimpati! Iya... Mungkin saja karena dia takut kakaknya marah kepadanya!
Benar, hanya itu!
"Oh... Ternyata ini pohon pir." Azira langsung merasa canggung saat melihat Sasa.
Sesungguhnya dia sangat kaget karena Sasa tiba-tiba mengambil inisiatif untuk berbicara kepadanya. Pada dasarnya Sasa akan mengabaikan kehadirannya jika tidak mengatakan kata-kata sindiran.
"Buahnya terlihat berbeda dengan buah pir yang sering kulihat. Apakah ini jenis buah pir lain?" Tanya Azira malu.
Sasa mengernyit heran.
"Kamu belum pernah memakan pir jenis ini?"
Buah pir ini tidak langka tapi sedikit mahal dari buah yang lain tapi bukan berarti tidak terjangkau. Menurutnya banyak orang yang membeli buah ini juga semiskin apapun mereka.
"Ibuku sering membeli pir kuning yang sangat besar-besar. Buahnya terlalu besar, seringkali aku menyisakan setengah bagian karena tidak bisa menghabiskan." Faktanya ini adalah kebohongan.
Dia dan Ibunya terbiasa hidup miskin, makan pun sulit. Kalau bisa membeli buah itu adalah kenikmatan yang sangat langka di dalam keluarga mereka berdua. Dan jika Ibu bisa membeli buah pir, Azira tidak berani memakan buah itu utuh dan sengaja menyisakan setengah agar Ibunya juga bisa mendapatkan bagian.
"Pir jenis yang kamu makan dan Ibumu itu tidak enak sama sekali." Apakah hidup Azira sesulit itu?
Pertanyaan ini terbesit di dalam hatinya. Tapi Bibi Safa bilang Ibu Azira adalah wanita yang menjual harga dirinya kepada laki-laki hidung belang. Uang yang didapatkan pasti tidak kecil, jadi mereka tidak seharusnya kekurangan uang. Hanya saja.... Mengapa Azira terdengar cukup menyedihkan?
"Aku tahu.." Rasanya tidak manis tapi aku sangat mensyukurinya.
__ADS_1
"Lanjutkan lah pekerjaanmu, aku akan kembali ke dapur untuk membantu Umi menyajikan makanan di meja." Sasa lalu melarikan diri ke dalam rumah.
Azira menghela nafas lega. Punggungnya yang sempat menegang kini mulai rileks kembali. Mendesah ringan, dia kembali melanjutkan pekerjaan menyapunya yang sempat tertunda.