Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 8.6


__ADS_3

"Begitulah, paman. Di rumah sakit semuanya berjalan seperti biasanya." Di ruang tengah Kenzie sedang berbincang-bincang dengan paman Roni, bibi Indring, Umi dan Abah.


Mereka membicarakan urusan Kenzie di rumah sakit mulai dari situasi sekarang dan apakah ada hal-hal yang membuat Kenzie tak nyaman selama bekerja.


"Bekerja terdengar membosankan dari mulutmu." Ujar paman Roni tak berdaya.


Bibi Indring menutup mulutnya menahan tawa di samping suami. Kenzie memang memiliki karakter yang membosankan sehingga mengobrol dengannya akan membuat situasi sangat canggung. Namun walaupun Kenzie membosankan, dia adalah laki-laki yang tampan dan kuat. Karirnya di bidang kedokteran pun sungguh luar biasa.


"Kenzie, tahu enggak dari kemarin Frida pengen-"


"Assalamualaikum?" Azira masuk ke dalam ruangan dan tidak sengaja memotong pembicaraan bibi Indring.


Kening bibi Indring mengernyit tidak suka pembicaraannya di potong oleh Azira. Bola matanya berputar mencemooh. Berpikir bahwa Azira merupakan orang yang tidak tahu sopan santun dan minim pendidikan.


"Waalaikumussalam." Kenzie langsung bangun dari duduknya ketika melihat Azira datang.

__ADS_1


"Mas Kenzie biasanya pulang jam segini?" Tanya Azira gugup.


Dia mengambil alih jas putih di lengan suaminya, setelah itu baru mencium tangannya. Sesungguhnya dia sangat gugup mencium tangan Kenzie, apalagi di depan banyak orang. Tapi Sasa sudah mendikte nya tadi siang mengenai 'hal-hal yang dilakukan seorang istri kepada suaminya '.


Kenzie tersenyum kecil.


"Biasanya jam segini. Paman, bibi, aku akan naik ke atas dulu bersama istriku. Umi dan Abah pasti mau membicarakan banyak hal dengan kalian, jadi aku tidak akan mengganggu."


Bibir bibi Indring berkedut tertahan. Dia telah bosan dengan pembicaraan orang tua. Malahan tujuannya menahan Kenzie tadi karena ingin berbicara dengannya. Tapi kedatangan Azira telah merusak semuanya. Kesan yang dia dapatkan kepada Azira semakin memburuk. Dalam artian dia tidak terlalu menyukai Azira.


"Baik, pergilah. Kami para orang tua memiliki banyak hal untuk dibicarakan." Abah melambaikan tangannya mengusir mereka berdua.


Cklak


Kenzie mengucapkan salam saat masuk ke dalam kamar. Di belakang Azira mengikuti dengan polosnya. Dalam hati dia bertanya-tanya siapa yang Kenzie salami?

__ADS_1


"Kamu masak apa malam ini?" Tanya Kenzie seraya membelakangi Azira membuka kancing bajunya.


Sambil merapikan jas putih Kenzie, dia menjawab,"Tumis kangkung, tempe dan tahu goreng, ayam kremes, dan telur rebus." Lalu Azira tiba-tiba teringat dengan percakapannya dengan Frida di dalam dapur tadi.


"Apakah mas Kenzie tidak masalah dengan masakan yang ku buat? Soalnya aku menggunakan banyak minyak dan bumbu micin."


Kenzie menjawab acuh,"Tidak masalah selama tidak dimakan berlebihan. Aneh," Kenzie berbalik menghadap Azira,"Apakah seseorang memberitahu kamu refrensi makananku?" Ada tebakan di dalam hatinya.


Azira mengangguk secara alami.


"Frida yang bilang. Katanya mas Kenzie enggak suka makan makanan yang terlalu berat dan lebih suka rasa ringan."


Tebakan Kenzie benar. Kenzie mengambil baju ganti dari dalam lemari. Berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tapi sebelum masuk dia sempat berbicara santai kepada Azira.


"Jangan di dengerin. Sebenarnya aku suka semua masakan yang kamu buat dan Umi, enak. Jadi besok jangan lupa siapin bekal makan siangku biar enggak perlu ke kantin rumah sakit. Rasanya kurang." Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi tanpa menunggu respon Azira.

__ADS_1


Wajah Azira langsung memerah. Dan lagi, jantungnya dibuat berdebar kencang oleh Kenzie.


"Ya Allah, aku kenapa lagi?" Bisiknya memiliki tebakan di dalam hati tapi takut mengakui.


__ADS_2