Mahram Untuk Azira

Mahram Untuk Azira
Bab 28.2


__ADS_3

Entah di dengar atau tidak, permukaan perut Azira kembali bergetar. Tapi kali ini gerakannya cukup ringan yang membuat heran.


"Mas, aku Ibunya." Azira mengoreksi. Heran saja mendengar suaminya lebih suka memanggil dia sebagai 'istri Ayah' daripada Ibu.


Dia mengusap rambut suaminya gemas. Tangannya gatal ingin menarik rambut hitam lurus Kenzie, tapi hatinya yang lembut menolak mengizinkannya melakukan itu.

__ADS_1


Kenzie terkekeh. Bibirnya bersenandung lembut merasakan usapan lembut tangan istrinya di kepala. Kenzie tidak suka kepalanya disentuh orang lain kecuali orang tuanya. Dia menganggap bahwa kepala adalah bagian tubuhnya yang sakral. Oleh sebab itu hanya Umi dan Abah lah yang diizinkan untuk menyentuh. Ceritanya berbeda bila bertemu dengan orang yang berilmu agama tinggi seperti guru ataupun alim ulama, dia tidak akan segan menundukkan kepalanya meminta sentuhan mereka. Sebab tangan-tangan mereka yang bermandikan ilmu agama insya Allah selalu dalam ridho Allah subhanahu wa ta'ala.


Lalu sekarang dia bertemu dengan belahan jiwanya, yaitu Azira Humairah. Dia suka bahkan menganggap sentuhan Azira sebagai faktor candu untuknya. Selain Umi, hanya Azira adalah satu-satunya wanita yang diizinkan menyentuh puncak kepalanya tanpa keengganan.


"Tapi kamu istriku. Enggak ada yang salah dari ucapan ku." Dia membela diri.

__ADS_1


"Baiklah, suka-suka mas Kenzie saja. Aku adalah istri mas Kenzie dan aku juga Ibu dari anak kita, Masya Allah beruntung sekali aku diberikan kesempatan memiliki kedua gelar mulia ini."


Kenzie mencium permukaan perut Azira penuh kasih. Selanjutnya dia bangkit beralih duduk di samping Azira. Tangan kiri melingkari pinggang Azira sementara tangan kanan tetap mengelus perut untuk menenangkan si kecil yang sering menggangu Azira.


"Tidak, kamu salah. Kamilah yang beruntung memiliki kamu di sini. Tanpa kamu, mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya jantung berdebar kencang saat melihat seorang wanita dan tanpa kamu, mungkin aku tidak akan merasakan bagaimana rasanya hati tak rela berpaling sebentar saja dari matamu. Tanpa kamu, mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya perasaan cemburu dan sedih saat melihat laki-laki lain memandangi kamu apalagi sampai berhasil menarik perhatian kamu. Tanpa kamu, mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana perasaan bahagia saat mengetahui bila kamu tengah mengandung benihku, mengandung darah daging ku sendiri. Membuatku menanti-nanti bagaimana anak ini nantinya setelah lahir, apakah dia mirip kamu atau aku, mungkin juga memiliki kedua bagian kita di dalam dirinya. Untuk anak ini, aku terkadang merasa jengkel dan senang. Jengkel karena dia menyulitkan kamu dan senang karena dia adalah buah hati kita berdua yang berharga. Semua ini karena kamu, Azira. Aku bahagia dan dapat merasakan berbagai macam emosi ini karena kamu hadir di dalam hidupku. Jadi aku sangat berterima kasih kepadamu karena telah hadir menjadi pendampingku, calon Ibu dari anak-anakku. Sungguh, bidadari duniaku yang membuat para bidadari surga cemburu, kamu berhasil membuatku melayangkan doa dan harapan kepada Allah, membuatku bekerja keras merayu Allah agar kamu diciptakan bukan hanya menjadi bidadari duniaku saja tapi juga menjadi wanita surgaku, sebuah hadiah yang kelak akan aku dapati diakhirat kelak atas ujian yang aku lewati di dunia. Hanya kamu, aku tidak menginginkan yang lain. Jika bukan karena kamu, maka aku tidak mau Azira." Ungkap Kenzie murni jauh dari hatinya yang terdalam.

__ADS_1


Dia mencintai Azira, mencintainya sampai titik dimana Azira harus menjadi wanita surganya di akhirat kelak. Tak pernah bosan dirinya meminta dalam setiap sujud yang dia lakukan, melambungkan sebuah doa ke langit untuk merayu Sang Maha Romantis agar mempersatukan mereka berdua bukan hanya di dunia namun juga di akhirat kelak.


__ADS_2