
Punggung Azira langsung menegang, ia merasakan perasaan dingin yang menakutkan perlahan merambati punggungnya. Tanpa sadar kedua matanya menatap ke arah bibi Sifa yang sudah berjalan santai menuju kamar mandi, ia ingin menghentikannya namun suaranya bahkan lebih mencurigakan lagi.
Azira bingung apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan bibi Sifa. Tidak! Tidak bisa, bibi Sifa sudah terlalu dekat-
Cklack
"Sifa, kita harus segera turun karena yang lain sudah menunggu mempelai wanita di bawah." Tiba-tiba sebuah suara penyelamat menginterupsi tangan bibi Sifa yang sempat akan menyentuh gagang pintu kamar mandi.
Azira langsung lega. Dan untuk pertama kalinya Aish merasa bibi Safa tidak terlalu buruk.
"Astagfirullah, kenapa kau tidak menghubungi ku sedari tadi?" Panik bibi Sifa seraya membawa langkahnya kembali mendekati Azira yang sudah bisa bernafas lega.
Punggungnya sudah bisa merasa rileks sekarang dan bahkan kedua tangannya sudah tidak lagi saling mengepal karena panik.
Ini baik, pikirnya.
"Tidak perlu panik, santai saja." Peringat bibi Safa sambil mendekati Azira dan bibi Sifa.
Ia perlahan membantu Azira berdiri dari duduknya dan merapikan kain gaun yang bisa saja tidak sengaja Azira injak sehingga berakhir tersandung, hal-hal seperti ini memang bukanlah sesuatu yang tidak biasa saat hari pernikahan. Karena gugup pengantin wanita kadang tidak bisa memperhatikan langkahnya dan berakhir tersandung gaunnya sendiri.
"Jika kau panik maka yang akan lebih panik adalah Humairah."
"Hem, kau benar." Merilekskan tubuhnya, Bibi Sifa dan Bibi Safa lalu dengan langkah pelan-pelan menuntun Azira keluar dari kamar Humairah.
Membawanya melewati koridor rumah yang sudah penuh dengan hiasan cantik khas acara pernikahan.
Ini adalah sesuatu yang memanjakan mata!
"Ngomong-ngomong, kenapa aku tidak pernah melihat sampah itu di rumah? Kemana ia pergi?" Bibi Safa bertanya bingung karena sejak pagi ia tidak pernah melihat kehadiran Azira. Lebih baik memang jika ia tidak ada karena suasana hatinya jadi lebih baik.
Azira yang sedang dicari hanya bisa tersenyum sinis, berpikir apakah wanita kejam ini masih bisa tertawa jika ia tahu nanti orang yang menikah bukanlah keponakan tersayang mereka, namun manusia sampah yang selalu dipandang menjijikkan di rumah ini?
Ekspresi itu, Azira sudah tidak sabar lagi ingin melihatnya.
"Azira mungkin sudah ada di bawah," Bisik Bibi Sifa menjawabnya.
"Jangan dibicarakan lagi karena saat ini yang terpenting adalah hari bersejarah untuk gadis manja ini." Lanjutnya berusaha mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Karena ini adalah hari pernikahan yang bersejarah untuk Humairah maka tidak baik rasanya membicarakan masalah Azira. Ini adalah hari yang membahagiakan dan seharusnya mereka semua ikut berbahagia dengan hari ini.
"Hem, kau benar." Gumam bibi Safa tidak lagi ingin membicarakan masalah Azira yang selalu membuat mata dan hatinya iritasi setiap kali melihatnya.
Lalu, beberapa menit kemudian sampailah mereka ke anak tangga yang akan mengantarkan mereka menuju tempat akad. Dari atas mereka bisa melihat tempat akad yang indah dan ratusan tamu undangan yang sedang menatap penasaran sekaligus takjub ke arah mereka. Tidak, itu lebih tepatnya ke arah pengantin wanita yang penuh misteri.
Mereka tidak bisa melihat sang pengantin wanita dengan jelas karena tudungnya, akan tetapi mereka semua tahu bahwa pengantin ini pastilah sangat cantik sehingga membuat mempelai laki-laki yang luar biasa tampan jatuh cinta terhadapnya.
"Humairah." Panggil Mamanya seraya mengambil alih Azira dari bibi Sifa dan bibi Safa. Menuntunnya dengan hati-hati, ia lalu mendudukkan Azira di sebuah kursi putih lembut yang sudah dihias cantik dan elegan.
Begitu cantik dan begitu serasi dengan gaun pengantinnya yang mewah.
"Apakah acaranya sudah bisa kita mulai?" Menundukkan kepalanya, dari sini Azira bisa mendengar dengan jelas suara-suara yang tadinya berbisik-bisik kini mulai menjadi sunyi.
Tapi, ada yang aneh. Azira sepertinya mencium wangi yang sedikit tidak asing. Dimana dia pernah menciumnya, Azira tidak yakin karena ia tahu betul jika ia tidak pernah bertemu dengan orang-orang asing, dia tidak punya kenalan siapa-siapa seingatnya.
Sebelum akad benar-benar dimulai, Azira diam-diam menyelipkan sebuah robekan kertas ke atas paha calon suami Humairah- ah, lebih tepatnya calon suami Azira sekarang.
Laki-laki itu langsung menunduk melihat robekan kertas di atas pahanya yang dikirim oleh sang calon istri. Bingung, dia mengambilnya dan membuka lipatan acak kertas itu.
Namaku Azira Humaira. Tertulis di sana.
"Azira Humaira?" Bisik laki-laki itu aneh.
Lalu matanya tanpa sadar menangkap ruas jari jemari Azira yang tidak terawat dengan baik seolah-olah telah lama melakukan pekerjaan berat. Menyipit, ada cahaya aneh yang terlintas di mata gelapnya.
Jantung Azira berdebar kencang ketika mendengar suara laki-laki itu. Pasalnya suara laki-laki itu mengingatkannya pada seseorang yang pernah menyelamatkannya dari upaya penculikan nyonya Bara.
Tapi mungkinkah?
"Azira?" Matanya lalu terangkat menatap wajah cantik yang tersamarkan kain tudung di atas kepalanya.
Azira sangat gugup. Dia menundukkan kepalanya takut laki-laki ini menemukan ada sesuatu yang salah- tidak, namanya saja sudah salah jadi seharusnya laki-laki ini menyadarinya, kan?
Lalu apakah semuanya berakhir sampai di sini?
"Baiklah kalau begitu, silakan tangan mempelai laki-laki menjabat tangan wali mempelai wanita. Akad sekarang sudah bisa di mulai." Suara laki-laki paruh bayah di samping Ayah langsung menarik perhatian laki-laki itu dari Azira.
__ADS_1
"Baiklah, kita mulai." Ucap laki-laki itu mengejutkan Azira.
Tidak, harusnya laki-laki itu membatalkan pernikahan dan tidak melanjutkannya, tapi kenapa laki-laki ini malah melanjutkannya?
Tidak, Azira, jangan panik. Tenangkan lah dirimu. Batinnya menghibur kebingungannya.
Ini adalah hari besar, hari bersejarah untuknya dan Humairah!
Meskipun bukan pernikahannya namun setelah duduk di sini, bukankah ini sama saja menjadi pernikahannya? Ah, bukankah ia dan Humairah tidak ada bedanya?
Ya, Azira adalah anak dari laki-laki kejam yang ada di depannya kini dan laki-laki ini akhirnya yang akan mengantarkannya ke masa depan...
Yang belum pasti.
Hah, Azira tidak tahu bagaimana tanggapan calon suami paksaannya ini jika tahu bahwa yang ada di sampingnya bukanlah Humairah. Tapi... seharusnya dari reaksi tadi, laki-laki ini harusnya melihat ada sesuatu yang salah.
"Saya nikahkan dan saya jodohkan anak kandung perempuan saya Azira Humairah, dengan engkau Muhammad Kenzie Rasidiq Bin Muhammad Fadillah Rasidiq dengan mas kawin alat shalat dan emas seberat 77 gram dibayar tunai.” Suara Ayah dengan lantangnya yang tenang juga berwibawa menyerahkan Humairah-ah, sebut saja Azira kepada sang calon menantu laki-laki
Seketika membuat nafas Azira tertahan, ia tidak tahu mengapa tiba-tiba hatinya bergetar setelah mendengar ini. Dia bertanya-tanya apakah laki-laki ini akan menyebut nama yang tertulis di robekan kertas tadi atau justru menyebut nama lengkap Humairah?
Menerima sentakan dari tangan calon mertuanya, Kenzie dengan teguh menguatkan jabatan tangan mereka seraya menyerukan sebuah penerimaan yang sakral dan merupakan sebuah jembatan akan kebahagiaannya di masa depan nanti. "Saya terima nikah dan jodohnya Azira Humaira Bin Muhammad Ramadan Rozik dengan mas kawin alat sholat dan emas 77 gram dibayar tunai," Sentak Kenzie dengan satu kali nafas yang mantap dan berani.
Bahkan tatapan matanya yang tajam juga teguh tidak gentar sekalipun saat berurusan dengan calon mertuanya yang berwibawa juga tangguh.
Azira langsung terguncang. Mungkin orang lain tidak bisa mendengarnya dengan jelas, tapi dia, orang yang paling dekat dengan Kenzie bisa mendengarnya dengan jelas bahwa nama yang Kenzie sebut adalah nama lengkapnya, Azira Humaira dan bukan nama lengkap Humairah!
Jantung Azira berdebar kencang, aneh, dan terharu pada saat yang bersamaan.
"Sah?" Teriak tetua yang sedari tadi memandu acara pernikahan ini.
"SAH!" Teriak semua orang bergembira dan antusias. Mereka sudah tidak sabar melihat seperti apa sosok pengantin wanita yang kini sudah resmi menjadi milik Kenzie, seorang dokter bedah yang tampan juga mapan. Pasti mereka adalah pasangan yang cocok dan serasi jika dilihat sekilas, keluarga ini di masa depan akan sangat bahagia, ah!
Namun kegembiraan ini hanya bertahan sebentar saja sebelum suara teriakan pilu seorang gadis menginterupsi kegembiraan semua orang.
Di lantai dua mereka bisa melihat seorang gadis dengan wajah acak-acakan berusaha turun ke bawah. Gadis ini sudah tidak perduli dengan penampilannya yang kacau karena satu-satunya yang ia pikirkan sekarang adalah menghentikan pernikahan ini.
"Hu-Humairah?" Semua orang yang mengenal Humairah terkejut dengan keadaannya yang kacau.
__ADS_1
Humairah baru saja datang dengan keadaan yang kacau, lalu siapa pengantin wanita yang duduk di samping Kenzie?